8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 4: Pemuda Tampan Penolong Putri


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


 


Terjadi pertarungan sengit antara dua orang wanita muda lagi cantik-cantik di tengah jalan raya. Keduanya bertarung seiring mulut mereka juga bertarung, maksudnya saling caci maki menunjukkan kemarahannya.


Wanita muda pertama adalah seorang berpakaian hijau muda bercelana hitam. Rambutnya sebahu. Kecantikannya semakin menggairahkan dengan ukuran dadanya yang jumbo. Ia berbekal sehelai pita warna biru dalam bertarung. Ia adalah Dewi Bayang Kematian.


Gadis kedua adalah wanita cantik dengan model wajah agak panjang, seiring hidungnya yang mancung. Ia mengenakan baju warna merah muda dengan celana hitam. Seolah ia wanita yang penuh cinta. Rambutnya panjang sepunggung yang diikat sederhana pada tiga titik. Ia besenjatakan pedang bergagang kepala bangau warna putih. Dari guratan rumit yang ada di badan pedang menunjukkan itu bukan pedang biasa. Ia bernama Limarsih, bergelar Pendekar Pedang Bangau.


“Perempuan jelek hina! Tidak tahu malunya kau merayu kekasihku!” maki Dewi Bayang Kematian.


“Aku adalah kekasih Joko Tingkir sejak kecil, punyak hak apa kau mengaku bahwa kekasihku adalah kekasihmu, hah?!” balas Limarsih mendelik menggemaskan.


“Pengakuanmu palsu! Jelas-jelas akulah yang dibelai olehnya!” sahut Dewi Bayang Kematian lagi.


“Benar dugaanku, kau adalah wanita mesum murahan, yang mengandalkan gunung meletusmu sebagai senjata menjerat banyak lelaki!” tukas Limarsih tidak kalah galak.


“Mulutmu terlalu bertomat, Perempuan Hina! Hiaaat!” maki Dewi Bayang Kematian lalu berlari maju sambil memutar-mutar pergelangan tangannya yang memegang pita biru. Pita birunya bergerak cepat membentuk gerakan spiral.


“Akan aku rusak kecantikan mesummu itu! Hiaat!” teriak Limarsih juga sambil maju memutar-mutar pula mata pedangnya.


Pertarungan sengit kembali berlanjut setelah dijeda dengan iklan caci maki, iklan yang pasti akan mendapat peringatan dari Badan Pengawas Periklanan (BPP).


Di sisi lain di sekitar, tampak seorang pemuda tampan berbaju putih bercelana hitam, sedang berdiri menyaksikan pertarungan itu. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat keseruan pertarungan kedua wanita itu. Pemuda bertubuh tegap dan kekar itu berbekal sebuah kendi keramik berwarna hijau gelap mengilap.


“Memang susah juga kalau jadi lelaki setampan aku, akan banyak wanita yang cakar-cakaran. Tapi tidak apa-apa, asalkan mereka puas,” ucap pemuda bernama Joko Tingkir itu, pemuda yang sedang dipertengkarkan oleh Dewi Bayang Kematian dan Pendekar Pedang Bangau.


Joko Tingkir lalu balik kanan dan melangkah pergi, meninggalkan tempat itu dan dua wanita cantik yang memperebutkannya.


Joko Tingkir yang kini berjuluk Pangeran Perkasa Dunia itu terus berjalan pergi. Ia menuruni jalan tanah yang menuju ke aliran sungai. Setibanya di pinggir sungai, mata Joko Tingkir menjelajah sebentar.


Joko Tingkir bergegas ke balik sebongkah batu besar yang ada di pingiran arus sungai yang dangkal.


“Hei, Kisanak! Apa kau mau kencing di depanku, hah?!” bentak seorang wanita, berada tiga tombak di depan Joko Tingkir yang sudah berdiri mengangkang mengeluarkan burungnya.


“Setan Gunung!” teriak Joko Tingkir memaki lalu spontan ia berbalik dengan memutar satu kakinya. Masalahnya, burungnya sudah keluar dan keran air seninya sudah dibuka.


Cuuur!


Maka kencinglah Joko Tingkir sambil menengok ke belakang, melihat wanita yang bisa-bisanya luput dari penglihatannya, padahal ada di depannya.


Wanita cantik itu tidak lain adalah Putri Manik Sari yang duduk di sebongkah batu pendek. Wajahnya pucat berkeringat, mengerenyit seolah sedang menahan sakit. Sepasang kakinya berendam di air yang mengalir. Ia bersandar pada batu yang lain.


“Waduh, dia melihat tongkat gantengku,” keluh Joko Tingkir.


Putri Manik Sari hanya menatap tajam kepada Joko Tingkir yang melihatinya.


“Cuih!” Putri Manik Sari meludah ke air. Air ludahnya darah kental, menunjukkan bahwa ia sedang terluka dalam.


“Apakah kau sedang terluka parah, Nisanak?” tanya Joko Tingkir, sambil terus pipis berdiri.


“Lelaki tidak tahu malu!” umpat Putri Manik Sari.

__ADS_1


Joko Tingkir lalu menyempurnakan buang air kecilnya. Setelah merapikan kembali celananya, ia berbalik menghadap kepada Putri Manik Sari.


“Aku ini lelaki dan pendekar terhormat. Hanya, aku sudah kebelet dan aku benar-benar tidak melihat hantu sungai secantik kau jika tidak bersuara. Apa boleh buat, daripada mengencingi diri sendiri, lebih baik aku memalukan diri di depan bidadari sungai seperti dirimu. Jika berujung pada ikatan pernikahan, tentunya tidak masalah jika terlihat sedikit sebelum sah. Hahaha!” kata Joko Tingkir lalu tertawa pendek, memperlihatkan pesona ketampanannya, seolah lupa dengan kelakuannya barusan.


“Tadi kau menyebutku hantu sungai, kemudian kau menyebutkan bidadari sungai. Dasar lelaki berlidah kadal!” ketus Putri Manik Sari.


“Aku sebut kau hantu karena muncul tiba-tiba. Aku sebut kau bidadari, karena cantikmu memang demikian. Berdosa aku jika menyebut wanita secantik kau dengan sebutan jurig,” kata Joko Tingkir bersikap santai.


Tiba-tiba Putri Manik Sari yang cantik itu mengerenyit seolah menahan sakit.


“Hoekh!”


Putri Manik Sari mendadak muntah darah kental kehitaman yang ia buang langsung ke arus air sungai. Hal itu mengejutkan Joko Tingkir. Putri Manik Sari terlihat semakin lemah tidak berdaya.


“Biar aku obati, Nisanak!” kata Joko Tingkir bernada cukup serius.


Joko Tingkir bergegas pergi ke belakang tubuh sang putri.


“Maafkan aku, Nisanak. Aku harus menyentuhmu demi kebaikanmu,” ucap Joko Tingkir meminta izin.


Untuk berada di belakang tubuh sang putri, Joko Tingkir harus mendorong bahu belakang Putri Manik Sari agar badannya tegak dan tidak bersandar pada batu.


“Maju sedikit, Nisanak!” suruh Joko Tingkir agar Putri Manik Sari sedikit memajukan posisi bokongnya pada duduknya.


“Namaku Putri Manik Sari,” kata sang putri sambil menggeser sedikit duduknya.


“Oh, pantas, kau secantik bayi istana,” puji Joko Tingkir sambil menotok empat titik pada punggung Putri Manik Sari. “Jangan khawatir, ilmu pengobatanku termasuk andal dan manjur.”


Sreets! Sreets! Paks!


Joko Tingkir tidak menggaruk dengan kukunya, tetapi dengan kulit ujung kelima jarinya yang bersinar hijau bening. Setelah kelima jari tangan kanan menggaruk, ganti kelima jari tangan kiri yang menggaruk dengan sinar hijau.


Tubuh Putri Manik Sari kembali melengkung karena merasakan sakit bercampur sejuk. Selanjutnya, telapak tangan kanan Joko Tingkir menapak punggung sang putri, di posisi yang satu garis dengan posisi jantung.


Telapak tangan itu bersinar hijau dan mengalirkannya masuk ke dalam tubuh si gadis. Putri Manik Sari dalam waktu cepat merasakan rasa mual yang kuat.


“Keluarkan semua darah kotor dan isi perutmu!” seru Joko Tingkir.


“Hoekh!” Putri Manik Sari muntah lagi. Wajahnya memerah hingga mengeluarkan air mata menahan beratnya proses muntah itu.


Kali ini muntahan Putri Manik Sari darah bercampur makanan. Namun, rasa mual itu masih tersisa di dalam tenggorokan dan perut.


“Muntahkan sampai tidak ada yang keluar!” kata Joko Tingkir, masih tetap menempelkan telapak tangannya pada punggung sang putri.


“Hooekh!” Putri Manik Sari kembali muntah, tapi muntahannya semakin sedikit, darahnya pun semakin berkurang.


“Sedikit lagi, Putri!” kata Joko Tingkir yang juga memperhatikan apa yang dimuntahkan oleh Putri Manik Sari, siapa tahu kalau-kalau orang cantik muntahannya ada berlian permata.


“Hoekh!”


Kali ini muntahan Putri Manik Sari kosong, kecuali air liur yang kental menggantung-gantung di bibir bawah.


Barulah Joko Tingkir menarik lepas telapak tangannya. Ia lalu bergerak keluar dari belakang tubuh sang putri. Putri Manik Sari yang merasa semakin lemas langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang, jauhnya posisi batu sandaran membuat posisi sandarannya tidak bagus.

__ADS_1


Tiba-tiba Joko Tingkir mengangkat tubuh sang putri dengan kedua tangan kekarnya. Hal itu membuat Putri Manik Sari terkejut, tapi buru-buru dia mengalungkan kedua tangannya pada leher si pemuda, membuat wajah mereka berdua berdekatan jarak.


