8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 19: Mengatur Strategi


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Tiba-tiba Joko Tingkir punya siasat untuk berbuat jasa kepada si gadis cadel.


“Gadis Cadel, apakah kau sangat ingin ikut bertempur?” tanya Joko Tingkir, di saat Joko Tenang dan para tetua sedang berkumpul mengatur strategi penyerangan.


“Iya,” jawab Siluman Lidah Kelu.


“Jika aku bisa membuat kau ikut kembali dalam penyerangan, apakah kau akan menerima lamaranku?” tanya Joko Tingkir sambil tersenyum modus.


Siluman Lidah Kelu jadi terdiam dengan pandangan melirik kepada pemuda di sampingnya itu.


“Akan aku peltimbangkan lamalanmu,” jawab Siluman Lidah Kelu akhirnya.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir. Lalu katanya, “Prabu Joko Tenang itu bisa menyembuhkan pahamu sehingga menjadi mulus kembali seperti sedia kala. Kau mau disembuhkan olehnya?”


“Sangat mau,” jawab Siluman Lidah Kelu.


“Kok semangat sekali? Bukan karena Prabu Joko tampan, kan?” kata Joko Tingkir mendadak curiga.


“Ya sudah, tidak usah jika kau culiga sepelti itu!” ketus Siluman Lidah Kelu sambil merengut.


“Eh, iya iya iya. Aku akan minta Prabu Joko untuk menyembuhkanmu. Apalagi Prabu Joko itu istrinya sudah sepuluh, pasti sudah tidak berliur jika lihat paha angsa,” kata Joko Tingkir, lalu segera beranjak meninggalkan Siluman Lidah Kelu.


Gadis cantik berusia tiga puluhan itu hanya mendelik dengan bibir terbuka mendengar Joko Tenang sudah beristri sepuluh wanita.


“Kemungkinan, ketika besok kita keluar dari hutan ini, satu pasukan besar sudah menunggu kita di luar hutan karena mereka sudah tahu posisi kita,” kata Permaisuri Sri Rahayu. “Jadi kita lebih baik melewati jalur jurang dan mendobrak Istana dari belakang. Aninda Serunai pun tidak tahu tentang jalan rahasia itu. Termasuk Gurudi yang sudah puluhan tahun mempelajari jalan-jalan rahasia di dalam Istana, tidak tahu tentang jalan ini.”


“Bagaimana, Ayahanda?” tanya Joko Tenang yang sepakat dengan rencana istrinya.


“Baik, aku setuju. Bagaimana denganmu, Sayang?” kata Anjas lalu bertanya kepada Ratu Sri Mayang Sih.


“Aku juga tidak tahu tentang jalan lewat jurang, tapi aku setuju,” jawab Ratu Sri Mayang Sih.


“Aku sudah memerintahkan anggota Pasukan Siluman Generasi Pertama untuk membuat kekacauan di Kadipaten Banyukuat. Jika tanda sudah muncul di langit Kadipaten, separuh pasukan pasti akan dikirim ke Kadipaten. Setelah itu, barulah kita mendobrak,” kata Sri Rahayu.


“Ini pasti perjalanan yang menyenangkan,” kata Bidadari Wajah Kuning seraya tersenyum sendiri.


“Apa yang kau pikirkan, Wajah Kuning?” tanya Petra Kelana seraya menatap curiga kepada Bidadari Wajah Kuning.


“Aku tidak memikirkan dirimu. Kulihat kau sudah dekat dengan Gadis Cadar,” jawab Bidadari Wajah Kuning dengan nada ketus.


“Hahaha! Ada sekerat cemburu rupanya di hatimu!” kata Petra Kelana tertawa.


Mendadak mereka semua mengalihkan perhatian kepada kedatangan Bidadari Payung Kematian. Ia datang seperti burung yang mendarat lembut, dengan payung mengembang di belakang tubuhnya.

__ADS_1


“Gusti Prabu, ada banyak pasukan bersiaga di lembah luar hutan!” lapor Bidadari Payung Kematian. Sebelumnya, ia ditugaskan untuk mengintai daerah luar hutan yang akan mereka lalui jika berniat pergi ke Kadipaten Banyukuat.


Laporan itu membenarkan dugaan Sri Rahayu tentang pasukan yang menunggu mereka keluar dari hutan.


“Aku putuskan untuk pergi lewat jalur jurang!” tandas Anjas. “Kita berangkat sebelum fajar. Gunakan waktu yang tersisa untuk istirahat!”


Mereka pun membubarkan diri. Masih ada waktu untuk bisa tidur sejenak.


“Joko! Joko!” panggil Joko Tingkir sambil berlari datang ke depan Joko Tenang.


“Ada apa, Sahabat?” tanya Joko Tenang.


“Aku tahu kau memiliki ilmu pengobatan yang lebih hebat dari tabib mana pun. Tolong obati gadis cadelku, agar dia bisa ikut menyerang juga,” ujar Joko Tingkir.


Raja Anjas, Ratu Sri Mayang Sih dan Sri Rahayu hanya memandangi Joko Tingkir.


“Dia punyamu. Pengobatanku harus menyentuh. Tidak mungkin aku menyentuh milik sahabatku,” kata Joko Tenang.


“Paman Gusti Prabu, jika gadis cadelku sembuh dari lukanya, tentunya dia diizinkan ikut kembali, kan?” tanya Joko Tingkir kepada Anjas.


