
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
“Semua berjongkok!” perintah Anyam Beringin kepada seluruh pendekar dan prajurit pasukan Kerajaan Siluman, ketika ia melihat kedatangan Permaisuri Nara bersama Permaisuri Sri Rahayu dan Sandaria.
Lelaki tua gagah yang berjuluk Dewa Seribu Tameng itu lalu menghormat kepada ketiga permaisuri. Ia bersama Iblis Takluk Arwah, Pangeran Mabuk, Pangeran Lidah Putih, Bidadari Wajah Kuning, dan Gadis Cadar Maut menjadi penjaga ribuan tawanan perang itu.
Ketiga Permaisuri lalu berdiri di hadapan pasukan yang berjongkok tapi tanpa senjata itu. Terlihat pula banyak pendekar dan prajurit yang luka-lukanya sudah mendapat penanganan dari juru rawat.
Sebenarnya kondisi itu cukup mengerikan bagi para prajurit yang bertugas berjaga, sebab tawanan perang yang jumlahnya ribuan itu dibiarkan tanpa belenggu, padahal ada puluhan dari mereka berstatus pendekar seperti Siluman Angin Api. Apa jadinya jika tiba-tiba mereka serentak berontak?
Namun, para pemimpin Sanggana Kecil begitu yakin, pasukan musuh itu tidak akan berani mengambil risiko di bawah pengawasan sejumlah orang sakti.
“Wahai, para pendekar Pasukan Siluman Tingkat Dua dan para prajurit Kerajaan Siluman!” seru Sri Rahayu lantang kepada para tawanan. “Setelah kematian ayahku, Prabu Raga Sata, sebenarnya yang berhak menduduki tahta Kerajaan Siluman adalah aku atau ibuku, bukan Jin Gurba atau Putri Aninda Serunai. Jika kalian ingin mengabdi kepadaku dan Ratu, maka mengabdilah kepada Kerajaan Sanggana Kecil, karena Raja Sanggana Kecil adalah rajaku. Jika kalian ingin mengabdi kepada Kerajaan Siluman, maka mengabdilah kepadaku, karena tidak lama lagi aku dan Ratu akan kembali merebut tahta dari Putri Aninda Serunai. Jika kalian mengabdi kepada kesaktian Aninda Serunai yang tidak terkalahkan, maka mengabdilah kepada Prabu Dira, karena dialah pewaris sah pusaka yang membuat Putri Aninda Serunai menjadi sakti. Sebentar lagi, kesaktian Putri Aninda Serunai akan direnggut kembali!”
“Maafkan hamba, Gusti Permaisuri, jika hamba lancang!” kata Siluman Angin Api, lalu ia berdiri. “Gusti Ratu Aninda Serunai kini menjadi orang berkesaktian tanpa tanding. Bagaimana orang-orang sakti Kerajaan Sanggana Kecil bisa mengalahkannya?”
“Kami semua tahu bahwa Putri Aninda Serunai tidak terkalahkan, karena kami semua pernah bertarung melawannya. Namun, kini kekuatan dan kesaktian Prabu Dira Pratakarsa Diwana tidak lebih rendah darinya. Jadi, masa depan kalian ada di bawah kepemimpinan Prabu Dira!” jawab Sri Rahayu.
“Baik, kami mengabdi kepada Gusti Prabu Dira!” teriak Siluman Merah.
“Kami mengabdi kepada Gusti Prabu Dira!” teriak pasukan di bawah pimpinan Siluman Merah.
“Kami mengabdi kepada Gusti Prabu Dira!” teriak Siluman Kaki Baja pula dalam kondisi kaki dan tangan di perban tebal, agar tidak bisa ditekuk karena cedera patah tulang.
“Kami mengabdi kepada Gusti Prabu Dira!” teriak pasukan di bawah pimpinan Siluman Kaki Baja.
“Kami mengabdi kepada Gusti Prabu Dira dan Gusti Permaisuri!” kata Siluman Angin Api akhirnya.
“Kami mengabdi kepada Gusti Prabu Dira dan Gusti Permaisuri!” kata para pendekar Pasukan Siluman pula.
__ADS_1
“Kami menerima janji kalian semua. Namun, senja ini, kalian tetap harus diperiksa. Orang yang menaruh kebencian dan niat jahat terselubung, akan kami jebloskan ke dalam penjara!” kata Sri Rahayu.
Mendengar hal itu, teganglah para tawanan. Seiring itu, Permaisuri Nara mulai berjalan di antara barisan para tawanan.
“Aaak!” teriak seorang prajurit tiba-tiba karena tubuhnya tahu-tahu terlempar dengan sendirinya ke udara dan jatuh di luar barisan.
Semua prajurit tawanan itu terkejut.
“Prajurit! Belenggu tangannya! Dia memiliki kemarahan!” perintah Permaisuri Nara kepada prajurit Sanggana Kecil.
