8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 4: Duka di Padepokan


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Terkejut Joko Tingkir mendengar perkataan Gadis Cadar Maut. Ia memandang serius kepada wanita bermata dan beralis indah itu. Namun, Joko Tingkir yakin bahwa Gadis Cadar Maut tidak akan secantik atau lebih cantik dari adiknya, karena faktor usia yang sudah lebih matang.


“Tapi, Bi…. Jika aku tidak pergi ke Padepokan Hati Putih, jelas peringatan itu tidak berlaku untukku,” kata Joko Tingkir membantah dugaan Gadis Cadar Maut.


“Jika bukan kau, lalu siapa Penghuni Bukit Biru yang dimaksud pembunuh itu. Apakah gurumu Ki Sombajolo?” tandas Gadis Cadar Maut.


“Guru!” teriak Joko Tingkir terkejut. “Guru sedang berada di Padepokan Hati Putih!”


Joko Tingkir buru-buru hendak meninggalkan tempat itu, tetapi Tembangi Mendayu cepat mencekal leher belakang baju Joko Tingkir.


“Eh, mau ke mana?” kata Tembangi Mendayu. “Kita tidak mungkin membiarkan Resi Tambak Boyo membusuk di sini!”


“Kita kubur dulu mayat Resi Tambak Boyo, karena tidak mungkin kita bawa dalam kondisi yang terburu-buru,” kata Gadis Cadar Maut.


“Lagipula gurumu itu orang sakti, bukan anak kecil yang harus dikhawatirkan,” kata Tembangi Mendayu.


“Resi Tambak Boyo juga orang sakti, tapi bisa dibunuh!” debat Joko Tingkir.


“Kau ini pemuda keras jidat ya! Memangnya kau lebih sakti dari gurumu sehingga kehadiranmu bisa membantu?” bentak Tembangi Mendayu mulai emosi.


“Kisanak, siapa yang bisa menggalikan liang lahat, nanti kami akan membayar kalian?” tanya Gadis Cadar Maut kepada warga yang masih berkerumun.


Maka, beberapa warga lelaki desa mau menggali liang lahat untuk kuburan Resi Tambak Boyo. Kondisinya yang beracun membuat Gadis Cadar Maut memutuskan menguburnya dengan apa adanya.


“Kita hanya bermodal kesaksian untuk mengabarkan berita duka ini kepada orang-orang Padepokan Hati Putih,” kata Gadis Cadar Maut.


“Resi Tambak Boyo mati hanya dengan satu serangan beracun pada leher,” kata Tembangi Mendayu.


“Jadi, kalian juga akan pergi ke Padepokan Hati Putih?” tanya Joko Tingkir, yang untuk sementara menyegel sifat mata keranjangnya. Ia sedang dalam suasana hati yang cemas.


“Iya. Kami ingin tahu jelas siapa sebenarnya pembunuh itu,” kata Gadis Cadar Maut.


“Kita harus cepat tiba di Padepokan Hati Putih,” kata Joko Tingkir.


Setelah membayar para penggali kubur, mereka bertiga cepat pergi menunggangi kuda masing-masing dengan kecepatan tinggi.


“Guru, Paman Gujara, tunggu aku. Aku akan menyelamatkanmu…” ucap Joko Tingkir dalam hati.


Ketiga pendekar itu benar-benar menempuh perjalanan ekspress, tanpa berhenti untuk rehat atau saling berbincang sambil memacu kuda. Keringat bahkan berkeluaran dari kulit mereka.

__ADS_1


“Kakak! Apakah tidak sebaiknya kita beristirahat dulu?!” teriak Tembangi Mendayu bertanya kepada kakaknya.


“Tidak! Ini masalah genting yang berurusan dengan nyawa orang penting aliran putih!” jawab Gadis Cadar Maut berteriak pula.


Setelah itu, mereka tidak saling berbicara lagi.


Perjalanan itu mereka tempuh selama dua jam lebih sedikit untuk sampai di gerbang Padepokan Hati Putih. Gerbang itu memiliki nama Gerbang Tiga Kain.


Untuk sampai ke gerbang utama Padepokan Hati Putih itu, mereka harus melalui jalan yang kanan dan kirinya diapit oleh dua jurang yang dalam dan luas. Kedua jurang itu ditutupi oleh kabut putih yang tebal.


Gerbang Tiga Kain adalah sebuah gapura tinggi yang pada bagian atasnya ada tiga helai kain putih yang berkibar.


Kedatangan mereka bertiga cepat dihentikan oleh murid padepokan penjaga gerbang.


“Aku Joko Tingkir, murid Ki Sombajolo dari Bukit Biru!” kata Joko Tingkir langsung memperkenalkan diri saat dihentikan oleh penjaga gerbang.


“Aku Gadis Cadar Maut dan adikku Tembangi Mendayu!” kata Gadis Cadar Maut pula.


“Tunggu sebentar di sini, Pendekar!” kata salah satu pemuda berpakaian putih-putih yang menjaga gerbang.


“Baik!”


Setelah melalui proses birokrasi, Joko Tingkir, Gadis Cadar Maut dan adiknya akhirnya diizinkan masuk.


Seorang lelaki berusia lebih separuh abad, berpakaian putih-putih, turun dari pendapa menyambut kedatangan ketiga tamu. Lelaki itu bernama Ranggasula, salah satu guru di padepokan itu.


Joko Tingkir turun dari kudanya dengan ketegangan, sebab ia melihat ada empat hamparan kain putih yang sangat jelas menutupi empat tubuh yang diam. Namun, Joko Tingkir memiliki harapan bahwa mayat-mayat itu bukanlah guru dan pamannya. Secara ilmu cocoklogi jumlahnya tidak cocok. Guru dan pamannya berjumlah dua orang, sedangkan mayat yang ada berjumlah empat orang.


