8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 4: Lereng Tiga Mata


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


“Istirahatkan Pasukan Muda. Tempatkan tiga ratus pasukan di Lereng Tiga Mata, sementara seluruh pasukan pendekar di dalam Hutan Sanggana. Kirim utusan agar Pasukan Rakyat Kadipaten Gunung Prabu dan Hutan Malam Abadi disiagakan secara sembunyi!” perintah Ratu Getara Cinta kepada Mahapati Turung Gali.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Turung Gali.


Setelah memenangkan pertempuran di padang depan benteng Istana, Ratu Getara Cinta segera mengatur siasat baru yang sudah ada di dalam kepalanya. Pada pertempuran tadi, pihak Sanggana Kecil harus kehilangan lima prajurit dari Pasukan Muda dan enam prajurit berkuda.


“Ratu Getara! Puspa tidak terima, jika Puspa dan Kerbau Ganteng hanya disuruh menonton!” teriak Ratu Puspa.


“Betul betul betul!” sahut Abna Hadaya pula. “Kami ini pengantin baru, sedang bersemangat!”


“Baiklah, Ratu Puspa dan suaminya akan memimpin pasukan di Lereng Tiga Mata!” kata Ratu Getara Cinta memutuskan.


“Yiaaa! Hihihi!” pekik Puspa girang.


Abna Hadaya alias Ki Renggut Jantung hanya tersenyum melihat kegembiraan istri mudanya. Maksudnya istri yang berusia muda.


Maka, Mahapati Turung Gali segera mengatur pergerakan pasukannya. Pasukan Kerajaan Sanggana Kecil diberangkatkan pergi ke Hutan Sanggana.


Hutan Sanggana adalah hutan yang berhadapan langsung dengan Istana. Ia menjadi pemisah lingkungan Istana dengan Gunung Prabu di selatan dan Hutan Malam Abadi di sisi barat.


Namun, mereka tidak akan menuju ke atas Gunung Prabu atau ke Hutan Malam Abadi, tetapi mereka akan menuju ke daerah lereng yang ada di sisi barat laut Gunung Prabu.


Karena lereng itu menjadi titik temu antara Hutan Sanggana, Gunung Prabu dan Hutan Malam Abadi, lereng itu dinamai Lereng Tiga Mata.


Sebanyak tiga ratus pasukan prajurit pejalan kaki dipasang di pinggir Lereng Tiga Mata. Mereka yang dipimpin oleh Ratu Puspa dan Abna Hadaya bersifat menunggu. Agar terlihat banyak, pasukan ditata dalam formasi memanjang ke samping sebanyak dua saf saja.


Khusus untuk Ratu Puspa dan suaminya, mereka dibangunkan sebuah tenda. Tidak hanya itu, mereka pun disediakan makanan layaknya sedang menikmati masa rekreasi, bukan menunggu peperangan.


Sementara para pasukan pendekar ditempatkan di dalam hutan, tapi tepat di belakang pasukan pimpinan Ratu Puspa.


Pada pengaturan pasukan itu, tidak terlihat satu pun pasukan berkuda yang tadi banyak dimiliki oleh Kerajaan Sanggana. Tampaknya Ratu Getara Cinta memiliki siasat simpanan yang melibatkan pasukan berkuda.


Sementara itu di Kampung Kenangan di Kadipaten Gunung Prabu, seorang utusan dari Kerajaan Sanggana Kecil datang menemui Adipati Yono Sumoto. Sang adipati memang sedang menunggu kabar dari Istana.


“Kerajaan akan menyambut musuh di Lereng Tiga Mata. Pasukan Rakyat Kadipaten Gunung Prabu diperintahkan bersiaga secara sembunyi, Gusti Adipati!” lapor utusan itu.

__ADS_1


“Baik. Kembalilah dan katakan kepada Gusti Ratu bahwa pasukan Kadipaten Gunung Prabu sudah bersiap. Kami segera bergerak ke Lereng Tiga Mata!” perintah Adipati Yono Sumoto yang sudah memegang tombak andalannya.


“Baik, Gusti,” ucap prajurit utusan itu.


Seorang utusan juga telah tiba di Kadipaten Hutan Malam Abadi. Utusan itu menemui Adipati Ririn Salawi yang berjuluk Penagih Nyawa. Ia menyampaikan pesan perintah sesrupa.


“Baik. Para pendekar Hutan Malam Abadi siap bergerak ke posisi yang diperintahkan,” kata Ririn Salawi dengan suara khasnya yang besar seperti suara lelaki.


Setelah mendapat perintah itu, Ririn Salawi yang sudah mengumpulkan para pendekar dari warganya, segera memimpin menuju ke Lereng Tiga Mata.


Sementara itu di perbatasan barat wilayah Kerajaan Sanggana Kecil, sebanyak empat ribu pasukan Kerajaan Siluman berbasis. Pasukan itu dipimpin oleh Senopati Kerajaan Siluman, yaitu Siluman Pagar Maut.


Siluman Pagar Maut bukanlah sosok yang suka membawa pagar ke mana-mana, tetapi seorang lelaki gagah berusia sudah separuh abad. Wajah putih bersihnya di selimuti oleh kumis dan brewok tebal. Kesepuluh jari tangannya berwarna hitam tinta. Ia selalu berpakaian warna biru gelap.


Sehari setelah ia diangkat sebagai senopati, Ratu Aninda Serunai segera memerintahkan untuk melakukan agresi ke Kerajaan Sanggana Kecil. Keputusan itu sempat ditentang oleh sejumlah manteri di dalam Istana Siluman, termasuk oleh guru Ratu Aninda Serunai sendiri.


