
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Blast!
Bugk!
Ledakan sinar biru dari tubuh Dewi Ara kembali Joko Tenang rasakan untuk kedua kalinya. Tubuh Joko Tenang terpental jauh dan menghantam dinding bercahaya tempat itu.
Dewi Ara tengah diliputi amarah setelah mengetahui Joko Tenang sedang mengumpulkan delapan istri calon Dewi Bunga. Dengan demikian, Dewi Ara jadi tahu bahwa Joko Tenang adalah keturunan dari Dewa Kematian.
“Oee… oee…!” tangis Arda Handara yang diletakkan begitu saja oleh Dewi Ara di atas pembaringan batu beralaskan kain.
Dewi Ara sudah berdiri di atas pembaringannya. Joko Tenang segera bangkit berdiri dari jatuhnya. Ia tidak mengalami luka.
“Sayang! Kenapa kau sangat marah?” tanya Joko Tenang tidak mengerti.
“Jadi, salah satu istrimu adalah Nara, Dewi Mata Hati yang bermata hitam itu? Dia adalah musuh bebuyutanku!” teriak Dewi Ara gusar.
“Kondisi ini masih bisa dibicarakan dan didamaikan, Sayang!” sahut Joko Tenang lembut.
“Tidak ada kata damai untuk Dewa Kematian dan keturunannya! Tidak ada kata damai untuk Dewi Mata Hati!” teriak Dewi Ara.
“Lebih baik aku menanggung malu sebagai wanita beranak tanpa suami, daripada harus berdamai dengan Dewa Kematian dan Dewi Mata Hati!” teriak Dewi Ara lalu mengencangkan tatapan matanya.
Bdak!
Joko Tenang terlempar kembali ke dinding dan tercekik oleh kekuatan mata Dewi Ara. Joko Tenang mengerenyit kuat mencoba menahan cekikan itu.
“Jangan turuti dendammu, Arakh!” teriak Joko Tenang dengan susah payah.
__ADS_1
Namun, cekikan pada leher Joko Tenang semakin kuat dan Joko semakin sulit bernapas. Tampaknya Dewi Ara benar-benar ingin membunuh Joko Tenang.
“Matilah kau, Joko!” teriak Dewi Ara begitu marah, tetapi sepasang matanya mengeluarkan air mata yang menggenang di tepian mata, seolah ia terpaksa harus membunuh orang yang sudah dicintainya.
“Aku tidak mau mati, Ara!” teriak Joko Tenang lalu menghentakkan tinju kanannya yang sudah menyala hijau.
Wuss! Boamm! Blar blar blar…!
Bayangan sinar hijau berwujud kepal tangan melesat cepat ke arah Dewi Ara. Lapisan sinar merah berbentuk bidang lingkaran langsung muncul di depan tubuh Dewi Ara. Sinar hijau Joko Tenang menghantam ilmu Perisai Dewi Merah, menghasilkan ledakan tenaga sakti yang tidak tanggung-tanggung.
Seluruh dinding batu putih di tempat itu berhancuran, termasuk batu pembaringan yang dipijak oleh Dewi Ara. Tubuh Dewi Ara terpental keras menghantam dinding di belakangnya. Tubuh bayi Arda Handara terpental tepat masuk ke dalam lorong menuju sungai.
“Ardaaa!” pekik Joko Tenang sambil buru-buru melesat mengejar lemparan tubuh Arda yang tidak berhenti menangis.
Tubuh bayi itu terlempar langsung menuju aliran air. Beruntung, tangan kanan Joko Tenang masih sanggup menjangkau tubuh putranya sebelum masuk ke air, lalu melemparkannya ke belakang, seperti tindakan seorang kiper yang menggagalkan bola masuk ke gawang.
Jburr! Tep!
Tubuh Joko Tenang jadi tertahan. Joko melihat dari dalam air, tampak Dewi Ara sedang berjongkok memegang kakinya dari atas batu, sambil menggendong Arda yang terus menangis. Dengan begitu, tubuh Joko Tenang tidak tenggelam masuk ke bawah perut batu mengikuti aliran air yang cukup deras.
Dewi Ara kemudian melepas kaki Joko Tenang dengan wajah yang dingin. Joko Tenang pun berenang ke tepi.
“Kenapa?” tanya Joko Tenang setibanya di pinggir.
“Aku tidak mau sendiri,” jawab Dewi Ara dingin.
“Apa yang kau pikirkan, Ara? Tadi kau sangat bernafsu membunuhku hanya karena aku suami dari Nara dan cicit Dewa Kematian! Sekarang kau mengatakan dirimu tidak mau sendiri!” omel Joko Tenang dengan nada tinggi, memarahi Dewi Ara untuk pertama kalinya, setelah lebih sembilan bulan hidup bersama di dasar jurang.
