8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 21: Tragedi yang Sebenarnya


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


Kedua kakek ini berjalan santai di pinggiran padang rumput, tepat di sisi luar hutan kecil di kaki sebuah bukit.


Kakek pertama berpakaian serba kuning. Pakaiannya jenis kain selempangan yang membuat separuh bahunya tanpa penutup. Rambut putihnya digelung dan diikat dengan kain kuning pula. Ada tasbih kuning di lehernya. Ia dikenal bernama Resi Kumbalabatu.


Kakek yang bersamanya adalah Resi Kasa Sinatra, resi yang berjalan dengan tongkat lurus kurus berwarna kuning. Meski sepasang matanya buta, lelaki tua berpakaian serba putih ini memancarkan kewibawaan yang tinggi.


“Sayang sekali kau tidak hadir lebih awal menyaksikan perseteruan antara Nara, Pratakarsa, Raja Joko, dan Dewi Ara. Sebenarnya aku lebih setuju jika Raja Joko yang menjadi pemimpin, hampir semua dia miliki. Kekuasaan, kesaktian, pasukan, dan merupakan murid Tiga Malaikat Kipas. Namun sayang, semuanya tidak terduga dan seperti biasa, dunia persilatan selalu penuh kejutan,” kata Resi Kumbalabatu.


“Jadi, karena Raja Joko lebih memilih menjadikan Dewi Ara sebagai istri, sebagian sahabat-sahabat kita jadi turut membencinya, Resi?” tanya Resi Kasa Sinatra untuk menegaskan dugaannya.


“Benar. Mungkin akan berbeda ceritanya jika Raja Joko jatuh ke makam Dewi Geger Jagad, tetapi dia bisa membangunkan Dewi Ara tanpa penodaan. Dewa Kematian terkena karmanya sendiri. Ia berniat membuat Dewi Ara hidup terhina, tetapi dia kemudian dibuat terhina oleh cicitnya sendiri,” kata Resi Kumbalabatu lagi.


“Kita yang tua-tua ini terkadang lupa diri, Resi. Sebagian besar dari kita menjadikan pengalaman hidup sebagai tolok ukur kebenaran, padahal itu salah. Justru, semakin tua, kita itu semakin banyak salahnya, karena kekuatan semua indera kita semakin melemah. Itulah sebabnya, jika kita tidak sering-sering merenung dan melembutkan hati, ***** kita lebih mengemuka dibandingkan akal waras kita,” kata Resi Kasa Sinatra.


Baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba Resi Kasa Sinatra berhenti. Hal itu membuat Resi Kumbalabatu cepat melemparkan pandangannya jauh ke depan. Ia melihat sesosok berjubah kuning yang sangat jauh di ujung padang berumput itu. Meski tidak jelas apakah itu lelaki atau wanita, tetapi Rasi Kumbalabatu bisa mengenali sosok tersebut.


“Siapa, Resi?” tanya Resi Kasa Sinatra yang lebih dulu merasakan kehadiran sosok berjubah kuning tersebut.


“Nara,” jawab Resi Kumbalabatu pelan.


“Sepertinya dia ada perlu dengan kita, Resi,” kata Resi Kasa Sinatra pula.


“Benar,” jawab satu suara wanita, seiring munculnya sosok Dewi Mata Hati dua tombak di depan mereka.

__ADS_1


Sosok berjubah kuning yang ada nun jauh di ujung padang telah menghilang.


“Senang bertemu denganmu, Nara,” ujar Resi Kasa Sinatra.


“Rupanya kau juga masih buta, Kasa,” kata Nara dingin.


“Hehehe!” kekeh Resi Kasa Sinatra pendek.


“Aku sengaja menunggu Kumbalabatu meninggalkan wilayah Lolongan. Namun, keberadaanmu juga lebih baik, Kasa. Duduklah dulu kalian berdua!” kata Nara.


Mereka lalu berlaku lebih santai dengan duduk di tanah berumput tersebut.


“Katakanlah, hal apa yang membuatmu bersusah payah menghadang kami!” kata Resi Kumbalabatu.


“Aku ingin tahu kejadian sebenarnya antara kedua orangtuaku dengan kedua orangtua Dewi Ara. Aku sungguh tidak mau percaya apa yang dituduhkan kepada kedua orangtuaku, tetapi tuduhannya itu sangat mengganggu diriku. Kalian berdua termasuk dua orang yang sangat akrab dengan kedua orangtua kami. Kalian pasti tahu mengapa Dewi Ara membunuh banyak orang di saat itu, yang dua di antaranya adalah ayah ibuku,” ujar Dewi Mata Hati.


“Namun, apakah kau siap mempercayai cerita kami?” tanya Resi Kumbalabatu.


