8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 8: Repakulo Takluk


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Rupanya anggota Kelompok Tinju Dewa yang pulang kembali tanpa hasil ke Kadipaten Repakulo, telah menyiapkan kekuatan penuh untuk menyambut kedatangan Raja Anjas dan rombongannya.


Ada sebanyak lima ratus prajurit Kerajaan Baturaharja membentuk barisan berlapis-lapis. Di barisan paling depan adalah tiga puluh pendekar anggota Kelompok Tinju Dewa. Mereka adalah anggota yang ditinggal di Kadipaten Repakulo untuk memastikan keamanan daerah itu.


Mahapati Abang Garang, Siluman Gendut, Siluman Tangan Seribu, Siluman Bayang Seribu, Ketua Kelompok Tinju Dewa, dan sejumlah pendekar sakti telah berangkat ke Jurang Lolongan. Kepemimpinan Kadipaten Repakulo kembali diserahkan kepada Adipati Tulang Sampit.


Kelompok Tinju Dewa kali ini dipimpin oleh orang yang bernama Jotos Melu, seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Ia berbaju biru gelap tanpa lengan, memperlihatkan lengan besarnya yang bergelombang. Kulit tubuhnya agak hitam.


“Ini baru jumlah yang pantas untuk menghadang Permaisuri Sanggana Kecil,” kata Tirana yang telah berdiri di atas punggung kuda.


Sementara itu, para warga sudah memilih mengamankan diri agak jauh di belakang rombongan. Adapun tiga puluh prajurit di pihak Putri Manik Sari jadi ketar-ketir melihat perbandingan jumlah pasukan yang sangat jomplang.


“Apakah kau akan mencoba mempengaruhi pasukan Baturaharja agar membelot, Putri?” tanya Tirana kepada Putri Manik Sari.


“Para prajurit Baturaharja! Apakah kalian tahu siapa aku?!” seru Putri Manik Sari.


“Kami tahu, Gusti Putri!” sahut para prajurit Baturaharja.


“Jumlah kalian tidak ada gunanya dibandingkan kesaktian kami. Aku beri pilihan untuk patuh pada perintahku atau kematian untuk para pengkhianat!” teriak Putri Manik Sari mengancam. Ia benar-benar tampil sebagai seorang wanita perkasa.


Seruan dari putri raja itu membuat ratusan pasukan seketika jadi riuh seperti pasar buka diskon besar-besaran. Namun, fakta yang terpampang di depan mata mereka, rasanya sulit jika sekelas Putri Manik Sari bisa melawan. Jumlah mereka terlalu jauh lebih banyak.


“Kami mengikuti perintah Adipati Tulang Sampit!” seru seorang pemimpin prajurit.


“Di mana adipati pengkhianat itu, suruh keluar!” teriak Putri Manik Sari.


Tiba-tiba dari belakang pasukan prajurit berkelebat sosok kurus berkumis makmur. Ia adalah Adipati Tulang Sampit, tangan kirinya menggenggam keris yang masih bersarung. Ia mendarat di sisi kanan Jotos Melu.


“Hamba di sini, Gusti Putri,” ucap Adipati Tulang Sampit.


“Kau ikut memberontak, Adipati?” tukas Putri Manik Sari.


“Hamba tidak ada pilihan selain patuh kepada yang berkuasa, Gusti Putri. Prabu Menak Ujung sudah tewas digulingkan oleh Salik Jejaka, jadi hamba tidak memiliki alasan untuk terus mengabdi kepada raja yang sudah mati!” ujar Adipati Tulang Sampit.


“Apa?!” pekik Putri Manik Sari terkejut bukan main. Dengan marah ia berkata kepada Adipati Tulang Sampit, “Kau jangan membuat berita bohong, Adipati, atau aku benar-benar akan membungkam nyawamu!”


“Seperti itulah kenyataannya, Gusti Putri. Mahapati Abang Garang dan Salik Jejaka adalah orang yang menjadi dalang pemberontakan. Istana Baturaharja telah dikuasai oleh pasukan pemberontak!” jelas Adipati Tulang Sampit.


“Akan aku habisi kalian semua!” teriak Putri Manik Sari murka.


“Seraaang!” teriak Jotos Melu berkomando.

__ADS_1


“Seraaang!” teriak puluhan anggota Kelompok Tinju Dewa yang mengandalkan jurus tinju bertenaga dalam tinggi.


Jleg! Wess!


Ketika kelompok pendekar itu beramai-ramai maju, Tirana melompat turun ke tengah-tengah mereka dan langsung mengerahkan ilmu Pemutus Waktu. Gelombang angin lembut langsung menyebar ke segala arah. Akibatnya, puluhan orang itu seketika mematung tidak bisa bergerak. Sejumlah di antaranya jatuh tumbang ke depan karena bertepatan dengan gayanya condong ke depan.


“Hiaaat!” teriak Putri Manik Sari sambil melompat naik ke udara.


Zress! Zress!


Kedua lengan Putri Manik Sari tiba-tiba diselimuti sinar kuning yang menyala-nyala seperti api.


Bruss!


Dua gelombang sinar kuning seperti semprotan api yang besar membakar masal orang-orang yang mematung.


“Aaak! Akk! Ak!”


“Panas! Panas! Panaaas!”


Orang-orang Kelompok Tinju Dewa itu berjeritan tanpa bisa bergerak. Sementara Tirana tidak terpengaruh sedikit pun dengan ilmu panas itu.


Adipati Tulang Sampit, Jotos Melu dan para prajurit di belakang terbelalak panik melihat keganasan ilmu Lidah Neraka milik Putri Manik Sari.


Wess!


Melihat ada serangan datang, Jotos Melu langsung menyambut dengan lesatan tinju yang bersinar biru terang.


