8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 17: Serangan Malam di Bukit Dalam


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


Sebanyak seratus pendekar bersembunyi di dalam kegelapan dasar Jurang Lolongan. Berkat informasi dari seorang mata-mata, Pasukan Siluman Generasi Puncak bisa dengan leluasa sampai ke dasar Jurang Lolongan. Akan sangat sulit untuk sampai ke dasar Jurang Lolongan bagi orang yang belum pernah datang ke tempat itu, jika tidak memiliki gambaran terlebih dulu.


Sudah dua jam lamanya pasukan pendekar yang dipimpin oleh Siluman Raksasa itu menunggu di dalam gelap. Hingga akhirnya, ada cahaya obor yang muncul dari kaki tebing jurang.


Nyala api dua obor itu terus bergerak mendekati gapura batu yang di belakangnya adalah dinding batu yang lurus tinggi ke atas. Setelah kedua orang pembawa obor itu mendekat, maka jelaslah bahwa mereka berdua adalah dua orang pemuda berseragam putih-putih.


Kedua murid Perguruan Bukit Dalam itu melewati gapura dan mendekati dinding batu. Salah seorang dari mereka lalu menekan sebuah pola batu segi enam yang ada di dinding batu. Pola itu tidak terlihat jika tidak diterangi oleh api. Penekanannya pun harus menggunakan tenaga dalam cukup besar.


Jgreg!


Tiba-tiba dinding pada bagian bawah, tepatnya di belakang gapura, membelah diri membuka sebuah lubang besar sebesar gapura. Kedua pemuda berpakaian putih itu lalu masuk ke dalam lorong.


Set! Tsuk tsuk!


“Akk! Akk!”


Ketika kedua murid Perguruan Bukit Dalam itu baru masuk, tiba-tiba dua bayangan manusia melesat cepat dari belakang. Dua bayangan itu langsung menusuk punggung kedua pemuda tersebut. Tusukan pedang itu sampai tembus ke depan dada.


Saat kedua pedang dicabut bersamaan, kedua murid Perguruan Bukit Dalam tumbang bersimbah darah dengan nyawa melesat terbang. Kedua obor juga jatuh ke lantai batu. Api suluh itu segera diinjak-injak oleh kedua penyerang agar padam.


Selanjutnya, keduanya berlari cepat memasuki lorong besar sepanjang lima tombak tersebut. Di belakang keduanya berlari puluhan bayangan gelap pendekar Pasukan Siluman Tingkat Puncak. Keseratus orang itu berlari menyerbu masuk ke dalam wilayah Perguruan Bukit Dalam.


Setelah mereka melewati lorong itu, mereka semua bisa melihat sebuah bukit yang memiliki bangunan-bangunan rumah yang berpenarangan, termasuk di kaki bukit batu itu.


Dengan berlindung kepada gelapnya malam, Siluman Raksasa memimpin pasukannya. Sesuai dengan data intelijen yang diberikan kepadanya, ia bisa langsung memastikan yang mana rumah kediaman Ketua Perguruan Bukit Dalam sekaligus Ketua Besar Barisan Putih, yaitu Ki Rawa Banggir.


Lima puluh pendekar langsung diarahkan mendaki bukit dengan lincah, dengan ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi, langsung menuju kediaman Ki Rawa Banggir. Sementara lima puluh pendekar lainnya dipecah menjadi dua untuk mengamankan daaerah titik yang diserbu.

__ADS_1


Sebagai tokoh tua yang berilmu sakti di atas rata-rata kesaktian tokoh tua lainnya, Ki Rawa Banggir terkejut ketika tahu ada pergerakan banyak orang menuju ke kediamannya.


“Kita diserang! Jumlah mereka banyak!” kata Ki Rawa Banggir kepada kedua istrinya yang sedang lembur menyulam.


Terkejutlah kedua istri Ki Rawa Banggir.


“Cepat bawa Riskaya dan Sunana ke gua rahasia, berlindunglah di sana. Arya Mungga dan Badika akan melindungi kalian!” perintah Ki Rawa Banggir yang sudah berdiri. Ia menambahkan, “Jika terjadi kondisi yang sangat buruk, pergilah ke Kerajaan Sanggana Kecil!”


“Baik, Kakang!” ucap kedua istri itu.


Ki Rawa Banggir segera keluar dari kamarnya. Ia segera pergi mengetuk pintu kedua kamar anak lelakinya yang masih bujang, sehingga masih satu rumah dengan orangtuanya.


“Kita diserang oleh pasukan besar! Pergilah kalian berdua ke gua rahasia melindungi ibu-ibu dan saudara perempuan kalian!” perintah Ki Rawa Banggir kepada kedua anak lelakinya.


