
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
“Putri, jika kau harus memilih, mana yang kau pilih, antara ayahmu atau Kakang Prabu?” tanya Tirana kepada Putri Sri Rahayu ketika mereka bertiga berbicara serius di dalam ruangan peristirahatan bersama Joko Tenang.
Putri Sri Rahayu menatap Tirana yang kali ini tanpa senyum, seolah menunjukkan bahwa pertanyaan Tirana kepadanya begitu serius.
“Apakah Kakang ingin membunuh ayahku?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Mungkin,” jawab Joko Tenang terang-terangan. “Tapi aku akan menyelesaikan dua syarat yang tersisa demi cintaku padamu.”
Putri Sri Rahayu terdiam, ia menatap serius kepada kekasihnya dan calon madunya. Batinnya terasa terpukul mendengar Joko kemungkinan akan membunuh ayahnya.
“Apa alasan Kakang ingin membunuh ayahku?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Ayahmu telah menjahati ibuku,” jawab Joko Tenang.
Mendeliklah sepasang mata indah Putri Sri Rahayu. Sekitar perasaannya bergejolak. Saat itu ia tahu bahwa ia kini dihadapkan pada pilihan dan situasi yang sulit.
“Bukankah Kakang tidak tahu di mana ibu Kakang berada?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Aku baru saja tahu,” jawab Joko.
“Apakah kau pernah bertemu dengan selir ayahmu, Putri?” tanya Tirana.
“Tidak pernah. Aku sejak kecil membencinya, termasuk membenci anaknya Aninda Serunai,” jawab Putri Sri Rahayu. “Apakah Selir Ningsih adalah ibu Kakang?”
“Benar,” jawab Joko Tenang.
“Bagaimana kalian tahu? Bukankah Selir Ningsih dikurung di Istana Terlarang?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Gurudi yang mengenali Kakang Prabu. Gurudi pernah bersama Kakang Prabu ketika bayinya, jadi Gurudi mengenali tanda yang ada pada diri Kakang Prabu,” jelas Tirana.
“Baiklah, Kakang, Tirana. Aku tahu ayahku adalah seorang yang jahat dan kejam. Ayahku adalah tokoh dedengkot aliran hitam. Meski demikian, dia adalah ayahku yang aku hormati. Aku tidak bisa menjadi lawannya atau mengkhianatinya. Aku terpaksa memilih hubungan kita berakhir sampai di sini, Kakang,” ujar Putri Sri Rahayu.
__ADS_1
Jleger!
Bagaikan petir di malam hari, mengejutkan di kala lelap tertidur. Keputusan yang sebenarnya sudah menjadi kemungkinan akan terjadi dalam pilihan Putri Sri Rahayu itu, tetap saja membuat hati Joko Tenang terasa sakit. Namun, ia harus bisa menerimanya. Menurutnya itu adalah risiko jika memilih seorang gadis anak dari tokoh aliran hitam.
“Putri, pikirkanlah dengan baik-baik,” kata Tirana lembut.
“Keputusanku sama dengan keputusan Kakang. Kakang harus memilih, antara aku atau ibu Kakang. Pastinya Kakang akan memilih Selir Ningsih dan tetap rela melepasku meski Kakang sangat mencintaiku,” kata Putri Sri Rahayu.
“Aku mengerti,” jawab Joko Tenang berusaha menguatkan hati.
Putri Sri Rahayu lalu bangkit berdiri.
“Meski aku memilih Ayahanda, tetapi aku tidak akan turut campur dalam masalah Kakang dengan Ayahanda,” kata Putri Sri Rahayu.
“Aku akan tetap memenuhi dua syarat yang tersisa agar ayahmu dan kau tidak ada alasan untuk menolakku!” tandas Joko Tenang.
“Maafkan aku, Kakang. Terima kasih aku sudah diberi kesempatan naik burung Kakang walau hanya sejenak,” ucap Putri Sri Rahayu dengan wajah yang dingin. Ia lalu berbalik dan pergi ke pintu.
Joko Tenang dan Tirana hanya terdiam menerima keputusan Putri Sri Rahayu.
Putri Sri Rahayu sudah terlanjur begitu cinta kepada Joko Tenang. Namun, ia harus berani mengambil keputusan. Ia pun tidak mungkin melawan ayahnya. Meski ayahnya keras dan jahat, tetapi ia adalah putri kesayangan ayah. Ia pun tahu, meski saat ini ayahnya lebih mengandalkan Putri Aninda Serunai untuk mengerjakan tugas besar, tetapi ayahnya masih begitu menyayanginya.
