
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Pagi ini, Senggara Bolo dan keenam istrinya mendapat izin untuk bertemu dengan Ratu Lembayung Mekar sebagai tamu.
Dari penginapan, lelaki yang berjuluk Pendekar Raja Kawin itu berangkat dengan kereta kuda mewahnya menuju gerbang Istana.
Namun, di area depan gerbang Istana yang ramai oleh aktivitas pasar pagi, ada orang-orang yang sudah menunggu kedatangan kereta. Orang-orang itu adalah mereka yang berperawakan pendekar, yaitu tiga lelaki berpakaian warna cokelat dengan model yang berbeda. Mereka memiliki tubuh yang besar dan berotot keras.
Selain ketiga lelaki yang bersenjatakan pedang di punggungnya itu, ada pula seorang wanita berpakaian serba putih dan bercadar kain putih.
Sementara di dalam bilik kereta, Senggara Bolo asik bercengkerama dengan keenam istrinya. Tak henti-hentinya mereka tertawa-tawa bahagia, sampai-sampai suara tawa mereka terdengar ramai ke luar. Ketika kereta kuda itu lewat di jalan tengah-tengah pasar pagi, warga Ibu Kota yang mendengar suara tawa cekikikan dari dalam kereta, pada menengok dan memandangi kereta kuda yang berlalu.
Ketika kereta kuda beroda empat itu sudah keluar dari pasar, menuju gerbang benteng Istana yang berjarak sekitar lima belas tombak, tiga lelaki berpakaian cokelat saling memberi kode dengan anggukan kecil.
Secara serentak ketiga lelaki tersebut berlari cepat keluar dari pasar mengejar kereta kuda yang belum jauh.
Senggara Bolo tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi tanda agar para istrinya berhenti dan diam. Wajah lelaki matang itu tampak serius. Ia mendengar adanya suara lari kaki yang kencang, seolah mengejar di belakang kereta.
Set set …! Jess!
Seiring ketiga lelaki berpakaian cokelat naik berlari di udara dan melesatkan senjata berupa paku-paku besar ke arah bilik kereta, Senggara Bolo yang ada di dalam kereta mengepalkan tangan kanannya di depan dadanya.
Tiba-tiba kereta kuda dikurung oleh bola besar sinar biru muda. Kurungan sinar itu membuat paku-paku yang dilesatkan seperti mmbentur dinding baja. Paku-paku berguguran ke tanah. Serangan tersebut juga membuat kusir menghentikan laju kudanya.
“Janila, Manar, atasi orang-orang itu!” perintah Senggara Bolo kepada istrinya yang berbaju putih dan hijau.
Istri berpakaian kuning yang duduk di dekat pintu, segera menyibak kain tirai merah yang berfungsi sebagai penutup pintu. Setelah itu, wanita cantik bernama Janila dan Manar segera bergerak keluar dari bilik kereta. Kereta kuda sudah tidak dilindungi oleh sinar biru tipis.
Janila dan Manar mendapati tiga lelaki yang mendekati kereta kuda. Kedua wanita itu langsung melompat menghadang penyerang yang mendekat di udara dengan tendangan yang seragam.
“Lanjutkan, Tambing!” perintah Senggara Bolo kepada kusirnya.
Kusir bernama Tambing segera melaksanakan perintah. Ia melecut bokong kuda dengan cambuknya. Kereta kuda kembali bergerak menuju gerbang benteng Istana.
Pertarungan dua lawan tiga terjadi di lapangan antara pasar dan benteng. Keributan itu seketika menarik perhatian warga pasar. Mereka beramai-ramai menciptakan kerumunan di luar pasar, tepatnya di pinggir tanah lapang. Termasuk wanita bercadar putih ada di sisi belakang warga yang berkerumun.
Pertarungan berlangsung cukup ketat, terlebih ketika ketiga lelaki berpakaian cokelat mulai mengeluarkan pedangnya.
__ADS_1
Namun, kedua istri Pendekar Raja Kawin itu terbilang pendekar wanita yang berkesaktian mumpuni. Terbukti ketika Manar mendapat tusukan dua pedang sekaligus. Ia cukup menahan kedua ujung runcing pedang dengan telapak tangannya yang terbuka.
“Hiaaat!” teriak kedua lawan Manar sambil menekan kuat tusukannya dengan kaki berjalan mendorong.
Manar yang tidak terluka sedikit pun oleh runcing dan tajamnya pedang, terdorong mundur dengan tangan tetap menahan. Hingga akhirnya dia menahan langkah mundurnya dengan topangan kaki kanan yang kuat di tanah. Aksi saling dorong tenaga dalam pun terjadi.
Blass!
Hingga akhirnya, Manar menghentakkan kedua bahunya, memberi dorongan tenaga lebih kepada kedua tangannya. Hasilnya adalah satu ledakan tenaga tanpa warna terjadi pada kedua telapak tangan Manar.
Ledakan tenaga itu membuat kedua lelaki tersebut terdorong dan jatuh terjengkang, tetapi tidak sampai menimbulkan luka dalam. Keduanya cepat bangkit dengan kemarahan yang meninggi.
Duk! Dug!
