
Duduk! Duduk!
Suara ketukan pada dinding kamar membuat lelaki tampan berkumis tipis itu menghentikan langkahnya menuju pembaringan, di mana di atas ranjang megah itu telah berbaring seorang wanita cantik yang hanya berpinjung merah terang.
Mendengar suara ketukan bernada di dinding kamar sang raja, wanita di atas ranjang segera bangun. Ia meraih baju hitamnya dan mengenakannya. Ia lalu berjalan mendekati suaminya yang adalah Raja Anjas Perjana Langit.
“Aku menunggu di luar, Gusti Mulia,” kata wanita cantik yang adalah Permaisuri Semilir Gita Maya. Ia sudah paham suara ketukan apa yang barusan terdengar.
“Baik,” kata Anjas Perjana seraya tersenyum manis kepada istrinya satu-satunya di kerajaan itu.
Setelah Semilir Gita Maya keluar dari kamar, Raja Anjas lalu membuka sebuah dinding dengan cara hanya menempelkan telapak tangannya ke dinding tersebut, seolah sentuhan tangan itu adalah cara Raja Anjas berkomunikasi dengan dinding sehingga mau membuka dirinya.
Terbukalah sebuah pintu yang di dalamnya adalah sebuah ruangan yang diterangi oleh cahaya dian minyak yang bertengger di dinding.
Raja Anjas masuk, kemudian dinding tertutup kembali dengan rapat, seolah tidak ada tanda-tanda keberadaan sebuah pintu. Di ruangan di balik dinding kamarnya, Raja Anjas bertemu dengan seorang lelaki berpakaian serba hitam. Ia mengenakan topeng kain ala ninja zaman dulu, yang hanya matanya yang kelihatan.
Saat berhadapan dengan Raja Anjas, lelaki bertopeng itu menurunkan kain penutup wajah bawahnya, sehingga tampaklah wajah tampanya yang masih muda.
“Hormat hamba, Gusti Mulia,” ucap pemuda itu sambil turun berlutut satu kaki dan menghormat menundukkan kepala.
“Bangunlah, Bayu Kilat!” perintah Raja Anjas.
Pemuda yang disebut bernama Bayu Kilat segera bangun.
“Laporkan apa yang kau bawa!” tanya Raja Anjas.
“Laporan dari Turung Gali mengatakan, Pangeran Dira sudah menikah dengan seorang putri di Negeri Jang seberang samudera, tapi belum melakukan hubungan patuk burung. Putri itu akan dijemput dalam waktu setengah purnama lagi. Lima hari yang lalu, Pangeran Dira sudah menikahi Gadis Penjaga, Ratu Getara Cinta, Kerling Sukma dan Dewi Mata Hati. Sekarang mereka mungkin sedang dalam perjalanan menuju Gunung Prabu. Pangeran Dira juga berencana pergi melamar Putri Sri Rahayu yang berjuluk Bidadari Asap Racun dari Kerajaan Siluman,” lapor Bayu Kilat.
__ADS_1
“Kerajaan Siluman!” sebut Raja Anjas lirih, seakan teringat sesuatu. Lalu katanya, “Kerahkan sejumlah teliksandi untuk mengumpulkan semua catatan diri dan hidup wanita-wanita yang tadi disebutkan, kecuali Dewi Mata Hati dan Gadis Penjaga!”
“Baik, Gusti Mulia,” ucap Bayu Kilat patuh.
Seperti itulah cara Raja Anjas menerima laporan teliksandinya. Meski bukan dilakukan di ruangan kamar raja, tetap saja Permaisuri harus keluar dari kamar.
Beberapa hari kemudian, Bayu Kilat kembali datang melapor kepada Raja Anjas di ruangan yang sama.
“Pangeran Dira sudah menobatkan dirinya sebagai Prabu Dira Pratakarsa Diwana, Raja Kerajaan Sanggana Kecil. Prabu Dira mengangkat Getara Cinta sebagai ratu. Saat ini Prabu Dira telah menikah dengan Sandaria murid Serigala Perak dan Kusuma Dewi, kekasih pertama Prabu Dira di masa muda. Prabu Dira akan terbang bersama burung rajawali dari Alam Kahyangan untuk menjemput Putri Yuo Kai di negerinya di seberang samudera. Setelah kembali, baru akan pergi ke Kerajaan Siluman didampingi oleh Gadis Penjaga. Putri Sagiya ditunjuk menjadi Perdana Menteri di Kerajaan Sanggana Kecil. Semua istri juga diberi jabatan karena saat ini kerajaan itu kekurangan orang!” kata Bayu Kilat menyampaikan sebagian dari laporannya yang banyak. Dan ini catatan tentang istri-istri Prabu Dira!”
Bayu Kilat memberikan tiga gulungan kain berwarna kuning.
Raja Anjas mengambil gulungan itu dari tangan Bayu Kilat dan membukanya satu per satu dan membacanya satu per satu.
