8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 12: Membuka Konflik Lama


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


“Tahan!” teriak Ki Rawa Banggir cepat, mencegah tindakan lanjutan para muridnya, setelah mendengar suara tangis bayi dari atas lubang tebing yang adalah Pintu Bawah Awan.


Orang ramai yang ada di pinggang dan kaki bukit kini melihat kepada sosok Dewi Ara. Rambutnya yang panjang sekaki berkibar-kibar tertiup angin. Dewi Ara yang baru saja menggagalkan serangan Badai Timur Perusak Harapan, berdiri di atas sebongkah batu yang melayang di udara. Kedua tangannya menggendong Arda Handara yang menangis kencang.


“Dewi Geger Jagad!” sebut para tokoh tua yang langsung mengenali sosok wanita berpakaian hitam itu.


“Dewi Ara!” sebut beberapa orang lainnya.


“Joko Tenang tidak ada!” sebut Serigala Perak pula.


Namun, tiba-tiba dari dalam lubang lorong yang posisinya di badan tebing, muncul melompat sesosok tubuh pemuda tampan berambut gondrong berbibir merah ke atas batu.


“Kakang Prabu!” pekik para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil bersamaan, terkejut tapi lebih banyak gembiranya.


“Gusti Prabu!” sebut para pendekar yang tergabung dalam Pasukan Pengawal Bunga.


“Joko Tenang!” sebut sejumlah tokoh tua yang mengenal siapa pemuda itu adanya.


“Tahan! Dewi Geger Jagad membawa bayi!” teriak Ki Rawa Banggir lagi.


Sementara itu, di atas sana, Joko Tenang dan Dewi Ara dilanda keterkejutan melihat situasi di bawah. Ia segera memberi ASI bayinya agar mau diam menangis.


“Kita keluar di wilayah Perguruan Bukit Dalam,” kata Joko Tenang. “Istri-istriku juga ada di sini.”


“Ada acara apa sehingga mereka berkumpul di sini?” tanya Dewi Ara.


“Aku tidak tahu,” jawab Joko.


“Joko, bayi kita terluka,” kata Dewi Ara yang merasakan ada perubahan pada bayinya.


Clap!


Tiba-tiba di udara depan mereka melayang, muncul sesosok wanita berjubah kuning berambut pendek dalam jarak sepuluh tombak. Mereka berdua terkejut saat mengenali sosok wanita yang juga bisa melayang di udara itu.


Tum!


Sosok yang adalah Dewi Mata Hati itu langsung menusukkan dua jarinya ke depan, melesatkan segaris sinar putih menyilaukan dari ilmu Jari Surga.


“Nara, jangan!” teriak Joko Tenang terkejut sambil melompat melewati atas kepala Dewi Ara.

__ADS_1


Sep!


Sinar putih menyilaukan yang dilesatkan Nara, meresap masuk ke dalam Rompi Api Emas saat dihandang oleh punggung Joko Tenang. Setelah itu, tubuh Joko meluncur jatuh ke bawah. Bisa-bisa tubuh Joko hancur saat menghantam bumi.


“Nara! Anak kami sedang terluka!” teriak Joko Tenang saat meluncur jatuh.


Terkejutlah semua orang, khususnya para istri Joko Tenang, saat mendengar teriakan “anak kami”.


Tiba-tiba tubuh Joko Tenang berhenti meluncur ke bawah. Kekuatan mata Dewi Ara telah menahan jatuh tubuh Joko Tenang. Selanjutnya, Joko Tenang terlempar tinggi kembali ke atas dan mendarat tepat di atas batu terbang, di belakang tubuh Dewi Ara.


Zerzz zerzz zerzz…!


Di saat ketegangan menyelimuti Bukit Dalam dan seluruh orang yang ada di tempat itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara kemunculan sinar-sinar berbeda warna dari dalam tubuh para permaisuri.


Dari dalam tubuh Yuo Kai melesat keluar sinar jingga berwujud belalang raksasa yang memiliki tiga ekor panjang seperti ekor ular. Itulah makhluk penghuni Cincin Mata Langit.


Saat yang sama, dari dalam tubuh Tirana melesat keluar sinar merah besar berwujud burung bersayap capung. Dari tubuh Kerling Sukma keluar sinar kuning berwujud ular raksasa bersayap kalelawar.


Dari dalam tubuh Sandaria melesat keluar sinar ungu berwujud kuda bersayap burung, tapi berekor seperti macan yang ujungnya menyala api ungu. Sementara dari dalam tubuh Kusuma Dewi melesat sinar hitam berwujud ular naga berkumis panjang dan bertanduk seperti kijang.


Keluarnya kelima makhluk sinar penghuni Cincin Mata Langit itu memberi kehebohan bagi semua orang, termasuk Dewi Geger Jagad.


Setelah melesat naik ke atas, kelima makhluk sinar itu kembali turun rendah yang disambut oleh lompatan kelima tuannya. Kelima binatang sinar itu masing-masing menyambar tubuh tuannya. Kelima permaisuri berdiri gagah di atas kepala tunggangannya masing-masing, terbang naik ke depan Pintu Bawah Awan. Di sana mereka berhenti di dekat Dewi Mata Hati, mengambang menghadap ke arah Dewi Ara dan Joko Tenang.


“Pertunjukan yang sangat-sangat menakjubkan!” ucap Ki Rawa Banggir, mewakili respon para pemirsa.


“Hormat sembah kami, Kakang Prabu!” ucap para permaisuri sambil turun berlutut, kecuali Dewi Mata Hati yang sedang dikuasai dendam.


