8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 18: Anjas VS Siluman Pedang


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


“Seraaang!” teriak Panglima Siluman Pedang berkomando di atas tebing.


“Seraaang!” teriak para prajurit berseragam hitam-hitam sambil berlompatan terjun ke bawah dengan pedang terhunus.


“Pertahankan nyawa kalian! Jumlah kalian lebih banyak!” teriak Putri Manik Sari memberi seruan spirit bagi pasukan Baturaharja.


Pasukan khusus Kerajaan Siluman menyerang pasukan Baturaharja di bagian depan. Pasukan berseragam hitam-hitam itu lebih tangguh dan unggul secara individu dibandingkan para prajurit Baturaharja.


Dalam waktu singkat, sejumlah prajurit Baturaharja bertewasan di tangan para prajurit Kerajaan Siluman.


Putri Manik Sari terjun langsung menghadapi serangan para prajurit Kerajaan Siluman. Ia melihat pasukan Baturaharja di depan kewalahan, meski jumlah mereka lebih banyak.


Putri Manik Sari melompat naik ke atas pedati dan memandang ke barisan belakang.


“Pasukan belakang, majuuu!” teriak Putri Manik Sari.


“Seraaang!” teriak para prajurit pasukan belakang.


Pasukan itu berlari melewati rombongan warga biasa yang dalam penjagaan Demang Yono Sumoto dan Gurudi.


Ratusan pasukan belakang Baturaharja datang seperti air bah menyerbu para prajurit pasukan Kerajaan Siluman.


Dalam waktu singkat, situasi pertempuran berubah berpihak kepada pasukan Baturaharja. Meski pasukan Kerajaan Siluman unggul secara individu, tetapi mereka tetap kewalahan menghadapi keroyokan yang jumlahnya lima kali lipat.


Sementara itu, Panglima Siluman Pedang tidak bisa membantu pasukannya karena ia harus langsung menghadapi Anjas, musuh lamanya.


Anjas sengaja langsung memburu Panglima Siluman Pedang untuk mengunci kekuatan musuh. Hal itu juga membuat Tirana dan Putri Manik Sari bisa bebas dan leluasa menghabisi pasukan Kerajaan Siluman.


Hal itu terbukti dengan kembalinya Tirana ke bawah. Ia bersama Putri Manik Sari bahu-membahu membunuhi para prajurit Kerajaan Siluman.


Panglima Siluman Pedang berdiri di atas pucuk batu di atas tebing. Anjas berdiri berseberangan di atas pucuk batu yang lain.


Panglima Siluman Pedang tidak mau berlaku tanggung. Karenanya ia langsung mengerahkan ilmu Pasukan Pedang Angin.


Sreeets!


Di udara di depan tubuh Panglima Siluman Pedang, kini melayang ratusan bayangan pedang yang posisi matanya semua mengarah ke depan. Ratusan bayangan pedang itu tinggal menunggu tindak lanjut Panglima Siluman Pedang.


“Kau harus membayar kematian Prabu Raga, Raja Anjas!” teriak Siluman Pedang. “Hiaat!”


Set set set…!


Siluman Pedang menghentakkan kedua lengannya ke depan. Maka ratusan bayangan pedang itu melesat menyerbu Anjas.


“Ciaat!” pekik Anjas sambil menghentakkan lengan kanan.


Wuss!


Dengan hentakkan satu tangan, segelombang angin dahsyat muncul menderu hebat laksana badai besar dari lautan. Sekian lama sejak terkuncinya kesaktian Joko Tenang, sudah lama ilmu angin Badai Malam Dari Selatan tidak tertulis. Namun saat ini, ilmu angin dahsyat itu kembali terlihat dikeluarkan oleh Anjas.

__ADS_1


Angin badai berhembus keras menghapus semua bayangan pedang dari ilmu Pasukan Pedang Angin. Tidak hanya ilmu lawan yang dilahap habis, tetapi tubuh Siluman Pedang sampai diterbangkan jauh seperti menerbangkan daun kering.


Wess!


