8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 12: Murai-Limarsih Ribut


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Kebingungan membuat Petra Kelana, Murai Manikam, Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, dan Limarsih terpaksa bermalam di penginapan desa.


Memang benar mereka mendapat petunjuk dari para nenek-nenek pembunuh itu, yaitu tulisan berbunyi “cantik sewarna kunyit”, yang oleh Petra Kelana disimpulkan bahwa Bidadari Wajah Kuning adalah orang yang dimaksud.


Namun pasalnya, Bidadari Wajah Kuning memiliki kediaman yang jauh dari wilayah itu. Mereka tidak mungkin untuk pergi ke wilayah timur dalam waktu sehari dua hari. Kondisi hari yang sudah malam membuat mereka jadi menginap.


“Petra Kelana! Jadi bagaimana?” tanya Nenek Rambut Merah sambil mendatangi Petra Kelana, yang asik makan ubi rebus cocol kelapa parut bersama Murai Manikam. Nenek Rambut Merah datang bersama Limarsih yang kondisi tangannya sudah tidak terluka lagi.


“Kenapa kau tanya aku, Rambut Merah? Aku memang penasaran dengan siapa yang telah membunuh Emping Panaswati dan Hantu Kaki Tiga, tetapi cukup menghabiskan waktu jika harus pergi ke Desa Kunyit di Bukit Tarikolo. Peluang untuk tepat waktu tiba di sana itu sangat kecil. Jika kau mau pergi ke kediaman Bidadari Wajah Kuning, maka pergilah,” ujar Petra Kelana sambil tersenyum-senyum.


“Setan Alas!” maki Nenek Rambut Merah kesal. “Aku kira kau berniat pergi, jadi aku ikut menginap di sini!”


“Bidadari Wajah Kuning itu sudah tua dan sakti, dia bisa jaga diri sendiri. Lebih baik aku mencari tahu nama racun yang ketiga nenek itu gunakan. Jika aku sudah tahu namanya, aku tinggal memburu pembunuh itu,” kata Petra Kelana.


“Kau bisa coba tanya Tabib Rakitanjamu. Mungkin sebagai seorang tabib, dia tahu banyak tentang jenis racun,” saran Murai Manikam.


“Di mana Tabib Teguk Getir itu?” tanya Nenek Rambut Merah cepat, tampaknya dia setuju dengan cara yang akan ditempuh Petra Kelana.


“Ah? Siapa Tabib Teguk Getir?” Murai Manikam justru bertanya.


“Tabib Rakitanjamu itu julukannya Tabib Teguk Getir. Waktu di Jurang Lolongan dia batal mengikuti pertemuan dan memilih pulang bersama rombongan Raja Joko. Apakah dia ada di Kerajaan Sanggana Kecil?” tebak Petra Kelana.


“Benar,” jawab Murai Manikam.


“Baiklah, aku dan Murai memutuskan akan pergi ke Kerajaan Sanggana Kecil!” tandas Petra Kelana.


“Denganku?” tanya Murai Manikam sambil menunjuk wajahnya sendiri.


“Iya,” angguk Petra Kelana. “Kau juga harus tahu siapa orang yang membunuh Emping Panaswati, sebab kau bersamanya ketika dia mati. Lagi pula….”


Petra Kelana menggantung kata-katanya dengan iklan senyumnya kepada Murai Manikam.

__ADS_1


“Lagi pula apa?” tanya Murai Manikam penasaran.


“Lagi pula kau sudah pernah ke sana, aku belum. Alangkah terbantunya jika kau mendampingiku ke sana,” kata Petra Kelana tambah tersenyum lebar.


“Gombal!” celetuk Limarsih yang mendengar perkataan Petra Kelana.


Celetukan Limarsih itu membuat Petra Kelana jadi tersenyum sapi sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Kecantikan Limarsih yang memang tinggi membuat Petra Kelana jadi malu.


Seketika suasana ruangan itu berubah buruk saat bau pesing merebak tajam menggelitik penciuman mereka. Murai Manikam sampai mengerenyit dan meletakkan kembali potongan ubinya ke piring.


“Rambut Merah!” panggil Setan Ngompol sambil berjalan mendekati mereka.


“Kita akan pergi ke Kerajaan Sanggana Kecil menemui Tabib Teguk Getir, menanyakan jenis racun yang membunuh Kaki Tiga,” kata Nenek Rambut Merah.


“Bukankah Tabib Teguk Getir tinggal di sekitar Kadipaten Surosoh?” tanya Setan Ngompol, karena menurut sepengetahuannya, Tabib Rakitanjamu tidak tinggal di kerajaan.


“Kalau yang kalian maksud adalah Tabib Rakitanjamu yang kurus bertongkat, dia ada di Sanggana Kecil sebagai tabib kerajaan,” tandas Murai Manikam.


