
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Rombongan Ratu Sri Mayang Sih akhirnya tiba di Kadipaten Repakulo. Kedatangan mereka segera dicegat oleh sejumlah pendekar yang berjaga di batas pusat Kadipaten. Tindakan pelarangan oleh empat orang pendekar itu membuat marah para abdi sang ratu.
Siluman Botak melompat dari punggung kudanya. Seorang pendekar penjaga mencoba menyerang Pangeran Botak. Mudah bagi Pangeran Botak menangkis serangan pendekar itu dan menendang perutnya hingga terjengkang.
Selanjutnya, keris Pangeran Botak begitu cepat sudah menempel pada leher pendekar penjaga yang lain.
“Siapa yang bertanggung jawab di kadipaten ini?” tanya Pangeran Botak sambil menekankan sedikit mata kerisnya ke leher pendekar itu.
“Siluman Gendut,” jawab pendekar penjaga itu.
Ratu Sri Mayang Sih segera menggebah kudanya. Para abdinya segera mengikuti. Pangeran Botak kembali naik ke kudanya dan menggebah menyusul.
Lelaki bercaping ternyata masih mengikuti Ratu Sri Mayang Sih. Ia tetap berlari di udara menggunakan ilmu peringan tubuhnya.
Ketika mendekati kediaman Adipati yang besar, tiba-tiba….
Blarr!
Satu lesatan sinar merah berekor tiba-tiba muncul melesat dan meledakkan tanah di jalan depan rombongan kuda Ratu Sri Mayang Sih.
Kedelapan kuda itu terpaksa berhenti oleh hadangan tersebut.
Sementara itu, tampak seorang wanita tua berdiri tegak di atas ujung sebuah tongkat yang berdiri di pinggir jalan. Wanita tua itu berjubah cokelat. Rambut putihnya digelung rapi.
“Siapa kalian? Aku tidak mengenali siapa kalian adanya?” tanya si nenek.
“Aku Ratu Kerajaan Siluman, ingin bertemu dengan Siluman Gendut!” jawab Ratu Sri Mayang Sih.
“Ratu Kerajaan Siluman? Apakah kau ratu dari Malaikat Dewa Raja Iblis?” terka wanita tua itu lagi, tampaknya dia banyak tahu.
“Benar,” jawab Ratu Sri Mayang Sih.
“Jika demikian, aku akan membiarkanmu lewat,” kata si nenek.
“Jika kau tidak keberatan, singkirkan orang bercaping yang selalu mengikuti aku itu!” kata Ratu Sri Mayang Sih sambil melangkah berlalu bersama kudanya.
“Baiklah,” kata si wanita tua lalu melayang turun dari atas tongkat kayunya.
Ketika kuda Ratu Sri Mayang Sih dan para abdinya berlalu, wanita tua itu cepat menyodorkan ujung tongkatnya guna mencegah Anyam Beringin berlalu.
“Aku kenal kau,” kata Anyam Beringin sambil menatapi si nenek dan memutarinya.
__ADS_1
Mendelik si nenek mendengar lelaki bercaping itu mengaku mengenalnya.
“Kau adalah Muni Kelalap, kekasih Ki Renggut Jantung yang pindah hati kepada Domba Hidung Merah, hanya karena Domba Hidung Merah bau tubuhnya lebih jantan. Hahaha…!” kata Anyam Beringin lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan si nenek.
Alangkah terkejutnya si nenek karena lelaki yang tidak dikenalnya itu tahu nama dan perkara pribadinya, padahal dia tidak punya media sosial.
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa bisa tahu hubunganku dengan Ki Renggut Jantung dan Domba Hidung Merah?!” tanya si nenek membentak.
“Hahahak…!” tawa Anyam Beringin sambil memukul bokong Muni Kelalap begitu saja.
“Kurang ajar!” maki Muni Kelalap lalu menyerang Anyam Beringin dengan ganas menggunakan tongkat kayunya.
“Kita sudah sama-sama tua, buat apa adu pukul, lebih baik kita adu bokong, selagi masih hidup, Muni,” kata Anyam Beringin sambil menghindari dan menangkis semua serangan Muni Kelalap. Anyam Beringin menggunakan capingnya sebagai tameng.
“Dewa Seribu Tameng!” hardik seseorang tiba-tiba yang membuat pertengkaran dua orang tua itu terhenti.
Terkejut Anyam Beringin.
Seorang lelaki gagah datang berkelebat dan mendarat di sisi Muni Kelalap. Lelaki itu gagah untuk ukuran orang tua. Ia berambut gondrong warna putih, mengenakan pakaian hitam. Meski usianya sudah tua, tetapi lelaki berjenggot itu memiliki tubuh yang besar berotot. Bahunya lebar dan dadanya bidang berisi. Yang unik adalah wajahnya. Hidungnya memiki garis berwarna merah terang.
“Hah! Sangat mengejutkan, kau juga ada di sini Domba Hidung Merah!” sapa Anyam Beringin.
“Kenapa kau tiba-tiba muncul di sini, Dewa Seribu Tameng?” tanya Domba Hidung Merah.
