
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
“Lalu, apakah kau punya hubungan dengan Ratu Bibir Darah?” tanya Dewi Ara kepada Joko Tenang yang sudah menjadi lelaki pasrah.
“Aku adalah cicitnya,” jawab Joko lemah.
“Hmm…” gumam Dewi Ara. Ratu Bibir Merah yang dia kenal adalah pendekar wanita sakti yang masih muda. Lalu batinnya berkata, “Jika benar sudah lima puluhan tahun aku mati, maka sangat memungkinkan Ratu Bibir Darah sudah mempunyai cicit. Apakah aku harus membunuh cicit temanku sendiri?”
Dewi Ara kembali bertanya kepada Joko Tenang.
“Apakah kau mengenalku?” tanyanya.
“Tidak.”
“Aku adalah Dewi Ara, dikenal oleh seluruh pendekar dengan nama Dewi Geger Jagad. Apakah kau pernah mendengarnya?” tanya Dewi Ara bernada sedikit bangga.
“Tidak.”
Mendeliklah Dewi Ara mendengar jawaban Joko Tenang.
Pak!
Dengan seenaknya Dewi Ara menepuk dahi Joko Tenang.
“Kau pendekar sakti, murid Kunsa Pari, cicit Ratu Bibir Darah, tetapi kau tidak pernah mendengar namaku disebut?” tanya Dewi Ara sewot.
“Tidak,” jawab Joko Tenang lagi.
“Apa yang terjadi dengan dunia persilatan saat ini? Sehingga namaku yang mahsyur dan ditakuti oleh semua pendekar sakti tidak pernah kau dengar!” gerutu Dewi Ara kesal. “Apakah kau sudah punya kekasih?”
“Istri,” jawab Joko Tenang.
“Kau seorang raja. Berapa istrimu?” tanya Dewi Ara.
“Sudah delapan,” jawab Joko jujur.
“Apa?!” pekik Dewi Ara terkejut. Lalu tiba-tiba kakinya yang bersila menyepak badan Joko Tenang seraya memaki, “Raja Bandot!”
Bluk!
Tubuh Joko Tenang yang tanpa tenaga dan daya terdorong jatuh dari atas batu, lalu berguling di lantai sebanyak dua kali seperti bantal guling. Karena kesalnya, Dewi Ara membiarkan Joko Tenang tergeletak begitu saja. Ia lalu memejamkan matanya.
“Jika aku sampai hamil, aku akan menjadikan kerajaan Joko Tenang sebagai kekuatan besarku,” batin Dewi Ara.
Setelah itu, hari-hari berlalu.
Joko Tenang lama-kelamaan kondisinya membaik, tetapi lukanya masih parah. Ia tidak bisa menyembuhkan diri sendiri. Sebagai orang yang mengaku telah berbuat salah dan dosa, Joko Tenang memutuskan melayani Dewi Ara selama di dasar jurang itu.
Mereka melalui waktu tanpa mengerti kapan siang dan kapan waktunya malam. Dengan kesaktiannya, ternyata Dewi Ara mengetahui adanya sumber makanan. Di balik salah satu dinding, ternyata ada aliran sungai dasar bumi yang memiliki ekosistem kehidupan air sendiri.
__ADS_1
Dewi Ara menjadikan Joko Tenang sebagai pekerja dan pelayannya. Joko Tenang tidak keberatan. Bahkan ketika Joko sudah bisa mengerahkan tenaga dalam dan ilmu kesaktiannya, dia tidak memiliki niat untuk memberontak.
Dewi Ara memutuskan memotong ujung rambutnya sehingga hanya sebatas betis. Secara perlahan, komunikasi mereka mulai mengakrab, meski masih kaku.
“Hoekh!”
Pada suatu waktu, tiba-tiba Dewi Ara mengalami mual-mual tanpa sebab.
“Kau hamil, Ara!” kata Joko Tenang memberi tahu. Ia seketika teringat dengan Ratu Getara Cinta yang sedang hamil pula.
“Berarti nyawamu selamat, Joko,” kata Dewi Ara melirik sambil menyeka bibirnya.
“Apakah aku akan menjadi suamimu?” tanya Joko Tenang, sudah tidak sungkan lagi.
“Kau pikir aku sudi menemui dunia pesilatan dengan mambawa bayi tanpa ada ayahnya?!” bentak Dewi Ara.
Dengan hamilnya Dewi Ara, Joko Tenang menjadi lelaki yang lebih siaga dan lebih memanjakan Dewi Ara dengan pelayanannya. Bukan pelayanan di atas ranjang batu, tetapi pelayanan kepada seorang nyonya besar.
Tempat itu kini lebih rapi dan bersih. Sampah serpihan mayat-mayat sudah dibuang semua ke dalam sungai, membuat Dewi Ara bisa melalui hidup dengan suasana yang lebih nyaman.
Secara perlahan, mereka berdua melalui waktu, sehingga tanpa terasa perut Dewi Ara mulai menggendut, menunjukkan bahwa kebersamaan mereka sudah berhitung bulan. Pada waktu senggang, Joko Tenang memilih untuk berlatih sesekali.
Dewi Ara hanya menyaksikan calon bapak dari bayinya itu berlatih sambil mengelus-elus perut buncitya.
“Uhhuk uhhuk!” batuk Joko Tenang tiba-tiba. Ia pun berhenti melakukan gerakan dalam latihannya.
Joko Tenang menyeka darah yang keluar dari batuknya itu.
“Ke marilah, Joko!” panggil Dewi Ara.
“Ada apa, Ara?” tanya Joko Tenang.
“Naiklah, duduk di depanku. Aku akan mengobati lukamu!” perintah Dewi Ara.
“Tapi, Ara…. Jika aku sehat, mungkin aku bisa memberontak melawanmu. Mungkin aku bisa lebih sakti darimu,” kata Joko Tenang, bermaksud sedikit mengguraui Dewi Ara.
Dewi Ara hanya tersenyum sinis.
“Duduk di sini!” perintah Dewi Ara lagi.
Akhirnya Joko yang bertelanjang dada menurut. Ia naik ke batu dan duduk bersila membelakangi Dewi Ara.
Pak!
“Menghadap kepadaku!” bentak Dewi Ara setelah menepuk kepala Joko seenaknya.
Joko Tenang hanya tersenyum sambil memutar posisi badannya jadi menghadap kepada Dewi Ara.
Posisi duduk bersila saling berhadapan itu membuat keduanya saling memandang dalam jarak dekat. Ini pertama kalinya mereka duduk berhadapan dalam sejangkauan saja tanpa ada rasa permusuhan.
Deg!
__ADS_1
Ada ketukan aneh yang menyerang dalam dada Dewi Ara, ketika memandangi ketampanan Joko Tenang yang juga memandangi kecantikannya.
“Kau begitu cantik, Ara!” ucap Joko Tenang tanpa sungkan memuji.
“Kau jangan lupa bahwa kau telah memperkosaku di saat aku menjadi mayat. Jangan coba-coba untuk merayu hatiku!” kecam Dewi Ara.
Joko Tenang hanya tersenyum kecut diingatkan dengan dosanya.
Paks!
Dewi Ara lalu menempelkan telapak tangan kanannya ke dada bidang Joko. Mereka saling menatap dalam jarak wajah yang begitu dekat, memberi nuansa keromantisan yang tidak bisa mereka ungkapkan masing-masing.
Setelah pengobatan itu, Joko Tenang benar-benar sembuh.
Keduanya tetap melanjutkan kehidupan dalam kebersamaan yang hanya berdua. Hanya, setelah pengobatan itu, hubungan keduanya memiliki perubahan ke arah yang lebih baik dan harmoni. Meski Dewi Ara selalu berkata dengan nada ketus, tetapi sekarang ia sudah tidak sungkan meminta bantuan kepada Joko Tenang yang sifatnya lebih pribadi.
“Joko, tolong kepangkan rambutku!” pinta Dewi Ara pada suatu waktu.
Joko Tenang pun melayani permintaan Dewi Ara. Ia duduk bersila di belakang punggung wanita jelita itu dan mulai menata rambut panjangnya. Terlihat begitu romantis dan akur.
“Aku tidak pernah mendengar nama Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Dewi Ara membuka obrolan.
“Kerajaanku baru berdiri beberapa purnama. Letaknya di sisi utara Gunung Prabu,” kata Joko Tenang.
“Hebat sekali. Kau menjadi raja baru beberapa purnama, tetapi kau sudah memiliki delapan orang istri. Apakah kau memang tukang kawin, Joko?”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang, setelah lama tidak tertawa.
“Kau jangan tertawa, membuatku seperti wanita bodoh!” hardik Dewi Ara.
“Aku punya penyakit yang membuatku tidak bisa disentuh oleh wanita. Untuk menghilangkan penyakit itu, aku harus banyak menikah,” kata Joko Tenang.
“Termasuk banyak menodai wanita, sehingga mayatku kau pun memakannya?” tukas Dewi Ara.
“Sejatinya aku bukan lelaki mesum dan busuk seperti itu. Saat aku jatuh dan selamat, saat aku melihat mayatmu, ada kekuatan dahsyat yang membakar gairahku tanpa bisa aku tahan atau mencegahnya. Aku sudah sekuat tenaga untuk bertahan agar tidak memperkosamu, tetapi pengaruh dari mayatmu begitu kuat. Akhirnya aku kalah dan pasrah. Mungkin sudah nasibku untuk mati di sini. Namun aku tidak menyangka, bahwa kau akan hidup,” tutur Joko Tenang.
“Baiklah, aku harus akui bahwa ini semua bukan sepenuhnya salahmu. Seorang musuhku telah sengaja merancang kejadian ini untuk membuatku terhina. Aku telah menolak cintanya dan tidak mau dijadikan istri. Dia sakit hati dan menghukumku seperti ini. Namun, aku akan membalas perbuatannya nanti. Tidak hanya dia yang akan aku bunuh, tetapi juga istrinya,” kata Dewi Ara.
Pada kesempatan lain, ketika masa kehamilan Dewi Ara semakin tua dan perutnya semakin besar, ia pun meminta bantuan lain kepada Joko Tenang.
“Joko, temani aku mandi di sungai!” pinta Joko Tenang.
Joko Tenang sigap. Ia mendampingi Dewi Ara pergi ke sungai sambil memegangi tangan kanannya.
Sungai tempat mereka bergantung selama ini adalah aliran air di bawah lubang batu dan luasnya sangat terbatas, karena kedua ujungnya tertutup oleh perut batu, sehingga ruang udaranya sangat sedikit. Sungai itu lebih terkesan seperti kolam atau sumur yang mengalir.
Saat Dewi Ara mandi membersihkan diri, Joko Tenang berdiri di lorong dengan membelakangi keberadaannya.
“Joko, tolong gosokkan punggungku!” teriak Dewi Ara memanggil.
Permintaan itu membuat Joko Tenang mendelik. Ia tidak segera berbalik.
__ADS_1
“Apa yang kau pertimbangkan? Bukankah kau sudah pernah menyentuh bagian yang lebih terlarang?” kata Dewi Ara.
Akhirnya Joko Tenang menurut. (RH)