
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Tabib Rakitanjamu yang berjuluk Tabib Teguk Getir dan Iblis Takluk Arwah berjalan memasuki lorong dan tembus ke lingkungan Perguruan Bukit Dalam. Mereka dihadapkan pada sebuah bukit batu yang memiliki permukiman.
Lingkungan bukit itu dikelilingi oleh lingkaran dinding batu yang memiliki celah menuju ke sebuah hutan rimba belantara.
Di kaki bukit, ada dua barisan manusia berpakaian putih-putih yang membentuk jalan berpagar manusia. Mereka berdiri saling berhadapan. Barisan itu memanjang sampai ke tangga batu yang menuju ke atas bukit.
“Kita disambut seperti orang besar saja,” kata Tabib Rakitanjamu berkomentar.
“Bukankah kau sekarang menjadi orang besar? Tabib Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Iblis Takluk Arwah, lelaki kurus berambut putih dan berbibir hitam. Penampilannya kini lebih rapi dengan pakaian putih yang bersih.
Seharusnya mereka berangkat bertiga dari Istana Sanggana Kecil bersama Anyam Beringin. Namun, orang sakti berjuluk Dewa Seribu Tameng itu harus beristirahat karena lukanya sangat parah, luka yang diberikan oleh Raja Anjas Perjana Langit.
“Hormat Perguruan Bukit Dalam kepada Tabib Rakitanjamu dan Iblis Takluk Arwah!” ucap orang-orang berpakaian putih-putih yang adalah murid-murid Perguruan Bukit Dalam. Mereka serentak turun berlutut menghormat, dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi dan wajah menunduk.
Kedua orang tua itu berjalan terus memasuki jalan di antara dua pagar manusia yang menghormat.
Sementara di atas anak tangga, berdiri ketua perguruan Ki Rawa Banggir bersama dua orang istrinya dan beberapa murid utamanya. Mereka semua berpakaian putih-putih meski beda-beda model.
“Selamat datang di perguruanku, para sahabat!” ucap Ki Rawa Banggir seraya tersenyum ramah ketika kedua tamunya tiba di tangga.
Sementara para murid kembali berdiri tegak, menunggu kedatangan tamu-tamu yang lain.
“Apakah kami terlalu cepat datang, Ki Rawa?” tanya Tabib Rakitanjamu.
“Sudah ada yang datang, sebagian sedang beristirahat, sedangkan yang lain sedang berkumpul di atas sana!” jawab Ki Rawa Banggir lalu menengok memandang ke arah kanan atas.
__ADS_1
Tabib Rakitanjamu dan Iblis Takluk Arwah turut memandang ke atas sebuah tebing. Mereka melihat ke satu bagian atas tebing, ada sebuah tempat yang cukup besar menjorok ke luar. Di atas sana terlihat beberapa orang berkumpul. Jarak yang jauh membuat mereka tidak begitu jelas bisa dikenali.
“Kalian berdua memilih beristirahat lebih dulu atau bergabung di atas sana, Awan Batu namanya?” tanya Ki Rawa Banggir menawarkan.
“Kapan acara pertemuannya di mulai?” tanya Iblis Takluk Arwah.
“Nanti malam,” jawab Ki Rawa Banggir.
“Kami ingin beristirahat saja,” kata Tabib Rakitanjamu.
“Silakan, silakan!” kata Ki Rawa Banggir.
“Mari, Tetua!” kata seorang murid senior Ki Rawa Banggir.
Tabib Rakitanjamu dan Iblis Takluk Arwah lalu mengikuti murid Ki Rawa Banggir, pergi menuju ke kamar peristirahatan di rumah panggung panjang.
“Hormat Perguruan Bukit Dalam kepada Serigala Perak dan Pendekar Seribu Tapak!” ucap murid-murid Perguruan Bukit Dalam kepada dua tamu yang datang plus empat ekor serigala.
Orang kedua adalah seorang kakek berjubah hijau gelap, berambut putih bersih. Ia memiliki pembawaan yang berwibawa. Ia menunggang serigala berbulu merah gelap. Kakek itu adalah Pendekar Seribu Tapak, kakek guru dari Kerling Sukma.
Dua serigala lainnya tanpa penunggang dan keduanya berbulu cokelat, tapi memiliki warna berbeda pada dahinya. Satu berwarna putih dan lainnya kuning.
Dengan tetap menunggangi serigala, kedua tokoh sakti itu melalui jalan berpagar manusia menuju tangga.
