8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 8: Gua Lolongan


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


Joko Tingkir begitu menikmati perjalanannya bersama Putri Manik Sari yang begitu cantik di matanya. Maklum Joko Tingkir memiliki mata yang jika melihat kecantikan keluaran terbaru, gampang terpikat. Sangat fanatik terhadap perkembangan model. Jika ada wajah cantik yang baru dilihatnya, maka wajah cantik keluaran lama akan kadaluarsa dengan sendirinya.


Kini kecantikan Putri Manik Sari menjadi model terbaru di matanya, kecantikan Dewi Bayang Kematian dan Limarsih secara otomatis kadaluarsa dengan kehadiran sang putri.


Keduanya duduk santai di jerami yang memenuhi pedati. Mereka menumpang ikut di pedati kerbau seorang warga yang mereka temui. Kondisi Putri Manik Sari tampak sudah lebih baik, terlihat dari warna mukanya yang tampak segar.


“Jadi Putri mau ikut ke mana?” tanya Joko Tingkir sambil tersenyum manis selalu berusaha memesona.


“Kau mau ke mana, Joko?” tanya Putri Manik Sari tanpa segan menatap langsung wajah tampan pendekar yang lebih muda darinya itu.


“Jurang Lolongan. Aku akan bertemu dengan guruku di sana. Eh, jangan panggil aku Joko, Putri. Panggil aku Tingkir saja,” kata Joko Tingkir.


“Kenapa?” tanya Putri Manik Sari.


“Sebab, sahabatku juga bernama Joko. Joko Tenang. Dia selalu berusaha menyamaiku. Dalam hal ketampanan, kesaktian, hingga urusan perempuan….”


“Lalu siapa yang lebih unggul?” tanya Putri Manik Sari memotong.


“Akulah pastinya!” jawab Joko Tingkir jumawa sambil meninggikan kepalanya dan menegakkan punggungnya dari sandaran. “Joko Tenang itu selalu iri padaku. Melihat aku dekat dengan gadis cantik, dia juga berusaha lebih dekat. Melihat aku jadi jagoan utama, dia juga berusaha tampil. Yaaa, kau bisa bedakan, mana orang yang tampil memang dengan kemampuan dan kelebihannya, dengan orang yang tampil dengan dibuat-buat dan dipaksa-paksa bisa.”


“Yaaa, aku pernah melihat orang seperti itu,” kata Putri Manik Sari. “Aku akan ikut denganmu ke Jurang Lolongan.”


“Ke Jurang Lolongan? Untuk apa?” tanya Joko Tingkir.


“Yaaa ikut kau, Tingkir,” jawab sang putri. “Apakah tidak boleh jika aku ikut kau? Kau takut kekasihmu cemburu melihat aku bersamamu?”


“Memang ada banyak wanita yang pernah menjadi kekasihku, tetapi mereka semua sulit bertahan lama. Mereka tidak tahan melihat aku yang tidak bisa menghindar disukai banyak wanita cantik. Jadi, mereka memilih memutuskan aku. Sebenarnya aku ini lelaki setia dalam bercinta, tapi mereka saja yang menganggap aku ini pemain wanita. Apa boleh buat, saat ini aku sedang kosong kekasih. Jadi tidak perlu khawatir jika ada seorang wanita yang cemburu kepadamu, Putri. Tapi, apa tujuan Putri ikut denganku datang ke Jurang Lolongan?”


“Aku mencari pembunuh ayahku. Aku yakin Prabu Dira dan permaisurinya pergi ke Jurang Lolongan,” kata Putri Manik Sari.


“Hea hea hea!”


Tiba-tiba terdengar suara lari beberapa ekor kuda yang disertai suara teriakan gebahan. Joko Tingkir dan Putri Manik Sari berhenti berbincang. Mereka menengok ke belakang.


Ada empat ekor kuda berpenunggang empat lelaki. Mereka berperawakan pendekar. Meski model pakaian keempat penunggang kuda itu berbeda, tetapi masing-masing pakaiannya memiliki unsur selembar kulit harimau. Mereka semua menyandang dua kapak pada pinggang masing-masing sebagai senjata.


“Kakang Rong Bale! Coba tanyakan kepada kusir pedati itu!” teriak lelaki brewok berbaju tanpa lengan, memperlihat lengan besarnya yang kekar. Ada gelang kulit harimau di kedua pergelangannya. Namanya Rong Sate.


Lelaki bertubuh pendek tapi berambut gondrong dan berikat kepala kulit harimau, mengangguk kepada rekannya. Lelaki berkumis tipis itu bernama Rong Bale.


Maka ketika keempat kuda itu mendahului pedati kerbau, mereka berhenti di depan, lalu memutar-mutar arah kepala kudanya.

__ADS_1


“Kisanak Pedati!” panggil Rong Bale kepada lelaki sais pedati yang berusia separuh abad.


“Ya, Den Pendekar?” sahut sais pedati sambil menghentikan kerbaunya.


“Kami Empat Kapak Loreng mau ke Gua Lolongan. Apakah benar ini arahnya?” tanya Rong Bale.


