8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 21: Mendobrak Istana


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Setelah melalui rute jurang yang basah dan berbatu, rombongan Raja Anjas Perjana Langit akhirnya tiba di sebuah lorong gua batu. Posisi mereka sudah berada di bagian belakang Istana Siluman.


Untuk sementara mereka harus menunggu ada tanda dari langit Kadipaten Banyukuat. Petra Kelana ditugaskan untuk memantau dari cela tebing batu yang tinggi. Keberadaannya pun sangat mustahil terpantau oleh pos pengawasan, karena sang pendekar mengawasi dari kegelapan celah yang tidak tersentuh cahaya matahari.


Tidak berapa lama, akhirnya Petra Kelana melihat ada asap hitam di kejauhan, tepatnya di atas Kadipaten Banyukuat. Ia lalu turun dan menemui rombongan yang menunggu.


“Gusti Prabu, asap hitam sudah terlihat di kejauhan!” lapor Petra Kelana.


“Itu artinya kita harus menunggu dua kali sepenanakan nasi,” kata Sri Rahayu.


Maka menunggulah mereka. Di masa tunggu itu, ketegangan melanda pasukan Kerajaan Siluman yang ada di Kadipaten Banyukuat, sebab mereka mendapat serangan yang memaksa mereka mundur sampai ke pos penjagaan antara Kadipaten dan Istana.


Pos itu dipimpin oleh Panglima Siluman Gebuk Bumi. Ia memimpin sekitar lima ratus prajurit di luar benteng Istana. Semenjak ada upaya pendobrakan Ratu Sri Mayang Sih bersama Lima Pangeran Dua Putri beberapa waktu lalu, luar benteng Istana kini dilapisi oleh pasukan pelapis luar.


“Lapor, Panglima!” teriak seorang prajurit yang datang dengan berkuda. Ia sudah berteriak sebelum turun dari kudanya.


“Ada apa?” tanya Siluman Gebuk Bumi.


Prajurit itu sudah turun dan menghormat lebih dulu.


“Musuh menyerang Kadipaten Banyukuat!” lapor prajurit itu seraya tetap berlutut.


“Pasukan yang cari mati!” desis Siluman Gebuk Bumi dengan wajah mengerenyit bengis.


Siluman Gebuk Bumi adalah lelaki betubuh agak pendek, tetapi lelaki brewok tipis itu berotot kekar dan keras. Kedua tangannya menggunakan sarung tangan berwarna merah terang.


“Ragisi!” Panggil Siluman Gebuk Bumi.


“Hamba, Gusti!” ucap seorang prajurit yang datang menghadap.


“Pergilah melapor kepada Gusti Ratu bahwa Kadipaten Banyukuat diserang. Aku akan membawa pasukan menyerang ke sana!” perintah Siluman Gebuk Bumi.


“Baik, Gusti Panglima!” ucap Ragisi patuh.


Maka, dengan segera Panglima Siluman Gebuk Bumi mengumpulkan pasukan dan berangkat menuju Kadipaten Banyukuat. Utusan pun segera pergi ke Istana.


“Panglima Siluman Elang, bawa lima ratus prajurit ke Kadipaten Banyukuat. Bantu pasukan Siluman Gebuk Bumi!” perintah Ratu Aninda Serunai setelah mendapat laporan dari Ragisi.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Panglima Siluman Elang, salah satu panglima pasukan luar yang kebetulan saat itu berada di dalam Istana. Ia adalah seorang perempuan berusia tiga puluh tahun.

__ADS_1


Siluman Elang segera pergi ke luar Istana, menuju basis pasukannya yang ada di luar benteng. Ia dan pasukannya segera pergi menyusul pasukan Siluman Gebuk Bumi yang sudah berangkat lebih dulu.


Sementara itu di dalam gua.


Setelah kira-kira melewati waktu dua kali sepenanakan nasi, rombongan Anjas bangkit dan mulai menuju pintu rahasia.


Tidak begitu jauh mereka berjalan masuk. Mereka dihentikan oleh tembok buntu.


Sess! Bluar!


Sri Rahayu melesatkan sinar merah berpijar yang menghancurkan dinding batu pembuntu gua. Ledakan dahsyat itu terdengar jelas oleh para prajurit yang berjaga di bagian belakang Istana Siluman. Mereka terkejut. Sejumlah prajurit berinisiatif segera pergi untuk mengecek ke bagian belakang Istana.


Suara ledakan keras itu ternyata sampai ke pendengaran Ratu Aninda Serunai, meski tidak senyaring di bagian belakang. Getaran halus yang tercipta pun sampai kepada tempat duduk sang ratu.


Sejumlah pendekar tokoh golongan hitam yang saat itu berada di Istana, wajahnya berubah tegang. Sebagai orang sakti, mereka bisa merasakan ada sesuatu yang datang dari arah belakang Istana.


Di belakang Istana ada tebing batu yang tinggi. Pada dinding batu itu telah tercipta sebuah lubang besar. Dari lubang berlompatan turun Joko Tenang, Sri Rahayu, Anjas, Ratu Sri Mayang Sih dan yang lainnya. Tidak terlalu tinggi. Mereka mendarat di sebuah taman bunga bertanah bebatuan.


