
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Zess! Blarr!
Semua melihat Tebaklupa melesatkan sinar merah ke langit yang kemudian meledak nyaring.
“Kakek itu memanggil bantuan!” kata Warok Genang dari balik pengintaiannya.
“Kita harus melihat secara keseluruhan. Lihat, rombongan Pangeran Lidah Putih telah datang!” kata Permaisuri Kerling Sukma sambil memandang ke arah jalan yang diapit area berpohon.
Reka Wani dan Surti yang dikepung oleh Nenek Rambut Merah dan dua belas pendekar lainnya, awalnya gembira dengan kedatangan kedua rekannya, yaitu Tebaklupa dan Serak Buto. Namun mereka terkejut, karena setelah melepaskan sinar merah sebagai tanda di langit, yang muncul justru rombongan orang asing.
Rombongan yang baru muncul ke daerah bukit tandus itu adalah Petra Kelana, Murai Manikam dan sepuluh prajurit berkuda. Mereka semua berkuda dan memacu kundanya dengan cepat menuju posisi pengepungan.
Sementara Tebaklupa dan Serak Buto posisinya lebih dekat kepada titik pengepungan. Mereka berlari kencang dengan kudanya ke arah pengepungan.
“Setan Koreng! Siapa yang sebenarnya dipanggil oleh Tebaklupa? Kenapa yang muncul malah pasukan musuh?” maki Reka Wani.
Kemunculan rombongan yang dipimpin oleh Petra Kelana juga mengejutkan Tebaklupa dan Serak Buto.
“Anjiuang! Kenapa mereka yang datang?” maki Tebaklupa gusar.
“Siapa yang kau panggil, Tebaklupa?!” teriak Serak Buto marah, sambil memacu kencang kudanya mendaki kaki bukit yang masih bisa didaki oleh kuda.
“Bukan mereka yang aku panggil!” jawab Tebaklupa.
Nenek Rambut Merah dan gengnya belum menyerang dua nenek putih yang mereka kepung. Mereka menunggu kedatangan dua kakek putih yang semakin mendekat.
Pada saat yang sama, kuda-kuda pasukan Pangeran Lidah Putih juga berlari kencang mendaki kaki bukit. Mereka cukup tertinggal dibandingkan dua kakek putih.
“Badai Racun!” teriak Tebaklupa sambil melompat berlari cepat di udara yang diikuti oleh Serak Buto.
Mendengar teriakan yang adalah komando itu, Reka Wani dan Surti juga melakukan loncatan yang tinggi.
Furr furr furr!
Keempat anggota Lima Siluman Putih itu melakukan penyiraman serbuk racun dalam jumlah banyak dengan taburan dari kedua genggamannya.
“Halau!” teriak Nenek Rambut Merah pula bak layaknya panglima nenek-nenek.
__ADS_1
Wuss wuss! Blets! Sings! Wuss…!
Teriakan Nenek Rambut Merah menjadi aba-aba perintah yang langsung dilakukan oleh kelompoknya dengan berbagai cara. Mereka menciptakan anginnya masing-masing untuk menghalau hujan serbuk racun dari atas.
Nenek Rambut Merah melepaskan angin berputar dari pukulannya. Setan Ngompol mengebutkan sarung bau pesingnya, Limarsih memainkan pedang bangaunya, dan para pendekar Pasukan Hantu Sanggana melepaskan tenaga angin masing-masing.
Angin-angin yang mereka ciptakan membuat hujan serbuk racun yang nyaris tidak terlihat itu terbang entah ke mana.
Keempat Lima Siluman Putih mendarat di tanah berbatu dengan memendam kedongkolan. Serangan racun mereka telah terbaca.
Sess!
Nenek Rambut Merah memulai serangannya terhadap kedua nenek putih. Ia melesatkan sepuluh sinar biru berwujud daun.
Clap!
Kedua nenek yang diserang menghindar dengan cara menghilang dari pandangan.
Terkejut Nenek Rambut Merah. Bisanya mereka menghilang jelas adalah hal yang berbahaya, pikir si nenek.
“Waspada!” teriak Nenek Rambut Merah memperingatkan kelompoknya.
Sementara itu, Limarsih dan tiga pendekar Pasukan Hantu Sanggana kompak menyerang Tebaklupa dan Serak Buto.
“Akk!” jerit Nenek Rambut Merah ketika tahu-tahu Surti muncul begitu saja seperti setan suster ngesot di dekat kaki.
Surti yang muncul dalam posisi berjongkok, menepak lutut kanan Nenek Rambut Merah, membuat si rambut merah itu menjerit.