Terkejutlah para pendekar dan prajurit Pasukan Siluman.
“Apa? Permaisuri buta itu bisa tahu kondisi hati kita!” kejut seorang pendekar siluman yang berjongkok di barisan belakang. Dia berbisik kepada temannya di sebelah.
Tiba-tiba Nara menengok menghadapkan wajahnya kepada pendekar yang baru saja berbisik itu. Pendekar itu tahu-tahu terpental agak jauh.
“Jangan membicarakan kebutaanku! Aku lebih tajam melihat dibandingkan kalian!” bentak Nara secara umum.
“Ampun, Gusti Permaisuri sakti! Ampuni hamba!” kata pendekar lelaki itu sambil buru-buru bersujud di tempat jatuhnya.
“Aaak!” kembali satu prajurit lain dilempar oleh kekuatan pikiran Nara keluar dari barisan. Prajurit yang jatuh itu segera ditangkap dan dibelenggu oleh prajurit Sanggana Kecil.
Satu per satu prajurit dilemparkan oleh kekuatan pikiran Nara. Para prajurit yang dilempar itu adalah mereka yang masih memiliki amarah dan mendendam kepada orang-orang Kerajaan Sanggana.
“Gila! Siapa sebenarnya permaisuri sakti ini?” tanya Siluman Angin Api, tapi hanya di dalam hati.
Para pendekar Pasukan Siluman Tingkat Dua juga tidak luput dari pemeriksaan. Di dalam hati, Siluman Angin Api sebenarnya berdebar juga. Namun, ia harus bernapas lega karena langkah kaki Nara melaluinya.
“Aku bunuh kau, Permaisuri!” teriak seorang pendekar siluman tiba-tiba sambil melompat dengan tangan bersinar merah berpijar. Di dalam hati ia begitu marah kepada para pendekar Sanggana Kecil. Karena pasti ia akan ketahuan juga, maka sebelum Nara mendekat ke tempatnya berjongkok, ia lebih dulu nekat melompat menyerang sang permaisuri.
Duk!
__ADS_1
Namun, tindakan pendekar itu memang terlalu nekat. Satu tombak sebelum menggapai Nara, tubuh pendekar itu sudah terpental jauh dan jatuh keras di lantai pelataran Istana.
“Hoekh!” Pendekar itu langsung muntah darah.
Para pendekar lainnya hanya bisa terkejut.
Nara terus menyortir orang-orang itu hingga selesai. Hasilnya, sebanyak dua ratus orang dinyatakan membenci Sanggana Kecil dan tidak layak untuk menjadi prajurit.
Karenanya, penyeleksian baru berakhir kala hari menyambut gelap. Sementara para prajurit yang ditangkap digiring pergi untuk dijebloskan ke dalam penjara.
“Kalian semua adalah prajurit yang sudah dipercaya oleh permaisuri tersakti di kerajaan ini, jadi jangan coba sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Jika kalian berkhianat, maka tidak akan ada pengampunan bagi nyawa kalian!” seru Sri Rahayu kepada para prajurit baru itu. “Jika kalian sudah mengabdi kepada Sanggana Kecil, tetapi masih merasa diperlakukan tidak adil, maka melaporlah kepada Gusti Prabu Dira.”
“Kami akan mengabdi setia kepada Kerajaan Sanggana Kecil!” seru Siluman Angin Api sambil menjura hormat.
“Kami mengabdi setia!” seru seluruh prajurit baru Kerajaan Sanggana Kecil itu seraya menjura hormat.
“Bangunlah!” seru Nara. “Aku ingatkan kalian semua, jangan coba-coba menyembunyikan dendam, karena itu akan membuat kalian celaka!”
“Baik, Gusti Permaisuri!” jawab para prajurit itu serentak.
Nara lalu berbalik pergi. Permaisuri Sandaria membututi sambil senyum-senyum seperti bocah mengikuti ibunya.
“Siluman Angin Api, Siluman Pukulan Hantu, dan kau, Siluman Cakar Hitam, pimpin pasukan!” perintah Sri Rahayu yang mengenal semua pendekar Pasukan Siluman tingkat Dua itu.
“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap ketiga pendekar itu seraya menjura hormat.
“Lapor, Gusti Permaisuri!” kata seorang prajurit Sanggana Kecil yang datang menghadap kepada Sri Rahayu.
“Katakan!” perintah Sri Rahayu.
“Ada serombongan pendekar yang mengaku Pasukan Siluman Generasi Pertama di luar Hutan Sanggana. Mereka ingin bertemu dengan Gusti Permaisuri!” lapor prajurit itu.
__ADS_1
“Kawal mereka sampai ke gerbang Istana!” perintah Sri Rahayu.
“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap prajur itu hormat. (RH)