Dewi Ara jadi agak terkesiap melihat pemuda yang mulai dicintainya itu marah kepadanya untuk pertama kali.
“Kenapa kau marah padaku?!” sentak Dewi Ara tidak mau kalah gertak. Dengan marah ia berbalik dan melangkah masuk ke ruangan dasar jurang.
__ADS_1
“Lalu apa salahku jika aku menikahi Nara dan lahir sebagai cicit Dewa Kematian, sehingga kau mau membunuhku?!” teriak Joko Tenang pula.
Ia lalu naik dari dalam air. Dalam kondisi tubuh dan pakaian kuyup, Joko Tenang pergi menyusul Dewi Ara. Dilihatnya Dewi Ara sedang menyusui Arda Handara yang sudah terdiam. Sementara kondisi ruangan tanpa atap itu sudah berantakan oleh pecahan bebatuan putih yang menyala.
“Apakah aku salah jika aku menaruh dendam kepada orang yang membunuhku dan yang mau membunuhku? Dewa Kematian adalah orang yang membunuhku dan harus menanggung noda seperti ini. Nara adalah orang yang mau membunuhku!” kilah Dewi Ara dengan nada tinggi.
“Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Joko Tenang dengan sorot mata yang juga emosi dan alis yang mengerut. “Jika kau membunuhku, berapa banyak hati orang yang mencintaiku jadi menderita. Kerajaanku bisa kacau dengan perebutan tahta. Aku tidak mau mati!”
“Dulu kau pasrah jika harus mati, tapi kenapa sekarang tidak mau mati, hah?!” bentak Dewi Ara.
“Dulu aku memang merasa bersalah, dan aku memang kalah. Tapi sekarang, aku tahu bahwa aku pun dijerat melakukan perbuatan keji itu dan sekarang aku pulih!” kata Joko Tenang masih bernada keras. Ia begitu kesal dengan tindakan Dewi Ara yang ingin membunuhnya. “Aku…!”
“Oeee…!” tangis Arda Handara yang tiba-tiba memotong kata-kata Joko. Ia terganggu oleh pertengkaran orangtuanya.
Dewi Ara segera kembali menyumpal mulut putranya dengan kendi putihnya. Sementara Joko Tenang kembali berkata, tetapi dengan suara yang setengah berbisik agar tidak mengganggu sang bayi.
“Aku tidak mau mati, aku harus memperbaiki perbuatan hinaku dengan bertanggung jawab menjadi suamimu. Aku pun tidak mau membiarkan anakku melalui hidup tanpa seorang ayah. Apakah kau tega membiarkan Arda hidup berbeda dari anak-anak lainnya? Apakah kau tidak mengasihani dirimu harus hidup tanpa suami dan orang yang mencintaimu?” kata Joko Tenang.
Terdiam Dewi Ara mendengar kata-kata Joko Tenang. Ia menatap Joko Tenang yang rambutnya masih meneteskan air. Hatinya tersentuh oleh kata-kata Joko Tenang. Rasa cinta kepada Joko Tenang yang sudah tumbuh di lahan hatinya, membuat Dewi Ara semakin mudah tersentuh. Meski ia dikenal sebagai Wanita Iblis, tetapi ia bukan orang yang akalnya buta. Di dalam hatinya, ia membenarkan kata-kata Joko Tenang yang masuk akal.
“Apakah kau mencintaiku?” tanya Dewi Ara dengan nada pelan, setelah agak lama terpaku, seolah usai merenung.
Joko Tenang lalu maju mendekati Dewi Ara. Ia lalu meraih tangan kanan Dewi Ara dan memegangnya dengan lembut. Dengan tatapan yang kini berubah lembut, Joko Tenang menatap wanita jelita itu. Tindakan Joko Tenang itu ternyata membuat jantung Dewi Ara berdebar, berdebar karena terciptanya suasana yang saling mencoba memahami.
Joko Tenang lalu berkata dengan lembut.
“Aku sudah membuatmu terhina, aku sudah memberimu seorang anak, aku sudah hidup bersamamu, bagaimana mungkin aku tidak wajib bertanggung jawab dan tidak mencintaimu? Hampir semua cintaku tumbuh setelah tercipta suatu kondisi. Menikahlah denganku dan jadilah Dewi Bunga kedelapan,” ujar Joko Tenang yang berujung bujukan.
“Aku tetap tidak bisa hidup berbagi cinta dan suami dengan musuh. Aku bukan orang gila!” tandas Dewi Ara.
“Jika menjadi orang gila itu memberi kebaikan kepada banyak orang, kenapa tidak, Sayang?” kata Joko Tenang lembut dan kembali menyebut Dewi Ara dengan panggilan Sayang.
__ADS_1
Dewi Ara menatap tajam mata Joko Tenang. Ia tidak berkata untuk waktu yang lama. Selanjutnya dia melepaskan tangan Joko Tenang dari tangannya. (RH)