
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Joko Tenang masuk ke dalam ruang yang ada di sebelah Ruang Keadilan Sanggana Kecil. Saat itu di Ruang Keadilan sedang berlangsung sidang yang mengadili Raja Anjas Perjana Langit, istrinya Ningsih Dirama dan Permaisuri Tirana dalam kasus pembunuhan terhadap Prabu Raga Sata, suami dari Ratu Sri Mayang Sih dan ayah dari Permaisuri Sri Rahayu.
Ketika Joko Tenang memandang ke ruangan sidang melalui lubang-lubang dinding, ia mengerutkan kening. Ia memfokuskan pandangannya kepada sosok Anjas yang duduk di kursi terdakwa berwarna merah.
Joko Tenang dapat melihat jelas ke dalam ruangan sidang, tetapi orang-orang di dalam ruangan sidang akan kesulitan untuk melihat jelas sosok Joko di ruangannya.
Melihat wajah Anjas, Joko Tenang jadi teringat seseorang yang sudah tujuh tahun tidak pernah dijumpainya lagi.
“Bukankan itu Paman Senggala? Orang yang pernah mengajariku cara bisa menyentuh kulit wanita. Jadi, dia sebenarnya adalah ayahku? Yayaya, aku ingat, dia pernah bercerita tentang ilmu Dewi Delapan Bunga,” kata Joko Tenang dalam hati. “Rupanya dulu aku akrab dengan ayahku sendiri, tanpa aku tahu. Tapi kenapa dia tidak jujur saat itu? Kenapa dia tidak mau bertemu aku sebagai ayahku, tetapi sebagai orang lain?”
“Ayahmu masih mengharapkanmu untuk memperdalam ilmu dariku. Jika ia menemuimu, ia tidak akan bisa menahan diri untuk membawamu bersamanya, karena ia begitu menyayangimu, Joko. Pusaka Api Emas itu adalah bukti rasa sayang dan cintanya kepadamu. Ia tidak sedikit pun berharap kau celaka. Karenanya rompi itu sudah dia berikan kepadamu dari sekarang. Ayahmu akan datang kepadamu ketika kondisinya ia anggap sudah tepat. Ia selalu mengawasi perkembanganmu, Joko.”
Joko Tenang teringat kata-kata gurunya tahunan lalu. Meski ia mengingat tidak secara lengkap, tetapi itu membuatnya berpikir. Ia jadi menimbang segala fasilitas yang ayahnya berikan selama ini, hingga seorang istri yang bernama Tirana dan sebuah kerajaan.
“Sebenarnya selama ini aku telah menuduh ayahku yang buruk-buruk,” pikir Joko Tenang.
Setelah mengenali Anjas Perjana yang pernah dikenalinya bernama Senggala, memikirkan nasib yang menimpa ibu dan ayahnya karena kejahatan Prabu Raga Sata, serta mengingat berbagai kebaikan ayahnya yang semula ia abaikan, Joko Tenang jadi berubah penilaian terhadap ayahnya.
Karenanya, setelah Anjas Perjana mengalahkan Dewa Seribu Tameng dan Permaisuri Sri Rahayu di pelataran, Joko Tenang sebagai penguasa tertinggi Kerajaan Sanggana Kecil mengundang khusus Raja Anjas dan Ningsih Dirama.
Anjas dan Ningsih Dirama diantar langsung oleh Ratu Getara Cinta ke kamar Joko Tenang. Namun, Ratu Getara Cinta hanya mengantar sebatas pintu kamar.
“Hormat sembahku kepada Ayah dan Ibu!” ucap Joko Tenang dengan gerakan pelan-pelan ia berlutut menghormat kepada kedua orangtuanya.
Jadi hanya mereka bertiga yang ada di kamar itu. Joko Tenang tidak didampingi oleh seorang pun istrinya.
“Jokooo!” sebut Ningsih Dirama histeris sambil buru-buru mendapati putranya.
“Maafkan aku, Ibu!” ucap Joko Tenang cepat saat hendak dipeluk ibunya, membuat Ningsih terkejut heran.
“Kenapa, Joko?” tanya Ningsih.
“Aku sedang sakit, Ibu,” ucap Joko Tenang.
“Iya, iya, Ibu mengerti,” ucap Ningsih begitu gembira.
Joko Tenang lalu beralih kepada Anjas yang sejak tadi tersenyum memandangi putranya, yang secara khusus mengundang mereka untuk bertemu.
“Paman Senggala!” sapa Joko Tenang seraya tersenyum tipis kepada ayahnya.
Terkejutlah Ningsih mendengar Joko menyebut ayahnya “paman” dan dengan nama yang berbeda. Namun, kemudian dia segera mengerti mendengar dialog anak dan ayah itu.
