8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 10: Bunuh Prabu Dira


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Meski orang yang mengatakannya adalah ibunya, Permaisuri Sri Rahayu tidak bisa langsung percaya, karena ia selalu bersama Joko Tenang sejak terakhir ia melihat ayahnya masih hidup.


Setelah terkejut, Joko Tenang berusaha bersikap tenang. Ia turun dari kudanya. Diam-diam ia merasakan denyut sakit pada pangkal pahanya. Berkuda kencang telah membuat pusaka Joko Tenang kian menderita.


“Prabu Dira telah membunuh ayahmu, Sri Rahayu!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.


“Apa yang Ibunda katakan? Ketika Ayahanda masih bersama kami, aku tidak pernah berpisah dengan Kakang Prabu. Bagaimana bisa Ibunda menuduh Kakang Prabu telah membunuh Ayahanda?” tanya Sri Rahayu bingung.


“Memang bukan Prabu Dira yang membunuh langsung ayahmu, tetapi Raja Anjas, ayah Prabu Dira yang membunuh ayahmu!” jelas Ratu Sri Mayang Sih.


Kembali terkejut Joko Tenang dan Sri Rahayu mendengar fakta baru itu.


“Prabu Dira bersama Permaisuri Tirana datang untuk melamarmu, tetapi di belakang mereka berbuat licik dengan membunuh ayahmu. Permaisuri Tirana sekarang sedang bersama pembunuh ayahmu dan Selir Ningsih!” kata Ratu Sri Mayang Sih berapi-api.


Mendengar hal itu, kali ini Sri Rahayu memandang serius kepada suaminya. Pandangan seriusnya seolah meminta penjelasan.


“Aku tidak percaya Kakang Prabu dan Permaisuri Tirana melakukan persekongkolan jahat seperti itu, tetapi Ibunda menyaksikan sendiri persekongkolan pembunuhan terhadap Ayahanda,” kata Sri Rahayu dengan sepasang mata berkaca-kaca. Pikiran dan hatinya menahan gejolak emosi yang sulit diungkapkan.


“Aku memang mengetahui kedatangan ayahku saat aku mencoba menyelesaikan syarat yang diberikan oleh Prabu Raga, tetapi aku tidak sedikit pun memiliki niat membunuh calon mertuaku. Aku pun tidak tahu tentang rencana yang dipendam oleh ayahku. Hingga detik ini, aku belum pernah bertemu dengan Raja Anjas sejak aku bayi,” jelas Joko Tenang.


“Itu tidak masuk akal sedikit pun, Prabu Dira. Bagaimana mungkin kau tahu kedatangan ayahmu tetapi kau tidak tahu tentang rencananya membunuh suamiku?” tukas Ratu Sri Mayang Sih.


“Jika Ibunda Ratu tidak mau mempercayaiku, akan percuma aku berusaha membantah. Namun, aku ingin tegaskan, aku sedikit pun tidak memiliki niat atau rencana untuk membunuh Prabu Raga. Awal kedatanganku ke Istana Siluman semata-mata untuk meminang Putri Sri Rahayu. Saat itu sedikit pun aku tidak tahu bahwa ternyata Prabu Raga memenjarakan ibuku sejak aku masih bayi. Seandainya aku lebih dulu tahu, mungkin kisah ini akan berbeda jadinya. Aku bertanya kepada Ibunda Ratu, hal apa yang sepantasnya aku lakukan kepada orang yang memenjarakan ibuku sampai dua puluh tahun lebih?” tutur Joko Tenang.


Terdiam Ratu Sri Mayang Sih mendengar pertanyaan menantunya itu. Dalam hati, Sri Rahayu juga membenarkan suaminya. Namun, Ratu Sri Mayang Sih tidak mau kalah argumen.


“Kau jangan membalikkan siapa orang yang salah, Prabu Dira. Orang yang mati jelas adalah suamiku. Orang yang membunuh jelas adalah ayahmu. Permaisuri Tirana adalah abdi setia ayahmu. Dan kau adalah suami Permaisuri Tirana. Sangat jelas, kalian bertiga harus bertanggung jawab atas kematian suamiku!” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Kakang Prabu, aku mohon kepadamu agar kau jujur kepadaku. Benarkah kau tahu tentang rencana pembunuhan terhadap Ayahanda?” kata Sri Rahayu yang dilanda kebingungan.

__ADS_1


“Kau jangan bersikap lemah, putriku. Setahuku putriku adalah wanita yang tegas. Kenapa kau bersikap bimbang seperti itu?” kata Ratu Sri Mayang Sih kepada putrinya.


“Kakang Prabu, katakan yang sebenarnya!” desak Sri Rahayu.


Joko Tenang menatap istri barunya dengan lembut. Ia lalu tersenyum kepada istrinya itu.


“Aku seorang pendekar, Sayang. Aku sangat tidak mungkin memilih jalan licik untuk membunuh seseorang. Apa yang dilakukan oleh ayahku terhadap ayahmu di luar dari sepengetahuanku, di luar dari tanggung jawabku. Aku sedikit pun tidak tahu adanya permusuhan di antara keduanya. Namun, jika melihat bahwa ibuku yang adalah istri ayahku, telah diculik dan dipenjara sekian lama, mungkin aku akan membenarkan jika ayahku membunuh ayahmu. Kau seorang wanita yang cerdas, aku yakin kau bisa berpikir jernih menyikapi masalah ini. Ingat, kau adalah wanita yang sengaja aku cinta dan sangat ingin aku jadikan istri. Aku sangat tidak menginginkan kita akan menjadi musuh karena perkara ini, Sayang,” tutur Joko Tenang.


