
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Rombongan para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil akhirnya meninggalkan Joko Tingkir. Pemuda tampan itu tidak mau ikut karena tidak mendapat tumpangan serigala. Ia lebih memilih meratapi nasibnya yang selalu kalah dari Joko Tenang di segala bidang, khususnya dalam perkara cinta.
Joko Tingkir benar-benar syok mengetahui Joko Tenang sudah menjadi seorang raja dan permaisurinya sudah ada delapan, bahkan akan terus bertambah seperti usia. Jika ada rumah sakit jiwa, mungkin ia akan memilih masuk ke sana untuk menenangkan jiwa.
Rombongan para permaisuri akhirnya tiba di persimpangan tiga yang sedang terjadi keributan besar.
Di persimpangan itu telah ramai oleh para pendekar yang mengeroyok Siluman Harimau Hitam.
Awalnya, Datuk Kramat hanya dikeroyok oleh Siluman Gendut, Sepa Maraga dan Empat Kapak Loreng. Namun sekarang, Kudapaksa dan murid-murid Perguruan Pedang Kilat yang berjumlah sepuluh orang ikut mengeroyok.
Yang lebih memberatkan Datuk Krama adalah bergabungnya Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga dalam pertarungan. Di sisi lain, Limarsih dan Setan Ngompol menjadi penonton, karena keduanya dalam kondisi terluka. Limarsi terluka tangan dan Setan Ngompol terluka dalam. Namun, keduanya berdiri berjauhan.
Bau ompol pada Setan Ngompol membuatnya dijauhi para wanita dan lelaki. Namun, itu bukan kondisi yang membuatnya bermasalah. Sejumlah pendekar lain memilih jadi penonton.
Sesakti-saktinya Datuk Kramat, dengan keroyokan hampir dua puluh orang itu, membuatnya kelabakan juga akhirnya. Masuknya Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga begitu berpengaruh mengubah kondisi pertarungan.
Kedatangan rombongan serigala mengejutkan para pendekar, terlebih kelima serigala itu ditunggangi oleh enam wanita cantik dan dikawal belasan pendekar.
“Serigala Perak!” sebut Setan Ngompol. Para serigala itu mengingatkannya pada seorang nenek sakti yang suka bersama beberapa ekor serigala besar.
“Serigala Perak!” ucap Datuk Kramat lirih saat menangkap kedatangan para serigala di persimpangan itu. Ia kemudian bersalto cepat ke udara, saat rombongan pedang terbang dari murid-murid Perguruan Pedang Kilat melesat terbang seperti kumpulan ikan cucut.
Seset!
“Graurr!”
Di saat Datuk Kramat bersalto di udara, lima helai daun menancapi tubuhnya. Sang datuk yang tadi kebal terhadap satu pedang, mengaum menunjukkan ia kesakitan. Ia mendarat di tanah dengan terhuyung.
Set!
Nenek Rambut Merah menggerakkan tangan kanannya seperti menarik. Maka lima daun yang lebih tajam dan kuat daripada pedang itu, tertarik lepas dari tubuh Datuk Kramat. Lima lubang pun tercipta dan darah langsung mengalir deras.
Giliran Hantu Kaki Tiga yang datang berputar di udara dengan kedua kaki bersusulan mengapak ke arah kepala Datuk Kramat.
__ADS_1
Dak dak! Tak!
Kedua tendangan mengapak itu mampu ditangkis oleh kedua tangan Datuk Kramat. Namun, ada kaki ketiga yang menyusul datang mengapak. Untuk yang ketiga itu, Datuk Kramat tidak bisa mengelak. Ia hanya bisa mengerahkan tenaga dalamnya ke kepala, ketika senjata kaki palsu itu menghantam kepalanya.
Datuk Kramat jatuh terlutut dengan darah termuncrat sedikit dari mulutnya.
Berhasil membuat Datuk Kramat terlutut, Hantu Kaki Tiga kian bernafsu. Dengan bertumpu pada kaki kirinya, Hantu Kaki Tiga melakukan tendangan berputar. Bahayanya, dua kaki yang berkelebat telah diselimuti kobaran api.
“Grraurr!”
Dalam posisi masih berlutut, Datuk Kramat kembali mengeluarkan Auman Harimau Hitam-nya. Suara harimau asli bertenaga sakti terdengar keras, seiring segelombang kekuatan menghantam tubuh Hantu Kaki Tiga sebelum tendangannya mengenai kepala lawan.
Hantu Kaki Tiga terpental brutal dan jatuh keras tidak karuan di tanah jalan. Ia pun jadi terluka dalam.
Giliran dua kapak terbang yang kuning membara seperti warna besi dibakar, melesat menyerang Datuk Kramat. Dalam posisi terluka dalam dan sudah memiliki lima lubang pada tubuhnya, Datuk Kramat menghentakkan kedua lengannya.
Wuss!