“Ya, tapi…” jawab Anjas, tapi ada “tapinya”.


“Tapi apa, Gusti Prabu?” tanya Joko Tingkir.


“Tapi Siluman Lidah Kelu adalah prajurit milik Permaisuri,” jawab Ratu Sri Mayang Sih.


Mendelik Joko Tingkir. Ia merasa dipersulit, seperti sulitnya birokrasi mengurus surat-surat di kelurahan.


Sri Rahayu hanya memandang dingin kepada Joko Tingkir. Sementara Joko Tenang tersenyum melihat kesulitan yang dialami oleh sahabatnya itu.


“Jika Lidah Kelu sembuh dari lukanya dia akan mendapat tugas khusus dariku,” kata Sri Rahayu.


“Baik,” kata Joko Tingkir. Lalu katanya sambil menarik tangan Joko Tenang, “Ayolah, Joko. Sembuhkan luka calon istriku!”


“Hahaha!” tawa Joko Tenang melihat tingkah Joko Tingkir. Ia menurut ditarik oleh sahabatnya itu.


Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih hanya tersenyum melihat hal itu.


Akhirnya, lagi-lagi Joko Tenang yang menang banyak. Dengan menggunakan ilmu pengobatan Serap Luka, ia menyembuhkan luka Siluman Lidah Kelu dengan sempurnya. Namun ya itu, harus melalui sentuhan tangan ke kulit luka.


Meski memendam sakit hati karena paha gadis yang ditaksirnya disentuh di depan matanya, tapi demi cintanya diterima oleh Siluman Lidah Kelu ia harus tetap tersenyum, terlebih ketika luka di paha itu benar-benar sembuh tanpa ada bekas luka sedikit pun.


Akhirnya, Arya Permana dan Pangeran Derajat meminta disembuhkan pula seperti Siluman Lidah Kelu.


Setelah itu, suasana di hutan berlangsung normal. Hingga kemudian mereka yang tidur dibangunkan di saat alam masih gelap dan langit menuju terang.


Semua pendekar kembali dikumpulkan untuk diberikan perintah dan arahan.

__ADS_1


“Siluman Lidah Kelu, Pangeran Derajat, Pangeran Keriting dan Pangeran Botak, kalian pergilah ke lembah untuk unjuk muka kepada pasukan yang menunggu kita di lembah….”


“Aku ikut dengan Lidah Kelu!” kata Joko Tingkir sambil tunjuk tangan, memotong perkataan Anjas.


“Baik. Dan Joko Tingkir, kalian pergilah ke lembah untuk unjuk muka kepada pasukan yang menunggu kita di sana. Pancing pasukan itu agar mengejar kalian sejauh-jauhnya!” perintah Anjas.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap kelima orang muda itu patuh.


“Yang lainnya ikuti kepergian Permaisuri Sri. Kita tinggalkan tempat ini lewat atas, jangan ada yang lewat bawah agar tidak meninggalkan jejak!” kata Anjas mengarahkan.


“Kita berangkat!” seru Sri Rahayu.


Maka Sri Rahayu yang melesat lebih dulu ke atas pohon, lalu melesat dari pohon ke pohon meninggalkan tempat itu. Para pendekar lalu mengikuti pergi lewat atas. Hal seperti itu bisa dilakukan oleh semua pendekar.


Tinggallah Joko Tingkir, Siluman Lidah Kelu, Pangeran Derajat, Pangeran Keriting, dan Pangeran Botak yang masih berada di tempat itu.


“Siapa yang memimpin?” tanya Pangeran Derajat.


“Bialkan Pangelan Keliting yang memimpin,” kata Siluman Lidah Kelu.


“Ayo!” ajak Pangeran Keriting.


Mereka lalu melesat pergi untuk keluar dari hutan sesuai arah pertama. Memakan cukup waktu untuk tiba di pinggir hutan. Mereka berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar ke arah lembah. Langit mulai terang memberi penerangan.


“Tidak terlihat ada pasukan di lembah,” kata Pangeran Derajat.


“Ada atau tidak, kita harus terus maju!” kata Pangeran Keriting. “Ayo!”


Mereka berlima kembali berlari menggunakan ilmu peringan tubuh.


Namun, ketika mereka tiba di kontur tanah yang paling tinggi di lembah itu, mereka berhenti mendadak. Mereka semua terkejut.


“Hah! Mati kita!” pekik Joko Tingkir.


“Panah!” teriak satu suara komando dari tempat yang jauh di depan sana.


Seset seset…!


“Munduuur!” teriak Pangeran Keriting.


Serentak kelima pendekar muda itu berkelebat mundur seperti burung, berusaha menjauhi jangkauan hujan panah yang ditembakkan oleh pasukan yang telah siap, seolah mereka sudah menunggu kedatangan lawan.


Beberapa anak panah berhasil menjangkau Pangeran Botak yang paling telat mundur. Ia menggunakan tangkisan bertenaga dalam menghalau panah-panah yang menjangkaunya.


“Mundur ke hutan!” perintah Pangeran Keriting kepada rekan-rekannya.


“Kejaaar!” teriak komandan pasukan berseragam hitam-hitam yang ada jauh di depan sana.

__ADS_1


Maka, puluhan prajurit berseragam hitam-hitam berlari cepat menggunakan ilmu peringan tubuh. Sementara pedang tajam terpegang di tangan. (RH)


 


__ADS_2