“Benar, Den Pendekar. Sebelum sampai ke Gua Lolongan, ada Desa Lamongan. Lebih baik sebelum ke Gua Lolongan, istirahat dulu di Desa Lamongan untuk berbekal, sebab setelah itu tidak ada lagi desa atau tempat bisa minum kopi, Den Pendekar,” jawab sais pedati ditambah info tambahan.


“Baik, terima kasih, Kisanak!” ucap Rong Bale. Ia lalu bergegas melarikan kudanya melanjutkan perjalanan.


Rong Sate dan dua rekannya segera menyusul.


“Ki!” panggil Joko Tingkir dari belakang pedati.


“Ya, Den Pendekar?” sahut sais pedati.


“Setahuku Lolongan itu nama jurang, bukan gua!” kata Joko Tingkir.


“Jurang Lolongan benar, Gua Lolongan juga benar. Sebelum sampai ke Jurang Lolongan, ada persimpangan jalan besar. Jalan yang menurun menuju Jurang Lolongan. Jalan yang menanjak menuju Gunung Galang yang akan melewati Gua Lolongan!” jelas sais pedati lengkap.


“Oooh!” desah Joko Tingkir manggut-manggut. Lalu tanyanya kepada Putri Manik Sari, “Tapi, kenapa mereka perginya ke Gua Lolongan, bukan ke Jurang Lolongan? Bukankah acara pentingnya di Jurang Lolongan?”


“Mana aku tahu, Tingkir!” tandas Putri Manik Sari kesal.


Tidak berapa lama, perjalanan mereka kembali berhenti. Rupanya pedati mereka di hadang oleh dua wanita gemuk dan gendut, masih muda, tapi cantik-cantik dan putih-putih. Bahkan satu di antaranya begitu menggemaskan dengan dengan pipi bakpaonya. Keduanya sedang beristirahat di bawah pohon beringin nan rindang di pinggir jalan.


Wanita muda gemuk berpakaian merah yang beralis tebal dan berhidung mancung, adalah orang yang menghadang pedati. Ia bernama Nila Bilangan.


“Maafkan kami menghentikanmu, Ki!” ucap Nila Bilangan ramah.


“Tidak apa-apa, Nak Pendekar. Apakah ada yang bisa Aki bantu?” tanya sais pedati.


“Kami menuju ke Gua Lolongan. Apakah Aki tahu tempat itu?” tanya Nila Bilangan.


“Ya, aku tahu, Nak. Setelah jalan ini ada Desa Lamongan. Kalian bisa berbekal lebih dulu baru ke arah barat menuju Gua Lolongan. Sebelumnya kalian akan bertemu persimpangan besar. Satu jalan menurun dan satu lagi menanjak. Jika menurun menuju Jurang Lolongan, jika menanjak menuju Gua Lolongan. Jangan sampai salah jalan,” jelas sais pedati.


“Terima kasih, Ki,” ucap Nila Bilangan sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Ia lalu menyingkir dari jalan. “Silakan melanjutkan perjalanan, Ki!”


“Baik,” jawab sais pedati sambil tersenyum lebar. Ia merasa senang karena hari ini ia berguna bagi banyak orang. Ia melanjutkan melecut lembut badan kerbaunya yang kemudian berjalan kembali.


Saat melewati kedua wanita gemuk gendut itu, Joko Tingkir melemparkan senyum memesona sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya kepada kedua wanita cantik itu.


Namun, Nila Bilangan dan adiknya yang bernama Nira Bilangan, hanya menatap dingin kepada Joko Tingkir tanpa sedikit pun senyum. Sikap kedua gadis gemuk itu membuat Joko Tingkir sebagai orang ganteng merasa terabaikan. Ia gigit jari.

__ADS_1


“Hihihi…!” tawa Putri Manik Sari menertawai Joko Tingkir. “Sampai-sampai dua gajah berkulit sapi pun kau coba goda. Hihihi!”


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir pula. “Aneh, mereka juga menuju ke Gua Lolongan. Ada acara besar apa di Gua Lolongan?” (RH)


**********************


Kisah Covid-19 Author (Tamat)


 


Alhamdulillah, akhirnya saya sehat kembali dengan tinggal menyisakan batuk. Saya bisa keluar lagi dan jika siang pergi ke rumah kakak tertua mencari tempat yang adem. Saya bisa melihat sejumlah warga pagi-pagi berjemur diri sambil memakai masker. Saya hanya bisa curiga bahwa mereka juga terkena Covid-19.


Saya memang melihat ada sedikit perubahan pada sejumlah warga yang lebih ketat bermasker meski hanya sekedar keluar rumah. Padahal, hampir dua tahun lamanya, budaya masker itu nyaris tidak ada, karena di sini memang lingkungan yang tidak ada Covid. Shalat di masjid tidak pernah ada prokes, lebaran ramai seperti biasa, warga keliling salam-salaman tanpa prokes. Jika ada yang bermasker, itu sedikit. Mereka semua selalu yakin bahwa di sini zona bebas Covid.


Barulah pada akhir Mei 2021 dan awal Juli banyak warga yang sakit, tapi senyap dari kata “Covid-19”. Mereka beranggapan hanya sakit biasa, demam karena perubahan iklim, gejala tipes-lah, atau masuk angin biasa.


