
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
“Jika kalian semua tidak percaya dengan apa yang aku katakan, maka cobalah sendiri menaklukkan pusaka itu jika memang mau mati!” seru Emping Panaswati setelah ia menjelaskan tentang pusaka Tongkat Jengkal Dewa.
“Jika kalian masih sayang nyawa, lebih baik tinggalkan tempat ini!” seru Ki Ageng Kunda Poyo juga.
“Kami tidak akan pergi, kami ingin melihat kebenaran omongan kalian, Kunda Poyo!” sahut Hantu Kaki Tiga.
“Kenapa tidak sekalian saja kalian coba taklukkan benda itu!” ucap Ki Ageng Kunda Poyo kesal.
“Tadi kalian melarang, sekarang justru menyuruh!” sentak Setan Ngompol.
“Orang bau pesing lebih baik jauh-jauh!” hardik Emping Panaswati.
“Kau menantangku, Nenek Peot? Apalagi kalian melindungi pembunuh saudara kami!” balas Setan Ngompol, merujuk kepada Dewi Bayang Kematian.
“Aku tidak keberatan jika kalian mau adu nyawa di sini!” sahut Dewi Bayang Kematian.
“Hajar saja, Bayang Kenikmatan!” teriak seorang pemuda tampan.
“Betul! Kami akan mendukungmu. Sudah waktunya pendekar tua musnah di muka bumi, giliran yang muda-muda memimpin!” teriak lelaki muda lainnya lantang.
Para tokoh tua langsung beralih memandang kepada pemuda bertubuh besar yang barusan berbicara.
“Jaga mulutmu, Anak Muda Ingusan!” hardik Nenek Rambut Merah.
“Apakah kau mau merasakan dipukuli oleh semua nenek-nenek sakti?!” hardik Emping Panaswati.
Pemuda yang membuat marah seluruh kalangan tua itu hanya bisa tersenyum kecut.
Sesst! Tass! Bluar!
Tiba-tiba dari belakang kerumunan para pendekar itu melompat seorang lelaki berpakaian merah, sambil melesatkan sinar hijau berwujud telur bebek, karena sedikit lebih besar dari telur ayam. Sinar itu melesat cepat lewat di atas kepala para pendekar dan langsung menargetkan Emping Panaswati.
Cepat Emping Panaswati memukul bola sinar itu dengan tongkat bambunya, seperti atlet bisbol memukul bola kasti. Sinar bola itu melesat ke atas jurang lalu meledak saat mengenai dinding udara padat.
“Kurang diajar!” maki Emping Panaswati marah karena jelas-jelas dia ditargetkan.
Emping Panaswati cepat melesat keluar gua melewati atas kepala para pendekar. Emping Panaswati melihat sosok lelaki berpakaian merah yang menyerangnya sedang berlari menjauhi gua.
Seet!
Tongkat bambu Emping Panaswati melesat cepat mengejar lelaki berbaju merah. Mendapat serangan dari belakang, lelaki gagah tersebut cepat melompat bersalto menghindari tongkat yang kemudian menancap di tanah.
“Jangan lari kau, Cecurut!” teriak Emping Panaswati.
Pemuda bersenjata keris di pinggang belakangnya itu, terpaksa harus berhadapan dengan Emping Panaswati, sebab ia tidak bisa kabur lagi. Saat jelas terlihat wajahnya, ternyata pemuda itu tidak lain adalah Mahapati Abang Garang, yang punya nama lain Siluman Hitam.
Ketegangan tetap terjadi di sisi dalam gua dengan munculnya Aki Ular Biru, pendekar tua berambut hijau yang membawa dua ekor ular kecil warna hijau pada tangannya.
“Omong kosong semua yang kalian katakan, Kunda Poyo!” teriak Aki Ular Biru. Ia lalu berteriak kepada khalayak ramai, “Dengarkan semua! Katanya, hanya keturunan Ratu Bibir Darah yang berbibir merah yang bisa memiliki pusaka itu, itu semua omong kosong! Jika itu benar, lalu untuk apa mereka datang ke sini hanya untuk melarang kita menyentuh pusaka itu!”
