8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 15: Perintah Jin Gurba


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Ratu Sri Mayang Sih akhirnya tiba di sebuah air terjun kecil. Daerah berbatu itu terletak tidak jauh dari Istana Siluman.


“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu!” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan tahu-tahu berlutut di depan Ratu Sri Mayang Sih.


Lelaki itu seorang pemuda yang tampan dengan usia tiga puluh lima tahun. Rambutnya gondrong keriting sebahu. Ia mengenakan pakaian putih-putih yang dilapisi jubah putih pula. Pemuda gagah itu bernama Pangeran Keriting.


“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu!” ucap seorang pemuda lagi yang datang langsung berlutut.


Pemuda itu berkepala botak, tetapi tampan beralis tebal. Ia mengenakan kalung tebal dari emas. Ia mengenakan baju merah ketat lengan pendek, menonjolkan otot kekarnya yang halus. Sementara celana hitamnya gombrong. Di pinggang kanannya menggantung sebuah keris tanpa sarung berwarna hitam. Ia bernama Pangeran Botak.


“Bangunlah, kalian!” perintah Ratu Sri Mayang Sih.


Kedua pemuda tampan itu segera bangkit berdiri.


“Mana yang lain?” tanya Ratu Sri Mayang Sih berwibawa.


Set! Ting!


Pangeran Keriting lalu melesatkan sebutir batu yang mengenai sebuah lonceng yang digantung di atas pohon besar. Lonceng itu berdenting nyaring dan menggema.


Tidak berapa lama, dari sejumlah arah bermunculan dua lelaki tampan dan dua wanita cantik. Penampilan mereka berbeda-beda dengan gaya masing-masing.


Pemuda tampan berwajah putih seperti mayat tanpa darah bernama Pangeran Mayat. Pemuda tampan berkumis tipis dan bertubuh paling tinggi bernama Pangeran Derajat. Wanita muda cantik berambut sebahu dan berponi bernama Putri Embun. Wanita muda cantik berambut panjang sebetis, tetapi diikat lima bagian dengan pita yang berbeda warna, bernama Putri Pelangi.


Pcrak!


Tiba-tiba dari dalam air timbul keluar sesosok lelaki berpakaian hitam. Ia melompat naik ke bebatuan dalam kondisi kuyup. Air bertetesan dari rambut dan pakaiannya. Wajahnya tidak kalah tampan dibandingkan rekan-rekannya. Ia bernama Pangeran Basah. Orang yang sangat suka basah-basahan.


“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu!” ucap mereka berlima sambil turun berlutut di depan sang ratu.


“Bangunlah, kalian semua!” perintah Ratu Sri Mayang Sih.


Ketujuh orang muda itu dikenal dengan nama Lima Pangeran Dua Putri. Mereka adalah prajurit khusus yang bertugas mengabdi dan melindungi Ratu Sri Mayang Sih dalam situasi yang genting. Selama mereka tidak dipanggil untuk mengawal Ratu Sri Mayang Sih, maka mereka akan tinggal di tempat itu. Jika Ratu Sri Mayang Sih sudah datang, berarti ada situasi yang gawat.


“Prabu Raga Sata telah mati, kalian harus melindungi aku untuk mengambil alih tahta Kerajaan Siluman!” perintah Ratu Sri Mayang Sih.


“Baik, Gusti!” ucap mereka kompak.


Maka Ratu Sri Mayang Sih bersama Lima Pangeran Dua Putri segera pergi menuju Istana Siluman.


Setibanya di gerbang utama benteng Istana Siluman, Ratu Sri Mayang Sih dibuat terkejut oleh tindakan beberapa prajurit penjaga gerbang yang melarangnya masuk. Ada sepuluh orang prajurit yang berjaga di depan gerbang.


“Siapa yang memerintahkan kalian sedangkan Prabu Raga Sata sudah mati?!” tanya Ratu Sri Mayang Sih membentak.


“Kami diperintahkan oleh Senopati Siluman Jarum!” jawab pemimpin prajurit di antara penjaga itu dengan lantang.


