8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 21: Sambutan Mengejutkan


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Akhirnya rombongan Raja Anjas dan Permaisuri Tirana tiba di Istana Sanggana Kecil, ketika matahari pagi mulai naik ke atas. Kedatangan mereka benar-benar disambut sebagai tamu yang sangat terhormat.


Pagi-pagi buta, seluruh pasukan yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana Kecil dimobilisasi untuk menyambut kedatangan rombongan Raja Anjas, layaknya tamu negara.


Dimulai saat memasuki gerbang utama Istana Sanggana Kecil sambutan besar dan megah itu sudah terlihat. Meski pasukan Sanggana Kecil hanya sedikit karena sebagian dikerahkan menyerang ke wilayah Kerajaan Baturaharja, tetapi keberadaan pasukan Kerajaan Balilitan membuat pasukan militer terlihat banyak. Mereka berbaris membentuk dua kelompok yang menjadi pagar jalan yang panjang.


“Hormat sembah kepada Gusti Prabu Anjas Perjana Langit!”


“Hormat sembah kepada Gusti Ratu Ningsih Dirama!”


“Hormat sembah kepada Gusti Permaisuri Penjaga!”


“Hormat sembah kepada Gusti Adipati Yono Sumoto!”


“Hormat sembah kepada Gusti Putri Manik Sari!”


Itulah rangkaian kata-kata penghormatan yang diteriakkan oleh ribuan pasukan yang dilalui oleh rombongan Raja Anjas. Hal itu membuat Raja Anjas dan keluarganya terkejut gembira. Mereka tidak menyangka akan disambut sedemikian meriahnya.


Khusus Demang Yono Sumoto, ia lebih terkejut karena disebut sebagai “adipati”. Pikirnya, pihak Istana pasti salah data.


Selain pasukan militer, kelompok pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana, Pasukan Pedang Putri dan Pasukan Pengawal Bunga, Pasukan Penguasa Telaga turut membentuk jalan berpagar menyambut rombongan. Mereka juga mengucapkan kata-kata penghormatan yang sama seperti pasukan militer tadi. Semua pejabat yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana Kecil juga hadir menyambut, termasuk para tamu.


Yang lebih istimewanya, kedatangan Raja Anjas, istri, mertua, dan menantu itu disambut langsung oleh Ratu Getara Cinta dan keempat permaisuri lainnya.


Ketika Raja Anjas Perjana Langit dan Ningsih Dirama turun dari pedatinya bersama Tirana dan Putri Manik Sari, kelima wanita sakti itu turun berlutut menghormat.

__ADS_1


“Hormat sembah kami kepada Gusti Prabu Anjas dan Ibunda Ratu Ningsih Dirama!” ucap mereka kompak.


Tindakan kelima istri Joko itu membuat Raja Anjas dan Ningsih Dirama terkejut dan menganggap itu pengagungan yang berlebihan bagi mereka.


“Apa yang kalian lakukan? Bangkitlah! Bangkitlah!” kata Anjas cepat.


Ratu Getara Cinta dan keempat permaisuri segera bangkit.


Terkagumlah Anjas, Ningsih Dirama, Demang Yono Sumoto, Rumih Riya, dan Putri Manik Sari melihat kejelitaan, keanggunan dan wibawa kelima wanita itu, laksana taburan mutiara yang bercahaya di dalam kegelapan.


Kecuali Tirana, mereka belum pernah bertemu dengan kelima wanita jelita itu.


“Inikah para permaisuri sakti Prabu Dira yang diceritakan oleh Permaisuri Tirana?” ucap batin Putri Manik Sari. Ia jadi minder karena merasa kalah cantik.


“Hormatku, Gusti Ratu dan para permaisuri!” ucap Tirana sambil menghormat secukupnya kepada Ratu Getara Cinta dan keempat permaisuri. Lalu katanya khusus kepada Permaisuri Sri Rahayu, “Selamat datang dalam Keluarga Istana Sanggana Kecil, Permaisuri Sri Rahayu!”


“Selamat pulang kembali, Permaisuri Penjaga!” balas Sri Rahayu.


“Oh, aku kenal Dewi Mata Hati meski Permaisuri tidak mengenalku,” komentar Anjas.


“Aku sudah tahu siapa adanya kau, Raja Anjas. Kau cucu dari Dewa Kematian. Aku sangat mengenal Dewa Kematian,” kata Nara datar.


Ketika Ratu Getara Cinta, Permaisuri Kerling Sukma, Permaisuri Kusuma Dewi murah senyum, maka tidak bagi Sri Rahayu dan Nara. Sri Rahayu tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan Raja Anjas, pembunuh ayahnya. Adapun Nara memang pembawaan karakternya yang mahal senyum.