“Siapa wanita yang kau ikuti?” tanya Domba Hidung Merah.
“Dia mengikuti istri Malaikat Dewa Raja Iblis,” jawab Muni Kelalap.
“Apa?!” kejut Domba Hidung Merah. “Beraninya kau menggoda pemimpin aliran hitam!”
“Aku tidak punya urusan dengan yang namanya aliran putih atau aliran hitam. Yang aku tahu, aku bertemu dengan wanita bidadariku dan aku jatuh cinta. Jangankan Malaikat Dewa Raja Iblis, Dewa Kematian sekalipun akan aku hadapi demi mendapatkan bidadariku!” tandas Anyam Beringin.
“Aku tahu kau berkesaktian tinggi, tetapi kau harus sadar diri sedang berada di mana,” kata Domba Hidung Merah.
“Aku tahu sedang berada di Kadipaten Repakulo, tetapi sangat mencurigakan dua orang sakti Lembah Sempit berada di tempat seperti ini,” kata Anyam Beringin.
“Kadipaten ini telah dikuasai oleh Kelompok Tinju Dewa, tempat berkumpulnya para pendekar aliran hitam,” kata Domba Hidung Merah.
“Maksudmu, orang yang memimpin kelompok ini adalah orang-orangnya Malaikat Dewa Raja Iblis?” terka Anyam Beringin.
“Benar,” jawab Muni Kelalap. “Apa sekarang kau takut?”
“Hahaha…!” tawa Anyam Beringin mendengar pertanyaan Muni Kelalap. “Tidak ada ceritanya Dewa Seribu Tameng takut dengan seorang lelaki. Makanya aku berani jatuh cinta kepada istri orang. Hahaha!”
“Kau memang tidak takut kepada seorang pun lelaki, tetapi kau sangat takut dengan Ratu Solek Pemikat. Hahahak!”
__ADS_1
Giliran Domba Hidung Merah yang menertawai Anyam Beringin.
“Jangan kau sebut namanya, nanti dia muncul sungguhan di sini!” kata Anyam Beringin setengah berbisik.
“Kita sebagai sesama orang sakti yang sudah tua, aku tidak akan menghalangimu, tetapi aku juga tidak akan turut campur jika pendekar-pendekar muda itu membuat urusan denganmu,” kata Domba Hidung Merah sambil merangkul bahu Muni Kelalap.
“Hahaha!” tawa Anyam Beringin sambil melangkah berlalu, sementara pandangannya menatapi kemesaraan Domba Hidung Merah dan Muni Kelalap.
Anyam Beringin segera berkelebat menuju kediaman Adipati Tulang Sampit yang telah dikuasai oleh Kelompok Tinju Dewa.
Ada empat orang pendekar berdiri berjaga di gerbang halaman kediaman adipati. Ketika mendekati gerbang halaman kediaman adipati, tiba-tiba dua orang lelaki muncul menghadang Anyam Beringin.
Orang pertama adalah seorang lelaki jangkung tetapi tubuhnya padat berisi. Baju merahnya tanpa lengan, seolah menunjukkan bahwa pendekar itu memiliki kelebihan di bidang pukulan. Ia bernama Bedak Kerang.
Orang kedua adalah seorang pemuda yang lebih muda. Ia berambut gondrong berikat kepala kuning, sama dengan warna bajunya. Baju kuningnya juga tidak berlengan. Ada lilitan kain hitam pada kedua pergelangan tangannnya. Ia bernama Jambang.
“Siapa kau, Orang Tua?” tanya Jambang.
“Aku kekasih Ratu,” jawab Anyam Beringin.
Jambang dan Bedak Kerang saling pandang.
“Ratu siapa maksudmu?” tanya Bedak Kerang agak membentak.
“Anak-anak bau kencur!” rutuk Anyam Beringin sambil memukul kepala Jambang dengan caping di tangannya.
Pak! Duk!
Pukulan yang terlihat pelan itu ternyata mengandung tenaga dalam kuat. Jambang sampai jatuh terlutut satu kaki.
“Kau cari masalah, Orang Tua!” teriak Bedak Kerang sambil mengirimkan satu tinju keras.
Buk! Bass!
Tinju itu cukup ditahan oleh caping Anyam Beringin lalu mengibaskannya ke wajah Bedak Kerang. Lelaki jangkung itu sampai terlompat ke belakang dan jatuh terjengkang.
Anyam Beringin lalu menyepakkan kakinya kepada wajah Jambang.
Dak!
Jambang menangkisnya dengan kedua tangannya, tetapi kuatnya tenaga tendangan itu tetap membuat dirinya terlompat terjengkang ke belakang.
Tiba-tiba dari berbagai arah berdatangan enam lelaki yang langsung memasang formasi di depan Anyam Beringin. Mereka para lelaki yang mengenakan baju tanpa lengan. Mereka memasang kuda-kuda yang siap bertarung dengan tangan kosong. Tampak kepal-kepal tinju mereka terlihat kokoh.
Merekalah orang-orang yang disebut sebagai Kelompok Tinju Dewa. (RH)
__ADS_1