“Lancang!” teriak Ratu Sri Mayang Sih. Lalu perintahnya kepada para pengawalnya, “Bunuh dan hancurkan gerbang!”

__ADS_1


Bak bik buk! Brok!


Cras cris crus! Tseb!


Sets! Bluarr!


Pangeran Keriting segera berkelebat menerjang para prajurit penjaga itu. Gerakannya terlalu cepat bagi prajurit. Satu tinju langsung meremukkan tulang. Setiap tinju mendarat, maka remuklah tulang tubuh prajurit. Bahkan satu tameng yang mencoba menahan tinju Pangeran Keriting, jebol oleh tinju itu.


Sementara Pangeran Botak, bergerak meliuk-liuk dengan keris hitamnya yang mengiris di sana dan di sini. Eksekusi terakhir adalah menusuk leher prajurit terakhir dengan gaya menyamping.


Hal berbeda dilakukan oleh Putri Pelangi. Gadis cantik itu melesatkan sinar panjang yang berwarna-warni seperti pelangi. Gerbang benteng yang terbuat dari berlapis kayu tebal dan kuat, hancur berantakan saat dihantam oleh ilmu Pelangi Murka.


Ledakan keras itu mengejutkan para prajurit yang sedang berjaga dan berada di dalam benteng besar itu.


“Pasukaaan! Formasi menyeraaang!” teriak seorang pemimpin prajurit di dalam benteng.


Pasukan berpedang dan bertombak segera membentuk barisan berlapis. Sementara pasukan panah berposisi di atas lantai tertinggi pelataran dan di atas dinding benteng.


Ratu Sri Mayang Sih melangkah masuk melewati gerbang yang hancur. Lima Pangeran Dua Putri berjalan di sisi depan Ratu membentuk barisan perlindungan yang melengkung.


“Panaaah!” teriak pemimpin prajurit yang berdiri di atas tangga pelataran depan Istana.


Set set set…!


Puluhan anak panah berlesatan dari jauh yang menargetkan Ratu dan para pengawalnya.


Wuss!


“Seraaang!” teriak pemimpin prajurit lagi memberi komando.


Pasukan pedang bertameng yang berada di barisan depan segera berlari maju serempak dan teratur. Mereka menyerang secara berjemaah.


Lima Pangeran Dua Putri maju serentak. Yang pertama mereka lakukan adalah memecah kekompakan pertahanan para prajurit berpedang itu.


Pangeran Keriting menggunakan kehandalan tinjunya. Pangeran Botak menggunakan keris hitamnya. Pangeran Mayat menggunakan usapan jari-jarinya yang beracun ganas. Pangeran Derajat menggunakan keampuhan tendangannya. Pangeran Basah menggunakan senjata seperti benang tebal tapi berbahan baja.


Sementara Putri Embun mengandalkan senjata pedang. Putri Pelangi mengandalkan tongkat yang bisa dipanjangkan ke ukuran normal dan bisa dipendekkan dengan ukuran sepertiga.


Ketika pertahanan pasukan pedang itu sudah dipecah, barulah mereka menghancurkannya dengan membunuhnya satu demi satu. Pada tahap itu, Ratu Sri Mayang Sih juga ikut masuk dalam pertempuran. Ia tidak kalah dengan para pengawalnya, serangan-serangannya juga bersifat ganas.


Krak! Krak!


Setelah memukul batang leher dua prajurit dengan sisi tipis telapak tangannya, sehingga kedua leher itu remuk, Ratu Sri Mayang Sih berteriak mengandung tenaga dalam.


“Prajurit! Apakah kau sadar, kau telah menyerang ratumu!”


“Atas perintah Yang Mulia Jin Gurba, Ratu Sri Mayang harus dibunuh di manapun!” teriak pemimpin prajurit.


Terkejutlah Ratu Sri Mayang Sih mendengar nama Jin Gurba.

