8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 14: Mahapati-Senopati Berangkat


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


Di saat pasukan sudah bersiap untuk berangkat, Mahapati Abang Garang masih melakukan pertemuan rahasia dengan Salik Jejaka alias Pendekar Mata Elang. Keduanya bertemu di kamar Salik Jejaka yang cukup luas dan megah. Karena ia masih memilih hidup membujang, jadi ia cukup meminta satu kamar di dalam Istana.


Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama hidup membujang itu susah, kalau malam tidurnya sendirian, hanya bantal guling sebagai teman, mata melotot pikiran melayang, ternyata tidak bagi Salik Jejaka. Meski ia membujang, tidurnya tidak sendirian karena ada wanita bayaran yang menemaninya setiap malam, matanya pun tidak melotot dan pikirannya enjoy.


Jika pejabat lain gajinya aman di tangan istri, maka gaji Salik Jejaka habis di tangan wanita piaraan.


“Tanda perintah ini aku berikan kepadamu!” kata Mahapati Abang Garang sambil memberikan sebuah benda logam berbentuk bulat pipih seperti koin besar, tetapi pada satu sisinya ada cetakan timbul bergambar binatang belalang sembah.


“Kapan aku harus mengerahkan Pasukan Walang Kekek ini?” tanya Salik Jejaka setelah menerima tanda perintah itu.


“Putri Dua Matahari akan menemuimu dalam waktu dekat. Aku berharap, orang yang menduduki tahta sudah berganti saat aku dan Kelompok Tinju Dewa menuju ke Ibu Kota,” ujar Abang Garang.


“Tentu,” ucap Salik Jejaka.


“Kau harus hati-hati. Kau sendiri tahu seperti apa kesaktian Menak Ujung, ditambah Angger Buda dan Putri Manik Sari,” kata Abang Garang.


“Tadi Putri Manik Sari minta izin untuk ikut pergi ke Repakulo, tetapi tidak diizinkan oleh Gusti Prabu. Namun dugaanku, dia akan tetap pergi ke Repakulo bersama pasukanmu, Mahapati,” kata Salik Jejaka.


“Itu lebih bagus. Itu artinya akan lebih sedikit orang sakti di dekat Menak Ujung. Ketika kau bertemu dengan Putri Dua Matahari, minta Putri mengirim orangnya untuk membunuh Putri Manik Sari di perjalanan,” kata Abang Garang.


“Baik,” ucap Salik Jejaka.


“Aku harus pergi,” kata Abang Garang lalu berbalik pergi menuju pintu kamar.


Abang Garang terus berjalan hingga tiba di pelataran Istana. Ternyata di sana telah menunggu banyak pasukan berseragam biru putih.


Tampak Senopati Duri Manggala, Adipati Sewa Legit, Adipati Tulang Sampit, Nayaka Segar Labu, dan dua orang berperawakan pendekar, sudah duduk di kuda mereka.


Pasukan itu terdiri dari seribu pasukan pejalan kaki dan seratus pasukan berkuda. Jumlah pasukan itu masing-masing dibagi dua, yaitu pasukan untuk Mahapati Abang Garang dan Senopati Duri Manggala.


Sejumlah bendera dan panji-panji menghiasi rombongan tersebut.


Untuk pemberangkatan awal, semua pasukan itu dipimpin oleh Mahapati Abang Garang. Ia segera naik ke punggung kudanya. Tidak terlihat keberadaan Prabu Menak Ujung untuk melepas kepergian pasukan itu.

__ADS_1


“Kita berangkat!” teriak Abang Garang.


“Berangkaaat!” teriak Nayaka Segar Labu lebih kencang.


Maka mulailah pasukan itu berangkat yang didahului oleh pasukan infanteri atau pejalan kaki. Barulah menyusul pasukan kavaleri atau pasukan berkuda. Sementara posisi para pemimpin berada di tengah-tengah.


Gong…! Gong…!


Warga ibu kota Jayamata segera menyingkir ketika mendengar suara gong dipukul, menandakan bahwa ada pasukan kerajaan yang akan lewat.


Di antara warga yang berkumpul tampak Putri Aninda Serunai berdiri memandangi berlalunya pasukan.


Setibanya di luar Ibu Kota, pasukan yang dipimpin oleh Senopati Duri Manggala memisahkan diri dan pergi ke arah yang berbeda. Pejabat yang ikut dengan Senopati adalah Adipati Sewa Legit, dan dua pejabat yang berpenampilan pendekar, yaitu Sepak Bilas dan Tepuk Geprak.


Sepak Bilas adalah seorang lelaki berusia empat puluhan. Ia mengenakan pakaian biru gelap dengan senjata pedang berwarna putih.


