8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 2: Berpencar


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Pangeran Lidah Putih dan Bidadari Wajah Kuning terkejut melihat keberadaan Bidadari Payung Kematian yang kepergok sedang mengintai seperti gadis dipingit.


Siluman Mata Setan yang mampu masuk ke alam gaib, tanpa sengaja memergoki Bidadari Payung Kematian sedang berdiri sendiri, jauh dari rombongan Joko Tenang yang sedang menerima laporan dari Siluman Kuping Buntu.


“Hah! Pancung Kelamin!” teriak Siluman Kuping Buntu terkejut sambil menunjuk Bidadari Payung Kematian.


“Hahaha…!” tawa sebagian besar pendekar yang mendengar teriakan Siluman Kuping Buntu.


Lebih terkejutlah Pangeran Lidah Putih dan Bidadari Wajah Kuning yang mengenali Bidadari Payung Kematian. Keduanya segera pergi mendatangi Bidadari Payung Kematian.


“Apa yang kau lakukan, Payung?” tanya Petra Kelana sedikit membentak.


“Aku mengikuti pengintai kalian yang bermasalah itu. Bermasalah karena mengubah namaku menjadi sangat buruk. Aku penasaran, siapa yang mengutus pengintai seperti dia. Makanya aku ikuti!” jawab Bidadari Payung Kematian lantang.


“Hihihi…!” tawa Bidadari Wajah Kuning.


Joko Tenang dan yang lainnya pun mendekati keberadaan nenek gemuk itu.


“Kami mengendus ada pengkhianat di kalangan tokoh tua yang hadir di Jurang Lolongan, sehingga Rawa Banggir dan murid-muridnya dibantai oleh Pasukan Siluman Kerajaan Siluman,” kata Petra Kelana.


“Apa? Ki Rawa Banggir dibantai?!” kejut Bidadari Payung Kematian.


“Bukan kau kan pengkhianatnya, Payung?” tanya Petra Kelana.


“Kau kira aku orang busuk, hah?!” gusar Bidadari Payung Kematian marah.


“Tingkahmu mencurigakan!” tukas Petra Kelana.


“Tingkah orang kalian yang justru sangat mencurigakan!” tandas Bidadari Payung Kematian.


“Kami mau menyerang ke Kerajaan Siluman, apakah kau mau ikut?” tawar Bidadari Wajah Kuning.


“Apakah ini sudah disepakati oleh seluruh Ketua Barisan Putih?” tanya Bidadari Payung Kematian.


“Tidak ada waktu untuk itu. Kami pun hanya mengikuti Prabu Anjas. Tapi tokoh tua telah diundang berkumpul di Istana Sanggana Kecil untuk membahas pembalasan atas kematian Ketua Besar Barisan Putih,” ujar Petra Kelana.


“Kalian mau menyerang sebuah kerajaan hanya dengan kekuatan sebanyak ini?” tanya Bidadari Patung Kematian tidak percaya.


“Kau mau ikut atau tidak? Jika tidak, pergilah ke Kerajaan Sanggana Kecil untuk merundingkan penyerangan!” tandas Bidadari Wajah Kuning.


“Para Tetua, waktunya kita berangkat!” kata Anjas mengingatkan.

__ADS_1


“Tunggu Ayahanda!” tahan Joko Tenang.


“Ada apa?” tanya Anjas.


“Biar aku dan Permaisuri Asap Racun yang menyergap Pasukan Siluman di Bukit Tiga Pucuk. Ayahanda bawalah mereka langsung ke Kerajaan Siluman,” kata Joko Tenang. “Jumlah kita kalah banyak dengan Pasukan Siluman, terlalu berisiko.”


“Baiklah,” jawab Anjas sepakat.


“Mata Setan!” panggil Sri Rahayu.


Siluman Mata Setan yang bertubuh pendek segera datang menghadap.


“Tarik semua orang-orangmu dari mengintai Pasukan Siluman Generasi Puncak. Alihkan untuk menciptakan jalan yang aman bagi rombongan Ibunda Ratu!” perintah Sri Rahayu.


“Baik, Bidadari,” ucap Siluman Mata Setan, masih menyebut junjungannya dengan sebutan lama, yaitu Bidadari Asap Racun.


Tanpa mempedulikan Bidadari Payung Kematian lagi, Joko Tenang dan Permaisuri Sri Rahayu segera pergi ke kudanya.


“Gusti Prabu!” panggil Riskaya sambil berlari menghadang Joko Tenang, menyusul kemudian Arya Mungga.


“Ada apa, Riskaya?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum kepada gadis cantik jelita itu.


“Izinkan aku ikut Gusti Prabu menyergap Pasukan Siluman itu!” ujar Riskaya.


“Benar, Gusti Prabu. Karena merekalah yang secara langsung membunuh ayah kami!” tandas Arya Mungga.


“Baiklah,” jawab Joko Tenang.


