
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Tidak mungkin lagi bagi Panglima Siluman Merah Muda untuk melarikan diri di saat musuh telah menghadang tepat di depannya. Meski pasukannya jelas-jelas kalah, tetapi sebagai seorang panglima dia pantang untuk lari dari musuh, kecuali untuk pertimbangan menyelamatkan pasukannya.
Ia sudah memerintahkan pasukannya yang masih tersisa untuk mundur. Sebanyak sekitar seratus orang dari seribu, berhasil menyelamatkan diri mundur masuk ke dalam hutan. Pasukan Kuda Pertama Kerajaan Sanggana Kecil mengejar hanya sebatas pinggir hutan.
Kini di antara ratusan mayat prajurit Kerajaan Siluman, tinggal ia dan tangan kanannya, Gatot Watu. Ia sendiri harus berhadapan dengan Mahapati Kerajaan Sanggana Kecil, yaitu Turung Gali, ayah dari Permaisuri Tirana. Sementara Gatot Watu berhadapan dengan Gaja Ireng, Komandan Pasukan Kuda Pertama.
“Berani membunuh, maka harus berani dibunuh,” kata Turung Gali datar kepada Siluman Merah Muda. Ia tidak bersenjata apa-apa.
“Sombong sangat!” maki Siluman Merah Muda.
“Aku akan membuat kau menyesal karena telah masuk ke Sanggana Kecil sebagai seorang musuh!” seru Turung Gali.
“Aku tidak peduli. Aku ingin tahu sehebat apa seorang panglima kerajaan kecil ini!” tantang Siluman Merah Muda.
“Aku akan membuatmu tahu sebelum kau mati!” tandas Turung Gali.
Dung! Zess! Dung! Zess!
Siluman Merah Muda mengadukan kedua gada besinya. Dari peraduan itu melesat sinar merah keriting seperti kilat. Dua kali benturan gada, maka dua kali pula sinar merah serupa melesat menyerang Turung Gali.
Jesp! Jesp!
Mendelik Siluman Merah Muda melihat kehebatan awal Turung Gali. Dengan gerakan yang cepat, telapak tangan kanan Turung Gali menangkap ujung kedua sinar merah tanpa mengalami luka sedikit pun.
Siluman Merah Muda tidak boleh terpana jika mau selamat dari kematian, karena Turung Gali sudah merangsek maju menyerangnya.
Cepat. Gerakan serang Turung Gali begitu cepat. Namun, Siluman Merah Muda bukan seorang panglima yang asal ditunjuk. Dia juga punya kualitas.
Siluman Merah Muda melayani semua serangan fisik bertenaga dalam tinggi Turung Gali dengan telaten. Tidak hanya sekedar menghindar atau menangkis, tetapi dia juga bisa menyerang balik.
Dung dung dung…!
Ketika Siluman Merah Muda menyerang dengan ayunan-ayunan gadanya, Turung Gali mengadunya dengan tinju-tinjunya yang keras. Dalam hati, Siluman Merah Muda hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan ketangguhan Turung Gali.
__ADS_1
Dogk! Dak!
“Uhg!” pekik tertahan Siluman Merah Muda saat wajahnya terkena hantaman gadanya sendiri.
Hal itu terjadi ketika kepal tangan Turung Gali bersinar biru, lalu menonjok gada Siluman Merah Muda yang datang menyerang. Hantaman tinju pada gada yang datang, membuat senjata itu terpental balik dengan cepat, menghantam wajah tuannya.
Siluman Merah Muda terjajar beberapa tindak dalam kondisi pandangan yang sejenak gelap. Sementara itu darah mengucur dari hidungnya yang jadi membengkak.
Dak! Buk!
Dalam kondisi pandangan yang sempat hang, Siluman Merah Muda merasakan dagunya dihantam keras oleh satu serangan, membuatnya terlompat ke balakang lalu jatuh dengan punggung. Jatuh itu justru membuat pandangannya kembali melihat.
Ia buru-buru bangkit dalam kondisi wajah sudah belepotan darah dari hidung dan mulut. Ia pun buru-buru menyeka darah pada wajahnya. Ia takut jika disebut panglima ingusan.
“Ayo, waktunya kita bertarung untuk membunuh!” seru Turung Gali yang seolah-olah menikmati pertarungan itu.
“Baik!” teriak Siluman Merah Muda dengan mata memerah. Ia lalu menghentakkan kedua lengannya yang tanpa gada lurus ke langit.
Swisst!
“Hiaat!” teriak Siluman Merah Muda sambil berlari dalam kondisi tubuh dilapisi sinar merah muda.
Cess! Cess! Cess…!