“Siapa itu?! Berhenti!” teriak seorang prajurit yang datang ke taman. Ia datang bersama sembilan temannya.


“Gusti Ratu Sri!” ucap prajurit lain terkejut saat mengenali wanita yang berjalan paling depan.


“Jika kalian sayang nyawa, jangan bertindak!” seru Ratu Sri Mayang Sih.


Kesepuluh prajurit itu justru menjura hormat kepada Ratu Sri Mayang Sih dan rombongannya.


“Baik, Gusti Putri!” ucap para prajurit itu patuh. Kemudian mereka saling pandang kepada sesama prajurit.


Di lorong Istana. Panglima Siluman Api-Api berlari bersama lima puluh prajurit utama dari Pasukan Penjaga Istana. Mereka menuju ke belakang.


Tepat ketika rombongan Joko Tenang memasuki Istana lewat pintu utama belakang, Siluman Api-Api muncul bersama pasukannya.


“Siapa yang mau pegang kepalanya?” tanya Anjas kepada rombongannya.


“Serahkan kepadaku!” kata Bidadari Payung Kematian. Ia lalu melompat maju ke hadapan Siluman Api-Api.


“Ayahanda, aku dan Permaisuri Asap Racun akan pergi mencari Aninda Serunai!” izin Joko Tenang.


“Pergilah!” kata Anjas.


Clap!


Maka lenyaplah keberadaan Joko Tenang dan Sri Rahayu. Keduanya memang tidak termasuk dalam kelompok Anjas. Joko Tenang hanya berniat berurusan dengan Ratu Aninda Serunai.

__ADS_1


Meski Siluman Api-Api sudah berhadapan dengan Bidadari Payung Kematian, tetapi pertarungan belum dimulai, karena ada sedikit upaya dari Ratu Sri Mayang Sih.


“Siluman Api-Api, berpihaklah padaku dengan tidak ikut mempertahankan Istana!” imbau Ratu Sri Mayang Sih.


“Maafkan hamba, Gusti Ratu,” kata Siluman Api-Api seraya menghormat. “Tapi ratu di sini sekarang adalah Gusti Ratu Aninda Serunai, orang yang tidak terkalahkan.”


“Kau mengambil keputusan salah besar, Api-Api!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.


“Maafkan hamba, Gusti Ratu!” ucap Siluman Api-Api.


“Berarti bertarung!” teriak Bidadari Payung Kematian bersemangat sambil berlari cepat ke depan menyerang Siluman Api-Api.


Siluman Api-Api memilih mundur beberapa tindak sebagai langkah awal. Lelaki bertubuh kurus dan berkumis itu cepat memberi perintah kepada pasukannya.


“Serang mereka semua!” teriaknya.


“Seraaang!” teriak puluhan prajurit Pasukan Penjaga Istana sambil berlari maju.


Maka terjadilah pertempuran. Bidadari Payung Kematian duel dengan Panglima Siluman Api-Api. Sementara Anjas dan pendekar lainnya mengatasi para prajurit yang menyerang keroyokan.


“Gusti Prabu, kami akan mengurus para prajurit ini!” seru Gadis Cadar Maut.


“Cadar Maut, pimpin para pemuda itu!” perintah Anjas. Ia lalu menggebrak barisan pasukan yang ada di depannya dengan satu gelombang angin pukulan.


Belasan prajurit terlempar ke belakang dalam kondisi kacau balau, membuka jalan bagi Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih.


Raja Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih lalu melangkah pergi dengan tenang meninggalkan area pintu belakang Istana itu. Orang yang ikut bersamanya antara lain Petra Kelana, Bidadari Wajah Kuning, Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, serta Pangeran Mayat, Pangeran Basah, Putri Pelangi, dan Putri Embun sebagai pengawal Ratu.


Sementara Gadis Cadar Maut memimpin para pemuda, yaitu Tembangi Mendayu, Lanang Jagad, Arya Permana, Arya Mungga, dan Riskaya yang bertarung mengatasi puluhan prajurit itu.


Terlepas dari Joko Tenang dan Sri Rahayu, maka terbagi dualah rombongan itu.


Kelompok pimpinan Anjas masuk ke ruangan lain dari istana itu.


“Seraaang!” teriak banyak prajurit yang muncul berlari dari dua pintu besar ruangan.


“Minggiiir!” teriak Bidadari Wajah Kuning sambil berkelebat maju ke depan dengan tubuh berputar seperti gangsing.


Seset seset…!


Dari putaran tubuh si nenek genit melesat rangkaian tenaga angin yang tajam.


“Ak akk akk…!” jerit para prajurit dengan tubuh yang tercabik-cabik oleh angin tajam yang menyebar. Bahkan pedang-pedang mereka berpatahan karena tidak kuat menahan tajamnya angin dari ilmu Pusaran Sembilu Langit.

__ADS_1


Setelah kemunculan puluhan prajurit Istana, dari dua pintu itu juga muncul Ki Bandel Perawan dan Iblis Lemak.


Petra Kelana, Bidadari Wajah Kuning, Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol terkejut melihat kemunculan kedua pendekar aliran hitam itu. (RH)


__ADS_2