8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 24: Duel Raja Kawin


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


  


Senggara Bolo memasang kuda-kuda dan merendahkan tubuhnya, seolah siap untuk berlari kencang.


Wess!


Tiba-tiba Senggara Bolo melesat sangat cepat setelah ia menolakkan kakinya dengan kekuatan penuh. Gerakannya hanya terlihat selintas dan melewati Joko Tenang yang hanya bergeser setindak.


Senggara Bolo berhenti dan menengok ke belakang, dilihatnya Joko Tenang masih di tempatnya, tapi kali ini menghadap ke arahnya. Sambarannya yang begitu cepat tidak berhasil mengenai Joko Tenang.


Senggara Bolo kembali melesat balik, tetapi kali ini ia berhenti di hadapan Joko Tenang. Serangan pukulan dan tendangan bertenaga dalam tinggi ia agresikan dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat.


Namun, Joko Tenang dengan begitu tenang, tanpa bergeser dari tempat berdiri, menangkis semua serangan itu. Dan itu pun hanya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya ia letakkan di balik pinggang.


Baks!


Dan ketika Joko Tenang menyerang balik, pukulan telapak tangannya tahu-tahu mendarat keras di dada Senggara Bolo.


Pendekar Raja Kawin terjajar tiga tindak dan membuatnya mendelik terkejut.


“Gila, serangannya tidak terlihat,” batin Senggara Bolo.


“Yeee!” sorak penonton sambil bertepuk tangan.


“Habisi saja, Gusti Prabu!” teriak seorang pemimpin prajurit yang gemas melihat Pendekar Raja Kawin mendapat pukulan yang ringan.


“Hiaat!” teriak Senggara Bolo sambil maju dengan kecepatan nyaris tidak terlihat.


Kali ini serangannya lebih bertenaga dan lebih cepat. Lagi-lagi Joko Tenang menangkis semua serangan itu hanya dengan tangan kanan saja.


Buks!


“Hukh!” keluh Senggara Bolo saat tahu-tahu tinju tangan kiri Joko Tenang telah mendarat di perutnya.


“Mak nyos!” teriak sebagian penonton serentak, ketika melihat Senggara Bolo terjajar cepat lalu jatuh terduduk.


Joko Tenang tetap berdiri di tempatnya dan memandangi Senggara Bolo dengan dingin.


Senggara Bolo sudah tidak peduli dengan suara-suara yang muncul dari pinggir alun-alun.


“Sepertinya tidak bisa dengan pertarungan langsung,” pikir Senggara Bolo.


Pendekar Raja Kawin lalu memasang kuda-kuda. Kedua tangannya melakukan gerakan-gerakan pelan bertenaga dalam untuk mengerahkan salah satu ilmu kesaktiannya.


Pak!


“Hukr!”


“Mak nyos!”


Belum lagi Senggara Bolo selesai beraksi, tahu-tahu satu hantaman telah mendarat di dadanya. Tubuh Senggara Bolo terpental dengan mulut menyemburkan darah, yang langsung disambut oleh teriak para penonton seperti senggakan dangdut koplo.

__ADS_1


“Kakang Senggara!” pekik Janila dan kedua madunya bersamaan. Mereka terlihat cemas.


“Bahkan Prabu Dira belum banyak bergerak, tetapi Kakang Senggara sudah terluka,” kata Iing Bulih.


“Apa boleh buat. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Jika kita memohon menghentikan pertarungan, kita pasti akan dihukum mati juga,” kata Wuri Semai.


“Kematian Kakang Senggara adalah pengorbanan untuk menyelamatkan nyawa kita bertiga,” kata Janila pula yang tidak dibantah oleh kedua madunya.


Senggara Bolo bangkit dengan kondisi dada yang berasap. Dada bajunya jebol hangus dan ada pola telapak kaki kucing pada kulit dada Senggara Bolo. Itu adalah jejak Pukulan Tapak Kucing, salah satu ilmu tertinggi Joko Tenang.


Prabu Dira sengaja mengerahkan seperempat kekuatan Pukulan Tapak Kucing agar tidak langsung membunuh lawannya.


Meski telah terluka dalam, tapi tampaknya Senggara Bolo masih terlihat gagah untuk bertarung.


“Hiaat!” pekik Senggara Bolo sambil merentangkan kedua lengannya ke kanan dan kiri.


Zrisss!


Tiba-tiba muncul sinar hijau dalam wujud seperti susunan kertas sehingga berbentuk kubus.


Set set set …!


Selanjutnya sinar-sinar hijau tipis berlesatan bersusulan menyerang ramai-ramai kepada Joko Tenang.


Wuss! Blep!


Joko Tenang menyambut serangan itu dengan angin panas Langit Membakar Bumi. Maka, seluruh sinar hijau yang melesat dalam jumlah banyak, sirna di tengah jalan. Tanah alun-alun yang dilalui oleh angin Langit Membakar Bumi jadi terbakar.


Tidak hanya memusnahkan sinar kesaktian Senggara Bolo, tetapi angin itu terus berembus menyerang Senggara Bolo. Satu lapisan sinar merah gelap muncul melindungi tubuh Senggara Bolo dari angin pembakar Joko Tenang.