“Benar, benar! Ini pasti akal-akalan otak tuamu saja, Orang Tua!” tukas pendekar lain yang tidak mau disebutkan namanya.
“Jelas-jelas mereka datang belakangan, tapi seenaknya saja mengatur di sini. Singkirkan saja Ki Ageng Kunda Poyo ini!” teriak Aki Ular Biru yang ditugaskan menjadi provokator.
__ADS_1
“Seraaang!” teriak Rong Bale, pemimpin Empat Kapak Loreng yang sejak tadi sudah tiba pula seiring kedatangan Nenek Rambut Merah cs.
Empat Kapak Loreng yang sangat mudah terprovokasi, menjadi orang-orang yang lebih dulu bergerak menyerang Ki Ageng Kunda Poyo. Menyusul beberapa pendekar yang membenarkan kata-kata Aki Ular Biru.
Duk! Wuss!
Ki Ageng Kunda Poyo mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai gua. Maka satu gelombang tenaga besar menjalar di lantai gua ke segala arah.
“Dewi Bayang Kematian dan banyak para pendekar segera melompat di tempat menghindari gelombang itu.
Namun, sejumlah pendekar yang tidak siap, harus terjengkangan ke belakang, termasuk Rong Sate yang posisinya mengurung Ki Ageng Kunda Poyo dan dekat dengan bibir jurang.
“Aaak!” jerit Rong Sate yang terlempar ke dalam jurang.
“Rong Sateee!” teriak Rong Bale, Rong Gawe, dan Rong Jahe bersamaan melihat rekan mereka menjemput maut ke dasar jurang.
“Kau harus membayar kematian Rong Sate, Ki Ageng!” teriak Rong Bale murka lalu melemparkan kapaknya dengan kencang.
“Kalian yang mau membunuhku, tapi kalian juga marah ketika kalian mati!” teriak Ki Ageng Kunda Poyo sambil menangkis kapak terbang itu dengan tongkatnya, lalu memainkannya dengan cara diputar di tongkat kemudian dilempar.
Teb!
“Akhr!” pekik Rong Jahe yang kepalanya ditancapi kapak milik Rong Bale. Ia tumbang dengan kondisi mengerikan.
“Rong Jaheee!” pekik Rong Bale dan Rong Gawe bersamaan.
“Serang Dewi Bayang Kematian!” kata Hantu Kaki Tiga kepada kedua saudara seperguruannya.
Hantu Kaki Tiga, Setan Ngompol dan Nenek Rambut Merah segera mengambil kesempatan untuk menyerang Dewi Bayang Kematian.
Di luar gua pun, pertarungan berjalan sengit karena Mahapati Abang Garang memiliki kesaktian yang bisa diandalkan.
Namun, belum lama pertarungan berlangsung, tiba-tiba….
Auuu uuu…!
Tiba-tiba terdengar lolongan berjemaah para serigala. Suaranya kencang dan terdengar tidak terlalu jauh.
Lolongan itu ternyata sanggup membuat pertarungan di dalam dan luar gua terhenti.
“Lihat, rombongan besar itu sudah sampai!” kata Nila Bilangan sambil memandang ke jalan besar.
Nira Bilangan yang berada di luar mulut gua segera menengok ke belakang.
Kedua murid Ratu Naga Lembah Seribu itu tidak bisa masuk ke dalam karena mereka bertubuh gemuk. Selain bertubuh gemuk, sebagai gadis, mereka juga tidak mau terjepit di antara para lelaki.
Mereka berdua dan semua orang yang ada di luar dan mulut gua segera melihat ke belakang.
Mereka melihat rombongan besar yang dipimpin oleh lima ekor serigala besar dan enam permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil.
Takjublah mereka melihat kecantikan jelita yang bertabur di atas keseraman para serigala. Terlihat pula Permaisuri Kusuma Dewi berjalan kaki bersama Limarsih. Di sisi belakang ada tujuh belas pendekar Pasukan Pengawal Bunga.
