8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 26: Sesuatu di Kamar Raja


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


“Luar biasa! Luar biasa! Sungguh kesaktian yang tidak terkirakan! Hahahah!” seru Prabu Raga Sata menyambut kedatangan Joko Tenang yang baru saja usai melewati maut di Ladang Anjing.


Joko Tenang tersenyum akrab kepada musuh ayahnya itu. Ia juga tersenyum kepada Tirana dan Putri Sri Rahayu.


Ketika Tirana tersenyum lebar kepada Joko Tenang, Putri Sri Rahayu justru tersenyum kaku.


“Aku juga tidak pernah menyangka bahwa Gusti Prabu memiliki anjing peliharaan sedemikian banyaknya. Aku sampai bingung cara menghadapinya,” kata Joko Tenang.


“Aku pun sampai khawatir kepada Kakang Prabu,” kata Tirana, ikut memeriahkan perbincangan basa-basi itu.


“Sepertinya pedang Prabu Dira sangat sakti?” tanya Prabu Raga Sata.


“Namanya Pedang Singa Suci, Gusti Prabu,” jawab Joko Tenang.


“Singa… hmm… sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Itu nama seekor hewan dari negeri asing. Hewan itu seperti harimau, tetapi ia memiliki rambut yang banyak di sekeliling lehernya. Apakah karena anjing-anjing itu takut kepada singa sehingga mereka tidak berani menyentuhmu?”


“Aku juga tidak mengerti, Gusti Prabu. Sebab aku belum begitu bisa menggunakan pedang tersebut karena aku baru beberapa hari memilikinya.”


“Dari mana Prabu Dira mendapatkan pedang sakti itu?”


“Dari Negeri Burma, negeri asing yang jauh dari Tanah Jawi.”


“Akan sangat bangga diriku ini jika memiliki seorang menantu sepertimu, Prabu Dira. Jika Prabu Dira berhasil mendapatkan Mutiara Ratu Panah dan memberikannya kepadaku, maka putriku Sri Rahayu boleh Prabu bawah ke Kerajaan Sangga Kecil dan nikahi dia sebagai permaisuri. Cukup beri tahukan kepada kami kapan kalian akan menikah. Hahaha!” ujar Prabu Raga Sata senang lalu tertawa.


“Tapi, Ayahanda…” ucap Putri Sri Rahayu.


“Kau tidak boleh meminta syarat baru lagi, Sri. Sudah kita sepakati, jika Prabu Dira berhasil memenuhi lima syarat, maka aku merestuimu menjadi istri Prabu Dira. Namun, kau harus ingat apa-apa yang telah aku pesankan kepadamu!” tandas Prabu Raga Sata kepada putrinya.


Akhirnya, Putri Sri Rahayu hanya bisa menatap dingin kepada Joko Tenang yang tersenyum lembut kepadanya. Sebenarnya ada potongan kegembiraan di dalam hati Putri Sri Rahayu mendengar keputusan ayahnya, tetapi di balik restu itu mengandung satu rahasia.


“Di mana Gusti Ratu?” tanya Joko Tenang.


“Ah entahlah, sayang sekali dia melewatkan pertunjukan menarik di Ladang Anjing,” jawab Prabu Raga Sata. Ia lalu berperintah kepada Panglima Siluman Pedang. “Panglima, pergi jemput Ratu dan bawa ke mulut Gua Mutiara!”


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Panglima Siluman Pedang patuh. Ia lalu melangkah pergi.


“Mari, kita pergi ke Gua Mutiara!” ajak Prabu Raga Sata.


Mereka lalu melangkah pergi bersama-sama. Joko Tenang berjalan di sisi kiri Prabu Raga Sata. Tirana berjalan di sisi Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu berjalan di sisi ayahnya.


Sementara di belakang berjalan sejumlah pejabat dan Prajurit Pengawal Prabu, termasuk dua gadis kembar pengawal Putri Sri Rahayu.


Panglima Siluman Pedang terus berjalan menuju kamar milik Prabu Raga Sata. Cukup jauh, tetapi akhirnya sampai juga. Di depan pintu besar yang tertutup ada empat prajurit berseragam putih-putih berjaga.


“Apakah Gusti Ratu ada di dalam?” tanya Panglima Siluman Pedang.


“Gusti Ratu belum keluar, Panglima,” jawab salah satu prajurit.