“Apakah Kisanak yang bernama Joko Tingkir murid Ki Sombajolo?” tanya Ranggasula tanpa senyum penyambutan.


“Benar. Apakah guruku sudah sampai di sini?” jawab Joko Tingkir lalu cepat bertanya balik.


“Maafkan kami, Joko,” ucap Ranggasula dengan wajah sedih.


Warna muka Joko Tingkir seketika berubah memerah hendak menangis, seiring jantungnya terasa teriris sembilu. Sepasang matanya langsung berkaca-kaca.


“Jadi… jadi… guruku…” ucap Joko Tingkir terbata-bata dan bergetar. Sepasang kakinya seolah melemas.


“Maafkan kami, Joko. Ki Sombajolo dan Gujara kami temukan sudah tewas di gerbang padepokan, tanpa kami tahu siapa yang membunuhnya,” ujar Ranggasula penuh penyesalan.


“Guruuu!” teriak Joko Tingkir menangis sambil berlari naik ke atas pendapa.


Murid-murid Padepokan Hati Putih segera memberi jalan kepada Joko Tingkir. Sejenak pemuda tampan itu berhenti, memperhatikan empat mayat yang terbaring di lantai pendapa. Ada noda darah segar yang mengotori lantai dan kain penutup, seolah menunjukkan bahwa kematian mereka belum lama. Joko Tingkir dapat mengenali bentuk dan besar tubuh gurunya meski ditutupi oleh kain putih hingga kepalanya.

__ADS_1


“Gu… Gu… Guru!” ucap Joko Tingkir dengan suara bergetar. Ia melangkah gontai mendekati salah satu mayat yang tertutup.


“Jangan sentuh, Joko!” kata seorang pemuda tampan berpakaian serba putih dan berikat kepala putih. Dia adalah Lanang Jagad yang berjuluk Si Tampan Sakti. “Mayatnya beracun!”


Seorang murid padepokan lalu berinisiatif menarik turun kain penutup mayat Ki Sombajolo, sehingga tersingkap wajahnya hingga leher. Mayat lelaki gemuk berkepala botak di tengah itu, memiliki luka di bagian lehernya, tidak jauh berbeda dengan luka yang dimiliki oleh mayat Resi Tambak Boyo. Meski kulit mayat tidak seperti orang keracunan, tetapi bau racun itu cukup kuat tercium jika mendekati mayat.


Duk!


“Guruuu…! Hak hak haaa…!” ratap Joko Tingkir sambil jatuh berlutut di lantai tanpa bisa menyentuh tubuh mati gurunya. Ia menangis seperti orang tertawa tersedak.


Tangis ratapan Joko Tingkir yang meraung-raung membuat suasana di pendapa itu terbawa dalam suasana kesedihan.


“Paman! Paman Gujara! Mana Paman Gujara?” ucap Joko Tingkir seperti orang kesetanan, sambil buru-buru merangkak mendekati kaki mayat.


Joko Tingkir menarik bagian bawah kain satu per satu untuk melihat wajah mayat. Hingga penutup terakhir disingkap, barulah Joko Tingkir melihat wajah Gujara, kakak seperguruannya yang ia anggap sebagai pamannya.


Sementara dua wajah mayat lelaki lainnya Joko Tingkir tidak kenal. Dari pakaiannya yang berwarna putih kemungkinan keduanya adalah murid padepokan.


“Pamaaan…!” teriak Joko Tingkir panjang sambil kembali menangis. Karena tidak bisa memeluk atau menyentuh mayat, Joko Tingkir akhirnya bersujud, sementara kedua tangannya memukul-mukul lantai pendapa. “Guruuu…! Pamaaan…!”


“Tingkir, sudahlah!” ucap Tembangi Mendayu lembut sambil hadir berjongkok di sisi pemuda itu. Ia menepuk-nepuk lembut bahu Joko Tingkir.


Joko Tingkir bangun dari sujudnya dengan wajah yang benar-benar bersimbah air mata lelaki.


“Mereka itu sudah… sudah seperti kedua orangtuaku. Mereka yang merawatku sejak aku…. Hiks hiks… masih ingusan. Huuu…!” kata Joko Tingkir penuh kesedihan. Lalu sambil menangis tambah kencang, tiba-tiba dia memeluk Tembangi Mendayu dan menyandarkan wajahnya pada lengan gadis cantik itu.


Alangkah terkejutnya Tembangi Mendayu dan Gadis Cadar Maut. Sebenarnya Tembangi Mendayu marah, tetapi ia merasa tidak mungkin untuk memarahi Joko Tingkir yang dalam kondisi berduka dan di depan orang banyak.


Sebenarnya, itu adalah tindakan refleks seorang Joko Tingkir yang biasa memeluk perempuan dalam hidupnya.


Namun kemudian, tiba-tiba Joko Tingkir melepas pelukannya dengan wajah marah. Ia berdiri dan menatap marah kepada Tembangi Mendayu. Joko Tingkir menunjuk kepada wajah cantik itu.


Tembangi Mendayu segera bangkit dengan tatapan heran.


“Kau…” sebut Joko Tingkir dengan telunjuk jelas mengarah kepada wajah Tembangi.


Hal itu seketika membuat orang-orang heran tidak mengerti apa yang telah terjadi, terutama bagi Gadis Cadar Maut.


“Jika kita tidak berlama-lama mengubur mayat Resi Tambak Boyo, kita tidak akan terlambat menolong guruku! Ini semua karena kau, Tembangi!” tukas Joko Tingkir gusar.


Jleger!


Mendengar kata “mayat Resi Tambak Boyo” seperti mendengar gelegar petir di depan wajah bagi murid-murid Padepokan Hati Putih. (RH)

__ADS_1


__ADS_2