8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 23: Anjas VS Dewa Seribu Tameng


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Di pelataran Istana yang luas itu, telah berhadapan Raja Anjas Perjana Langit dan Anyam Beringin alias Dewa Seribu Tamang. Anyam Beringin tampil dengan keranjang bambu di punggungnya yang penuh oleh caping bambu.


Ratu Getara Cinta, para permaisuri, keluarga kerajaan, para pejabat, para tamu, serta pasukan Sanggana Kecil dan Balilitan, menyaksikan dari jarak yang cukup jauh. Sebab mereka yakin, duel maut ini akan membutuhkan area yang luas dan akan menimbulkan kerusakan.


Sementara itu, tanpa mereka semua ketahui, kecuali Permaisuri Nara, Joko Tenang ada di ketinggian atap Istana untuk menyaksikan duel tersebut dari jauh. Joko Tenang tidak didampingi oleh siapa-siapa di atas atap. Ia pun dalam keadaan tidak mengenakan celana, tetapi kain seperti sarung.


“Jadi, Kisanak bertarung demi cinta Ratu Sri Mayang Sih?” tanya Anjas kepada Anyam Beringin di jelang pertarungan.


“Benar!” jawab Anyam Beringin mantap.


“Sebelum kita bertarung sampai mati, ada satu hal yang ingin aku ketahui dengan jelas….”


“Apa itu?” tanya Anyam Beringin memotong perkataan Anjas.


“Apakah Ratu Sri Mayang Sih mencintaimu, Kisanak?” tanya Anjas.


“Tidak. Dia hanya memanfaatkan kesaktianku untuk membunuhmu. Tapi itu tidak mengapa, karena dengan membunuhmu dia berjanji akan menikah denganku. Urusan cinta bisa dirakit belakangan. Bagaimana, apakah pertarungan bisa dimulai?” kata Anyam Beringin.


“Jika demikian, aku akan bertarung demi Ratu Sri Mayang Sih, karena aku akan bertanggung jawab memberikan segala yang aku renggut darinya!” tandas Anjas. Lalu selanjutnya dia melesat maju membuka ladang serangan.


Zeng…!


Dewa Seribu Tameng langsung memainkan ilmu perisainya mengatasi serangan Anjas yang cepat dan bertenaga dalam tinggi. Anyam Beringin menghentakkan sepasang lengannya dengan terbuka. Enam buah caping tiba-tiba bergerak terbang sendiri di sekitar tubuh Anyam Beringin. Keenam caping itu berposisi berdiri di udara lalu bergerak cepat dengan sendirinya menangkis semua pukulan dan tendangan Anjas. Jadi Anjas bertarung melawan caping.


Caping-caping yang menangkis semua serangan, tidak rusak, padahal mereka dihantam pukulan dan tendangan yang bertenaga dalam tinggi. Anjas benar-benar tidak bisa menembus pertahanan caping itu dan tidak bisa menyentuh Anyam Beringin. Sementara Anyam Beringin hanya sibuk berdiri memainkan kedua tangannya dengan gerakan-gerakan yang cepat.


Bahkan ketika Anjas bergerak cepat berputar untuk membokong, keenam caping itu begitu solid bergerak cepat pindah posisi dan menjadi benteng yang kuat.


Blar blar blar…!


Pada akhirnya, keenam caping itu hancur diledakkan oleh Tinju Pecah Karang. Ilmu itu berwujud tinju dengan kepal berwarna biru gelap. Efek hantamannya adalah ledakan tenaga sakti.

__ADS_1


Ledakan-ledakan caping yang beruntun membuat Anyam Beringin terjajar beberapa tindak.


Set set set…! Bdar!


Kali ini Anyam Beringin berinisiatif menyerang balik. Caping-caping berlesatan seperti boomerang menyerangi Anjas. Sang raja mengandalkan gerakan cepat mengelaki setiap serangan caping yang jumlahnya tidak hanya dua atau tiga, tetapi ada sepuluh caping yang dilesatkan susul-menyusul. Ketika caping itu tidak mengenai sasaran, ia akan melesat balik kepada tuannya.


Lantai pelataran istana bahkan harus berpecahan saat caping itu mengincar kaki Anjas dan Anjas bisa melompat menghindar. Anyam Beringin benar-benar tampil seperti seorang master sirkus dengan caping-capingnya.


Blar blar blar…!


Setelah menghindar cukup lama, akhirnya Anjas memutuskan menyambut setiap serangan caping dengan Tinju Pecah Karang. Ternyata hasilnya sama dengan yang sebelumnya.


Set set set…!


Habis kesepuluh capingnya karena hancur oleh Tinju Pecah Karang, Anyam Beringin mengerahkan dua puluh capingnya yang tersisa. Namun kali ini, kedua puluh caping tersebut memiliki sinar merah pada lingkaran tepiannya. Pastinya level serangan caping-caping itu jauh lebih berbahaya dari yang sebelumnya.


Kedua puluh caping itu saling susul-menyusul melesat menyerangi Anjas. Jumlah yang lebih banyak membuat kerapatan serangannya lebih padat.


Bluar!


Blar Blar! Das das das…!