“Tapi, Ayah… Aku ingin bertarung bersama Ayah melawan penyerang itu!” bantah Arya Mungga, pemuda tampan yang sudah berusia tiga puluh tahun.


Arya Mungga dan adiknya yang berusia tujuh belas tahun segera menuruti perintah Ki Rawa Banggir. Sang ayah segera pergi ke dua kamar istrinya yang lain.


“Kita diserang! Cepat pergi berlindung ke gua rahasia!” perintah Ki Rawa Banggir menyimpan rasa cemas.


Kedua istrinya hanya bisa terkejut. Namun, baru saja kedua istrinya keluar dari kamar untuk menuju ke gua rahasia, tiba-tiba….


Wes wes wes…!


Bluar bluar bluar…!


Tiba-tiba ruangan dalam rumah itu berubah terang-benderang seiring masuknya sinar-sinar kuning menyilaukan ke dalam rumah, yang kemudian menciptakan ledakan dahsyat menghancurkan seluruh bagian rumah yang terbuat dari batu dan kayu itu.


Sebelum ledakan itu terjadi, Ki Rawa Banggir telah melindungi dirinya dengan ilmu perisai. Ia melihat jelas di depan matanya, kedua tubuh istrinya terpental hebat lalu menghantam dinding yang kemudian juga hancur.

__ADS_1


Ki Rawa Banggir yang tidak apa-apa di dalam kurungan sinar merahnya, terdiam tegang dengan mata mendelik memerah. Ia menahan bibir tuanya untuk menjerit ketika melihat kedua istrinya terkapar mati. Secara perlahan dia mengekspresikan kemarahannya.


“Aaakrrr!” teriaknya keras. Ia lalu melesat terbang keluar dari reruntuhan rumahnya.


Sementara itu, dua istri, dua anak gadis, dan dua anak lelaki Ki Rawa Banggir lebih dulu masuk ke dalam gua rahasia sebelum ledakan dahsyat itu terjadi. Mulut gua rahasia berada di bagian belakang rumah.


Ledakan dahsyat rumah ketua perguruan mengejutkan seluruh penghuni Bukit Dalam. Dan mereka lebih terkejut ketika menyaksikan keberadaan pasukan musuh yang banyak sudah menyerang.


Ki Rawa Banggir yang melesat naik ke udara malam dengan pakaian putih-putih, langsung melesatkan sejumlah serangan dari atas kepada para pendekar asing yang sudah bersiap di badan bukit.


Zes zes zes…!


Blar blar blar…!


Sebanyak sepuluh pukulan jarak jauh bersinar merah melesat dari atas, menyerang puluhan orang yang menyerbu. Dengan gesit para pendekar yang ditarget berkelebat menghindar, membuat semua serangan Ki Rawa Banggir zonk.


“Bahaya, mereka semua pendekar berkesaktian tinggi!” ucap Ki Rawa Banggir terkejut. Hanya dengan melihat kecepatan gerak para pendekar itu, Ki Rawa Banggir sudah bisa memprediksi kekuatan musuh.


“Jangan beri kesempatan menyerang!” teriak Siluman Raksasa kepada pasukannya.


Sebanyak lima puluh pendekar siluman tingkat elit langsung mengeroyok Ki Rawa Banggir seorang.


Sementara itu, murid-murid Perguruan Bukit Dalam tidak bisa datang membantu guru mereka, sebab mereka terhadang oleh lima puluh pendekar lainnya yang bertugas membentengi area target utama.


Meskipun jumlah murid-murid Perguruan Bukit Dalam banyak jumlahnya, tetapi kesaktian mereka masih kalah jauh oleh kesaktian para pendekar siluman. Para pendekar Pasukan Siluman Tingkat Puncak memiliki kesaktian di atas kesaktian Pasukan Siluman Tingkat Pertama dan Tingkat Dua. Karenanya, dengan cepat banyak murid Bukit Dalam yang berguguran dalam kondisi kematian yang beragam.


Pendekar yang paling banyak memakan korban adalah Siluman Tiup Mati. Pendekar lelaki berbadan kurus kerempeng itu menggunakan bubuk racun sebagai senjata ampuhnya. Gelapnya kondisi malam membuat sulit mengetahui serangan racun Siluman Tiup Mati. Tahu-tahu sejumlah murid Bukit Dalam tumbang tanpa disentuh oleh siapa pun.


Untuk sejumlah murid-murid utama Bukit Dalam, mereka dilawan dengan satu banding dua atau lebih. Taktik yang diterapkan oleh Siluman Raksasa, membuat Ki Rawa Banggir harus bertarung sendiri melawan lima puluh pendekar yang semuanya berkesaktian mumpuni. (RH)

__ADS_1


__ADS_2