8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 18: Salah Pilih Mangsa


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


Malam semakin larut. Perkemahan para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil benar-benar lengang, sepertinya semua penghuni telah terlelap karena efek perjalanan yang cukup melelahkan. Tidak ada seorang pun yang terlihat berjaga. Mungkin karena lokasinya yang terlindungi oleh hutan bambu dan sungai kecil, jadi para penghuni tenda merasa aman.


Tidak ada cahaya api yang menyala, kecuali bara api sisa api unggun. Hanya penerangan rembulan di langit yang cerah yang memberikan sedikit cahaya.


Namun, di dalam keheningan yang menyisakan suara samar aliran air dan gerakan dedaunan bambu yang tertiup angin malam, ada pergerakan banyak orang tanpa suara.


Orang-orang berpakaian hitam-hitam tersebut bergerak muncul di sekeliling perkemahan, kecuali dari arah sungai. Jumlah mereka banyak, mungkin lebih lima puluh orang. Mereka bersenjatakan sebatang tongkat yang pada bagian ujungnya berbentuk bulat bola. Gelapnya malam tidak jelas memperlihatkan terbuat dari apa tongkat mereka.


Ternyata mereka lihai. Langkah mereka di dedaunan bambu yang kering bisa tidak menimbulkan suara. Ada suara, tapi begitu samar.


Dari puluhan orang itu, ada satu orang yang memimpin pergerakan. Ia adalah seorang wanita berpakaian serba hitam. Cantik. Dia Siluman Bayang Seribu, rekan Siluman Tangan Seribu yang nyaris membunuh Putri Manik Sari.


Sejenak dia memberi tanda dengan tangan kanannya agar semua pergerakan berhenti. Tanda itu cepat ditiru oleh beberapa orang sehingga semuanya bisa mengetahui tanda itu. Mereka semua mematung dalam posisi yang sudah mengepung sepuluh kemah tersebut. Suasana tegang.


Dalam situasi itu, seekor tupai berlari turun dari sebatang pohon bambu, lalu berlari mendekati salah satu tenda.


Mengetahui bahwa suara yang didengarnya adalah pergerakan seekor tupai, Siluman Bayang Seribu lalu memberi tanda perintah bergerak.


Tanpa berteriak, tiba-tiba mereka semua berlari tanpa suara ke arah tenda-tenda yang ada.


Zersss!


Kiiik!


Di saat semuanya berlari siap melompat menyerbu kesepuluh tenda, tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh munculnya makhluk besar sinar merah. Makhluk yang berwujud burung tapi bersayap capung itu, menjebol atas tenda yang tengah hingga terbakar. Sementara makhluk itu terbang lurus ke langit rendah lalu menukik deras turun kembali.


“Munduuur!” teriak Siluman Bayang Seribu kepada seluruh orang yang di bawah perintahnya.


Buru-buru puluhan orang bertongkat itu berlari mundur, bukan berbalik terus lari. Mereka mundur sambil tetap melihat hal yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka.


Bress!


Burung sinar merah bersayap capung menyambar semua atap tenda ketika sampai di bawah. Kesepuluh tenda terbakar oleh sentuhan makhluk penghuni Cincin Mata Langit milik Permaisuri Tirana tersebut.


Pemandangan mendebarkan itu membuat para penyergap yang gagal niat jadi tidak habis pikir. Kenapa semua tenda sengaja dibakar?


Suasana di tempat itu berubah terang oleh cahaya api dari kemah yang terbakar.


Wess!


“Hiaat!” pekik Permaisuri Kusuma Dewi yang tiba-tiba melompat keluar dari dalam salah satu tenda yang terbakar.


Lompatan Kusuma Dewi langsung menyerang kepada seorang penyergap dengan pedang langsung terangkat tinggi.


“Hah!” kejut lelaki berpakaian hitam yang terpilih acak menjadi target perdana. Ia tidak siap.


Bset! Set!

__ADS_1


Kusuma Dewi yang tampil dengan pakaian serba putih itu, sudah menebaskan pedangnya di udara, dari atas ke bawah. Selengkungan sinar putih tipis langsung membelah tubuh lelaki berpakaian hitam yang menjadi target.


Kejap berikutnya, dari dalam tenda tengah yang dijebol makhluk sinar merah, melesat sosok wanita jelita berpakaian merah gelap. Sosok yang adalah Tirana itu melejit naik lurus ke udara. Pada saat itu pula, makhluk sinar merah terbang melesat masuk ke dalam tubuh Tirana.


Kejadian itu begitu membuat terperangah para penyerang sekaligus alamat buruk.


“Sial! Sepertinya aku salah mangsa!” maki Siluman Bayang Seribu begitu gusar kepada dirinya sendiri.


Satu sosok wanita lain berpakaian serba putih kembali melesat dari dalam salah satu tenda yang dilalap api. Ia adalah Permaisuri Negeri Jang alias Permaisuri Yuo Kai. Ia mendarat di dekat tiga orang lelaki bertongkat.


“Serakkh!” teriak salah satu dari lelaki bertongkat itu. Namun, teriakannya yang bermaksud berkomando menyerang, tidak lulus sempurna.