Bersamaan dengan itu, hampir setiap hari ada yang wafat, termasuk tetangga. Suatu hari, yang wafat ada 4 orang dengan titik yang tersebar. Namun, dianggap sakit biasa. Hingga akhirnya, tren wafat itu mereda, tidak ada lagi yang wafat.


Saya kembali shalat berjemaah di musalla. Saya yang masih batuk-batuk, selalu menggunakan masker, tapi jemaah yang lain, meski batuk-batuk, mereka tidak bermasker lagi.


Di masa sehat ini, barulah saya dan kakak, sesama warga, bahkan dengan istri, saling bercerita tentang sakit. Ternyata, mereka menceritakan bahwa mereka juga hilang indera penciuman, sesak dan lemas. Saya menyimpulkan bahwa itu adalah gejala Covid-19 dengan tingkat sakit berbeda-beda setiap orang.


Saya sempat bertanya-tanya. Saya Covid-19, tetapi kenapa istri dan mertua saya tidak ketularan? Setelah istri cerita, ternyata mereka berdua lebih dulu terkena Covid-19. Memang mereka berdua lebih dulu sakit dibandingkan saya, tapi tidak separah saya. Maka terungkaplah jalur dari siapa saya tertular. Kenapa istri dan mertua tidak tertular lagi, karena ketika saya sakit, mereka sudah sehat? Jawabannya karena mereka sudah kebal.


Ahli epidemiologi dan mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadila Supari pernah mengatakan, orang yang sudah terkena wabah, kemudian sehat, maka ia sudah kebal dari wabah tersebut, tidak akan terkena lagi.


Timbul pertanyaan, kenapa ada orang yang terkena Covid-19 dua kali? Dugaan kuat saya adalah dia terkena dua virus dengan varian berbeda. Pertama varian pertama, kedua varian Delta asal India yang bisa goyang Bollywood. Namun, jika ada varian baru lagi, saya yakin orang yang sudah kebal varian Delta bisa terkena lagi karena dia belum kebal dengan varian baru.


Jadi saya mengambil pelajaran dari lingkungan saya.


Sebuah lingkungan nelayan yang tidak pernah dimasuki Satgas Covid-19, kecuali pada fase awal-awal sekali hanya untuk penyemprotan. Warganya tidak pernah tes, kecuali sejumlah individu yang bekerja kantoran. Tidak ada istilah prokes, apalagi vaksinasi.


Tiba-tiba warga ini hampir rata terkena sakit yang gejalanya adalah Covid, tetapi mereka diam-diam saja, tidak ada yang pergi ke dokter. Ada yang sakit lalu di bawa ke rumah sakit, pulang sudah wafat dan semuanya adalah orang tua. Mereka hanya makan obat warung atau mungkin mengikuti terapi yang mudah, jemuran atau pakai minyak kayu putih.


Kemudian mereka sehat dan yang tersisa tinggal batuk-batuknya, yang kata ahli medis, itu adalah bangkai-bangkai virus yang jumlahnya miliaran dan masih mengendap di tubuh.


Jadi, di lingkungan saya ini, mereka terkena Covid secara alami, menjalani sakit Covid secara alami dan terbatas tanpa melibatkan dokter atau petugas medis, kemudian ada yang wafat, dengan kata lain “sudah ajalnya”, lalu mereka sehat, lalu terciptalah kekebalan komunal dengan sendirinya tanpa vaksin.


Setelah masa itu, hampir semua warga kembali beraktivitas seperti biasa tanpa prokes lagi, tanpa masker lagi. Saya pun sudah lepas masker karena batuk pun sudah sembuh seusai Lebaran Haji.


Saya akhirnya berpendapat. Mungkin banyak orang yang tidak sependapat dengan pemikiran saya. Anggaplah semua orang akan terpapar oleh wabah ini, terutama varian Delta yang kecepatan penularannya luar biasa. Semua orang pasti akan melewati masa sakit dan terjadilah seleksi alam. Orang yang imunnya sangat lemah, takdir Tuhan ia akan wafat. Namun, orang yang imunnya kuat dan bisa kembali sehat, maka dia akan menjadi kebal secara alamiah.


Itu artinya, Pemerintah seharusnya memfokuskan target untuk menciptakan masyarakat yang berimun kuat, menerapkan prokes yang masuk akal, bukan berburu orang positif saja dan melumpuhkan sumber penghidupan rakyat. Seperti di lingkungan saya, masa Covid-19 menyerang hanya sekitar satu bulan, setelah itu aman kembali. Namun kita lihat, masyarakat luas justru menderita selama hampir dua tahun karena kebijakan Covid yang tidak tepat.

__ADS_1


Hikmah dari sisi keagamaan: dengan asumsi bahwa kita akan terpapar Covid, maka kita akan menjaga kesehatan dan imun kita. Dua pilihan antara sehat kembali atau wafat setelah sakit, itu akan memaksa kita untuk mempersiapkan bekal amal ibadah untuk perjalanan akherat kita. SEMOGA MANFAAT. (TAMAT)


__ADS_2