
"Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Brak! Seset…!
Seiring dengan masuknya para prajurit Pengawal Prabu yang berseragam putih-putih ke dalam kamar, Anjas Perjana menghentakkan kesepuluh jari tangannya yang sudah merentang melebar di depan.
Maka, puluhan sinar merah berwujud jarum-jarum dari ilmu Jarum Neraka melesat menyambut kedatangan para prajurit.
“Akk akh akk…!”
Sontak semua prajurit yang bergerak masuk terjengkangan seiring jeritan kematiannya, setelah tubuh mereka dimasuki oleh jarum-jarum sinar itu.
Sepuluh prajurit langsung tewas di tempat dan menumpuk di ambang pintu kamar.
Anjas cepat menyediakan lagi puluhan sinar merah berwujud jarum-jarum yang mengambang di depan tubuhnya yang bersila.
Seset…!
“Akk akh akk…!”
Para prajurit berseragam putih-putih gelombang kedua yang bergerak masuk, juga berjeritan dengan tubuh terlompat di tempat karena sentakan dari maut.
Dalam waktu singkat, hampir dua puluh Pengawal Prabu tewas di sekitar pintu.
“Siapa yang berani menyentuh ratuku?!”
Tiba-tiba terdengar teriakan keras yang mengandung nada amarah yang begitu tinggi.
Clap!
Tahu-tahu di ambang pintu telah berdiri sosok Prabu Raga Sata. Meski tidak terlihat oleh mata biasa, tetapi Anjas bisa melihat pergerakan Prabu Raga Sata.
“Aku!” jawab Raja Anjas sambil bangkit dari duduknya. Ia berdiri dengan tenang.
Mendeliklebarlah Prabu Raga Sata ketika mengenali lelaki yang telah ada di dalam kamarnya itu.
Dari luar bermasukan para prajurit berseragam putih-putih, termasuk masuk pula Panglima Siluman Pedang, Senopati Siluman Jarum, dan dua perwira lainnya. Mereka semua berdiri di belakang Prabu Raga Sata.
__ADS_1
“Tentunya kau masih ingat aku, Raga Sata?” tanya Anjas sambil melangkah setindak mendekati ranjang.
“Lelaki maling!” maki Prabu Raga Sata.
“Aku kira aku yang kemalingan istri, tapi kau malah menuduhku maling!” kata Anjas.
“Kang Mas Prabu!” jerit Ratu Sri Mayang Sih yang terbujur kaku di atas ranjang di dalam selimut.
“Sri, apa yang dia lakukan kepadamu?!” teriak Prabu Raga Sata tanpa mau bertindak gegabah.
“Perintahkan semua prajuritmu keluar dari kamar ini, Raga Sata. Jika tidak, sekali tarik maka ratu akan menjadi tontonan para prajuritmu!” kata Anjas dengan tenang. Sementara satu tangannya sudah memegang ujung selimut dan bermaksud menariknya.
Prabu Raga Sata terkejut, isi kepalanya sejenak mencoba mencerna maksud perkataan Anjas.
“Ratu tidak mengenakan apa-apa di bawah selimut. Jika selimut ini aku tarik, maka habis sudah kehormatan Ratu!” tandas Anjas
“Kang Mas Prabu, perintahkan semuanya keluar!” teriak Ratu Sri Mayang Sih menjerit panik. Ia sangat takut kalau Anjas bertindak gila dengan menarik habis selimut yang menutupi tubuhnya.
“Kalian semua keluar!” perintah Prabu Raga Sata kepada semua perwira dan prajuritnya yang posisinya sudah ada di dalam kamar.
Semua perwira dan prajurit segera bergerak keluar dari kamar, kecuali Panglima Siluman Pedang yang memilih tetap berdiri di tempatnya.
“Tapi, Gusti Prabu. Aku sangat jelas melihat mereka berhubungan dan Ratu menikmatinya. Ini bukan Ratu yang menjadi korban, tapi….”
“Cukup, Panglima! Keluar!” bentak Prabu Raga Sata lebih keras lagi, memotong penjelasan Panglima Siluman Pedang.
Dengan memendam kekesalan dan kemarahan kepada Anjas yang sudah diingatnya, Panglima Siluman Pedang melangkah ke luar kamar.
Sementara di luar kamar, terjadi penumpukan pasukan Istana berseragam hijau gelap. Ada pula pasukan khusus yang tidak berpakaian seperti prajurit. Pasukan khusus berlatar belakang pendekar itu mengenakan seragam baju ungu dan celana hitam. Mereka semua menyandang senjata berupa celurit besar.
Kini tinggallah tiga orang di dalam kamar besar itu, yakni Prabu Raga Sata, Ratu Sri Mayang Sih dan Anjas Perjana Langit.
Sementara itu, Anjas memiliki ide baru setelah mendengar upaya Panglima Siluman Pedang untuk menjelaskan kepada rajanya.