Bluk bluk!


Dengan gerakan kecil, Yuo Kai hanya menghentakkan dua tangannya. Maka ketiga lelaki itu hanya bisa mendelik dan sudah tanpa nyawa lagi. Tubuh mereka tiba-tiba bergerak bergeser memisahkan diri dari anggota tubuh yang lain, lalu jatuh berserakan dalam kondisi termutilasi penuh darah.


Yuo Kai telah menggunakan ilmu Serat Sutra yang nyaris tidak terlihat dan tidak terasa, tetapi setajam pedang silet.


Selanjutnya, dari dalam tenda lain yang terbakar kembali keluar berkelebat sosok berpakai hijau gelap. Ia Permaisuri Kerling Sukma. Ia langsung menyerang dua orang lelaki bertongkat.


Buk buk buk!


Terlalu cepat gerakan Kerling Sukma. Dua orang yang diserangnya tidak berkutik seperti samsak tinju. Tahu-tahu dua lelaki itu tumbang dengan tulang di dalam tubuhnya beremukan.


Sosok wanita berpakaian serba merah menyusul melesat keluar dari dalam tenda yang terbakar. Permaisuri Sri Rahayu itu langsung menyerang tiga lelaki bertongkat. Ketiga lelaki itu tidak sempat melawan hingga tangan Sri Rahayu lebih dulu mencolek wajah-wajah calon mati mereka.


Dalam waktu singkat, racun dari tangan Sri Rahayu langsung membuat ketiga lelaki itu kejang dengan mata melotot. Mereka tumbang seiring kulit wajahnya yang menghitam, mulut dan hidung mengeluarkan darah gelap. Lalu ketiganya tewas oleh racun kulit Sri Rahayu.


“Hihihi…!”


Wanita berpakaian hitam itu cepat melompat mundur agak jauh.


“Hihihi…!” tawa Sandaria yang hanya mendarat, tidak melakukan penyerangan.


“Serang!” teriak Kerling Sukma.


Kelompok penyergap pimpinan Siluman Bayang Seribu kembali dibuat terkejut. Mereka semua mendongak melihat ke atas gelapnya dedaunan pohon bambu.


Komando Kerling Sukma diikuti oleh melompatnya belasan orang dari atas pohon bambu yang gelap. Sebanyak tujuh belas orang yang merupakan para Pengawal Bunga, langsung mengamuk menyerang puluhan orang bersenjata tongkat.


Maka terciptalah pertarungan yang ramai karena ada perlawanan dari orang-orang bertongkat.


Dalam perjalanan menuju Jurang Lolongan, Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang pergi bersama Permaisuri Mata Hati tanpa pengawalan siapa pun. Kemudian keenam permaisuri lainnya berangkat bersama seluruh Pasukan Pengawal Bunga.


Ketujuh belas pendekar yang menjadi Pengawal Bunga di antaranya, yaitu:


1.      Reksa Dipa


2.      Nyi Mut

__ADS_1


3.      Surya Kasyara alias Pendekar Gila Mabuk


4.      Sugigi Asmara


5.      Tangpa Sanding


6.      Sekarembun


7.      Legam Pora


8.      Semai Lena alias Sayap Perak


9.      Sebilah Rengkuh


10.  Sumi alias Gendang Tepuk Jongkok


11.  Gebuk Bertabuh


12.  Gemara


13.  Hantam Buta


14.  Lintang Salaksa


15.  Warok Genang




Bo Fei




Chang Chi Men




Pertempuran sengit pun terjadi. Para permaisuri membiarkan Pasukan Pengawal Bunga bertarung, mereka hanya sebagai pembuka saja.


Pada siang hari, rombongan para permaisuri terpantau oleh Kelompok Jago Sodok pimpinan Pendekar Bola-Bola. Disimpulkan bahwa rombongan besar yang diduga dari kalangan pendekar umum tersebut sangat berbahaya, karena mereka melihat ada lima serigala besar yang menjadi tunggangan bagi lima wanita. Sementara Tirana memilih berkuda bersama kelima belas Pasukan Pengawal Bunga.


Sehubungan Pendekar Bola-Bola dan Aki Ular Biru ada tugas lain, jadi Siluman Bayang Seribu yang ditunjuk untuk memimpin puluhan anggota Kelompok Jago Sodok melakukan penyergapan dadakan. Kelompok inilah yang sebelumnya menguasai Kadipaten Kelang dengan pemberontakannya. Namun, mereka tidak sempat bertemu dengan Permaisuri Kerling Sukma di Kadipaten Kelang, karena lebih dulu pergi ke Lolongan.


Ternyata gerakan penyergapan mereka terbaca sejak jauh-jauh jarak. Masalahnya di dalam rombongan para permaisuri ada orang buta yang sakti. Kepekaan Sandaria yang begitu tinggi dapat merasakan adanya banyak orang yang bergerak mengepung perkemahaan mereka.

__ADS_1


Dengan diketahuinya ada pihak yang ingin menyerang, Yuo Kai segera mengatur siasat kejutan. (RH)


__ADS_2