“Pemuda berbaju merah itu bernama Siluman Hitam, orang Kerajaan Siluman!” kata Permaisuri Sri Rahayu sambil memandang ke arah Mahapati Abang Garang.
“Biar aku yang membunuhnya!” teriak Permaisuri Sandaria sambil tunjuk tongkat, maksudnya tunjuk tangan yang memegang tongkat.
__ADS_1
Clap!
Permaisuri Sandaria tiba-tiba menghilang dari punggung Satria.
“Hihihi!”
Setelah Sandaria hilang dari serigalanya, tiba-tiba suara tawanya terdengar, tetapi tidak tampil wujud.
“Sial! Aku diserang!” desis Mahapati Abang Garang sambil mendongak ke atas langit.
“Salam kenal dari Sandaria cantik imut!” teriak Sandaria saat dia tahu-tahu muncul seperti setan di udara, lurus tepat di atas kepala Mahapati Abang Garang.
Tuss!
Seiring kemunculan Sandaria, tongkat biru ditusukkan lurus ke bawah, melesatkan segaris sinar kuning tipis tepat ke arah kepala Mahapati Abang Garang.
Sang mahapati yang menyadari ada serangan dari atas, cepat menusukkan kerisnya yang telah bersinar putih berpendar.
Bluarr!
Satu ledakan hebat terjadi.
Alangkah terkejutnya Mahapati Abang Garang. Ia tidak menyangka kekuatan ilmu Tusuk Nyawa milik Sandaria begitu tinggi. Ledakan yang menghancurkan keris pusakanya itu, membuat dirinya terpental jauh dan jatuh keras dalam kondisi terluka parah.
“Hoekh!” Mahapati Abang Garang muntah darah kental dan panas.
Rombongan para permaisuri berhenti sejenak tidak jauh di depan mulut gua yang ramai. Semua perhatian untuk sementara tertuju kepada mereka.
“Hantam Buta!” sebut Permaisuri Tirana.
Hantam Buta yang bertubuh tinggi besar dan kekar, segera berlari maju ke depan para serigala.
“Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para pendekar semua, kami dari Kerajaan Sanggana Kecil, meminta kalian mengosongkan gua sekarang juga!” teriak Hantam Buta dengan suara yang mengandung tenaga dalam.
Suara itu terdengar keras di telinga para pendekar yang ada di mulut gua, juga terdengar jelas oleh mereka yang masih di dalam seberang jurang.
Namun, setelah seruan itu, hanya sebagian kecil pendekar yang patuh, sehingga kepadatan di mulut gua sedikit terurai.
“Tirana!” teriak Dewi Bayang Kematian yang berkelebat cepat dari dalam gua. Ia memilih meninggalkan pertarungan yang mengeroyoknya.
“Dewi Bayang Kematian!” sebut Tirana seraya tertawa kecil tanpa suara. Melihat wanita sakti itu, Tirana seketika teringat dengan Prabu Kecil.
Bersamaan dengan itu, Permaisuri Sri Rahayu justru melesat terbang masuk ke dalam gua. Ia mendarat di tengah-tengah para pendekar yang pertarungannya terhenti.
“Aku Permaisuri Kedelapan Kerajaan Sanggana Kecil berjuluk Bidadari Asap Racun. Kalian yang tidak keluar dari mulut gua ini, akan terkena racun dari asapku!” kata Sri Rahayu dingin tapi jelas terdengar hingga ke seberang jurang, tempat puluhan pendekar masih berdiri berkerumun.
Sess!
Tiba-tiba asap merah muncul dari tubuh bawah Sri Rahayu. Kemunculan asap berbau racun itu mengejutkan para pendekar, termasuk Ki Ageng Kunda Poyo.
“Asap beracun!” teriak seorang pendekar keras, memperingatkan pendekar yang lain.
“Munduuur!” teriak pendekar yang lain pula.
“Keluar, cepat keluar!” teriak yang lainnya.
__ADS_1
Situasi dalam mulut gua semakin tegang ketika asap merah yang dikeluarkan oleh Sri Rahayu semakin banyak dan mulai melebar mendekati para pendekar terdekat. (RH)