“Sekian lama aku menjalin asmara dengan Ratu Sri, akhirnya aku ketahuan juga,” ucap Anjas seraya tersenyum. Setelah berhasil melakukan akting adegan atas ranjang ala-ala Bollywood, kini Anjas mencoba akting dialognya ala drama Korea.
Mendeliklah Prabu Raga Sata dan Ratu Sri Mayang Sih mendengar perkataan Anjas yang sepertinya adalah pengakuan.
“Kau…” sebut Prabu Raga Sata sambil menunjuk wajah Anjas dan menatap dengan mata memerah kepada istrinya.
__ADS_1
“Jangan percaya dengan kata-kata Anjas, Kang Mas Prabu!” teriak Ratu Sri Mayang Sih.
“Bagaimana aku tidak percaya? Panglima Siluman Pedang tidak buta ketika menyaksikan kalian berdua melakukannya! Dan kau dengan fasihnya menyebut namanya! Hiaat!” teriak Prabu Raga Sata murka lalu tiba-tiba merangsek maju menyerang Anjas dengan kecepatan luar biasa.
Sebagai penguasa ilmu Bayang-Bayang Malaikat, kecepatan gerakan Prabu Raga Sata adalah hal yang mudah dibaca.
Anjas mementahkan semua serangan Prabu Raga Sata dan justru memaksa lawannya itu melompat mundur dan berhenti menyerang.
“Gila, semua gerakan tercepatku mentah olehnya!” ucap Prabu Raga Sata dalam hati.
“Karna aku sudah ketahuan berselingkuh dengan Ratu Sri, maka lebih baik aku terbuka saja, Raga Sata. Terlebih aku memang ingin membalas dendam dan membawa kembali istriku,” ujar Anjas dengan tenang.
“Jangan dengarkan perkataan lelaki mesum itu, Kang Mas Prabu!” teriak Ratu Sri Mayang Sih.
“Aku tidak menyangka, setelah ketahuan kau justru meninggalkanku, Ratu,” kata Anjas.
“Dia yang menyelinap masuk ke dalam kamar di saat aku sedang mandi lalu menotokku!” bantah Ratu Sri Mayang Sih.
“Bukankah aku datang karena kau memanggilku melalui pesan rahasia, Ratu? Jika tidak, mana mungkin aku bisa sampai di sini setelah melalui pintu rahasia yang kau tunjukkan selama ini,” kata Anjas. Ia lalu beralih kepada Prabu Raga Sata, “Kami sudah beberapa tahun menjalin hubungan asmara. Dendamku selalu aku pelihara, Raga Sata. Ratu tidak mengenali aku siapa, makanya aku melampiaskan dendamku dengan mendekati dan mencintainya, lalu menodainya. Kau bisa memperkosa istriku sekali, maka aku bisa melakukannya beberapa kali dengan ratumu. Namun, aku sungguh tidak menyangka, ketika kami ketahuan, Sri Mayang justru tidak mau setia kepadaku. Makanya aku sandera dia!”
Benar-benar seperti diguyur air mendidih kepala Prabu Raga Sata mendengar cerita fiktif Anjas.
“Perempuan pengkhianat! Kau pantas mati!” teriak Prabu Raga Sata lalu melompat ke udara, sementara tangan kanannya menghentak.
“Kakang Maaas!” pekik Ratu Sri Mayang Sih terkejut.
Zwerss! Bluar!
Sebuah bola sinar merah berbuntut seperti ekor layangan, melesat dari telapak tangan kanan Prabu Raga Sata. Ledakan keras terjadi yang menghancurkan ranjang asmara Prabu Raga Sata, yang telah puluhan tahun jadi medan tarung cintanya dengan sang ratu. Rasa cemburu dan sakit hati yang begitu pedih membuat Prabu Raga Sata tidak memiliki rasa sayang lagi sedikit pun kepada Ratu Sri Mayang Sih.
Namun, Prabu Raga Sata harus mendelik. Ratu Sri Mayang Sih yang dalam keadaan tertotok masih bisa selamat.
Ratu Sri Mayang Sih kini berada dalam pelukan Anjas yang tanpa terlihat menyambar tubuhnya. Anjas tidak menyambar tubuh sang ratu saja, tapi lengkap dengan selimutnya untuk menutup aurat.
Aksi penyelamatan itu ditindaklanjuti oleh adegan saling tatap mata antara Anjas Perjana dengan Ratu Sri Mayang Sih, mirip adegan di sinetron-sinetron bucin. Adegan itu seolah dipamerkan di depan mata Prabu Raga Sata yang sedang dilanda badai kehancuran cinta.
Clap!
Tiba-tiba Anjas Perjana dan Ratu Sri Mayang Sih menghilang dari pandangan Prabu Raga Sata. Hal itu mengejutkan Prabu Raga Sata. Ia cepat melihat ke sekeliling mencari keberadaan mereka. Namun, tidak ada. (RH)
__ADS_1