8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 6: Pasukan Jin


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


 


“Kita diserang Pasukan Setaaan!” teriak prajurit itu lagi.


“Hihihi! Pasukan Siluman panik diserang Pasukan Setan!” tawa Bidadari Payung Kematian mendengar teriakan laporan prajurit yang datang berkuda.


“Hahahak! Aduh bocor lagi! Aaak!” tawa Setan Ngompol mendengar perkataan Bidadari Payung Kematian. Namun, ujung-ujungnya, Setan Ngompol terpipis yang lagi-lagi membuat kelelakiannya sakit.


“Hahaha!” tawa sebagian prajurit yang melihat Setan Ngompol ngompol di tempat.


Semua orang memandang kepada prajurit yang datang. Joko Tenang dan ayahnya berjalan naik dari dalam kubangan batu.


Siluman Semanis Madu yang juga terkejut dengan teriakan itu, cepat berkelebat turun menghadang lari kuda si prajurit yang mau tidak mau harus mengerem mendadak.


“Lapor, Panglima! Ada pasukan setan yang menyerang di luar benteng Istana!” lapor prajurit itu setelah buru-buru melompat turun.


“Pasukan setan apa maksudmu?!” bentak Siluman Semanis Madu.


“Pasukan yang bisa menyentuh tapi tidak bisa disentuh!” jawab prajurit itu.


“Apa?!” kejut Siluman Semanis Madu.


Semua tokoh sakti yang mendengar itu bereaksi tegang.


“Akk…! Akk…! Akrr…!”


Tiba-tiba terdengar jeritan susul-menyusul yang berasal dari balik dinding benteng. Suara itu terdengar jauh tapi sampai kepada mereka yang ada di tempat tersebut.


“Pasukan! Bergerak ke benteng!” teriak Siluman Semanis Madu lantang. Gaya komandonya keren sebagai seorang wanita. Energi teriakannya seolah-olah ia benar-benar sedang berada di medan perang.


Pasukan Pertahanan Benteng segera berbalik arah dan bergerak teratur meninggalkan pelataran Istana.


“Seraaang!”


Terdengar suara teriakan pasukan jauh di luar benteng.


“Akh…! Akk…! Akk…!”


Kembali terdengar suara jerit kematian para prajurit yang ramai di luar benteng.

__ADS_1


“Munduuur!” Terdengar teriakan komando yang terdengar jauh dari luar benteng.


“Pasukan panah! Penuhi atas benteng! Cepaaat!” teriak Siluman Semanis Madu cepat. Meski ia belum melihat kondisi yang terjadi di luar benteng, tetapi dari yang mereka dengar menunjukkan bahwa situasi di luar sana sangat gawat.


Suara jerit kematian para prajurit di luar benteng terdengar susul-susulan, seolah setiap detik ada nyawa yang melayang.


Ketegangan kian melanda diri para petinggi dan pendekar yang hingga saat itu hanya bisa mendengar suara kekacauan yang penuh kematian.


“Permaisuri Asap Racun, perintahkan semua pasukan mundur ke dalam!” seru Joko Tenang yang sudah tidak betah mendengar jerit kematian para prajurit Kerajaan Siluman.


“Siluman Semanis Madu! Tarik mundur semua pasukan ke dalam benteng!” seru Sri Rahayu kepada Panglima Siluman Semanis Madu.


Punggawa wanita itu cukup terkejut mendengar perintah itu. Namun, ia cepat sadar bahwa Kerajaan Siluman kini dikuasai oleh Ratu Sri Mayang Sih dan putrinya itu.


“Semua pasukan! Munduuur!” teriak Siluman Semanis Madu keras. Bahkan teriakannya mengandung tenaga dalam.


“Munduuur! Munduuur!” teriak prajurit di benteng sahut-sahutan.


“Buka gerbang! Buka gerbang!” teriak prajurit yang lain panik.


“Munduuur!” teriak para prajurit Pasukan Pertahanan Benteng yang tadi diperintahkan maju.


Suasana benar-benar tegang, sementara mereka belum melihat wujud “Pasukan Setan” yang dimaksud.


“Cepat mundur! Cepaaat!” teriak para prajurit sambil terus berlari masuk.


Dalam waktu singkat, pelataran luas Istana Siluman itu ramai oleh prajurit berseragam hijau gelap.


Mereka semua yang ada di teras pintu utama Istana dan tangga, dilanda keterkejutan ketika mereka melihat sejumlah sosok berkulit merah tanpa baju, bertubuh besar-besar, bersenjata pedang, dan dahi mereka memiliki dua tanduk pendek.


Set set set…!


“Akk…! Akk…! Akh…!”


Sosok-sosok makhluk bertubuh merah dan bertanduk itu dengan leluasanya membunuhi para prajurit dengan pedangnya. Mereka benar-benar memanen nyawa.