Anjas cepat melesat laksana kilat di udara mengejar tubuh Siluman Pedang agar tidak luput dari pandangan.


Seet!


Tiba-tiba dari arah depan ada sebuah pedang besar yang melesat menyerang kedatangan Anjas. Suami Ningsih Dirama itu cukup terkejut karena ia tidak menduga serangan itu bisa ada.


Masih beruntung Anjas sigap memindahkan dadanya, membuat pedang itu lewat tipis dari tubuh Anjas. Setelah itu, Anjas melesat menyerang kepada Siluman Pedang yang baru saja bangkit dari jatuhnya di tanah keras jalanan.


Dak dak buk! Dak!


Seperti biasa, Anjas mengandalkan ilmu Bayang-Bayang Malaikat untuk menghadapi lawan kelas berat. Satu dau tiga serangan Anjas masih mampu Siluman Pedang tangkis. Namun, berikutnya serangan Anjas tidak terkendali kecepatannya. Tahu-tahu tinju Anjas telah mendarat di perut Siluman Pedang.


Lelaki tua itu terbungkuk kesakitan. Selanjutnya satu tendangan secepat kilat menghajar wajah cacatnya. Siluman Pedang terbanting keras ke tanah.


Set! Press! Bluar!


Ternyata pedang besar Siluman Pedang datang melesat balik membokong Anjas. Anjas yang sudah waspada terhadap pedang itu, langsung berbalik sambil menghantamkan tangan kanannya yang sudah berbekal ilmu Surya Langit Jagad.


Jangan tanya apa yang terjadi. Pedang itu hancur musnah menjadi serpihan halus.


Sementara itu, Siluman Pedang memilih melesat menjauhi Anjas. Ia ingin ambil kesempatan dan jarak untuk mengerahkan ilmu tertingginya.


Sets!


Siluman Pedang mendorong kedua genggaman tangannya yang menyatu. Satu sinar kuning berwujud pedang besar dalam posisi berdiri muncul, maju melayang di depan tubuh.


Sreeets!


Ilmu itu hampir mirip dengan ilmu Pasukan Pedang Angin yang dihancurkan oleh Badai Malam Dari Selatan. Apakah ilmu Serbuan Dewa Pedang akan diatasi dengan Badai Malam Dari Selatan juga?


Sreets! Bduar! Sreets! Bduar!


Siluman Pedang mulai memainkan kedua lengannya. Ketika ia menghentakkan lengan kanannya, maka sederet pedang sinar di sisi kanan langsung melesat sangat cepat beriringan, seperti lesatan sayap burung besar.


Karena Anjas memiliki ilmu Bayang-Bayang Malaikat seperti ilmu Joko Tenang yang sedang tersegel, Anjas bisa melompat menghindar, sehingga tanah tempat Anjas berpijak hancur hebat.


Siluman Pedang kembali menghentakkan lengan kirinya. Deretan pedang sinar kuning di sebelah kiri dari induknya, melesat cepat mengejar Anjas yang bergerak. Lagi-lagi deretan pedang sinar itu menghancurkan tebing batu di belakang Anjas, sebab Anjas mampu lolos.


Sreeet!


Siluman Pedang kembali merentangkan kedua lengannya. Maka induk pedang sinar kuning kembali beranak banyak ke kanan dan ke kiri.


Press!


Pada saat itu, Anjas maju ke arah induk pedang sinar kuning. Kedua tangannya sudah bersinar putih menyilaukan mata.


Siluman Pedang hanya bisa mendelik melihat kengerian yang dibawa oleh Anjas.


Sreeets! Bduar!

__ADS_1


Siluman Pedang kembali menghentakkan lengan kanannya, melesatkan deretan pedang kanan ke arah kedatangan Anjas. Raja Sanggana itu kembali mampu mengelak tipis, membuat deretan pedang sinar menghancurkan bebatuan kosong.


Sreets! Bluar! Bluarr!