Satu kekuatan besar berangin keras keluar dari tubuh si datuk yang menyebar ke segala arah, mengacaukan arah lesatan kedua kapak terbang dan membuat musuh yang dekat terdorong jatuh.
Seset! Set!
Pada waktu yang sama, Kudapaksa melompat tinggi di udara dengan pedang di tangan yang sudah bersinar biru seperti pedang Star Wars.
Clap! Wess!
Pada waktu yang sama juga, tiba-tiba di sisi Datuk Kramat sudah berdiri Tirana dengan gaya embusan angin halusnya ke segala arah. Datuk Kramat langsung mematung dengan lima lubang luka terus mengeluarkan darah segar.
Jejess! Cess!
Rombongan sepuluh pedang terbang yang rapat menabrak sosok Tirana, tapi dua jengkal dari kulit tubuh sang permaisuri. Murid-murid Perguruan Pedang Kilat terkejut syok melihat pedang logam mereka lumer, seperti terkena panas yang luar biasa tingginya. Hingga akhirnya mereka semua mematung terkena angin Pemutus Waktu milik Tirana.
Sepuluh pedang itu benar-benar habis menabrak ilmu perisai Kulit Dewi Gaib Tirana.
Hal yang sama dialami oleh Lima Daun Arwah. Kelima sinar itu musnah ketika menabrak benteng Kulit Dewi Gaib yang tidak terlihat.
Nenek Rambut Merah terkejut melihat hasil dari ilmunya, kemudian dia pun mematung terkena angin Pemutus Waktu.
__ADS_1
Empat Kapak Loreng pun mematung. Begitu juga dengan Hantu Kaki Tiga.
Namun, tidak bagi Siluman Gendut dan Sepa Maraga yang sejak tadi mengambil posisi agak jauh dari Datuk Kramat. Hal itu karena keduanya sudah terluka dalam.
Di saat Setan Ngompol dan para pendekar lain terkejut menyaksikan pertarungan yang mematung, Limarsih justru terkejut melihat keberadaan Kusuma Dewi yang duduk di salah satu punggung serigala.
Set! Jess!
Dari sisi atas, Kudapaksa yang tadi melompat tinggi ke udara, melesatkan pedangnya yang bersinar. Seranganya mengarah tepat kepada Datuk Kramat, tetapi Tirana tinggal mengangkat tangan kanannya.
Senasib dengan sepuluh pedang lainnya, pedang sakti Kudapaksa musnah saat mencapai dua jengkal dari telapak tangan Tirana.
Jleg!
Kudapaksa mendarat di tanah tanpa terkena imbas Pemutus Waktu, karena ia berada di udara saat yang lain mematung.
“Berhentilah, Kisanak!” seru Tirana kepada Kudapaksa.
Melihat situasi yang tidak bagus itu, Kudapaksa jadi ragu untuk melanjutkan serangan. Wanita berkecantikan lembut dan sejuk dipandang itu, tidak main-main. Dalam sekejap waktu saja dia bisa mengambil kendali pertarungan ramai itu.
“Orang gendut itu bernama Siluman Gendut, orang Kerajaan Siluman. Aku sebagai orang Kerajaan Siluman tidak mungkin turun tangan membunuhnya,” kata Permaisuri Sri Rahayu kepada para permaisuri yang masih duduk di punggung serigala.
“Biar aku yang menghukum mati dia,” kata Yuo Kai.
Melihat keberadaan Putri Sri Rahayu dalam rombongan serigala, Siluman Gendut jadi galau dan bimbang.
“Bidadari Asap Racun. Kenapa dia bersama rombongan serigala? Berarti Siluman Bayang Seribu gagal tadi malam. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Bidadari,” pikir Siluman Gendut.
“Ada apa, Ketua?” tanya Sepa Maraga curiga karena Siluman Gendut menatap ke arah Sri Rahayu. Sepa Maraga memang tidak mengenal siapa adanya Bidadari Asap Racun.
“Kita harus pergi!” ajak Siluman Gendut kepada pengawalnya itu.
Set!
Namun, Siluman Gendut dan Sepa Maraga harus menahan langkahnya, sebab tahu-tahu ada dua pisau tanpa gagang melayang diam di udara, tepatnya satu jangkauan di depan wajah mereka berdua.
Seiring itu, sosok berpakaian serba putih berparas cantik nan bening melayang terbang di udara. Ia mendarat halus beberapa tombak di depan Siluman Gendut dan Sepa Maraga. Sosok indah itu adalah Yuo Kai.
__ADS_1
Dua pisau terbang itu adalah senjata Permaisuri Negeri Jang yang lama tidak dikeluarkan. Di balik pakaiannya ia memiliki sejumlah pisau tanpa gagang.
Sementara di sisi lain, Kusuma Dewi berkelebat di udara dan mendarat di hadapan Limarsih yang adalah kakak kandungnya. (RH)