Sementara Tepuk Geprak adalah seorang lelaki yang sepuluh tahun lebih muda dari rekannya. Lelaki berpakaian merah gelap itu bersenjata tombak di punggungnya. Wajahnya unik karena memiliki bibir yang miring, sehingga terkesan ia selalu tersenyum sepihak. Ia pun memelihara cambang yang menggantung.


“Adipati, berapa banyak jumlah Kelompok Jago Sodok yang kau ketahui?” tanya Duri Manggala.


“Aku pernah melihat mereka berjumlah lima belasan, tetapi aku yakin, jumlah mereka lebih dari itu,” jawab Sewa Legit.


“Aku ragu,” jawab Sewa Legit.


“Lalu apakah kita akan bunuh diri?” tanya Duri Manggala sambil menghentikan langkah kudanya.


Dengan berhentinya kuda Senopati, maka semua pasukan pun berhenti berjalan di pinggiran hutan itu.


“Berarti Mahapati Abang Garang juga akan mengalami hal yang sama?” tanya Sewa Legit.


“Aku rasa tidak. Mahapati memiliki banyak rahasia yang tidak kita ketahui,” kata Duri Manggala. Ia lalu berteriak, “Tepuk Geprak!”


“Hamba, Gusti Senopati!” sahut Tepuk Geprak lalu memacu kudanya keluar dari barisan. Ia mendatangi Duri Manggala dan Sewa Legit.


“Pergilah kau, kejar rombongan Permaisuri Sandaria dari Kerajaan Sanggana Kecil!” perintah Duri Manggala.


Mendeliklah Tepuk Geprak. Sebab, ia memandang bahwa orang-orang Kerajaan Sanggana Kecil adalah musuh karena melindungi keturunan pemberontak.

__ADS_1


“Jika kau bertemu dengannya, katakan bahwa Senopati sudah memutuskan mengambil posisi yang benar!” kata Duri Manggala lagi.


“Tapi, mereka adalah pelindung Putri Wilasin, Gusti,” kata Tepuk Geprak.


“Jangan pikirkan itu, itu tanggung jawabku. Kita saat ini sedang menuju tugas yang akan membunuh kita, kecuali kau memang mau mati!” tandas Duri Manggala.


“Bagaimana jika aku tidak bertemu dengan wanita anjing itu?” tanya Tepuk Geprak.


“Kau harus pergi langsung ke Kerajaan Sanggana Kecil, minta bantuan untuk memberantas Kelompok Jago Sodok. Katakan bahwa aku akan menunggu bantuan mereka di Desa Kayu Manis, Kadipaten Segang!”


“Datang langsung ke Kerajaan Sanggana Kecil? Itu seperti masuk ke dalam sarang harimau, Gusti,” kata Tepuk Geprak keberatan.


“Percuma kau menjadi seorang pendekar jika seperti itu saja nyalimu ciut, Tepuk!” kata Duri Manggala.


“Ba… baik, Gusti,” ucap Tepuk Geprak. Namun, katanya lagi, “Tapi, aku terbiasa selalu bersama dengan Sepak Bilas.”


“Ya sudah, ajak Sepak Bilas bersamamu!” kata Duri Manggala dengan tatapan kesal.


“Baik, Gusti!” ucap Tepuk Geprak semangat.


Ia lalu memutar kudanya dan berlari ke belakang menemui Sepak Bilas.


Setelah Tepuk Geprak menyampaikan perintah Senopati kepada Sepak Bilas, maka mereka berdua segera pergi memacu kudanya dengan kencang meninggalkan rombongan.


Sementara itu di jalan yang lain, seekor kuda putih berlari kencang mengejar rombongan pasukan pimpinan Mahapati Abang Garang.


Kuda itu kemudian berhenti tidak jauh di sisi kuda Abang Garang. Penunggang kuda tidak lain adalah Putri Manik Sari yang cantik.


Abang Garang yang sudah mendapat info sebelumnya dari Salik Jejaka tentang kemungkinan bergabungnya Putri Manik Sari, pura-pura terkejut.


“Gusti Putri?” ucap Abang Garang kerutkan kening.


“Aku akan ikut memberantas pemberontak di Repakulo, Mahapati!” ujar Putri Manik Sari seraya tersenyum dengan tatapan yang tajam kepada perwira muda itu.


“Tapi, Gusti Prabu tidak memberitahukan tentang keikutsertaan Gusti Putri,” kata Abang Garang.


“Anggap saja aku sedang pergi berkunjung ke Repakulo, dan kau berkewajiban untuk melindungiku,” kata Putri Manik Sari.

__ADS_1


“Baiklah, Gusti,” kata Abang Garang. (RH)


__ADS_2