
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Joko Tenang tiba-tiba menghilang dari pandangan Ratu Aninda Serunai. Joko Tenang mengerahkan ilmu Merah Raga. Ia harus melakukan itu untuk memulihkan staminanya. Menurutnya, tidak mungkin rencananya untuk merebut Tongkat Jengkal Dewa bisa berhasil, jika kekuatannya berkurang.
Inilah salah satu kemampuan yang tidak dimiliki oleh Aninda Serunai, yaitu melihat atau masuk ke alam gaib. Ilmu Merah Raga membuat Joko Tenang juga bisa berpindah alam.
“Joko Tenang! Keluar kau!” teriak Aninda Serunai. Ia marah karena ia tidak menemukan keberadaan Joko Tenang.
Aninda Serunai mengitarkan pandangannya mencari keberadaan Joko Tenang yang sedang terluka. Pandangannya menyapu semua sisi dengan seksama. Namun, ia tidak menemukan Joko Tenang. Ia hanya menemukan sosok Sri Rahayu yang duduk bersandar dalam kondisi terluka parah.
“Jika kau tidak keluar sekarang juga, maka aku akan membunuh Sri Rahayu!” teriak Aninda Serunai lagi mengancam.
Sri Rahayu yang disebut namanya jadi memandang tajam kepada Aninda Serunai yang berdiri jauh di tengah ruangan yang telah hancur lebur.
“Pilihan bagus, kakakku!” seru Aninda Serunai.
Ia lalu melangkah menuju tempat Sri Rahayu berada.
Sementara itu, Joko Tenang hanya diam mendengar teriakan dan ancaman Aninda Serunai, sebab ia dalam proses pemulihan diri.
Joko Tenang dibekali dua cara pengobatan ajaib. Ilmu Serap Luka untuk mengobati orang lain dan ilmu Cuci Raga untuk mengobati diri sendiri. Kedua cara pengobatan itu memiliki cara kerja dan penyembuhan yang cepat.
Sri Rahayu pun menyiapkan diri ketika melihat adik tirinya datang ke arahnya.
“Matilah kau, Sri Rahayu!” teriak Aninda Serunai.
Bugk!
Namun, sebelum serangan Aninda Serunai dilepaskan, tiba-tiba Joko Tenang muncul begitu saja tepat di depan sang ratu. Kemunculan Joko Tenang langsung disertai dengan Tinju Dewa Hijau. Tinju bersinar hijau itu langsung menghantam perut Aninda Serunai.
Aninda Serunai yang seharusnya langsung tewas oleh kekuatan Tinju Dewa Hijau, hanya terdorong beberapa langkah ke belakang. Serangan Joko Tenang yang tiba-tiba itu membatalkan rencana serangan terhadap Sri Rahayu.
Zerzzz!
Aninda Serunai langsung balas menyerang dengan melesatkan sepuluh aliran sinar biru dari tongkat.
“Ciaat!” pekik Joko Tenang cepat.
Wuss!
Sebelum sepuluh aliran sinar itu menjangkau Joko Tenang, angin Badai Malam Dari Selatan lebih dulu menerbangkan tubuh Aninda Serunai.
__ADS_1
Angin pukulan yang sedahsyat badai itu menerbangkan Aninda Serunai bersama gelindingan batu-batu reruntuhan dan debu tebal. Setelah itu, Joko Tenang cepat melesat memburu Aninda Serunai yang ia yakini tidak akan kenapa-kenapa.
Aninda Serunai mendarat dengan baik di dekat dinding yang hancur parah. Ia cepat mengulurkan kedua tangannya lurus ke depan dengan kedua kepalan menggenggam dua bagian dari Tongkat Jengkal Dewa.
Kini, Tongkat Jengkal Dewa dilapisi sinar merah berpendar. Joko Tenang datang melesat secepat anak panah dari arah depan.
Zess!
Tiba-tiba dari tongkat itu melesat segaris sinar merah sepanjang tongkat tersebut dengan lesatan menyamping. Sinar itu memotong tubuh Joko Tenang dan terus melesat jauh menghancurkan dinding yang rusak semakin hancur.
Dan kini, ada tiga tangan yang memegang Tongkat Jengkal Dewa. Itu adalah situasi yang sangat menegangkan, terutama bagi Aninda Serunai.
Saat melesat di udara, Joko Tenang menggunakan ilmu Hijau Raga, sehingga fisiknya berubah jadi manusia hologram yang tidak tersentuh. Dia mendarat di depan Aninda Serunai dan tangan kanannya telah menggenggam tepat bagian tengah Tongkat Jengkal Dewa, di antara dua genggaman tangan Aninda Serunai pada tongkat. Uniknya, Joko Tenang menggenggam tongkat itu hanya dengan dua jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk.
Kini, dua keturunan Ratu Bibir Darah sama-sama memegang Tongkat Jengkal Dewa.
Zreeet!
“Akkr!” erang Joko Tenang saat ada aliran sinar merah dari tongkat yang mengaliri tubuhnya lalu meresap masuk. Joko Tenang sempat mengejang karena menahan sengatan yang hanya selama dua detik. Setelahnya sejuk kembali.
Kejadian seperti itu pernah dialami oleh Aninda Serunai saat pertama kali menyentuh Tongkat Jengkal Dewa, di dalam gua kediaman Ki Ageng Kunda Poyo.
“Putri Bibir Merah mewariskan Tongkat Jengkal Dewa ini kepadaku melalui Ki Ageng Kunda Poyo, tapi kau merampoknya, hanya karena sama-sama sebagai keturunan Ratu Bibir Darah. Kau mempermalukan keluarga besar Ratu Bibir Darah, Aninda,” kata Joko Tenang datar. “Masa jayamu sudah berakhir, adikku.”