“Kita belum mengetahui seperti apa kekuatan Kerajaan Sanggana Kecil, Gusti Ratu. Itu sangat berbahaya bagi pasukan kita,” kata Mahapati Datuk Bibir Kuning keberatan kala itu.


“Aku tahu, karenanya aku mengirim Pasukan Siluman Tingkat Dua dalam serangan ini!” kilah Ratu Aninda Serunai.


Akhirnya, perintah Ratu Aninda Serunai tidak bisa dibantah lagi.


Siluman Angin Api adalah seorang wanita muda nan manis bermata sipit, karena ia berkulit hitam seperti ras suku wilayah timur. Rambutnya keriting pendek, tetapi diikat satu di atas kepala, sehingga seperti ada pohon rambut di atas kepalanya. Ia mengenakan pakaian hijau muda yang cenderung mendekati warna putih.


Masih ada tiga panglima lain yang masing-masing memimpin seribu pasukan. Khusus Senopati Siluman Pagar Maut, ia memimpin lima ratus pasukan berkuda dan lima ratus pasukan elit.


Alangkah terkejutnya Siluman Pagar Maut dan pemimpin pasukan lainnya, ketika melihat sekitar seratus prajurit pulang dengan kelelahan dan tanpa pemimpin.


“Aaa…!” teriak murka Siluman Pagar Maut saat mendengar laporan lengkap dari perwakilan prajurit yang pulang kalah. “Seribu prajurit hanya dilawan oleh dua orang perempuan! Siapa sebenarnya orang-orang yang tinggal di kerajaan itu?”


Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh para panglima.


“Bukankah di sana ada Bidadari Asap Racun?” kata Siluman Angin Api.


“Oh, aku baru teringat. Jadi kerajaan yang kita serang ini adalah kerajaan tempat Bidadari Asap Racun menjadi permaisuri? Ini namanya perang saudara!” kata Siluman Pagar Maut.


Ketika para pemimpin pasukan itu berdiskusi, seorang prajurit pengintai datang menghadap.

__ADS_1


“Lapor, Gusti Senopati!”


“Apa yang kau dapat?” tanya Siluman Pagar Maut.


“Kerajaan Sanggana Kecil menempatkan pasukannya di lereng gunung. Sepertinya mereka sengaja menunggu kita di sana!” lapor prajurit itu.


“Hmm. Pastinya di sana ada jebakan jika pasukan kita menyerang sewajarnya saja,” kata Senopati. Lalu tanyanya lagi, “Berapa besar pasukan mereka?”


“Yang terlihat mungkin paling banyak sekitar lima ratus prajurit,” jawab prajurit itu.


“Itu jumlah yang tidak mungkin jika ingin menyambut pasukan kita yang jumlahnya ribuan orang,” komentar Siluman Pagar Maut. Lalu tanyanya lagi, “Apakah mereka terlihat memasang sesuatu di lereng itu?”


“Tidak, Gusti. Mereka tidak terlihat memasang perlengkapan atau membuat jebakan di lereng. Semuanya terlihat normal,” jawab prajurit itu.


“Kau boleh pergi!” perintah Siluman Pagar Maut.


Seperginya prajurit itu, Siluman Angin Api berusul.


“Jika Gusti Senopati takut adanya jebakan atau penyergapan, Gusti bisa mengandalkan Pasukan Siluman Tingkat Dua.”


Siluman Pagar Maut terdiam sejenak seraya menatap wajah manis Siluman Angin Api.


“Jika memang ada jebakan yang dipasang, kami bisa dengan mudah menghindarinya,” tandas Siluman Angin Api.


“Baiklah!” kata Siluman Pagar Maut. “Semua pasukan kita berangkatkan ke lereng gunung itu. Dua ribu pasukan yang dipimpin oleh Pasukan Siluman Tingkat Dua akan maju berperang. tiga ratus pasukan berkuda akan mendukung di belakang. Aku dan sisa pasukan lainnya akan memantau dari belakang.”


“Aku yakin, kali ini kita akan langsung bisa menang. Jebakan apa pun tidak akan berlaku bagi kita!” kata Siluman Angin Api penuh keyakinan.


“Jika kalian dan pasukan ini kalah juga, aku akan memilih mundur pulang!” kata Siluman Pagar Maut.


Maka, Siluman Pagar Maut mengerahkan seluruh pasukannya menuju Lereng Tiga Mata, tepat saat matahari sedang terik di atas kepala.


Setibanya di Lereng Tiga Mata dan ketika mereka sudah melihat keberadaan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil di pinggiran hutan, pasukan Kerajaan Siluman berhenti. Pasukan pun segera diformasikan.


Siluman Angin Api bersama seratus lebih pasukan pendekarnya memimpin di depan. Bersamanya ada dua panglima yang memimpin dua ribu pasukakan pejalan kaki. Ditambah seorang komandan yang memimpin tiga ratus pasukan berkuda.


Sebanyak seribu pasukan biasa, lima ratus pasukan elit dan dua ratus pasukan berkuda menempatkan dirinya cukup terpisah di belakang, di bawah pimpinan Senopati Siluman Pagar Maut.

__ADS_1


Melihat kemunculan pasukan Kerajaan Siluman, betapa girangnya Ratu Puspa.


“Heiii! Pasukan tikus botak sudah datang, banguuun!” teriak Puspa meneriaki ketiga ratus pasukannya yang dalam kondisi tidak tidur. (RH)


__ADS_2