Tersenyumlah kakak dan adik itu.


“Terima kasih, Gusti Prabu, Gusti Permaisuri,” ucap keduanya.


Mereka semua lalu menaiki kuda masing-masing. Joko Tenang dan Sri Rahayu menggebah kudanya, langsung kencang. Arya Mungga dan Riskaya cepat mengikuti di belakang.


Namun, ternyata yang mengikuti Joko Tenang dan Permaisuri bukan dua kuda, tetapi tiga kuda. Kuda satunya ditunggangi oleh si nenek genit, Bidadari Wajah Kuning.


Awalnya Joko dan istrinya tidak mengetahui keikutsertaan Bidadari Wajah Kuning. Namun, ketika Joko menengok ke belakang untuk mengecek keberadaan Arya Mungga dan Riskaya, ia jadi terkejut mendapati keberadaan si nenek cantik.


“Hahaha…!” tawa Joko Tenang.


Tawa suaminya membuat Sri Rahayu jadi ikut menengok ke belakang. Ia pun terkejut saat melihat keberadaan Bidadari Wajah Kuning dan kudanya. Nenek cantik itu hanya tersenyum lebar.


Sri Rahayu memandang kepada Joko Tenang. Lelaki berbibir merah itu hanya memberi tawanya.


Sementara di sisi lain, Raja Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih memimpin pasukan pendekar yang jumlahnya cukup ramai bersama kudanya masing-masing.

__ADS_1


Bidadari Payung Kematian jadi bingung, karena Petra Kelana dan yang lainnya menaiki kuda, sedangkan dia sendiri tidak memiliki kuda tunggangan.


“Petra Kelana! Apakah kau akan meninggalkanku?!” teriak Bidadari Payung Kematian, karena hanya Petra yang akrab dengannya.


“Aku tidak sudi berbagi kuda denganmu!” sahut Petra Kelana lalu menggebah kudanya mengikuti kuda-kuda yang sudah berjalan.


“Pancung Kelamin! Ikut saja dengan kami!” tawar Siluman Kuping Buntu.


“Aku bisa kurus jika mengikuti kalian berlari!” kata Bidadari Payung Kematian.


“Urusan lelaki mulus yang mau dijadikan suami, banyak di antara kami. Kau belum melihat saja ketika kami berkumpul. Hahaha!” kata Siluman Kuping Buntu.


“Baiklah, aku ikut kalian, daripada aku ditinggal sendiri,” kata Bidadari Payung Kematian.


“Kuping Buntu, kenapa Pancung Kelamin kau ajak bersama kita?” tanya Siluman Mata Setan sambil berbicara pula dengan bahasa isyarat, sehingga Siluman Kuping Buntu mengerti perkataan rekannya itu.


“Hei! Namaku Bidadari Payung Kematian, bukan Pancung Kelamin!” hardik si nenek kepada Siluman Mata Setan.


“Dia jatuh cinta kepadaku, jadi aku mengajaknya. Daripada di sini seorang diri, nanti dia bisa diterkam siluman.” Siluman Kuping Buntu menjawab pertanyaan Siluman Mata Setan, tanpa mengindahkan kemarahan Bidadari Payung Kematian.


Tak!


“Addaw!” jerit Siluman Kuping Buntu terkejut sambil pegangi kepalanya yang baru saja dipukul dengan ujung payung. Ia cepat melotot kepada si nenek.


“Siapa yang jatuh cinta kepadamu, hah?!” Bidadari Payung Kematian membentak Siluman Kuping Buntu.


“Tidak apa-apa, teman-temanku baik-baik. Mata-matanya saja yang terlihat galak, tapi di dalam hatinya lembut seperti kentut,” kata Siluman Kuping Buntu santai.


“Hahaha!” tawa Siluman Tangan Setan.


“Ayo berangkat. Kita harus lebih dulu dari pada rombongan Gusti Ratu!” kata Siluman Mata Setan.


“Bagaimana dengan Pancung Kelamin?” tanya Siluman Kuping Buntu kepada Siluman Mata Setan.


Bidadari Payung Kematian hanya bisa menekan sepasang baris giginya mendengar ia masih disebut nama versi Siluman Kuping Buntu.


“Kau harus menjaminnya dan bertanggung jawab jika dia menangis!” tandas Siluman Mata Setan kesal.


“Siaaap!” teriak Siluman Kuping Buntu senang.


“Kalian benar-benar orang tidak kenal hormat kepada orang tua!” rutuk Bidadari Payung Kematian.


Siluman Mata Setan lalu berkelebat pergi. Menyusul Siluman Tangan Setan dan Siluman Kuping Buntu.


Pendekar tuli itu menyambar tangan kanan Bidadari Payung Kematian dan mengajaknya melesat bersama.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Siluman Kuping Buntu.


Sementara si nenek hanya mengikut. (RH)


__ADS_2