8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 14: Tamu Tidak Terduga


__ADS_3

Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


Prabu Raga Sata tiba-tiba merampas Joko Tenang dari pelukan Ningsih Dirama.


“Jangan ambil bayiku, Gusti Prabu!” jerit Ningsih Dirama histeris menangis, sambil mencoba merebut kembali tubuh Joko Tenang pada gendongan tangan kanan Prabu Raga Sata, tetapi tangan kiri Prabu Raga yang besar dan kekar menahan Ningsi Dirama agar tidak menggapai bayinya.


Prabu Raga Sata sejenak memandangi wajah Joko Tenang yang berbibir merah begitu menggemaskan.


Buk!


Tiba-tiba tangan kanan Prabu Raga Sata melempar tubuh Joko Tenang begitu saja ke dalam lantai bambu ruangan rumah atas pohon itu.


“Jokooo!” jerit Ningsih Dirama histeris melihat bayinya dilempar begitu saja.


“Oek oek oek…!”


Seketika Joko bayi menangis keras.


“Kau ikut aku, Ningsih!” kata Prabu sambil menyambar pinggang Ningsih Dirama, membawanya turun dari rumah pohon itu dan meninggalkan Joko Tenang yang menangis kejer.


“Jokooo…!” teriak Ningsih menangis histeris, tetapi tidak berdaya untuk menolak seretan Prabu Raga Sata yang kuat.


Sejak saat itu, Ningsih Dirama berpisah dari putranya, Joko Tenang.


Adegan dua puluh tiga tahun lalu itu, seketika teringat kembali oleh benak Prabu Raga Sata saat ia melihat bibir Joko Tenang yang merah seperti bibir selir dan putrinya.


Prabu Raga Sata juga teringat kata-kata keras Ningsih Dirama kepadanya, saat ia mendatangi Ningsih Dirama untuk menjamahnya.


“Aku tidak sudi disentuh olehmu kapan pun, Prabu Raga Sata! Lebih baik aku mati saat ini juga!” teriak Ningsih Dirama di sudut kamarnya sambil menempelkan sebilah pisau di lehernya. Bahkan leher itu sudah tergores sedikit sehingga mengeluarkan darah. Ia begitu marah dengan mata merah mengeluarkan air mata dan menatap buas ke arah sang prabu.


“Kenapa kau begitu membenciku?” tanya Prabu Raga Sata dengan nada lembut, berusaha membujuk Ningsih Dirama agar tidak berbuat nekat.

__ADS_1


“Karena kau telah memisahkan aku dari suamiku! Karena kau telah memisahkan aku dari Joko anakku!” jawab Ningsih Dirama dengan berteriak.


“Baik, aku akan mengembalikan anakmu, tapi tidak dengan suamimu, karena kau adalah milikku yang diambil olehnya!" kata Prabu Raga Sata dengan nada yang menekan emosinya. Lalu panggilnya kepada prajuritnya, “Panglima! Cari bayi Ningsih dan bawa kepadanya!”


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Panglima Siluman Pedang.


Panglima Siluman Pedang lalu mengerahkan pasukan pergi ke Hutan Anker untuk mencari keberadaan bayi Ningsih Dirama. Namun, Joko Tenang bayi sudah tidak ada di rumahnya di atas pohon atau di Hutan Angker.


Kini, bayi yang dulu dicari-cari itu datang sendiri kepada Prabu Raga Sata.


“Hormatku, Gusti Prabu dan Gusti Ratu,” ucap Joko Tenang sambil menghormat secukupnya, kepada Prabu Raga Sata.


Demikian pula dengan Tirana, ia menghormat secukupnya.


Tindakan kedua teman Putri Sri Rahayu itu membuat Prabu Raga Sata dan Ratu Sri Mayang Sih kerutkan kening, karena Joko dan Tirana tidak turun berlutut.


“Aku Prabu Dira Pratakarsa Diwana, Raja Kerajaan Sanggana Kecil. Dan ini permaisuri keduaku, namanya Permaisuri Tirana,” ucap Joko Tenang memperkenalkan status sebenarnya.


“Kenapa namanya bukan Joko Tenang? Atau nama rajanya dan aslinya berbeda? Wajahnya mirip dengan Ningsih, tapi tidak mungkin aku menanyakan nama aslinya…” batin Prabu Raga Sata.


Tanpa acara termenung, Prabu Raga Sata langsung bereaksi heboh menanggapi perkenalan Joko Tenang.


“Wah hahaha! Aku terkejut, aku terkejut! Tidak aku sangka, tamuku seorang raja dan permaisuri!” seru Prabu Raga Sata sambil bangkit dan tertawa. Ia lalu turun dari tempat duduknya dan turun mendatangi Joko Tenang.


Ratu Sri Mayang Sih jadi ikut turun mendampingi suaminya.