Ketiga gulungan itu berisi data yang teliksandi kumpulkan mengenai Getara Cinta, Kerling Sukma dan Putri Sri Rahayu. Hanya tiga nama itu, sebab Raja Anjas sudah sangat tahu tentang Tirana dan Dewi Mata Hati. Untuk data mengenai Putri Yuo Kai, orang-orang Raja Anjas tidak memiliki akses atau informasi sedikit pun.
“Baik, Gusti Mulia!” ucap Bayu Kilat.
Keesokannya, Raja Anjas Perjana Langit pergi seorang diri meninggalkan Kerajaan Sanggana. Pemerintahan ia serahkan kepada Putra Mahkota Pangeran Drajat Mega Sukma, putra dari Raja Anjas dan Permaisuri Semilir Gita Maya.
Pada dasarnya, sejak Turung Gali bergabung dalam kehidupan Joko Tenang, semua informasi tentang Joko, istri-istrinya dan perkembangan kehidupannya, termasuk perkembangan Kerajaan Sanggana Kecil, terpantau oleh Raja Anjas. Terlebih ketika Joko Tenang mulai memerintah Kerajaan Sanggana Kecil, semakin banyak laporan-laporan yang masuk ke Raja Anjas karena Senopati Batik Mida juga bertindak sebagai sumber informasi.
Setelah mengetahui rencana Joko Tenang akan melamar putri dari Prabu Raga Sata, Raja Anjas segera menyusun rencana dan melakukan misi yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
Melalui penanaman teliksandi atau mata-mata di Kerajaan Siluman sejak puluhan tahun lalu, Raja Anjas berhasil masuk ke Kerajaan Siluman secara rahasia. Ia pernah beberapa kali menemui istrinya, Ningsih Dirama, tetapi ia tidak bisa membebaskannya. Saat mengetahui Tirana alias Gadis Penjaga akan menyertai Joko pergi ke Kerajaan Siluman, Raja Anjas merasa memiliki harapan.
Sebenarnya, ketika Joko Tenang dan Tirana mendarat di Hutan Angker bersama Gimba, mereka telah terpantau oleh Raja Anjas yang sudah memiliki basis kamp di hutan itu.
__ADS_1
“Prabu Dira dan Gadis Penjaga sudah meninggalkan Hutan Angker, Gusti Mulia!” lapor Bayu Kilat yang datang hanya untuk urusan pelaporan.
“Biarkan saja, kita tinggal menunggu kabar dari Gurudi,” kata Raja Anjas.
Saat itu Raja Anjas berpenampilan sebagai seorang pendekar, bukan berpenampilan seorang raja. Ia pun tidak membawa pasukan atau prajurit khusus. Ia hanya berkomunikasi dengan Bayu Kilat yang menjadi pusat masuknya informasi dari seluruh teliksandi yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana.
Meski Kerajaan Sanggana adalah kerajaan yang sangat melindungi dirinya dari dunia luar, tetapi kerajaan itu sudah sejak lama menyebarkan ribuan teliksandi ke seluruh penjuru dunia hanya untuk mengumpulkan informasi yang kemudian di catat.
Keesokannya, ketika hari sudah menjelang sore, ada serbuk sinar warna-warni terbang di dalam Hutan Angker. Sinar-sinar yang tidak begitu jelas dan tidak mudah ditangkap oleh mata biasa, terbang menembus kedalaman hutan, melewati pepohonan yang liar-liar.
Siiing!
Raja Anjas yang saat itu duduk bersemadi di atas sebuah rumah bambu di atas pohon yang tinggi, membuka matanya ketika mendengar suara dengungan halus. Ia merasakan kedatangan kumpulan serbuk sinar warna-warni. Ia lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Seolah menjadi magnet, tangan kanan Raja Anjas menyedot serbuk sinar warna-warni itu. Sinar itu kemudian terkumpul satu di telapak tangan kanan Raja Anjas.
Siiing!
Selanjutnya, Raja Anjas memasukkan sinar-sinar itu ke dalam lubang telinganya hingga tidak ada sebutir pun sinar yang tersisa.
“Jojojo… Joko bertemu Raga Sasasa… Sata. Ningsih sususu… sudah tahu Joko dadada… datang ke Kekeke… Kerajaan Siluman!”
Tiba-tiba Raja Anjas mendengar suara Gurudi berbicara di dalam kepalanya.
Raja Anjas lalu memunculkan sebutir sinar putih redup sebesar biji anggur di telapak tangannya. Sinar itu didekatkan ke bibir.
“Biarkan Joko menyelesaikan urusannya dengan Raga Sata. Perintahkan Tirana untuk membebaskan Ningsih saat aku datang. Tunggu aku di pintu rahasia sebelum matahari terbit, Gurudi!” ucap Raja Anjas kepada sinar putih kecil tersebut.
__ADS_1
Setelahnya, sinar yang adalah ilmu bernama Pesan Peri itu, melayang terbang lalu pergi sendiri. (RH)