“Hahaha!” tawa pendek Anjas mendengar sapaan Joko Tenang kepadanya. “Sepertinya kau sudah sembuh dari penyakitmu yang takut dengan perempuan.”
__ADS_1
“Itu karena Ayah mengirim Tirana untukku,” kata Joko Tenang. “Kenapa Ayah harus menyamar sebagai Paman Senggala untuk bertemu denganku?”
“Jika Ayah datang kepadamu sebagai seorang ayah, kau pasti akan bertanya tentang ibumu. Jika Ayah memberi tahu tentang ibumu yang sebenarnya, kau pasti akan pergi ke Istana Siluman. Ayah membutuhkan puluhan tahu untuk bisa membebaskan ibumu, apa jadinya jika kau yang masih sangat muda nekat pergi ke Istana Siluman? Masih banyak alasan Ayah, tapi yang utama adalah alasan itu. Ayah bermaksud mencegahmu untuk berbuat nekat sampai kau benar-benar mampu,” jelas Anjas.
“Bagaimanapun, sebenarnya aku sangat kecewa, Ayah. Bahkan aku berniat mendatangi Ayah di Kerajaan Sanggana setelah pertemuan di Jurang Lolongan. Aku ingin menuntut perhitungan,” kata Joko Tenang.
“Joko, kau tidak boleh menyalahkan ayahmu. Dua puluh tahun lebih kita berpisah, kini kita bersatu. Jangan sampai kemarahanmu kepada ayahmu membuat kebahagiaan ini hancur kembali,” kata Ningsih dengan wajah sedih.
“Tidak, Ibu. Ibu tidak usah khawatir, aku akan melupakan semua hal yang aku anggap kesalahan Ayah. Aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan Ibu dan Ayah,” kata Joko Tenang yang menenangkan perasaan Ningsih Dirama.
“Apa sakitmu, Joko? Mungkin aku bisa menyembuhkanmu. Aku juga memiliki ilmu Serap Luka seperti dirimu,” kata Anjas.
“Tidak. Aku tahu ilmu Serap Luka bisa menyembuhkanku, tetapi aku memilih menunggu dua hari lagi untuk tetap sakit,” kata Joko tanpa menjawab pertanyaan ayahnya. Lalu batinnya, “Ayah Ibu tidak boleh tahu apa sakitku….”
Usai menyelesaikan ketidakjelasan hubungan antara orangtua dan anak, Raja Anjas lalu memutuskan pergi ke kamar Ratu Sri Mayang Sih.
Setibanya di depan kamar Ratu Sri Mayang Sih, Anjas bertemu dengan Putri Pelangi yang berjaga.
Tuk tuk tuk!
Putri Pelangi mengetuk pintu kamar ratunya.
“Ada apa, Pelangi?” tanya Ratu Sri Mayang Sih dari dalam.
“Gusti Prabu Anjas datang, Gusti Ratu!” jawab Putri Pelangi.
“Biarkan masuk!” perintah Ratu Sri Mayang.
Putri Pelangi lalu membukakan pintu kamar teruntuk Raja Anjas.
“Silakan, Gusti Prabu!” ucap Putri Pelangi.
“Terima kasih, Pelangi,” ucap Anjas seraya tersenyum kepada Putri Pelangi, lalu melangkah memasuki kamar yang besar itu.
Di dalam kamar, terlihat Ratu Sri Mayang Sih telah tampil cantik dengan pakaian dan riasan yang fresh. Sepertinya dia sengaja tampil segar demi menyambut Raja Anjas. Aroma kamar pun tercium harum oleh wewangian.
Selain Ratu Sri Mayang Sih, di ruangan itu ada Putri Embun yang juga cantik. Ia berdiri pada satu sisi sebagai patung CCTV.
“Duduklah, Raja Anjas!” kata Ratu Sri Mayang Sih seraya tersenyum.
Terasa disiram secangkir teh tarik perasaan Anjas mendapat senyuman manis dari sang ratu.
Meski masih menaruh benci kepada Anjas, sebenarnya ada rasa berbunga-bunga dan secuil kebahagiaan di hati sang ratu. Karena Anjas, lelaki matang yang masih tampan itu, kini berada di kamarnya. Itu mengingatkan sang ratu pada saat-saat Anjas berada di kamar pribadinya di Istana Siluman.
Entah kenapa, tindakan-tindakan pelecehan Anjas yang awalnya ia benci, kini menjadi kenangan yang indah? Pasti ada yang salah. Apakah Ratu Sri Mayang Sih sudah benar-benar jatuh cinta kepada Anjas? Temukan jawabannya pada rumput yang terinjak.