Di sisi lain, Janila melakukan pertarungan jarak rapat. Sambil gesit ia menghindari tusukan pedang, siku kirinya menyikut dada lawannya dengan keras, sampai suara hantaman tulang siku dan dada terdengar jelas. Selanjutnya tinju kanan Janila meluncur dari bawah ke dagu si lelaki. Lawan Janila sampai terlompat ke belakang dan jatuh terjengkang.
“Badaaak!” maki lelaki tersebut, memperlihatkan darah di barisan giginya.
“Berhenti!” Satu teriakan lelaki tiba-tiba terdengar keras.
Mereka berlima dibuat terkejut oleh seruan itu. Mereka segera memandang ke sumber suara. Tampak dua barisan prajurit bertombak datang berlari ke arah posisi mereka. Pandangan itu juga secara tidak langsung bisa melihat kereta kuda sudah tiba di depan gerbang benteng Istana.
Set set …!
Namun, keduanya begitu sigap menghindar. Janila bahkan menangkap dua batang paku dengan jepitan jari-jari tangannya.
Keduanya jadi terkejut, saat melihat ketiga lelaki penyerang itu telah berkelebat kabur.
“Kejar, Manar!” seru Janila sambil berlari lebih dulu untuk mengejar ketiga lelaki berpedang.
Manar cepat menyusul. Keduanya bahkan memilih berkelebat di udara untuk mempercepat pengejaran.
“Apakah kita harus mengejar mereka, Kak Janila?” tanya Manar setengah berteriak kepada wanita yang lebih tua darinya.
“Mereka berniat membunuh kita, itu bukan serangan untuk tes kemampuan!” jawab Janila, berteriak pula.
“Aku curiga ini adalah jebakan!” kata Manar sambil terus berkelebat di belakang Janila.
“Mereka kabur karena kedatangan prajurit!” Janila berkeyakinan kuat.
__ADS_1
Kejar-kejaran terus terjadi. Beberapa kali kesempatan, ketiga lelaki berbadan besar itu melesatkan satu per satu paku ke belakang. Namun, tidak ada yang berhasil.
Akhirnya mereka berhenti di area perkebunan pinggir ibu kota Jayangga. Ketiga lelaki itu berhenti setelah Janila melesatkan sinar merah berwujud kepala ular, menghancurkan sebatang pohon petai di depan pelarian ketiga lelaki.
Dengan berhentinya ketiga lelaki berpedang, maka Janila dan Manar bisa langsung menyerang mereka kembali.
Pertarungan fisik kembali terjadi, tiga lawan dua. Ketiga lelaki itu kali ini meningkatkan permainan jurus pedangnya. Uniknya, beberapa kali para lelaki itu melakukan permainan pedang dengan melepas gagang pedangnya, membuat pedang mereka bergerak memutari tubuh lawannya. Hal itu kadang membuat Janila dan Manar agak mati langkah. Meski demikian, keduanya masih mampu bertahan.
Set! Prak!
Pada satu kesempatan, Janila melesatkan sinar merah kepala ular dari jarak dekat. Dengan sigap lawannya menangkis dengan badan pedangnya. Pedang itu hancur pecah. Pemiliknya juga harus terjengkang.
Janila cepat merangsek untuk tidak memberi kesempatan bagi lawannya.
Seset!
“Akk!” jerit Janila saat satu anak panah bersarang di batang tangan kirinya.
Tiba-tiba ada sekelompok prajurit panah muncul di balik semak belukar dan langsung memanah Janila. Enam anak panah menyerang Janila. Lima bisa dihindari, tapi satu mengenai tangan.
Munculnya prajurit panah dari tempat yang tersembunyi mengejutkan Janila dan Manar. Seketika itu juga mereka menyimpulkan bahwa mereka berdua masuk jebakan seseorang.
“Mati kalian semua!” teriak Janila murka sambil menghentakkan lengan kanannya.
Wuss! Set set set!
Satu gelombang angin pukulan menderu hebat menerpa tubuh lawannya dan enam prajurit panah. Hasilnya, tubuh ketujuh lelaki itu seperti disayat-sayat pedang yang banyak.
“Akkh!” jerit lelaki berpedang lawan Janila. Ia tumbang dalam kondisi penuh luka sayatan, bahkan wajahnya pun tersayat dan berdarah-darah.
“Rubeeeng!” teriak dua lelaki berpedang lainnya bersamaan, melihat kematian rekan mereka.
“Kepuuung!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang yang menggelegar. Seiring itu, terdengar pergerakan banyak orang. Setarikan napas kemudian, mereka sudah bisa melihat kemunculan satu kelompok prajurit panah berlarian mengepung lokasi pertarungan.
Setelah para prajurit menempati posisinya masing-masing, mereka langsung membidikkan anak panahnya ke arah Janila dan Manar, tapi tidak kepada kedua lelaki berpedang.
“Kita dijebak!” desis Manar yang sudah berkumpul punggung dengan madunya.
__ADS_1
Muncul pula seorang lelaki kekar berotot bertelanjang dada, tetapi beratribut punggawa kerajaan. Ia sudah menghunus sebilah keris kebanggaan. (RH)