“Aku siap. Di Kerajaan Sanggana Kecil aku adalah seorang Hakim Agung yang menjatuhkan hukum tanpa pandang bulu. Hitam adalah hitam dan putih adalah putih. Aku siap!” tandas Nara.


“Meskipun kemudian itu menyakitkan bagimu?” tanya Resi Kumbalabatu lagi.


“Ya.”


“Bagus!” puji Resi Kasa Sinatra lagi.


“Masalah yang kau tanyakan adalah tentang ketamakan. Aku rasa kau begitu tahu tentang Arda Handara yang merupakan tokoh aliran putih yang sangat disegani dan dihormati. Banyak orang yang ditolongnya dan kemudian menjadi sahabatnya. Salah satu orang yang pernah ditolong nyawanya adalah ayahmu, Dewa Delapan Mata. Sehingga mereka bersahabat. Kau pun tahu, ayahmu adalah pemimpin dari Sepuluh Pendekar Hutan Hitam. Kesembilan pendekar lainnya juga turut bersahabat erat dengan Arda Handara. Persahabatan itu lama dan sangat akrab. Hingga tiba-tiba kami dapati Arda Handara dan istrinya telah tewas,” kisah Resi Kumbalabatu.

__ADS_1


Resi Kasa Sinatra terdiam kusyuk mendengarkan sambil manggut-manggut.


“Awalnya kami menyangka bahwa yang membunuh keduanya adalah Lelaki Jentik Biru, karena kami menemukan jejak Bubuk Inti Samudera milik Lelaki Jentik Biru pada luka keduanya. Namun faktanya, Lelaki Jentik Biru telah tewas sehari sebelum kematian kedua orangtua Dewi Ara. Jadi, aku dan dua orang sahabat Arda Handara diam-diam menyelidiki siapa yang membunuh Lelaki Jentik Biru. Pada saat yang sama, Dewi Ara juga melakukan penyelidikan. Kami bahkan ketinggalan satu langkah dari Dewi Ara. Ia bahkan menggali sendiri kuburan Lelaki Jentik Biru. Ternyata, Lelaki Jentik Biru tewas oleh ilmu Sepuluh Tusukan Hitam. Ilmu itu milik Jabar Muka yang merupakan salah satu dari Sepuluh Pendekar Hutan Hitam….”


“Jadi kalian berkesimpulan bahwa ayahku yang memerintahkan Jabar Muka membunuh atau rekan-rekannya untuk membunuh Arda Handara dan istrinya?” terka Nara.


“Benar,” jawab Resi Kasa Sinatra.


“Jabar Muka sendiri yang mengaku kepada kami setelah kami mengungkapkan buktinya. Awalnya kami berniat menyimpan rahasia ini, karena melibatkan banyak pihak, bukan hanya Sepuluh Pendekar Hutan Hitam, tetapi juga dua ketua perguruan,” kata Resi Kumbalabatu.


“Tapi, jarak waktu kematian Arda Handara dan pembunuhan terhadap kedua orangtuaku sejauh tiga tahun, Kumbalabatu?” tanya Nara.


“Dewi Ara tidak sanggup melawan para tokoh aliran putih itu. Karenanya dia pergi meningkatkan kesaktiannya pada gurunya. Kemudian, dengan ilmu Tatapan Ratu Tabir, ia bisa membunuh semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Arda Handara. Yang sulit diterima oleh para pendekar aliran putih lainnya adalah dibantainya dua perguruan aliran putih,” tutur Resi Kasa Sinatra.


“Kenapa banyak tokoh aliran putih yang ingin membunuh Arda Handara?” tanya Nara.


“Arda Handara memiliki Kitab Empat Raja, yang pada masa itu menjadi salah satu ilmu yang tidak terkalahkan. Karenanya, Arda Handara dibunuh menggunakan racun. Saat itu dia sulit dikalahkan jika dilawan dengan pertarungan,” jawab Resi Kumbalabatu.


“Jadi, jika kau membenarkan dirimu untuk membalas kematian kedua orangtuamu, maka apa yang dilakukan oleh Dewi Ara lebih benar,” kata Resi Kasa Sinatra.


“Namun, Dewi Ara dipandang sebagai Wanita Iblis karena telah membantai dua perguruan sebab kesalahan kedua ketuanya. Ditambah bahwa tidak banyak orang yang mengetahui cerita sebenar di balik tragedi tersebut,” dukung Resi Kumbalabatu.


“Memang menyakitkan untuk mengetahui bahwa ayahku adalah seorang aliran putih berhati hitam,” kata Nara. “Jika Dewi Ara dinilai benar membalas kematian kedua orangtuanya, maka aku pun akan benar jika membalas kematian kedua orangtuaku,” tandas Nara.


Clap!


Selanjutnya Nara menghilang begitu saja. (RH)

__ADS_1


__ADS_2