Raja Anjas duduk di kursi pada sisi meja kayu yang berbentuk bulat, sebulat tekad hatinya yang ingin menikahi Ratu Sri Mayang Sih. Sementara sang ratu sibuk membuatkan secangkir minuman kopi.
__ADS_1
Ratu Sri Mayang Sih khusus membuatnya sendiri teruntuk Anjas.
“Dengan kau meminum kopi pahit ini, itu artinya kau resmi menjadi prianya Ratu Sri Mayang Sih,” kata sang ratu sambil melangkah membawakan cangkir keramik, entah impor dari negeri mana cangkir tersebut.
Ratu Sri Mayang Sih meletakkan cangkir berisi kopi hitam itu di meja depan Anjas seraya tersenyum. Seolah saat ini sang ratu sudah melupakan permusuhan di antara mereka.
“Silakan diminum, Raja Anjas!” kata Ratu Sri Mayang Sih setelah ia duduk di kursi berseberangan meja.
Sambil tersenyum manis, Anjas meraih cangkir tersebut. Terlihat asap masih mengepul dari dalam cangkir. Anjas meniup sekali kopi tersebut.
Sruuup!
Anjas menyeruput kopi panas itu dengan bersuara, agar terdengar nikmat, meski rasa kopinya benar-benar rasa kopi tanpa gula.
“Meskipun kopi ini pahit, tetapi kecantikanmu sudah cukup membuatnya manis, Ratu,” kata Anjas, mulai mengeluarkan pujian gombalnya.
“Hihihi…!” Meledak tawa Ratu Sri Mayang Sih untuk pertama kalinya di depan Anjas, membuat lelaki memesona itupun tersenyum senang melihat sang ratu tertawa. “Ternyata kau tidak hanya tampan, sakti dan kaya raya sebagai seorang raja, tetapi kau juga memang penggombal ulung.”
“Hahaha! Memang seperti itulah aku, Ratu,” kata Anjas yang didahului dengan tawa jumawanya yang pendek. “Karena kopi ini diberi racun, tentunya Ratu tidak menginginkan aku lama-lama di sini.”
Terkejutlah Ratu Sri Mayang Sih mendengar bahwa Anjas mengetahui ada racun di dalam kopi. Entah racun jenis apa yang dilarutkan di dalam kopi pahit itu, mungkinkah racun sianida.
“Matahari belum tenggelam, jadi aku masih memiliki waktu sah untuk membunuhmu, Raja Anjas!” desis Ratu Sri Mayang Sih, ia berharap besar bahwa racun itu akan bereaksi dan membunuh Anjas saat itu juga.
“Aku sudah minum Obat Musuh Racun saatpertarungan dengan putrimu, jadi hingga besok pagi aku kebal terhadap racun jenis apa pun,” kata Anjas.
Ratu Sri Mayang Sih mengembuskan napas kecewa.
“Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi istrimu, Raja Anjas,” ucap sang ratu.
“Hahaha!” Anjas kembali tertawa pendek jumawa. Lalu katanya, “Aku pastikan kau tidak akan rugi dengan menjadi istriku. Katakan, apa syarat yang ingin kau berikan.”
Sruuup!
Anjas kembali menyeruput kopi rasa kopinya. Terdengar segar sekali, seolah Anjas menikmati kopi beracun itu.
“Kau telah menghilangkan suamiku, maka kau harus memberikan aku suami baru. Aku menginginkan dirimu yang menjadi suamiku, karena kau telah melihat semua milikku. Kau telah merenggut kebahagiaanku, maka kau harus memberikan aku kebahagiaan raga dan perasaan. Karena kau, aku sekarang kehilangan keratuanku. Aku sekarang justru menjadi buruan Kerajaan Siluman karena difitna telah berselingkuh denganmu. Jadi, aku menginginkan kembali keratuanku yang hilang. Itu syarat-syaratku,” ujar Ratu Sri Mayang Sih.
“Menjadi suamimu dan memberi kebahagiaan tentu bisa aku penuhi. Namun, untuk menjadikanmu kembali sabagai seorang ratu, tidak mungkin aku melengserkan ratuku lalu mendudukkanmu di sana. Biarkan aku berpikir sejenak,” kata Anjas.
Anjas lalu terdiam. Ia kembali menyeruput kopinya. Ia benar-benar sedang berpikir.
“Bagaimana jika aku membangunkan untukmu sebuah kerajaan baru?” tawar Anjas.
“Sepakat!” ucap Ratu Sri Mayang Sih semangat. (RH)
****************************
__ADS_1
PENGUMUMAN
Chapter berikutnya akan menjadi yang terakhir dalam seasson Pelabuhan Cinta Ratu (PCR). Selanjutnya akan masuk ke seasson Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan).