8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 14: Penentangan Joko


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


Plok! Zes zes zes…!


Dewa Kematian bertepuk tangan sekali yang menciptakan cipratan sinar kuning. Kini, di sekeliling tubuh Dewa Kematian yang masih melayang di udara, bermunculan sinar hijau berwujud kuncup bunga besar sebanyak delapan. Kuncup-kuncup bunga yang mengatup itu memiliki tangkai sinar yang pangkalnya bertemu di tengkuk Dewa Kematian.


Dewa Kematian mengerahkan ilmu Dewi Bunga Enam untuk menghadapi ilmu Inti Api Suci milik Dewi Ara.


“Ara! Kakek Buyut! Hentikan pertarungan kalian yang memalukan ini!” teriak Joko Tenang sebelum Dewi Ara melakukan serangan.


Mendelik Dewa Kematian dan Dewi Ara mendengar Joko Tenang menyebut pertarungan itu adalah hal yang memalukan.


“Ara, bukankah kau sendiri yakin bahwa kau tidak akan bisa menang melawan Dewa Kematian. Pikirkanlah cara untuk menang, jangan bunuh diri. Ingat bayi kita!” seru Joko Tenang berusaha membujuk calon istrinya agar mau menunda dendamnya.


Zrep!


Akhirnya Dewi Ara mendengar kata-kata Joko Tenang. Ia memadamkan sinar pada tubuh dan kedua tangannya. Ia terus menatap tajam kepada Dewa Kematian yang kemudian juga memadamkan ilmu Dewi Bunga Satu-nya.


“Kakek buyutku Dewa Kematian!” sebut Joko Tenang yang membuat Dewa Kematian mengalihkan pandangannya kepada dirinya. “Aku menilai, perbuatanmu terhadap Dewi Ara terlalu keji. Akibatnya, aku sebagai keturunanmu telah terjerumus ke dalam perbuatan hina itu. Jika aku menikahi mantan kekasih guruku dan guru istriku yang lain, aku masih sanggup menemui para tetua karena itu bukan sesuatu yang salah. Tapi menodai mayat seorang gadis suci, sungguh membuatku sangat malu menampakkan wajahku di hadapan para guru dan tetua. Maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan hadir pada acara pertemuan ini!”


Terperangah Dewa Kematian dan para tetua persilatan mendengar perkataan Joko Tenang yang lantang dan terdengar jelas.


“Ara, ayo kita pulang ke Istana Sanggana Kecil!” ajak Joko Tenang.


Ternyata Dewi Ara menurut. Dewi Ara lalu berkelebat menyambar tangan kanan Joko Tenang dan membawanya melesat terbang, seperti burung menuju ke kumpulan para permaisuri.


“Joko!” panggil Dewa Kematian. Dia cepat melesat terbang mengejar cicitnya. Dia tidak menyangka Joko Tenang akan menyalahkannya sedemikian keras.


“Persiapkan pasukan, kita akan kembali ke Sanggana Kecil!” perintah Joko Tenang setelah mendarat di depan para istrinya.


Joko Tenang lalu menghadap kepada Tiga Malaikat Kipas, Ki Ageng Kunsa Pari dan Ki Rawa Banggir. Ia menghormat dengan bersujud.


Tindakan Joko Tenang itu membuat para istrinya terkejut, demikian pula para tetua yang akrab dengannya. Sebagai seorang raja, rasanya tidak pantas harus turun berlutut.


“Maafkan aku, Guru, muridmu telah melakukan perbuatan hina dan terpaksa menikahi wanita yang kalian semua musuhi. Aku tidak pantas hadir di antara para Tetua yang Terhormat. Meski tanpa izin kalian, terpaksa aku tetap akan kembali ke Istana. Maafkan aku kepada Ki Rawa Banggir, karena telah hadir menimbulkan kekacauan di perguruan yang sangat dihormati ini!” tutur Joko Tenang.


“Joko, masalah keluargamu bisa kau simpan dulu di saku celanamu. Ada masalah yang lebih penting yang harus kita bahas bersama. Kehadiranmu sangat penting!” kata Ewit Kurnawa, Malaikat Kipas Putih.


“Bangunlah!” kata Iblis Timur sambil maju dan mengangkat kedua lengan murid termudanya agar berdiri tegak.

__ADS_1


“Abaikan saja perbuatan dosa buyutmu itu. Dia memang nakal di waktu mudanya!” sahut Minati Sekar Arum pula.


“Joko, turuti perintah Guru Tiga Malaikat Kipas!” perintah Ki Ageng Kunsa Pari, selaku guru yang telah merawat Joko Tenang sejak orok hingga dewasa.


“Maafkan aku, Guru. Dengan sangat menyesal, aku harus membantah perintah guru berempat. Jika kalian ingin menghukumku, datanglah ke Kerajaan Sanggana Kecil, aku berjanji akan menerima hukuman dari kalian!” tandas Joko Tenang.


“Fuuu!” Ewit Kurnawa mengembuskan napas panjang. “Baiklah, Joko. Namun, jika kami datang bertandang, kau harus jamu dan layani kami bak raja dan ratu!”


“Hahaha!” tawa Iblis Timur dan Minati Sekar Arum terbahak mendengar permintaan Ewir Kurnawa, membuat suasana sedih itu seketika buyar.


“Aku izin pamit, Guru!” ucap Joko Tenang sambil kembali menghormat secukupnya. Ia juga menghormat kepada Ki Rawa Banggir, “Terima kasih karena sudah menerima kami, Ki Rawa!”