Siluman Pedang masih menghentakkan lengan kiri. Kali ini serangan deretan pedang sinar yang seperti bentangan sayap burung itu diadu. Sinar putih menyilaukan di tangan kanan Anjas diadu, menciptakan ledakan dahsyat yang menggetarkan tempat itu seperti gempa.


Siluman Pedang terjengkang keras menghantam dinding batu.


Dalam waktu kurang dari sedetik, ilmu Surya Langit Jagad di tangan kiri Anjas dihantamkan pada induk pedang sinar kuning. Ledakan dahsyat kembali terjadi menghancurkan induk pedang sinar kuning.


Suara ledakannya terdengar jelas dan mengejutkan rombongan Anjas yang sudah menang dari pertempuran.


Sementara itu, karena Siluman Pedang terhubung tenaga saktinya dengan induk pedang sinar kuning, maka ia pun langsung tewas dengan tubuh hangus menghitam.


Dengan demikian, tamatlah kisah hidup Panglima Siluman Pedang. Apesnya lagi, tidak akan ada orang yang bisa membawa kabar kematiannya ke Istana Siluman.


Anjas terlihat baik-baik saja. Memang susah mencari lawan tanding yang sepadan dengan Anjas.


Anjas lalu berkelebat pergi jauh ke belakang, kembali kepada rombongannya. Ia harus memastikan kondisi rombongannya, sebab mereka berada dalam tanggung jawabnya.


Orang yang lebih dulu menyambut kedatangan Anjas adalah Putri Manik Sari.


“Apakah Gusti Mulia baik-baik saja?” tanya Putri Manik Sari serius menunjukkan kekhawatirannya. Ia bahkan menyebut sebutan “Gusti Mulia” yang biasa diucapkan oleh Tirana.


“Aku baik-baik saja, Putri. Terima kasih atas perhatianmu,” ucap Anjas sambil berjalan berlalu dan tangan kanannya sempat membelai rambut kepala sang putri.


Serr!


Berdesir indah darah kewanitaan Putri Manik Sari mendapat belaian singkat seperti itu. Ia sempat mematung terkejut. Sementara di sisi lain, Ningsih Dirama mengerutkan kening melihat kejadian tidak biasa itu.


Berbeda dengan Anjas, ia bertindak biasa saja. Ia tidak begitu ambil pikiran dengan tindakannya barusan yang dianggapnya biasa saja.


“Berapa orang prajurit kita yang tewas, Permaisuri Penjaga?” tanya Anjas kepada Tirana dengan nada serius. Memang terlihat ada sejumlah prajurit Baturaharja yang tewas.


“Ada tiga puluh enam prajurit yang tewas dan dua puluh orang yang terluka, Gusti Mulia,” jawab Tirana.


“Tolong kau data prajurit yang tewas dan atur pemberian uang pengabdian untuk keluarga yang mereka tinggalkan!” perintah Anjas.


“Baik, Gusti Mulia!” ucap Tirana patuh.


Terkejutlah Putri Manik Sari mendengar kebijakan Anjas tentang prajurit yang mati.


“Kau begitu mulia, Gusti Mulia. Hal seperti ini tidak pernah ada di sistem keprajuritan Baturaharja,” puji Putri Manik Sari.


“Mereka adalah para suami dan ayah bagi anak istrinya. Mereka menjadi prajurit bukan sekedar untuk mati, tetapi juga untuk mendapatkan uang bagi keluarganya,” kata Anjas, membuat sang putri yang sedang berbunga-bunga hatinya itu tersenyum sambil manggut-manggut.


Anjas lalu berteriak.


“Gurudi!”


“Aku datang, Anjas Anjas Anjas! Hihihik!” sahut Gurudi sambil berlari tertawa-tawa.


“Pergilah ke depan mencari tempat yang baik untuk bermalam!” perintah Anjas.

__ADS_1


“Baik, Anjas Anjas Anjas! Hihihik!” ucap Gurudi riang lalu tertawa lagi.


Dengan berlari-lari seperti kelinci, Gurudi pergi lebih dulu mendahului rombongan ke depan sana. (RH)


__ADS_2