Sri Rahayu benar-benar dilanda kebimbangan dan kebingungan mendengar penjelasan suaminya. Saat ini perasaannya sangat membela kematian ayahnya. Ia selama ini sangat hormat kepada ayahnya, meski ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang jahat dan kejam.


“Kau telah dibutakan, putriku. Jika kau tidak bisa menuntut balas atas kematian ayahmu, biarkan Ibunda yang melakukannya!” kata Ratu Sri Mayang Sih. Lalu perintahnya kepada Lima Pangeran Dua Putri, “Bunuh Prabu Dira!”


“Ibunda, Kakang Prabu adalah suamiku!” pekik Sri Rahayu.


Lima Pangeran tidak langsung bertindak, mereka saling pandang terlebih dulu.


“Kepung!” perintah Pangeran Keriting akhirnya.


“Ibunda, ini akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia!” seru Sri Rahayu kepada ibunya.


“Jika kau tidak mau menuntut balas atas kematian ayahandamu, biarkan Ibunda yang melakukannya!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.


“Aku tidak ingin melukai kalian. Aku tidak ingin ada yang terluka, jangan perturutkan urat daripada akal, para kisanak!” kata Joko Tenang kepada kelima pangeran.


“Lima Pangeran, jangan menyerang Prabu Dira!” seru Sri Rahayu.


“Serang! Jangan ragu untuk membunuh Prabu Dira!” teriak Ratu Sri Mayang Sih pula.


Pangeran Lima yang sebenarnya ragu untuk menyerang Prabu Dira, akhirnya menyerang.


Pangeran Keriting dan Pangeran Botak telah melompat dengan serangan masing-masing siap dilancarkan.


Pangeran Keriting mengirimkan tinju jarak jauh, terlihat pada kepal tinjunya ada lapisan putih samar yang kemudian melesat menyerang Joko Tenang.

__ADS_1


Buks!


“Hukh!” keluh Joko Tenang karena membiarkan serangan tinju itu menghantam dadanya. Ia hanya mengerahkan tenaga dalam untuk menahan tanpa berusaha melakukan penghindaran. Joko Tenang sampai merembeskan darah pada celah bibir merahnya. Tampak mata cincin Macan Penakluk bersinar terang, menunjukkan sang macan ingin keluar ketika tuannya diserang.


Tindakan Joko itu membuat Ratu Sri Mayang Sih, Sri Rahayu dan Pangeran Keriting sendiri terkejut. Mereka menjadi lebih cemas karena pada saat itu pula, Pangeran Botak melesatkan sinar merah berbentuk bola yang berputar pada porosnya.


Sess! Sreb!


Mereka memastikan Joko Tenang akan mati jika tidak menghindar, sebab para pangeran dan putri tahu bahwa ilmu itu bersifat menghancurkan.


Namun, mereka dibuat terkejut karena kondisi yang berbeda. Joko Tenang menahan serangan itu dengan punggungnya yang dilapisi Rompi Api Emas. Sinar merah itu meresap masuk hilang begitu saja ke dalam rompi pusaka Joko.


“Aku tidak akan melawan kalian karena aku sedikit pun tidak bersalah terkait kematian Prabu Raga. Tapi aku juga tidak mau mati begitu saja. Jangan salahkan aku jika para penjagaku yang melawan kalian!” seru Joko Tenang tetap bersikap gagah.


“Ibunda, hentikan! Aku percaya Kakang Prabu tidak bersalah atas kematian Ayahanda!” kata Sri Rahayu berusaha membujuk ibunya.


“Ibunda, kau sekarang adalah ibuku juga. Aku membuka tangan untuk kita hidup sebagai satu keluarga, bukan dengan memendam rasa ingin membunuh. Aku dan Sri Rahayu kini suami istri. Aku mohon kepada Ibunda untuk menjadi ibu dalam kehidupan kami,” ujar Joko Tenang berusaha melunakkan hati Ratu Sri Mayang Sih.


Sang ratu menatap tajam kepada Joko Tenang. Kini dia dilanda sedikit kebimbangan. Ia jadi ragu apakah Joko benar-benar terlibat dalam membunuh suaminya.


“Ibunda, aku mohon,” ucap Sri Rahayu sambil turun berlutut di depan ibunya. “Mereka tidak akan bisa melawan Kakang Prabu jika Ibunda memaksa.”


“Oh ya? Aku akan mendengarkan kata-katamu jika suamimu itu bisa mengalahkan Lima Pangeran!” kata Ratu Sri Mayang Sih kepada putrinya.


Terkejut Sri Rahayu mendengar pilihan ibunya.


Mendengar perkataan ibu mertuanya, Joko Tenang merasa tidak punya cara lain selain membuktikan diri dengan mengalahkan Lima Pangeran.


“Bunuh Prabu Dira!” perintah Ratu Sri Mayang Sih kepada Lima Pangeran.


“Cukup darah di bibir suamiku yang menetes. Jika kalian berani melukainya lebih parah, aku bunuh kalian semua!” kata Permaisuri Mata Hati yang tiba-tiba muncul di sisi Joko Tenang seperti setan.


“Dewi Mata Hati?!” pekik Anyam Beringin sangat terkejut melihat kemunculan tokoh pendekar legenda yang berusia lebih seabad itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2