“Namun, kita tidak bisa menanyakan racunnya jika racun itu sendiri tidak ada untuk kita tunjukkan kepada Rakitanjamu,” kata Petra Kelana.


“Dasar nenek-nenek!” balas Petra Kelana sambil bangkit berdiri dari duduknya. “Demi untuk mengetahui siapa pembunuh itu, aku rela melakukannya!”


Mereka berlima lalu beranjak meninggalkan penginapan dan pergi ke sisi belakang, tempat tiga mayat yang kemarin sore mereka makamkan.


Menggunakan jasa seorang warga, kuburan Hantu Kaki Tiga yang masih bertanah merah itu digali lagi.


Petra Kelana lalu mengambil sesobekan dari pakaian mayat Hantu Kaki Tiga yang sudah kotor, tetapi masih memiliki orama racun yang kuat. Setelah menyimpan baik-baik barang buktinya, Petra Kelana dan yang lainnya lalu memulai perjalanan menuju Kerajaan Sanggana Kecil.


Kemiskinan yang mereka alami membuat jalan kaki adalah pilihan terbaik daripada berkuda.


“Berarti kau akan bertemu lagi dengan murid Ki Ageng Kunsa Pari itu, Limarsih,” kata Nenek Rambut Merah kepada Limarsih saat mereka di dalam perjalanan.


“Entahlah, Guru. Apakah aku harus senang atau sakit hati?” kata Limarsih setelah mengembuskan napas pasrah.


Mendengar perbincangan guru dan murid itu, membuat Murai Manikam hanya melirik dan menyimak.

__ADS_1


“Murai!” panggil Petra Kelana sambil menggeser sedikit jarak langkahnya ke sisi Murai Manikam.


“Hmm?” sahut Murai Manikam dengan bergumam, tanpa menengok kepada Petra Kelana.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Petra Kelana, seperti lelaki yang baru besar saja.


“Bukankah dari kemarin kau selalu bertanya?” kata Murai Manikam seraya melirik.


“Iya, tapi kali ini jawaban dari pertanyaanku itu akan menjadi penentu masa depan hari tuaku,” kilah Petra Kelana.


“Jika demikian, tanyakanlah!” kata Murai Manikam.


“Jika ruang di hati Raja Joko sudah penuh oleh para permaisurinya, maukah kau menempati ruang hatiku yang lama tanpa penghuni?” tanya Petra Kelana sambil menatap serius wajah samping Murai Manikam.


Rayuan itu membuat Murai Manikam terkejut dan mendelik dengan wajah putih yang merona memerah. Ia jadi berhenti melangkah. Perlahan tapi pasti, senyumnya mengembang.


Rayuan Petra Kelana itu juga mengejutkan Limarsih, karena ia menyebut nama “Raja Joko” yang pastinya maksud dari nama itu adalah Joko Tenang.


“Emm… bagaimana ya, Petra? Pesona yang pertama membuatku terpukau adalah pesona Prabu Joko, jadi….”


“Eh, tunggu, Murai!” sergah Limarsih memotong perkataan Murai Manikam.


“Jangan hanya karena alasan itu kau lebih berhak menjadi pengisi hati Joko Tenang. Aku adalah salah satu gadis yang paling pertama dekat dengan Joko sejak kecil. Jika aku saja menahan diri untuk menjadi istri Joko, maka kau pun tidak layak!” kata Limarsih.


Murai Manikam hanya terdiam terkesiap mendapat semprotan dari Limarsih dengan tiba-tiba seperti itu. Ia sedikit pun tidak tahu mengenai adanya hubungan antara Joko Tenang dengan Limarsih.


Petra Kelana pun jadi terkesiap melihat reaksi Limarsih yang tiba-tiba. Sementara Nenek Rambut Merah tidak mau ambil peduli.


“Maafkan aku, Limarsih,” ucap Murai Manikam mencoba menyikapi dengan lembut sikap Limarsih. Namun, karena ia merasa pribadinya diserang, ia pun memberikan sedikit perlawanan, “Tapi kenapa aku tidak layak jika menjadi istrinya Prabu Joko?”


“Karena akulah yang lebih layak, sebab aku yang lebih lama dekat dengan Joko Tenang!” tegas Limarsih yang bergeser ke hadapan Murai Manikam.


“Selama hidupku, aku belum pernah menerima pelajaran tentang aturan itu. Kau mengada-ada, Limarsih. Buktinya, istri Prabu Joko sekarang sudah sepuluh orang. Di antaranya tidak ada kau, Limarsih,” debat Murai Manikam dengan nada yang datar.


“Itu karena….”

__ADS_1


“Bidadari Wajah Kuning!” teriak Setan Ngompol tiba-tiba, memotong perkataan Limarsih. Ia menunjuk ke arah jauh. (RH)


__ADS_2