Panglima Siluman Pedang lalu maju ke pintu dan mengetuk.


Tuk tuk tuk!

__ADS_1


Panglima Siluman Pedang menunggu sejenak. Ia menunggu respon dari dalam. Namun, setelah beberapa tarikan napas, tidak ada respon dari dalam.


Tuk tuk tuk!


“Gusti Ratu, Gusti Prabu menunggu Gusti di Gua Mutiara!” kata Panglima Siluman Pedang agak berteriak setelah mengetuk untuk kedua kalinya.


“Baik, nanti aak!” sahut Ratu Sri Mayang Sih, tapi tiba-tiba ia menjerit aneh.


Jeritan itu membuat Panglima Siluman Pedang kerutkan kening. Hal yang sama dilakukan oleh keempat prajurit yang juga mendengar jeritan tertahan itu. Namun, mereka harus tetap berdiri tegap tanpa boleh peduli dengan urusan pribadi junjungannya.


Namun kemudian, kembali terdengar suara Ratu Sri Mayang Sih.


“Sebentar lagi aku ke sana!”


“Aneh, nada suara Gusti Ratu bergetar samar,” pikir Panglima Siluman Pedang, tapi kemudian dia berteriak, “Baik akan aku sampaikan, Gusti!”


Setelah berteriak, Panglima Siluman Pedang tidak berbalik pergi, dia tetap berdiri di dekat pintu, seolah menunggu dengar sesuatu dari dalam.


“Aaak!”


Setelah hening agak lama, tiba-tiba terdengar jerit samar Ratu Sri Mayang di dalam kamar. Hal itu membuat Panglima Siluman Pedang mendelik terkejut.


Pak!


Panglima Siluman Pedang cepat menghantamkan telapak tangan kirinya membuka paksa pintu kamar, sementara tangan kanannya telah menghunus pedang. Ia langsung masuk.


“Hah!” Panglima Siluman Pedang sangat terkejut.


Lelaki tua itu buru-buru berjalan mundur dengan capat dan kembali menutup rapat pintu besar kamar raja. Wajah Panglima Siluman Setan tampak agak pucat dan berkeringat dingin.


“Jangan biarkan siapa pun keluar dari kamar ini, termasuk Gusti Ratu. Jika Gusti Ratu menentang, katakan ini adalah perintah Gusti Prabu. Mengerti?” perintah Panglima Siluman Pedang.


“Mengerti, Panglima!” sahut mereka berempat kompak, jadi tambah tegang.


Panglima Siluman Pedang segera berjalan pergi meninggalkan pintu kamar itu. Sementara keempat prajurit penjaga dilanda tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi terhadap Ratu Sri Mayang Sih.


“Kalian semua, bantu berjaga di pintu kamar Gusti Prabu!” perintah Panglima Siluman Pedang kepada enam prajurit yang berjaga tidak jauh dari kamar raja.


“Baik, Panglima!” sahut mereka.


Para prajurit itu lalu meninggalkan pos penjagaannya dan pergi bergabung dengan prajurit penjaga pintu kamar.


Isi kepala Panglima Siluman Pedang serasa ingin meledak mengingat apa yang baru saja ia saksikan dengan jelas di dalam kamar. Gambar itu tidak bisa ia singkirkan dari dalam kepalanya.


Ketika ia masuk mendobrak ke dalam kamar rajanya, wajah Ratu Sri Mayang Sih dan seorang lelaki yang berada di atas tubuh junjungannya langsung menatap tajam kepadanya.


Di atas ranjang, Ratu Sri Mayang Sih tanpa berpakaian, di atas tubuhnya tengkurap seorang lelaki tampan yang juga tanpa baju. Tubuh mereka berdua hanya ditutupi oleh selimut sebatas pinggang ke bawah.


“Siapa lelaki itu? Sepertinya aku pernah bertemu, tapi aku tidak ingat,” pikir Panglima Siluman Pedang sambil berjalan cepat menuju Gua Mutiara.


Darahnya benar-benar mendidih usai menyaksikan adegan di atas ranjang itu. Menyaksikan ratunya berhubungan badan dengan lelaki yang bukan Prabu Raga Sata adalah hal yang mengerikan.


“Aku pikir Gusti Ratu menjerit kesakitan, ternyata menjerit keenakan. Kurang ajar banyak!” maki Panglima Siluman Pedang benar-benar gusar, kedua tangannya mengepal kuat. “Bagaimana caranya aku memberi tahu Gusti Prabu? Apakah harus aku beri tahu di depan Prabu Dira?”