Dua jari tangan Joko Tenang tiba-tiba memutar bagian tengah tongkat yang dipegangnya.
Aninda Serunai terkejut bukan main. Ujung kanan dan kiri Tongkat Jengkal Dewa mendadak melesat masuk ke bagian tengah tongkat yang diameternya lebih besar. Dengan memendeknya tongkat pusaka itu, genggaman dua tangan Aninda Serunai jadi kehilangan pegangan. Kuatnya pegangannya tidak mampu menahan tongkat itu untuk memendekkan diri.
Selain terkejut karena kedua tangannya kehilangan pegangan pada Tongkat Jengkal Dewa, ia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa Joko Tenang tahu cara memendekkan tongkat pusaka itu.
Ungkap rahasia. Joko Tenang bisa tahu cara memendekkan atau memanjangkan Tongkat Jengkal Dewa, karena diajari oleh Murai Manikam yang berjuluk Anak Halus, ketika gadis cantik itu masih berada di Istana Sanggana Kecil. Murai Manikam adalah murid tunggal Putri Bibir Merah, pemilik Tongkat Jengkal Dewa sebelum pusaka itu dititipkan kepada Ki Ageng Kunsa Pari.
Blamm!
Tiba-tiba ada ledakan tenaga dahsyat dari dalam tubuh Aninda Serunai. Saat Tongkat Jengkal Dewa lepas dari genggamannya, Aninda Serunai langsung meledakkan ilmu Letupan Bunga Matahari.
Joko Tenang langsung terpental keras dan jauh, jatuh di serakan bebatuan. Apesnya, Tongkat Jengkal Dewa yang dalam wujud sejengkalnya, lepas dari pegangan tangan Joko.
Melihat Tongkat Jengkal Dewa terlepas dari genggaman Joko Tenang, Aninda Serunai cepat melesat hendak memungutnya.
Zerzzz!
“Aakk!”
__ADS_1
Namun, lesatan tubuh Aninda Serunai harus terhenti di udara, karena tubuhnya terjerat dan tertahan oleh lima aliran sinar hijau dari ilmu Lima Jeratan Terakhir milik Joko Tenang.
Aninda Serunai menjarit nyaring, menunjukkan bahwa ia sudah tidak kebal terhadap ilmu orang lain.
Joko Tenang yang sebenarnya menderita luka dalam akibat ilmu Letupan Bunga Matahari tadi, cepat berkelebat menyambar Tongkat Jengkal Dewa. Sementara itu, satu tangannya tetap mengalirkan lima garis sinar hijau.
Blas!
Sebelum tubuh Aninda Serunai hancur berkeping-keping oleh ilmu Lima Jeratan Terakhir, Joko Tenang memilih melepaskan adiknya. Tubuh wanita cantik itu terpental keras, lalu jatuh di lantai yang penuh batu tidak beraturan.
“Hukr!”
Aninda Serunai menyemburkan darah melalui mulutnya. Namun, ia segera berusaha bangkit.
Bdak! Begk!
“Hekh!”
Aninda Serunai kembali terkejut, ketika melihat Joko Tenang datang melesat dengan tubuh dilapisi sinar putih, kemudian menabraknya dengan keras. Tubuh Aninda Serunai terpental dan punggungnya menghantam dinding aula, lalu jatuh di lantai dengan tengkurap.
Aninda Serunai terdiam sejenak dalam posisi tengkurap. Tiga detik kemudian, kedua tangannya bergerak hendak bangkit.
“Nikmati hidupmu sebagai manusia tanpa kesaktian, Aninda!” seru Joko Tenang sambil menyelipkan pusaka barunya di sabuknya. Ia lalu berbalik dan berkelebat pergi menuju posisi istrinya berada.
Alangkah terkejutnya Aninda Serunai mendengar perkataan Joko Tenang. Ia pun baru sadar bahwa ada yang berbeda pada dirinya. Ia merasakan sakit yang begitu luar biasa, lemas, seperti orang yang tidak memiliki kesaktian.
“Joko keparaaat! Apa yang kau lakukan terhadapkuuu!” teriak Aninda Serunai keras, setelah ia gagal mengeluarkan sedikit pun tenaga dalamnya. Benar-benar tidak bisa, seperti sepeda motor yang distarter, tapi kehabisan bensin.
Joko Tenang tidak peduli. Sebenarnya ia iba karena berbuat setega itu kepada adiknya sendiri, meski beda ayah. Namun, kejahatan Aninda Serunai terlalu keterlaluan, sudah tidak bisa dimaafkan.
“Joko keparaaat! Akan aku bunuh kau! Kembalikan kesaktianku!” teriak Aninda Serunai sambil bangkit berdiri dengan gontai.
Tangan kanan Aninda Serunai menggenggam sebuah pecahan batu besar. Ia berniat menimpuk Joko Tenang. Namun, ketika ia melangkah, ia terjatuh di atas serakan bebatuan.
“Aaa! Hiks hiks hiks…!” jeritnya kesakitan lalu menangis tidak berdaya.
Joko Tenang benar-benar tidak ambil peduli. Ia lebih memilih untuk mengobati permaisurinya yang terluka parah. (RH)
***************************
SEASSON BARU
__ADS_1
Chapter ini adalah yang terakhir dari seasson "Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)". Chapter berikutnya adalah awal dari seasson baru berjudul "Pendekar Raja Kawin (Perjaka)"