Pada kedua tangan Siluman Merah Muda seperti ada belalai sinar merah muda sepanjang satu tombak. Siluman Merah Muda menyerang dengan cara mencambukkan belalai sinar pada tangannya.
Kali ini Turung Gali harus bergerak cepat melompat ke sana dan ke sini, bergeser ke sana dan ke sini, meloncat berkali-kali, menghindari sabetan belalai sinar Siluman Merah Muda.
Itu berlangsung agak lama, sehingga membuat Siluman Merah Muda kesal sendiri karena serangannya tidak ada yang mengenai terget, selain menghanguskan rerumputan yang menjadi korban sampingan.
Maka dengan ilmu itu, Siluman Merah Muda mencoba upaya terakhir. Ia melompat maju dengan tubuh berputar kencang seperti gangsing. Turung Gali cepat melompat mundur cukup jauh, demi menghidari sambaran belalai sinar yang berputar cepat.
Area rerumputan di bawah putaran tubuh itu jadi terbakar dengan embusan angin yang kencang.
Akhirnya Siluman Merah Muda mendarat dengan kegagalan juga. Ketika ia hendak memburu posisi Turung Gali lagi, ia harus terkejut. Ternyata dia tidak bisa melangkah. Kedua telapak kakinya seolah terpaku sangat kuat di bumi.
__ADS_1
Ketika Siluman Merah Muda memperhatikan kondisi sekitarnya, ternyata ada pasak sinar merah yang menancapi bayangan tubuhnya. Tanpa ia sadari, bayangannya telah dipatok oleh ilmu Pasak Paku Bayangan milik Turung Gali. Ia tidak melihat sedikit pun kapan sinar itu menyerang bayangannya.
Cess! Wesst!
Siluman Merah Muda melecutkan belalai sinar di tangan kanannya menghancurkan pasak sinar merah di tanah. Namun pada saat yang sama, Turung Gali melesatkan seberkas sinar biru berwujud piringan seperti pisau gergaji mesin.
Cess! Bluaar!
Siluman Merah Muda memang terbebas dari pemakuan ilmu pasak Turung Gali, tetapi dengan datangnya piringan sinar biru memaksanya melecut sinar itu dengan belalai sinar pink-nya di tangan kiri.
Pertemuan lecutan dan piringan sinar biru menimbulkan ledakan peraduan dua tenaga sakti. Hasilnya, Turung Gali terdorong keras sehingga ia termundur dengan cepat lalu jatuh terjengkang. Ia langsung terbatuk-batuk.
Sementara itu, Siluman Merah Muda terlempar cukup jauh dengan luka dalam parah. Meski demikian, ia bisa bangkit berdiri dengan cepat, bahkan berdiri dengan tegak. Namun kemudian….
“Hukrr!” Siluman Merah Muda muntah darah banyak. Jelas kekuatan ilmunya jauh di bawah ilmu Setipis Ajal milik Turung Gali.
Selanjutnya, Turung Gali telah melompat cepat di udara ke arah Siluman Merah Muda. Sepasang lengannya diselimuti gulungan sinar merah. Turung Gali akan mengerahkan ilmu Lengan Merah.
Siluman Merah Muda yang mengalami luka dalam parah tidak bisa bergerak bebas menghindar, kondisi tubuhnya yang mencegahnya. Terpaksa sudah, ia hanya bisa memasang ilmu perisai.
Zwing!
Tiba-tiba di depan tubuh Siluman Merah Muda muncul dinding jaring sinar berwarna kuning.
Zerzzz!
Ketika masih berada di udara, Turung Gali menghentakkan sepasang lengannya. Dua aliran sinar merah berwujud spiral melesat menghantam dinding jaring sinar kuning. Tanpa putus, sinar merah Turung Gali terus menekan berusaha menjebol dinding ilmu perisai itu.
Bross!
Tidak butuh waktu lama, kedua sinar merah ilmu Lengan Merah berhasil menjebol dining sinar itu. Ilmu Lengan Merah menghantam langsung tubuh Siluman Merah Muda. Tubuh Siluman Merah Muda terpental jauh dengan kondisi sudah tanpa nyawa.
Sementara itu, duel antara Gaja Ireng dan Gatot Watu juga berakhir. Kemenangan diraih oleh Gaja Ireng.
Dengan kematian kedua pemimpin pasukan Kerajaan Siluman, maka usai sudah peperangan di padang rumput tersebut.
__ADS_1
Para prajurit Pasukan Muda diberi pekerjaan baru, yaitu memeriksa setiap mayat prajurit musuh dan mengumpulkan senjata yang masih bisa digunakan. Namun, mereka tidak mendapat banyak, karena kebanyakan senjata itu berhancuran saat meledak sendiri. (RH)