Sementara itu di depan Gua Mutiara.

__ADS_1


Gua Mutiara adalah sebuah gua bermulut cukup besar, sehingga bisa melihat ruangan depannya.


Gua itu terletak di luar Istana, tetapi tidak jauh, seperti menyeberang ke rumah tetangga saja.


“Silakan, Prabu Dira!” kata Prabu Raga Sata mempersilakan Joko Tenang untuk pergi masuk ke dalam gua.


Joko Tenang lalu melangkah pasti, seperti judul filmnya Hengky Tornando dan Sally Marcellina tahun 1989, yaitu “Langkah-Langkah Pasti”.


Bless!


Saat Joko Tenang melangkah pasti melewati garis mulut gua, Joko Tenang seperti menembus sebuah lapisan udara yang lebih padat.


Sess! Bduk!


Ketika tubuh Joko Tenang sepenuhnya masuk ke dalam gua, tiba-tiba Joko Tenang merasakan ada kelebatan sesuatu yang tidak terlihat menyambar tabrak tubuhnya. Joko Tenang terbanting ke lantai gua.


Prabu Raga Sata, Tirana dan Putri Sri Rahayu bisa melihat jelas bahwa Joko Tenang terbanting dengan sendirinya ke lantai gua. Mereka tidak melihat apa pun yang menyerang Joko Tenang. Namun Prabu Raga Sata tahu apa yang dialami Joko Tenang, sebab ia sudah berulang kali masuk ke dalam gua itu dengan tujuan yang sama.


Panglima Siluman Pedang datang menghadap dan menghormat kepada Prabu Raga Sata. Melihat warna muka Panglima Siluman Setan, Prabu Raga Sata jadi kerutkan kening.


“Ada apa, Panglima?” tanya Prabu Raga Sata.


“Ada hal sangat rahasia yang ingin hamba beri tahukan, Gusti,” jawab Panglima Siluman Pedang.


Mendengar hal itu, Putri Sri Rahayu jadi memandangi Panglima Siluman Pedang pula.


Prabu Raga Sata lalu melangkah menjauh dari kerumunan, bukan karena menerapkan protokol kesehatan, tetapi agar tidak didengar oleh orang lain perbincangannya dengan perwiranya.


Panglima Siluman Pedang mengikuti langkah Prabu Raga Sata. Setelah di posisi yang cukup jauh dari putri dan para pejabatnya, barulah Prabu Raga Sata berhenti.


“Katakan!” perintah Prabu Raga Sata.


“Hamba memergoki Gusti Ratu sedang berhubungan badan dengan seorang lelaki asing di ranjangnya, Gusti Prabu!” lapor Panglima Siluman Pedang dengan suara bergetar.


“Apa?!” teriak Prabu Raga Sata sangat terkejut.


Putri Sri Rahayu dan para pejabat jadi memandang kepada Prabu Raga karena teriakannya sampai terdengar oleh mereka, termasuk oleh Tirana.


Plak!


Tiba-tiba Prabu Raga Sata menampar keras Panglima Siluman Pedang, sampai-sampai perwira itu terbanting keras ke samping.


“Kenapa kau tidak bunuh langsung lelaki itu, Panglima?!” teriak Prabu Raga Sata murka.


Ia lalu berbalik dan melangkah marah menuju kepada para pejabatnya.


“Jaga ketat semua pintu di Istana! Tutup semua pintu rahasia! Jaga ketat Istana Terlarang dan jangan izinkan siapa pun masuk!” teriak Prabu Raga Sata mengatur perintahnya.


Setelah itu ia langsung berjalan cepat meniggalkan kawasan mulut gua. Ia telah memerintahkan Pasukan Pengawal Prabu bergerak lebih dulu menyerang ke kamar raja.


Kini tinggallah Putri Sri Rahayu dan Tirana berdiri menunggu di depan mulut gua, ditemani oleh prajurit kembar pengawal sang putri.


Putri Sri Rahayu tidak mau ambil peduli apa yang telah terjadi, terlebih semua pejabat dan prajurit telah dikerahkan. Ia lebih mengkhawatirkan Joko.


Sementara Tirana hanya bisa menduga bahwa mungkin Raja Anjas telah berbuat sesuatu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2