Ketika Surti hendak melumpuhkan lutut kiri Nenek Rambut Merah, seorang pendekar Hantu Sanggana lebih dulu bergerak cepat menyerang Surti dengan tendangan bertenaga dalam tinggi. Nenek Surti terpaksa melompat bersalto mundur ke belakang, lalu balas menyerang si pendekar dengan kibasan tongkat pendek putihnya.
Blet!
Seperti pakar pemburu hantu, Setan Ngompol melempar lepas sarungnya ke satu arah. Lingkaran sarung itu berputar cepat di udara lalu tiba-tiba bergerak mengikat sendiri, seperti mengikat sesuatu yang tidak tampak.
“Kutu Kudisan!” maki Reka Wani yang tiba-tiba muncul di dalam ikatan sarung bau pesing Setan Ngompol.
Setan Ngompol yang berhasil menjerat Reka Wani, cepat melompat menyerang dengan tinju bertenaga dalam tinggi.
Bduam!
__ADS_1
Satu dentuman mendadak terdengar keras, mengejutkan mereka semua yang bertarung.
Ternyata, tubuh Setan Ngompol telah terlempar balik dan jatuh terjengkang di tanah berbatu.
Itu terjadi ketika Reka Wani menghentakkan kaki kanannya ke bumi. Dari hentakkan itu, muncul sinar biru yang naik ke atas, lalu saat tiba di depan tubuh Reka Wani meledak berdentum, mementalkan tubuh Setan Ngompol yang datang menyerang. Hal itu juga membuat sarung pesing Setan Ngompol pada tubuh si nenek melemah dan melorot jatuh.
Namun, Reka Wani langsung mendapat serangan susulan dari dua pendekar Hantu Sanggana. Pertarungan terus berlanjut.
Sementara Nenek Rambut Merah harus bertarung dengan satu kaki yang terpaku, tidak bisa diangkat dari tempatnya. Ia terpaksa menggunakan sinar-sinar daun untuk memburu nenek Surti.
Kuda Petra Kelana dan Murai Manikam sudah tiba di pusat pertarungan.
Wuss!
Tebaklupa melepaskan angin pukulan bertenaga sedang saat Limarsih dan seorang pendekar Hantu Sanggana melompat maju bersamaan, mereka menyerang dari depan. Angin pukulan itu tidak bisa keduanya hindari, membuat mereka terlempar balik dan jatuh terjengkang.
Tebaklupa tidak berani ngotot mengeluarkan kesaktian tingginya, sebab itu akan membuat luka dalamnya berdarah lagi.
“Aku adalah lawanmu Tebaklupa!” teriak Petra Kelana yang sudah melesat terbang seperti lesatan roket ke arah Tebaklupa.
Furr!
Tebaklupa yang terkejut hanya berani melakukan lompatan mundur yang cepat sambil menaburkan tepung racun ke depan, menaburi wajah si kakek berwajah muda.
Duss!
Ketika wajah dan tubuhnya menerobos taburan racun bubuk putih, Petra Kelana meninjukan kepal tangannya ke depan. Segaris sinar putih tanpa putus melesat lebih cepat dari lesatan tubuhnya dan lesatan mundur Tebaklupa.
Zos! Bluarr!
“Huakr!”
Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nyawanya, selain menahan sinar putih panjang Petra Kelana. Tebaklupa melepaskan ilmu Sinar Terang Putih. Sinar putih sebesar kepala Tebaklupa ciptakan untuk menghadang sinar Petra Kelana. Ledakan tenaga sakti terjadi.
Memang buah simalakama bagi Tebaklupa mendapat serangan dari Pangeran Lidah Putih. Jika ia terkena langsung oleh sinar putih dari tinju Petra Kelana, tubuhnya akan jebol hangus. Namun, jika ia menahan dengan ilmu kesaktiannya pula, ia akan langsung terluka sebelum peraduan terjadi. Pada dasarnya ia sudah terluka parah. Dan ketika peraduan tenaga sakti itu terjadi, habislah Tebaklupa.
Pemimpin Lima Siluman Putih itu terlempar keras dengan mulut menyemburkan darah kental yang banyak. Tubuhnya menghantam tanah berbatu.
“Hekkr… hek!” erang Tebaklupa dengan kepala terkulai dan tidak bisa diangkat lagi. Pandangan mata tuanya menerawang langit yang menyilaukan. Hingga akhirnya, cahaya kehidupan pada bola matanya padam.
__ADS_1
Tebaklupa telah tewas. Pangeran Lidah Putih sebagai tokoh tua berkesaktian tinggi yang selevel dengan Dewa Kematian, membunuhnya hanya dengan sekali serang.
“Tebaklupaaa!” teriak Serak Buto yang melihat kondisi Tebaklupa. (RH)