__ADS_1


Pada saat itu pula, sejumlah pasukan berseragam hijau gelap bermunculan dalam barisan yang teratur dari sisi kanan Istana. Dari dalam gerbang Istana berkeluaran pasukan berseragam hitam-hitam yang dipimpin oleh seorang komandan berpakaian hitam-hitam pula. Ia menyandang dua pedang di punggungnya. Itu adalah pasukan khusus yang bernama Pasukan Murka Kegelapan.


“Pasukan tombak, seraaang!” teriak pemimpin prajurit dari pelataran.


“Seraaang!” teriak Komandan Pasukan Murka Kegelapan yang bernama Siluman Potong Dua. Nama itu melekat karena ia memiliki ciri khas membunuh lawan dengan memotong tubuh menjadi dua.


“Seraaang…!” teriak pasukan tombak dan Pasukan Murka Kegelapan bersamaan. Ramai sekali terdengar seperti Pasukan Takeshi di masa depan.


Hanya bedanya, jika pasukan tombak berlari maju dengan senjata siap ditusukkan, maka Pasukan Murka Kegelapan berlarian di udara menggunakan ilmu peringan tubuhnya, sementara pedang siap tebas.


“Munduuur!” teriak Ratu Sri Mayang Sih cepat sebelum serangan ratusan prajurit itu sampai kepada mereka.


Kompak mereka berdelapan melesat mundur seperti layangan di tarik. Bahkan prajurit yang tinggal dieksekusi mereka lepaskan begitu saja karena kedisiplinan.


Wezz wezz wezz…!


Serentak Pangeran Keriting, Pangeran Botak dan Pangeran Derajat melepaskan bola sinar merah dari kedua telapak tangan mereka.


Tidak seperti pada umumnya, sinar-sinar itu tidak melesat, melainkan diam melayang di udara di ambang gerbang benteng. Keenam bola sinar merah itu seperti ranjau laut yang melayang di udara.


“Tahaaan!” teriak Siluman Potong Dua cepat.


Pasukan sontak menahan lari mereka. Ketidaktahuan Komandan Siluman Potong Dua tentang ilmu itu dan seperti apa model kerjanya, membuatnya harus berhati-hati. Ia tidak mau kehilangan prajuritnya.


Sementara Ratu Sri Mayang Sih dan Lima Pangeran Dua Putri telah mundur jauh meninggalkan benteng.


Enam sinar merah yang melayang tidak jatuh atau terbang, berhasil mencegah pasukan itu mengejar.


“Munduuur!” teriak Siluman Potong Dua.


Dua pasukan itu segera mundur berjemaah, kompak.


“Panaaah!” perintah Siluman Potong Dua setelah pasukan di depan kira-kira sudah pada jarak aman.


Set set set…!


Puluhan anak panah segera dilepas menghujani keenam bola sinar merah yang lebih besar dari kepala manusia.


Bluar bluar bluar…!


Enam ledakan dahsyat terjadi ketika anak panah mengenai bola sinar dari ilmu Telur Iblis.


Daya ledak keenam Telur Iblis mantep pancen oye. Dinding benteng pada bagian gerbang yang terbuat dari batu yang keras, hancur sebagian. Meski tidak terkena langsung oleh daya ledaknya yang beradius tiga tombak, tetapi banyak prajurit yang terdepan berjengkangan dengan kulit yang terasa panas menyengat.


“Kejaaar!” teriak Siluman Potong Dua kepada pasukan khususnya. Ia melesat lebih dulu di udara menuju luar benteng Istana.


Sementara itu, rombongan Ratu Sri Mayang Sih semakin jauh.


“Kenapa kita tiba-tiba mundur, Gusti Ratu?” tanya Putri Pelangi.

__ADS_1


“Buyut Prabu Raga telah mengambil alih kekuasaan Istana, yaitu Jin Gurba. Tidak ada gunanya kita memaksa masuk, justru akan mencelakai diri sendiri. Siluman Pedang pasti bercerita kepada Jin Gurba bahwa aku telah selingkuh dengan raja musuh!” jelas Ratu Sri Mayang Sih. (RH)


__ADS_2