Wuss!


Press! Bluar!


Senggara Bolo melesat sangat cepat ke arah Joko Tenang, tetapi di dalam perjalanannya, kedua tangannya bersinar merah menyilaukan mata.


Namun, pada saat yang sama, tangan kanan Joko Tenang juga bersinar hijau menyilaukan mata. Joko Tenang mengeluarkan ilmu Surya Langit Jagad, tetapi dalam skala kekuatan hanya setengahnya.


Maka dalam hitungan sekejap, Joko Tenang telah menyambut pukulan sinar merah menyilaukan dengan sinar hijau menyilaukan mata.


Ledakan tenaga sakti terjadi dahsyat yang membuat semua orang terperangah terkejut. Hasilnya, tubuh Senggaara Bolo terpental hebat di udara tapi dia masih bisa mendarat dengan berdiri. Bagian depan bajunya terlihat hangus menghitam.


“Hoekh!”


Senggara Bolo muntah darah hitam dan panas. Ternyata separuh kekuatan Surya Langit Jagad belum mampu membunuh Senggara Bolo.


“Kau memang kuat, Pendekar!” puji Joko Tenang.


Seet! Ctar!


Joko Tenang melesatkan sinar hijau berwujud pisau terbang. Itu ilmu Pisau Neraka. Senggara Bolo masih sanggup mengeluarkan kesaktiannya yang lain di saat ia sudah terluka parah.


Kedua tangan Senggara Bolo bersinar putih menyilaukan yang kemudian menciptakan lapisan sinar putih selebar nampan. Sinar putih itu mampu menggagalkan sinar hijau sehingga meledak sendiri.

__ADS_1


“Heaat!” teriak Senggara Bolo sambil menghentakkan kedua lengannya.


Sersss!


Press! Bluar!


Sinar putih menyilaukan berbentuk lingkaran seluas nampan itu melesat cepat dalam posisi tegak berdiri menuju Joko Tenang.


Dan kali ini, Joko Tenang kembali mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad, tetapi dalam kekuatan penuh.


Dua ilmu kesaktian bertemu dahsyat. Ledakannya memekakkan gendang telinga.


“Aaa!” jerit warga Ibu Kota yang terkejut merasakan sakit pada gendang telinga mereka. Bahkan setelah itu, yang terdengar oleh mereka hanya dengungan tanpa mendengar suara yang lain.


Para prajurit pada barisan lapis dalam dibuat terhentak mundur setindak oleh daya ledaknya. Kuda-kuda para pejabat terkejut dan berubah panik. Beberapa kuda bahkan berlari panik tidak karuan, termasuk kuda Pangeran Tajilingga. Kuda-kuda yang lain masih sanggup ditenangkan.


Tubuh Pendekar Raja Kawin terpental deras di udara. Ketika tubuh Senggara Bolo melesat di udara, Joko Tenang melepas Pukulan Tapak Kucing, pukulan yang ketika dihentakkan, serangan langsung mendarat ke sasaran tanpa ada durasi transfer energi.


Baks!


Pukulan Tapak Kucing yang dilepas dengan tenaga penuh menjebol dada Senggara Bolo hingga tembus ke punggung.


“Kakang Senggaraaa!” teriak Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih bersamaan.


Meski proses kematian Senggara Bolo berlangsung begitu cepat, tetapi ketiga wanita itu bisa melihat dengan jelas. Menangislah mereka.


Cepat mereka berlari ke arah posisi jatuhnya tubuh Senggara Bolo.


Tubuh Senggara Bolo jatuh sudah menjadi mayat. Tubuh dan wajahnya mengalami luka bakar yang parah, termasuk pakaiannya juga hangus. Dadanya jebol mengerikan. Tamatlah karir Pendekar Raja Kawin di tangan “Pendekar Dewa Kawin”.


Warga Ibu Kota berangsur sudah bisa mendengar kembali dengan wajah yang rata-rata mengerenyit, seolah masih terngiang dengungan itu.


Ternyata di balik barisan penonton, ada wanita bercadar putih dan ayahnya yang bernama Orang Sakti Benci Bumi.


“Akhirnya tuntas sudah dendam kita, Kembang,” ucap Orang Sakti Benci Bumi yang berdiri seperti dedemit, tidak menyentuh tanah.


Tus tus!


Tiba-tiba Kembang Buangi merasakan bokongnya ditusuk pelan dua kali oleh sebuah benda seperti kayu.


Sing! Tak!


Sambil meloloskan pedangnya dari sarungnya, Kembang Buangi langsung menyabetkan pedangnya ke belakang, menyerang orang yang mengganggunya.


Namun, pedang Kembang Buangi tertahan oleh tangkisan sebatang tongkat biru kecil.


“Hihihi …!” tawa Sandaria dengan menggemaskan.


Terkejutlah Kembang Buangi dan Orang Sakti Benci Bumi melihat wanita kecil yang ada di belakang mereka.


“Aku sudah duga, kalian pasti akan datang menonton. Hihihi!” kata Sandaria. (RH)


***********

__ADS_1


Tonton dan baca novel "Badar dan Geng" di YouTube: Rudi Hendrik Channel


__ADS_2