“Baiklah, Joko. Kami hanya berharap kau bisa membantu dunia persilatan menjadi lebih baik dan aman,” kata Ki Rawa Banggir.


Maka berbaliklah Joko Tenang. Para permaisuri pun menghormat kepada keempat guru dan Ki Rawa Banggir.


“Kami juga mohon izin, Ki Rawa!” ucap Tabib Rakitanjamu. Ia datang bersama Iblis Takluk Arwah dan Raja Akar Setan.


Bagi Raja Akar Setan, meski ia belum pernah bertemu dengan Prabu Dira Pratakarsa Diwana di masa lalu, tetapi ia sudah mendapat cerita cukup komplit dari Tabib Rakitanjamu.


“Eh, kenapa kalian juga ikut mau pulang!” bentak Iblis Timur.


“Kami ini adalah abdi dari Prabu Dira dan para permaisurinya,” kilah Iblis Takluk Arwah.


“Baiklah, baiklah!” kata Ewit Kurnawa berat hati.


“Sudarma!” panggil Ki Rawa Banggir.


Seorang murid senior Ki Rawa Banggir segera datang menemui gurunya.


“Iya, Guru?” tanya murid yang bernama Sudarma.


“Tuntun Prabu Joko dan pasukannya naik ke atas!” perintah Ki Rawa Banggir.


“Baik, Guru!” ucap murid berusia separuh abad itu.


Dewa Kematian berdiri menghadang langkah Joko Tenang dan para permaisurinya.


“Joko, kenapa kau harus bersikap seperti ini?” tanya Dewa Kematian.


“Maafkan aku, Kakek Buyut. Pendekar yang berada di kelompok aliran putih tidak bisa mengubah perbuatan jahat bernilai baik. Buruk adalah buruk dan benar adalah benar. Jika memang kakek buyutku berlaku jahat, maka aku harus berlapang dada mengecapnya jahat!” tandas Joko Tenang.

__ADS_1


Mendengar itu, Dewa Kematian manggut-manggut kecil, tanda membenarkan ucapan cicitnya.


Joko Tenang melangkah melewati keberadaan Dewa Kematian. Dewa Kematian hanya berdiri diam, tenggelam dalam pikirannya.


“Murid durhaka!” ucap Bidadari Wajah Kuning di sisi belakang kerumunan.


“Bagaimana ini? Murid sakti Tiga Malaikat Kipas justru berpihak kepada Wanita Iblis,” rutuk Dewi Tangan Tunggal.


“Ini buruk, Kunda Loyo,” kata Emping Panaswati pula kepada Ki Ageng Kunda Poyo.


Sementara itu, Dewi Ara yang kini menggendong bayinya menghentikan langkah. Ia dihadang oleh seorang pemuda yang adalah Pangeran Lidah Putih. Pemuda berusia tua itu tersenyum kepada Dewi Ara.


“Apa yang ingin kau persoalkan, Petra Kelana?” tanya Dewi Ara dingin.


“Hahaha! Awalnya aku siap bersaing lagi dengan Dewa Kematian untuk memperebutkan cintamu. Sayang sekali, kau lebih berjodoh dengan lelaki yang jauh lebih muda. Aku ucapkan selamat, Ara. Aku tidak akan mengejar-ngejar cintamu lagi,” kata Petra Kelana, pemuda yang berusia hampir seratus tahun.


Ia lalu bergeser dan memberi jalan kepada Dewi Ara.


Joko Tenang lalu naik ke punggung serigala yang bernama Kemilau. Sementara Dewi Ara mendapat Bintang sebagai tunggangannya. Tiga permaisuri lainnya yang mendapat tunggangan serigala adalah Yuo Kai, Kusuma Dewi dan Sri Rahayu. Tirana dan Kerling Sukma memilih berjalan bersama Dewi Bayang Kematian dan Murai Manikam.


Sandaria yang mungil sudah berada di atas punggung Satria yang setia.


“Joko! Joko!” teriak Joko Tingkir sambil berlari menerobos barisan Pasukan Pengawal Bunga.


“Tingkir!” sebut Joko Tenang seraya tersenyum saat melihat Joko Tingkir yang tampan.


“Joko, aku rindu kepadamu!” ujar Joko Tingkir sambil datang menggapai tangan kanan Joko Tenang yang duduk di punggung serigala.


Joko Tenang menggenggam erat tangan sahabatnya itu.


“Aku juga, Tingkir. Lama sekali kita tidak bertemu. Datanglah ke Kerajaan Sanggana Kecil. Aku akan menunggu kedatanganmu!” kata Joko Tenang. “Sampai bertemu kembali, Tingkir!”


“Aaah! Kau sombong sekali!” keluh Joko Tingkir kecewa, tapi tersenyum kepada sahabatnya.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang pendek. Ia lalu menepuk pelan leher Kemilau agar berjalan pergi.


Dengan mulai berjalannya Kemilau, maka mulailah rombongan Kerajaan Sanggana Kecil itu bergerak menuju Gerbang Bukit Dalam.


“Kerbau Ganteng, kau harus kawin banyak-banyak agar bisa punya peternakan, hihihi!” kata Ratu Puspa yang masih saja menempel di punggung Abna Hadaya alias Ki Renggut Jantung.


“Kawin denganmu?” tanya Abna Hadaya.

__ADS_1


“Iya iya iya, kawin dengan Puspa!” jawab Puspa cepat dan girang.


“Bisa menderita aku kalau sampai kawin denganmu, bisa-bisa berantakan hidungku…. Eh, berantakan hidupku,” keluh Abna Hadaya. (RH)


__ADS_2