Joko Tenang dan semua orang yang ada di atas dibuat terkejut. Mereka menyaksikan, makhluk-makhluk berkulit merah bisa membunuh semudah memetik dedaunan, tetapi ketika mereka diserang oleh para prajurit yang berusaha melawan, mereka seperti makhluk hologram.


Siluman Semanis Madu seketika dibuat bingung dengan kondisi itu.


Semakin lama, makhluk bertanduk berkulit merah itu semakin banyak yang bermunculan masuk ke dalam benteng melalui pintu gerbang yang terbuka.

__ADS_1


“Mundur semua!” teriak Sri Rahayu kencang sambil ia naik ke udara dengan tubuh bawah diselimuti oleh asap merah bergulung-gulung.


Asap merah beracun itu membawa Sri Rahayu terbang ke udara, tepat ke atas medan perang. Gulungan asap merah itu tiba-tiba berubah warna menjadi warna hitam pekat, lebih pekat dari awan hitam, membuat Sri Rahayu terlihat semakin menyeramkan. Kemudian muncul kilatan-kilatan aliran listrik pada asap hitam itu.


Sri Rahayu siap mengerahkan ilmu Awan Petir Hitam.


Zezz! Zezz! Zezz…!


Dari asap hitam itu kemudian melesat petir-petir yang sangat cepat, menyetrum makhluk berkulit merah satu demi satu. Ternyata serangan petir itu bisa mengenai sosok-sosok bertanduk. Mereka tumbang dengan tubuh terpanggang semakin merah dan kehitaman.


Mendapati ada serangan yang langsung membunuh mereka, para makhluk yang belum mendapat jatah petir menjadi ketakutan dan melihat ke atas. Mereka lalu buru-buru bergerak mundur hingga keluar dari benteng.


Serangan Sri Rahayu itu memberi para prajurit Kerajaan Siluman kesempatan untuk mundur lebih aman. Hingga akhirnya, ribuan pasukan menumpuk di sekitar tangga pelataran Istana.


Dengan mundurnya pasukan yang tidak bisa disentuh oleh para prajurit itu, pertempuran jadi berhenti.


Namun, timbul pertanyaan, pasukan aneh siapa itu yang datang menyerang secara tiba-tiba. Mereka semua belum pernah menyaksikan pasukan semacam itu.


Puluhan prajurit Kerajaan Siluman bergelimpangan tanpa nyawa di sekitar pintu gerbang benteng yang masih terbuka.


Joko Tenang dan Anjas melesat cepat pergi berlari di atas kerumunan ribuan pasukan yang masih tegang. Selanjutnya, keduanya naik ke atas benteng Istana.


Sementara Sri Rahayu bergerak terbang dan melayang di atas benteng pula, tidak jauh dari ayah dan anak itu.


Para pendekar, baik golongan putih dan hitam, sama-sama berkelebat pergi ke atas benteng, mereka ingin melihat jelas pasukan setan yang datang menyerang itu, yang belum jelas berpihaknya kepada siapa. Pastinya, mereka telah membunuh ratusan prajurit dalam waktu singkat.


Terkejutlah mereka semua melihat satu pasukan aneh, yaitu makhluk berkulit merah tidak berbaju, bertanduk pada kepalanya dan berpedang. Mereka seperti jenis manusia, tetapi tampangnya pada umumnya menyeramkan. Jumlah mereka hanya ratusan, tidak sampai lima ratus orang.


Di sekitar mereka banyak bergelimpangan mayat-mayat prajurit Kerajaan Siluman.


“Kakek Buyut Jin Gurba! Kenapa kau menyerang dan membunuhi prajurit Kerajaan Siluman!” seru Sri Rahayu kepada sosok makhluk kurus tinggi berkulit putih yang adalah kakek buyutnya, yaitu Jin Gurba.


“Aku akan merebut tahta Kerajaan Siluman dari Aninda Serunai!” teriak Jin Gurba yang berdiri di depan barisan pasukannya.


“Aninda Serunai sudah tumbang sebagai ratu. Kini orang tersakti pemilik Tongkat Jengkal Dewa ada di hadapanmu!” seru Sri Rahayu. “Kerajaan Siluman sudah menjadi milik ibuku dan aku. Jika Kakek Buyut berani merebut kerajaan ini, aku sebagai keturunanmu tidak akan sungkan. Karena Kakek Buyut telah membunuh banyak pasukanku, maka aku menyatakan perang!”


Mendelik Jin Gurba mendengar perkataan Sri Rahayu.


“Dan aku sebagai suami dari Sri Rahayu, maka aku pun menyatakan perang terhadapmu, Jin Gurba!” seru Joko Tenang pula.


“Hahaha…! Kau pikir bisa membunuhku dan pasukanku, hah?!” teriak Jin Gurba setelah tertawa di depan benteng. Lalu teriaknya kepada pasukannya, “Bunuh semua yang kalian jumpai. Seraaang!” (RH)

__ADS_1



__ADS_2