“Bangunlah!” perintah Joko Tenang.


Keenam permaisuri segera bangkit berdiri.


“Perkenalkan, ini Dewi Ara, Dewi Geger Jagad. Dia adalah calon Dewi Bunga kedelapan, seperti yang telah diramalkan oleh Malaikat Serba Tahu!” ujar Joko Tenang. “Kami pulang bersama bayi kami.”


“Tidak akan aku biarkan Wanita Iblis itu menjadi istri Kakang Prabu!” teriak Nara lantang.


“Nara Sayang, hentikanlah dendam ini,” kata Joko Tenang lembut. Ia sudah tahu konflik apa yang terjadi antara dua Dewi itu, tapi masih menurut versi Dewi Ara.


“Aku tidak akan membiarkan hidup pembunuh kedua orangtuaku!” tegas Dewi Mata Hati.


“Aku membunuh kedua orangtuamu karena mereka begitu jahat terhadap kedua orangtuaku, Nara! Merekalah dalang pembunuhan terhadap kedua orangtuaku. Kau sendiri tahu, ayahku adalah orang yang sangat baik kepada semua orang, juga sangat baik kepada keluargamu, Nara. Namun, apa yang orangtuamu lakukan terhadap orangtuaku?” tukas Dewi Ara membela diri.


“Kau membalikkan cerita yang sebenarnya terjadi, Wanita Iblis!” tukas Nara.

__ADS_1


“Aku menyelidiki langsung kematian kedua orangtuaku, Nara. Kau tidak ada saat kejadian itu terjadi. Kau hanya tahu bahwa akulah yang membunuh kedua orangtuamu, tanpa tahu cerita di balik alasan aku membunuh mereka. Orang-orang yang mengaku sebagai pendekar aliran putih, tapi ternyata melakukan perbuatan busuk dan keji terhadap kedua orangtuaku. Apa artinya hitam dan putih yang kalian anut sampai sekarang?” tutur Dewi Ara dengan nada tinggi.


“Aku mohon kepada kalian berdua, hentikan dulu permusuhan kalian untuk sementara!” kata Joko Tenang agak keras.


Perkataan Joko Tenang itu terbukti menghentikan percekcokan Nara dan Dewi Ara.


“Pangeran Arda sedang terluka, ia perlu diobati. Selesaikan permusuhan kalian sebagai dua orang permaisuri, bukan sebagai tukang bunuh di jalanan!” kata Joko Tenang kepada keduanya. Lalu katanya kepada Dewi Mata Hati dengan lembut, “Nara, Dewi Ara sudah berjanji kepadaku akan bertarung denganmu menyelesaikan dendam di antara kalian. Tapi aku mohon, tunda sejenak sampai Pangeran Arda kondisinya pulih.”


“Benar, Nara. Aku tidak akan lari karena takut bertarung denganmu. Aku sudah pernah mati, dan aku masih siap mati!” tandas Dewi Ara.


“Baik! Demi bakti dan hormatku kepada suamiku, aku bersedia mengulur waktu kematianmu, Wanita Iblis!” kata Dewi Mata Hati.


Clap!


Tiba-tiba Dewi Mata Hati menghilang begitu saja. Entah ke mana dia pergi.


Joko Tenang hanya bisa menarik napas dalam, tetapi ada kelegaan bahwa Dewi Mata Hati mau menunda eksekusi perseteruan lamanya dengan Dewi Ara.


“Apa yang kalian lakukan di Jurang Lolongan ini?” tanya Joko Tenang kepada para istrinya.


“Bukankan tadi Kakang Prabu yang memerintahkan kami untuk mundur ke Jurang Lolongan? Setelah Kakang Prabu jatuh ke jurang, kami segera mundur meninggalkan Putri Aninda Serunai dan pusaka Tongkat Jengkal Dewa,” jawab Tirana lembut, membuat suasana panas menjadi sejuk.


Mengerutlah dahi Joko Tenang mendengar jawaban Permaisuri Penjaga. Ia mencoba mengingat perintahnya kepada Tirana sekitar setahun yang lalu.


“Perintah itu sudah setahun yang lalu, Permaisuri Penjaga. Bagaimana mungkin kalian melaksanakannya baru sekarang?” kata Joko Tenang.


“Maafkan hamba, Kakang Prabu. Kakang jatuh ke jurang belum berganti hari, pertemuan para tokoh tua pun belum dilaksanakan. Justru kami semua heran, bagaimana mungkin Kakang Prabu sudah memiliki bayi dari Dewi Ara dalam waktu sekejap langkah?” jelas Tirana.


Terkejutlah Joko Tenang dan Dewi Ara mendengar penjelasan Tirana.


“Apakah di sini ada Dewa Kematian?” tanya Dewi Ara kepada Joko.


“Apakah kau mencariku, Ara?”


Namun, sebelum Joko Tenang menjawab, satu suara pertanyaan muncul dari arah lain, seiring munculnya sosok Dewa Kematian yang berdiri mengambang di udara, agak jauh di belakang barisan para permaisuri.


“Pratakarsa!” desis Dewi Ara gusar saat mengenali sosok lelaki yang sudah berubah tua tampan itu.


Dewi Ara lalu memberikan Arda Handara kepada Joko Tenang.


Wess!


Tiba-tiba Dewi Ara dan batu terbangnya melesat secepat kilat ke arah Dewa Kematian. Lesatan yang tiba-tiba itu membuat Joko Tenang terjungkal dan jatuh di udara. Namun, burung sinar Tirana sigap terbang menyambar tubuh sang prabu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2