Dalam sambutan itu juga hadir Ratu Lembayung Mekar, calon istri kesembilan Joko Tenang. Hadir pula Ratu Sri Mayang Sih yang memasang wajah asam, Lima Pangeran Dua Putri, dan Anyam Beringin sebagai pihak oposisi. Kodisi Lima Pangeran masih dalam keadaan terluka. Mereka sedang masa rawat.


“Di mana putraku Joko Tenang?” tanya Ningsih Dirama kepada Ratu Getara Cinta.


“Gusti Prabu Dira sedang sakit, Gusti Prabu hanya menitipkan perkataan maaf, karena tidak bisa menyambut langsung kedatangan Ayahanda dan Ibunda,” jelas Ratu Getara Cinta.

__ADS_1


“Kami sebagai ayah dan ibunya, apakah bisa menjenguknya?” tanya Ningsih lagi dengan ekspresi berubah cemas.


“Maafkan kami, Gusti Prabu dan Ibunda Ratu. Sebelum kedua Gusti kami sambut sebagai keluarga, kedua Gusti dan Permaisuri Tirana harus disidang terlebih dulu terkait kasuh kematian Prabu Raga Sata oleh Gusti Prabu,” ujar Ratu Getara Cinta.


“Hah!” desah Ningsih Dirama terkejut mendengar hal itu.


Anjas, Tirana dan kakek nenek Joko Tenang turut terkejut mendengar hal itu. Mereka tidak menyangka bahwa mereka bertiga akan diadili di persidangan Kerajaan Sanggana Kecil, padahal mereka adalah orangtua kandung raja kerajaan itu, ditambah Tirana adalah Permaisuri Kedua.


Ratu Getara Cinta cepat menjawab keterkejutan Anjas dan lainnya.


“Ratu Sri Mayang Sih sebagai istri Prabu Raga Sata dan mertua Prabu Dira, dan Permaisuri Sri Rahayu sebagai putri Prabu Sata dan Permaisuri Kedelapan, telah menuntut untuk membalas. Terlebih ada tudingan bahwa Permaisuri Tirana terlibat dalam persekongkolan untuk membunuh Prabu Raga. Tudingan itu bertentangan dengan kesaksian Gusti Prabu Dira. Jadi perkara ini akan disidang di pengadilan Sanggana Kecil untuk memperjelas siapa saja orang yang bertanggung jawab dan bagaimana penyelesaiannya,” jelas Ratu Getara Cinta.


“Jika Gusti Prabu Anjas adalah pembunuh ayahku, aku dan Ibunda Ratu Sri Mayang Sih memiliki hak untuk menuntut balas dengan kematian pula!” kata Sri Rahayu tegas dan berani.


“Apa-apaan ini, Gusti Ratu? Mereka berdua adalah mertua kalian, tetapi kalian justru memperlakukan mereka seperti seorang penjahat!” teriak Demang Yono Sumoto tiba-tiba emosi.


“Maafkan kami, Adipati. Demi keadilan dari seorang raja, Gusti Prabu Dira sendiri yang memutuskan untuk mengadili kedua orangtuanya dan permaisurinya,” jawab Ratu Getara Cinta tanpa terbawa oleh kemarahan Demang Yono Sumoto.


“Tidak mengapa, tidak mengapa!” kata Anjas agak keras supaya semua pihak bisa bertindak tenang. “Memang akulah yang membunuh Prabu Raga Sata di depan mata Ratu Sri Mayang Sih. Istriku dan Permaisuri Penjaga tidak turut bersalah.”


“Maafkan kami, Gusti Prabu. Semua pengakuan dan pembelaan harus disampaikan di dalam sidang!” tandas Ratu Getara Cinta.


“Baiklah, aku dan istriku akan mengikuti persidangan Sanggana Kecil!” kata Anjas dengan mantap.


“Kang Mas…” ucap Ningsih Dirama berat hati.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku kagum bahwa Joko bisa mencoba menjadi raja yang adil. Jika kita memang salah, kita harus menanggungnya. Namun sebaliknya, aku yakin hakim Sanggana Kecil tidak akan semata-mata bertujuan mencelakai kita,” kata Anjas mencoba menenangkan Ningsih.


“Aku percaya kepada Kakang Prabu. Aku akan mengikuti persidangan ini,” kata Tirana.

__ADS_1


“Jika demikian, silakan Gusti Prabu, Gusti Ratu dan Permaisuri Tirana menuju ke ruang persidangan!” kata Ratu Getara Cinta.


Maka, bubarlah ramah tamah sambutan yang mengejutkan itu. Mengejutkan karena sikap penghormatan yang begitu tinggi, dan mengejutkan karena mereka dijerat oleh hukum yang diterapkan oleh Kerajaan Sanggana Kecil. (RH)


__ADS_2