Setibanya di depan tangga, barulah Serigala Perak dan Pendekar Seribu Tapak turun dari punggung binatang tunggangannya.
Ketika para murid Perguruan Bukit Dalam kembali tegak, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan dua sosok manusia dari atas, entah dari langit atau dari atas jurang. Namun, jika dari atas jurang, seharusnya mereka tidak turun langsung di daerah itu.
Dua sosok yang adalah seorang lelaki dan wanita tersebut, turun laksana malaikat tanpa sayap. Mereka turun bukan seperti besi jatuh dari langit, tapi seperti batu jatuh ke dalam air. Cara datang mereka yang dari atas, dapat disimpulkan bahwa mereka datang tanpa melewati Gerbang Bukit Dalam.
__ADS_1
Cara datang berbeda itu membuat Ki Rawa Banggir, Serigala Perak, Pendekar Seribu Tapak dan para murid memusatkan perhatian kepada keduanya.
“Dewi Mata Hati!” sebut Ki Rawa Banggir pelan, tapi didengar oleh orang sekitar.
Benar. Wanita cantik jelita berambut pendek dan bermata hitam yang turun dari langit adalah Dewi Mata Hati. Jika itu dia, berarti sosok lelakinya tidak lain adalah Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang.
“Hihihi! Cucu menantu!” ucap Serigala Perak tertawa senang melihat kedatangan Joko.
Dewi Mata Hati dan Joko Tenang laksana sepasang dewa dewi. Mereka bahkan bergandeng tangan dengan mesra. Jika tidak demikian, Joko Tenang tidak akan bisa melakukannya, karena semuanya berkat kesaktian Permaisuri Nara.
Kedatangan kedua orang sakti itu ternyata menjadi sorotan para orang sakti yang ada di Awan Batu.
“Menurut kalian, siapa dua orang pemuda itu? Masih muda tapi sudah sehebat itu,” tanya Datuk Kramat kepada tujuh tokoh tua sakti lainnya. Mereka duduk-duduk santai di atas Batu Awan yang ada di badan tebing.
“Itu bukan dua pemuda, tapi seorang wanita dan pemuda,” timpal Bidadari Wajah Kuning.
“Ah!” desah Datuk Kramat.
“Itu gadis berambut pendek seperti lelaki,” kata Kuming Rara, Nenek Peti Terbang.
“Orang yang diundang ke pertemuan ini adalah orang-orang tua, kecuali orang tua awet muda seperti dirimu, Wajah Kuning. Menurut kalian siapa nenek awet muda yang rambutnya seperti lelaki?” kata nenek cantik bertangan satu. Nenek berpakaian hijau muda yang wajahnya penuh riasan itu tidak memiliki tangan kiri. Di pinggangnya melingkar lilitan rantai perak kecil. Ia dikenal dengan nama Dewi Tangan Tunggal dengan nama asli Wiwi Silayai.
“Dewi Mata Hati!” sebut beberapa dari mereka bersamaan.
“Jika itu Dewi Mata Hati, lalu siapa pemuda yang bersamanya itu?” tanya Datuk Kramat.
“Siapa yang berani menanyakannya langsung? Dengan risiko digantung di langit sampai mati. Hihihi!” kata nenek yang berwajah seperti wanita usia empat puluhan. Kecantikannya yang model emak-emak itu memilih warna gincu hijau, sama seperti warna rambut panjangnya yang disanggul sebagian. Ia mengenakan pakaian bagus berwarna merah. Ia berjuluk Ratu Naga Lembah Seribu dengan nama asli Benih Asmara. Ia adalah guru dari dua gadis gemuk nan cantik yang bernama Nila Bilangan dan Nira Bilangan.
Dewi Mata Hati memang pernah membuat heboh di masa lalu, ketika dia menggantung seorang musuhnya di langit, tanpa tali dan tanpa tiang. Tidak ada tokoh sakti yang bisa menggantung orang di langit dalam waktu berpuluh hari hingga mati.
__ADS_1
“Yang jelas itu bukan Kunsa Pari,” kata lelaki tua berpakaian serba kuning. Pakaiannya jenis kain selempangan yang membuat separuh bahunya tanpa penutup. Rambut putihnya digelung dan diikat dengan kain kuning pula. Ada tasbih kuning di lehernya. Ia dikenal bernama Resi Kumbalabatu. (RH)