Malam itu, Putri Sri Rahayu pergi menuju kamar ayahandanya.
“Apa yang terjadi dengan putriku? Bagaimana bisa air mata itu keluar setelah selama ini tidak pernah keluar?” tanya Prabu Raga Sata terkejut saat menerima kunjungan putrinya.
“Apa yang terjadi, Anakku? Menangis bukanlah dirimu?” tanya Ratu Sri Mayang Sih, juga terkejut dan heran.
“Aku mengakhiri hubunganku dengan Prabu Dira,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Beraninya raja sombong itu!” geram Prabu Raga Sata dengan mata mendelik gusar.
“Kenapa kau mesti menangis di saat kau memutuskan hubungan?” tanya Ratu Sri masih heran.
“Aku sudah sangat mencintainya, Ibu,” jawab Putri Sri Rahayu, berusaha tidak meluapkan kesedihannya di depan kedua orangtuanya.
__ADS_1
“Lalu kenapa kau memutuskan hubunganmu dengannya?” tanya Ratu Sri lagi.
“Jika kau memutuskan hubungan dengan Prabu Dira, harapan baru Ayahanda akan hilang,” kata Prabu Raga Sata.
“Karena Ayahanda telah menjahati ibu Prabu Dira, maka aku diminta memilih, apakah aku memilih Prabu Dira atau Ayahanda,” jawab Putri Sri Rahayu.
Terkejutlah Prabu Raga Sata dan Ratu Sri Mayang Sih mendengar hal itu.
“Aku membenci Selir Ningsih karena telah menarik hati Ayahanda di saat Ibunda masih ada di sisih Ayahanda. Namun, apa yang Ayahanda lakukan kepada Selir Ningsih?” tanya Putri Sri Rahayu.
Semakin terkejut kedua orang tua itu. Perkataan putri mereka secara tidak langsung mengungkapkan bahwa Prabu Dira sudah tahu bahwa Selir Ningsih adalah ibunya. Dan pastinya juga tahu bahwa ibunya berada di dalam penjara yang bernama Istana Terlarang.
“Jadi benar, Prabu Dira itu adalah Joko Tenang, anak yang dicari oleh Ningsih?” tanya Prabu Raga Sata untuk lebih memperjelas dugaannya.
“Benar. Nama pendekar Prabu Dira adalah Joko Tenang,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Putriku, keputusanmu justru merusak rencanaku terhadap Joko Tenang!” tukas Prabu Raga Sata.
“Kenapa Ayahanda menyalahkanku? Aku melakukan ini karena aku tidak mau bekhianat kepada Ayahanda. Ayahanda sangat menyayangiku, mana mungkin aku memilih kekasihku demi melihat ayahku dibunuh oleh Joko Tenang?” kata Putri Sri Rahayu.
“Membunuhku? Hahaha…!” Prabu Raga Sata tertawa terbahak. “Bocah ingusan itu mau membunuhku? Justru aku yang akan membunuhnya malam ini juga. Kedatangannya hanya menciptakan masalah di istanaku!”
“Jangan membunuh Joko malam ini, Ayahanda. Joko tetap bertekad untuk menyelesaikan dua tantangan berikutnya. Bukankah kemungkinan besar Joko akan mati juga di salah satu tantangan itu?” kata Putri Sri Rahayu.
“Lelaki yang menarik Prabu Dira ini. Dia masih ingin menyelesaikan syarat yang aku berikan meski sudah dicerai oleh putriku. Tapi tidak, kau tetap harus menjadi istrinya jika dia memang berhasil lolos dari dua syarat terakhir!” kata Prabu Raga Sata.
“Kang Mas Prabu, mengapa masih memaksanya?” protes Ratu Sri Mayang Sih.
“Itu hanya jika anak itu masih hidup setelah melewati dua tantangan terakhir!” tandas Prabu Raga Sata.
“Ayahanda belum menjawab pertanyaanku,” kata Putri Sri Rahayu. “Apa yang telah Ayahanda perbuat kepada Selir Ningsih?”
“Ningsih yang mengkhianatiku. Dia sudah sepakat mejadi selirku, tetapi dia justru menikah dengan lelaki lain, yaitu ayahnya Joko!” jawab Prabu Raga dengan emosi. “Adalah wajar jika aku mengambil hakku kembali!”
“Tapi aku tidak akan mencampuri urusan Ayahanda dengan Joko!” tandas Putri Sri Rahayu. Dia lalu menghormat kepada ayah dan ibunya untuk pamit diri. (RH)
__ADS_1