Boaamm!


Penyerang yang tidak lain adalah Raja Anjas, tidak tanggung-tanggung mengadu tinju dengan Jotos Melu. Raja Anjas mengerahkan Surya Langit Jagat, ilmu level tinggi yang sangat tidak mungkin dilawan oleh Jotos Melu.


Hasilnya, seperti telur mentah adu hantam dengan batu kali. Sinar putih menyilaukan ilmu Surya Langit Jagad langsung menghancurkan raga Jotos Melu di tempat.


Adipati Tulang Sampit yang berdiri tidak jauh di sisi Jotos Melu, syok berat di tempatnya. Sepasang kaki kurusnya gemetar hebat. Wajah berkumis tebalnya pucat pasi berkeringat dingin. Keris yang tergenggam di tangan kirinya jatuh dengan sendirinya.


Alangkah terkejutnya pasukan Baturaharja melihat begitu mudahnya Jotos Melu mati. Mereka seketika jadi panik, terlebih melihat Adipati Tulang Sampit dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Putri Manik Sari yang baru kali ini melihat kesaktian Raja Anjas Perjana, terkejut terbelalak.


Kini Anjas melirik kepada Adipati Tulang Sampit yang gemetaran. Terasa mati berdiri perasaan Adipati Tulang Sampit melihat lirikan tajam Anjas Perjana.


Pak! Duk!


Anjas menepuk bahu kiri Adipati Tulang Sampit, membuatnya jatuh terlutut di tanah. Tepukan Anjas pelan, tetapi bobotnya seperti 500 kg.

__ADS_1


“Tentukan nyawamu sendiri dengan memilih, Adipati,” kata Anjas datar lalu melangkah ke arah depan pasukan yang sudah tidak terlihat mau bertempur.


Pasukan Baturaharja justru bergerak mundur selangkah demi selangkah, seolah berniat jauh-jauh dari Anjas.


Anjas Perjana lalu mengangkat lengan kanannya dengan pengerahan tenaga dalam. Tiba-tiba muncul angin yang bergerak memutari tubuh Anjas, menciptakan suasana keren bagi seorang pendekar dan suasana mencekam bagi ratusan prajurit itu.


“Putuskan! Jatuhkan senjata atau melawan!” seru Anjas kepada pasukan bertombak dan bertameng itu.


“Kami menyerah!” teriak seorang pemimpin prajurit, ia sudah tidak tahan merasakan tekanan batin itu. Ia menjatuhkan pedang dan perisainya.


Ratusan prajurit yang lain akhirnya melakukan hal yang sama, mereka menjatuhkan senjata ke tanah tanda menyerah. Anjas meredakan kembali ilmu anginnya.


Bak!


Putri Manik Sari menerjang dada Adipati Tulang Sampit, membuat lelaki kurus itu terjengkang keras.


“Ampuni hamba, Gusti Putri!” teriak Adipati Tulang Sampit sambil buru-buru bangkit dan berlutut menghormat.


“Di mana Mahapati Abang Garang?!” tanya Putri Manik Sari membentak.


“Mahapati dan para pendekarnya pergi ke Jurang Lolongan!” jawab Adipati Tulang Sampit.


“Untuk apa mereka pergi ke Jurang Lolongan?” tanya Putri Manik Sari.


“Hamba tidak tahu, Gusti,” jawab Adipati Tulang Sampit.


“Baik, aku beri kau satu kesempatan, Adipati. Sekarang, kau bebaskan semua warga Kadipaten yang kalian tawan!” kata Putri Manik Sari.


“Baik. Terima kasih, Gusti Putri!” ucap Adipati Tulang Sampit yang sebenarnya memang berada dalam dilema. Ia harus mematuhi siapa yang berkuasa dan siapa yang kuat.


Sementara itu, tempat tersebut telah dipenuhi bau sangit daging dan rambut yang terbakar. Puluhan orang Kelompok Tinju Dewa habis menjadi daging hangus. Dengan demikian, kadipaten itu kini bersih dari orang-orang Kelompok Tinju Dewa.


“Seperti ada hal besar di Jurang Lolongan, Permaisuri Penjaga?” tanya Anjas kepada Tirana.


“Benar, akan ada pertemuan besar tokoh-tokoh sakti aliran putih jajaran atas di Jurang Lolongan. Salah satu tokoh utama yang harus hadir adalah Kakang Prabu Dira, Gusti Mulia,” jawab Tirana.


“Sepertinya Kerajaan Siluman telah mengetahui rencana pertemuan itu sehingga mereka mengirim banyak kekuatan pendekar hitam,” kata Anjas.


“Di Jurang Lolongan pula Kakang Prabu akan bertemu dengan bunga ke delapan,” kata Tirana.


“Kedudukan Joko sebagai seorang raja akan membawanya menjadi pemimpin para pendekar aliran putih, terlebih Dewi Mata Hati menjadi salah satu istrinya,” kata Anjas.


“Apakah Guru Ki Ageng Kunsa Pari sudah tahu bahwa Dewi Mata Hati menjadi istri muridnya, Gusti Mulia?” tanya Tirana.


“Belum. Semoga Ki Ageng bisa berlapang dada,” ucap Anjas. “Kita lanjutkan perjalanan jika warga yang ditawan kondisinya sudah baik. Jangan lupa pastikan mereka semua sudah makan sebelum melanjutkan perjalanan.”

__ADS_1


“Baik, Gusti Mulia,” ucap Tirana.


Putri Manik Sari hanya berdiri mendengarkan obrolan mertua dan menantu itu. Ketika Anjas memandangnya, Putri Manik Sari hanya tersenyum malu. Anjas hanya tersenyum lebar kepada putri cantik tapi ganas itu. (RH)


__ADS_2