Sambil tertawa-tawa, Prabu Raga Sata menepuk-nepuk kedua lengan kekar Joko Tenang.


“Raja muda yang sakti!” ucap Prabu Raga Sata memuji, membuat Joko dan Tirana tersenyum berkelanjutan.


“Tentunya tidak sesakti Gusti Prabu,” balas Joko merendah.


“Aku sangat tidak menyangka bahwa Batas Dunia Lain yang aku pasang di Penjara Menara Langit akan hancur oleh seseorang,” kata Prabu Raga Sata.

__ADS_1


“Silakan, Permaisuri Tirana!” ucap Ratu Sri Mayang Sih, lebih dulu memegang tangan Tirana dan mempersilakannya duduk di kursi yang sejajar dengan kursi Ratu.


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Tirana seraya tersenyum manis dan sejuk. Lalu katanya memuji, “Gusti Ratu begitu cantik pada usia seperti ini, sungguh mengagumkan.”


“Hihihi! Bagaimana aku bisa merasa cantik jika bersanding dengan seorang wanita yang jauh lebih muda dan jauh lebih cantik?” kata Ratu Sri sambil tertawa berbunga-bunga.


Putri Sri Rahayu terdiam terbelalak melihat keakraban yang terjadi antara kedua orangtuanya dengan Joko dan Tirana. Sebelumnya, bayangan yang ada di kepalanya adalah suasana tegang.


“Joko menggunakan derajatnya untuk mencegah Ayah merendahkannya. Tapi aku yakin, Ayahanda tidak akan meluluskan permintaan Kakang Joko,” pikir Putri Sri Rahayu yang hanya menunjukkan wajah tersenyum melihat keakraban keempat orang beda generasi itu.


“Silakan, silakan, Prabu Dira!” kata Prabu Raga Sata mempersilakan Joko duduk di kursi yang sejajar tingginya dengan kursi Ratu Sri.


Putri Sri Rahayu pun akhirnya duduk pada kursi yang sejajar.


Prabu Raga Sata kembali duduk di singgasananya.


“Aku sudah mendengar cerita dari putriku tentang rencana kedatangan seorang pangeran. Namun, aku khawatir salah orang. Lebih baik Prabu Dira menegaskan niat kedatangan ke istana batuku ini,” ujar Prabu Raga. Ia ingin langsung tahu dengan jelas maksud tamunya itu, sebab ia yakin, Prabu Dira itu adalah Joko Tenang, bayi berbibir merah yang dulu pernah ia lempar ke lantai begitu saja.


“Akulah pangeran itu, Gusti Prabu. Ketika aku berpisah dengan Putri Sri Rahayu, aku masih seorang pangeran. Setelah aku menikahi ketiga istriku, aku mendapat sebuah wilayah dan istana yang diberikan ayahku, lengkap dengan pasukannya. Jadi aku memutuskan untuk membangun sebuah kerajaan yang bernama Sanggana Kecil di Gunung Prabu….”


“Jadi ayahmu seorang raja?” tanya Prabu Raga Sata memotong, meski hal yang membuatnya terkejut adalah saat mengetahui Joko menikahi tiga istri.


“Ayahku Raja Kerajaan Sanggana,” jawab Joko Tenang.


“Kerajaan Sanggana? Aku belum pernah mendengarnya,” kata Prabu Raga Sata dengan kening berkerut.


“Sejak bayi aku dibesarkan oleh guruku, jadi aku belum pernah ke kerajaan ayahku. Tapi Permaisuri Tirana berasal dari Kerajaan Sanggana,” kata Joko Tenang.


“Kerajaan Sanggana sangat tersembunyi dan letaknya sangat jauh dari kerajaan ini, Gusti Prabu. Kerajaan Sanggana seperti mutiara yang bersembunyi di dalam cangkangnya di dasar laut yang dalam. Kami hidup tidak berbaur dengan dunia luar,” jelas Tirana.


Prabu Raga Sata manggut-manggut mendengar hal itu, tetapi di dalam benaknya berpikir menduga-duga.


“Tidak mungkin ayah Joko Tenang seorang raja, dia tinggal di hutan dan tidak punya prajurit seorang pun. Jika suami Ningsih seorang raja, kami pasti sudah berperang sejak lama. Namun, siapa pun pemuda ini, apakah dia Joko atau bukan, aku harus memanfaatkan kerajaannya untuk memperluas kekuasanku. Ini akan mudah karena Kerajaan Baturaharja sudah ada di tanganku. Tapi, aku tidak mungkin terlihat begitu mudahnya setuju. Sebelumnya aku sudah memberi syarat berat kepada Sri Rahayu. Agar putriku tidak curiga, Prabu Dira juga harus aku berikan syarat. Jika dia nantinya mati dalam melaksanakan syarat itu, berarti dia memang bukan calon menantu yang layak…” pikir Prabu Raga Sata. (RH)

__ADS_1


__ADS_2