Posisi terjengkang itu membuat Anjas terpojok. Buru-buru ia bergulingan ke samping, sampai-sampai dua caping menghantam titik lantai yang ditinggalkannya, menimbulkan dua ledakan menghancurkan lantai.


Selanjutnya, Anjas mengerahkan ilmu perisainya yang bernama Lapisan Pemelihara Nyawa.


Maka caping-caping yang datang seperti tetesan air hujan itu terbentur pada satu dinding perisai yang tidak terlihat, setengah depa dari tubuh Anjas. Anjas terlindungi, sehingga ia memiliki kesempatan untuk bangun. Caping-caping itu melesat balik kembali kepada tuannya.


Pada satu kesempatan, Anjas melompat tinggi ke udara sambil melesatkan sebuah sinar berwarna emas. Sinar itu berbentuk cakra yang berputar kencang. Sinar itu tidak langsung menyerang Anyam Beringin, tetap berhenti di udara. Sinar cakra itu terus berputar hebat pada porosnya, kekuatannya menyedot udara di sekitarnya dengan cepat.


Kekuatan sedot itu membuat arah lesatan para caping jadi terganggu. Hal itu membuat Anyam Beringin terkejut, karena ia merasakan mulai kehilangan kendali terhadap caping-capingnya.


Tidak berapa lama, caping-caping itu tertarik mendekat ke sinar cakra. Akibatnya, caping-caping itu berhancuran ketika terkena putaran sinar cakra emas, padahal Anyam Beringin sudah berusaha mengendalikan caping-capingnya.


Ilmu yang bernama Cakra Delapan Kematian itu jarang Anjas keluarkan, karena fungsinya untuk menyerang lawan dalam jumlah banyak atau merusak sistem serang ilmu lawan seperti caping-caping itu.

__ADS_1


Setelah semua caping Anyam Beringin hancur, Anjas menarik kembali sinar kuning emasnya ke dalam genggamannya. Usai itu, ilmu Cakra Delapan Kematian lenyap di tangan Anjas.


Bugg!


“Hukr!”


Semua orang terkejut bukan main, terutama kubu Ratu Sri Mayang Sih. Anjas tiba-tiba telah sampai menghantamkan Tinju Pecah Karang ke perut Anyam Beringin. Serangan level siluman itu, bukan siluman bala-bala, benar-benar tidak bisa dihindari oleh Anyam Beringin. Jangankan menghindari, untuk melihat awal gerakannya saja tidak bisa.


Ia terlempar keras dengan tubuh meringkuk di udara seperti udang rebus. Sementara dari mulutnya tersembur darah kental. Anjas telah menonjok langsung perut Anyam Beringin dengan Tinju Pecah Karang.


Untung Anyam Beringin orang sakti. Perutnya tidak hancur, tetapi ia hanya merasakan seperti isi perutnya dikoyak-koyak dengan pisau, begitu sakit.


Set! Bak bik buk bek bok!


Anjas kembali melesat cepat dan berdiri mengangkangi tubuh Anyam Beringin yang terbaring. Tinju Pecah Karang menghujani tubuh Anyam Beringin. Namun, kali ini Dewa Seribu Tameng itu melindung tubuhnya dengan lapisan sinar hijau seperti lapisan kaca botol. Kali ini Tinju Pecah Karang tidak berfungsi.


Bluar!


Mendadak muncul sinar putih di balik lapisan sinar hijau. Anjas cepat melompat mundur sebelum sinar putih itu kemudian meledak keras. Daya ledakan itu masih menjangkau tubuh Anjas yang melesat mundur. Akibatnya, tubuh Anjas terlempar liar lalu jatuh bergulingan di lantai pelataran.


“Belum waktunya menggunakan ilmu Surya Langit Jagat, masih ada Permaisuri Sri Rahayu,” pikir Anjas. Ia memutuskan tidak untuk mengobral kesaktian. Ia sadar bahwa Permaisuri Sri Rahayu sebagai salah satu Dewi Bunga, bukanlah lawan yang boleh dianggap enteng.


Anyam Beringin telah bangkit berdiri dalam kondisi terluka dalam, tetapi ia masih sanggup memberi pertarungan sengit.


Terbukti Anyam Beringin kini menciptakan tujuh lapisan sinar bening berlapis seluas empat depat setinggi tiga tombak. Ketujuh lapisan sinar itu berwarna merah, kuning, hijau, biru, jingga, putih, dan ungu. Jarak lapisan sinar satu dengan yang lain sejauh satu tombak. Itu adalah ilmu Perisai Pelangi.


“Sekuat apa ilmu perisai ini? Dengan Surya Langit Jagad, ini pasti akan berakhir. Tapi tidak, jangan keluarkan Surya Langit Jagad lebih dulu…” pikir Anjas.


Tiba-tiba lapisan sinar merah Perisai Pelangi yang berada paling depan, memunculkan sinar-sinar berwujud runcing panjang, jumlahnya puluhan, seolah siap dilesatkan menghujani Anjas.


“Rupanya seperti ini cara kerjanya!” ucap Anjas lirih.


Seset seset…!


“Ciaat!” pekik Anjas seraya menghetakkan lengan kanannya, ketika sinar-sinar merah berwujud runcing panjang itu berlesatan seperti hujan panah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2