“Biar aku bawa kau ke tempat yang nyaman, Putri,” kata Joko Tingkir seraya tersenyum manis.


Meski dalam kondisi sakit dan lemas, ada rasa berdebar di dalam dada Putri Manik Sari.


“Pemuda ini begitu tampan dan gagah,” ucap Putri Manik Sari dalam hati. Namun, ia tidak mau terpaku menatap wajah Joko Tingkir, nanti ia diduga jatuh hati.


“Kenapa kau sampai terluka separah ini, Putri?” tanya Joko Tingkir.


“Aku kalah bertarung dengan pembunuh ayahku,” jawab Putri Manik Sari bernada dendam.


“Kau pasti putrinya Prabu Menak Ujung,” terka Joko Tingkir sambil memandang dekat dan lekat wajah pucat sang putri.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Putri Manik Sari.


“Saat aku dalam perjalanan melewati Baturaharja, aku mendengar cerita bahwa ayahmu dibunuh oleh pewaris sah tahta kerajaan. Siapa yang membunuh ayahmu?” kata Joko Tingkir lalu bertanya.


“Permaisuri Sandaria, istri Prabu Dira Raja Kerajaan Sanggana Kecil!” jawab Putri Manik Sari benci.


“Ah, di sini lebih baik, Putri,” kata Joko Tingkir sambil menurunkan dan merebahkan tubuh Putri Manik Sari di tanah berumput pinggir sungai.


Beberapa kali keduanya saling bertemu pandang saat wajah mereka begitu dekat. Mirip adegan sinetron yang dalam sekali syuting, aktris wanitanya lima kali terpeleset lalu ditangkap badannya oleh sang pemuda yang baru dikenalnya.


“Ingin sekali rasanya aku megecup bibirnya,” ucap Joko Tingkir di dalam hati. Namun, hati dan lidah beda fakta. Ia berkata kepada sang putri, “Maafkan aku, Putri!”


Joko Tingkir lalu melepaskan tubuh Putri Manik Sari dan membiarkannya terbaring beristirahat. Sementara dia berpura-pura jaga sikap atau jaim.


“Namamu siapa, Kisanak?” tanya Putri Manik Sari.


“Joko Tingkir, Pangeran Perkasa Dunia,” jawab Joko Tingkir seraya tersenyum bangga. (RH)


****************************************


Kisah Covid-19 Author (Bag.1)


 


Di lingkungan saya pada Juni 2021, sudah banyak warga yang jatuh sakit. Karena di lingkungan ini tidak pernah ada yang tes swab, tidak ada petugas satgas, tidak ada pasien Covid-19, jadi pada umumnya menduga bahwa sakit yang merajalela adalah sakit panas biasa karena perubahan cuaca. Karena memang sejak awalnya Covid-19 di Indonesia, lingkungan saya bebas Covid-19.


Keluarga saya juga pada sakit, seperti Ibu, Mertua, Istri, Kakak, dan Kakak Ipar. Mereka sakit lebih dulu. Namun, tidak ada yang berani berobat ke klinik, khawatir dicap Covid-19. Jika itu terjadi, urusan bisa lebih berabe di lingkungan. Bisa-bisa Satgas Covid-19 datang lalu lakukan tes dan tracing. Itu bisa ribet urusannya.


Pada suatu malam, saya tidur di rumah kakak, karena memang kondisi sudah mulai sakit. Kepala pusing saya pikir masuk angin karena kena AC kamar, maklum AC baru.


Pada malam itu saya tidak bisa tidur sama sekali. Meski sudah ngantuk, tapi tidak bisa tidur. Kalau memejamkan mata, pikiran dan mimpi jadi liar, sangat tidak nyaman. Pasti langsung bangun terkaget-kaget sambil “nyebut” alias zikir. Sampai pagi saya merasa menderita jika ingin tidur atau memejamkan mata.


Keesokannya, saya coba pakai minyak GPU untuk kerokan. Ketika itu saya tidak mencium bau sedikit pun dari minyak tersebut. Hingga saya tempelkan ke depan hidung tidak ada baunya. Seingat saya, ketika Ibu urut-urut kaki pakai minyak itu di kamar, baunya tajam.


Saya kemudian curiga bahwa saya kehilangan indra penciuman saya. Saya pun jadi teringat cerita sahabat perempuan yang mengisahkan dirinya terkena Covid-19. Dia mengalami tidak bisa tidur, sampai katanya lebih baik tidak tidur daripada memaksatidur. Dia juga kehilangan indera perasa di lidah dan penciuman.


Akhirnya saya pun menyimpulkan, SAYA TERKENA COVID-19. (Bersambung)


 

__ADS_1


Kisah ini saya tulis karena ada permintaan reader tentang Author yang pernah terkena Covid-19. Mudah-mudahan nanti ada kiat-kiat yang bisa diambil pelajaran. Pada seri terakhir akan ada pembelajaran penting yang akan Author simpulkan.


__ADS_2