
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Dua ratu telah duduk berhadapan dengan pembawaan yang berbeda. Ratu Lembayung Mekar lebih menunjukkan ekspresi dingin dan datar, sedangkan Ratu Getara Cinta selalu kembangkan senyum tipis yang ramah.
“Silakan Yang Mulia Ratu menyampaikan keinginan dengan membawa pasukan yang besar ke kerajaan kecil kami,” kata Ratu Getara Cinta memulai.
“Aku sangat sakit hati mendengar suamiku Prabu Galang Madra gugur di medan perang, terlebih pasukannya yang jumlahnya ribuan orang dikalahkan oleh hanya segelintir orang. Maka sewajarnya jika aku sebagai jandanya datang dengan kekuatan penuh yang tersisa untuk menuntut jiwa,” ujar Ratu Lembayung Mekar.
“Jika Yang Mulia Ratu mengajak untuk berunding, tentu Yang Mulia memiliki tuntutan lain selain perang?” kata Ratu Getara Cinta menerka.
“Benar. Orang-orang Balilitan sangat menghargai sebuah kekuatan, siapa yang kuat maka dialah yang berkuasa. Karakter ini yang membuat pemberontakan sering muncul di Balilitan untuk merebut tahta. Siapa pun yang berkuasa, maka rakyat Balilitan akan patuh. Prabu Galang Madra adalah raja sakti, berulang kali pejabatnya berkhianat dan mencoba membunuhnya untuk merebut tahta, tetapi selalu gagal. Ancaman terhadap Raja Galang Madra yang berulang membuat aku memiliki tekad, siapa pun yang kelak menggulingkan suamiku dan merebut tahta, aku bersedia menyerahkan diri dan mengabdi kepadanya, sebagaimana seluruh rakyat Balilitan akan mengabdi.”
Ratu Lembayung Mekar berhenti sejenak berkata, tetapi ia berubah tersenyum dengan tatapan tajam kepada Ratu Getara Cinta.
“Aku sangat sayangkan aku tidak bisa bertemu langsung dengan Prabu Dira agar aku bisa mendapat jawaban langsung saat ini,” kata Ratu Lembayung Mekar.
“Prabu Dira ada di Istana, tetapi ia harus beristirahat penuh dalam beberapa hari,” kata Ratu Getara Cinta.
“Baiklah. Aku ungkapkan tawaranku. Perang akan terjadi jika Prabu Dira tidak bersedia menikahiku!” tandas Ratu Lembayung Mekar.
Terkesiaplah Permaisuri Kerling Sukma mendengar pernyataan Ratu Lembayung Mekar. Ratu Getara Cinta sebenarnya juga terkejut, tetapi ia bisa memperlihatkan wajah ketenangan dengan senyum tipis.
Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Kerling Sukma tidak menyangka bahwa Ratu Lembayung Mekar yang sudah datang membawa sekian banyak pasukan, akan menawarkan dirinya kepada Prabu Dira.
“Tidak bisa, Prabu Dira hanya menikahi wanita yang dibutuhkan dan sudah memiliki ikatan cinta!” tolak Kerling Sukma.
Ratu Lembayung Senja beralih memandang Kerling Sukma.
“Tenanglah, Permaisuri!” kata Ratu Getara Cinta tanpa beralih memandangnya.
__ADS_1
Permaisuri Kerling Sukma pun diam.
“Akan aku beri tahukan kepada Yang Mulia Ratu, mungkin bisa mempengaruhi niat dan keputusan Ratu. Prabu Dira saat ini sudah memiliki tujuh orang istri yang semuanya diberi kedudukan sebagai permaisuri,” kata Ratu Getara Cinta.
Terkesiaplah Ratu Lembayung Mekar mendengar hal itu. Ia memang tidak tahu jika Prabu Dira memiliki istri sebanyak itu. Ia hanya menduga bahwa Prabu Dira hanya memiliki satu atau dua istri. Jikapun lebih dari satu istri, pastilah yang lain berstatus selir. Makanya ia heran mendengar ada ratu dan permaisuri.
“Ketika sembuh, suami kami akan menikahi istri kedelapannya. Silakan Yang Mulia Ratu mempertimbangkannya lagi,” kata Ratu Getara Cinta.
Ratu Lembayung Mekar terdiam sejenak, seolah berpikir. Tatapannya tetap memandang kepada Ratu Getara Cinta yang menunggu.
“Aku tetap menawarkan diriku kepada Prabu Dira untuk mencegah terjadinya perang. Yang ada di pikiranku adalah Prabu Dira hanya memiliki satu atau dua wanita. Jika aku siap dengan dua wanita, lalu apa bedanya dengan delapan atau sepuluh wanita. Apalagi aku menawarkan tahta yang diperebutkan oleh banyak orang. Jika Prabu Dira memilikiku, maka dengan sendirinya seluruh apa yang dimiliki oleh Kerajaan Balilitan menjadi miliknya, harta, wilayah kuasa dan pasukan yang besar,” kata Ratu Lembayung Mekar.
“Baiklah, Yang Mulia Ratu. Aku harap Yang Mulia Ratu bisa lebih bersabar menunggu jawaban dari Gusti Prabu Dira. Aku dan Permaisuri harus kembali ke Istana lebih dulu untuk menyampaikan tawaran Yang Mulia Ratu,” kata Ratu Getara Cinta. “Apakah ada hal lain yang ingin dirundingkan lagi?”
“Cukup,” jawab Ratu Lembayung Mekar singkat.
“Baik,” ucap Ratu Getara Cinta sambil berdiri. “Kami mohon diri!”
“Kita langsung kembali ke Istana, Permaisuri,” kata Ratu Getara Cinta kepada Kerling Sukma yang kemudian mengangguk setuju.
Zersss!
Grraurr!
Tiba-tiba dari dalam tubuh Ratu Getara Cinta melesat keluar sinar hijau besar berwujud macan bersayap burung, dengan keempat kaki memiliki api berwarna hijau pula.
Ratu Getara Cinta segera melompat naik ke udara yang kemudian disambar oleh punggung macan itu.
“Hah!” kejut Ratu Lembayung Mekar dan Mahapati Tarik Serwu menyaksikan pertunjukan itu.
Sementara Kerling Sukma melompat lebih dulu ke udara.
__ADS_1
Zersss!
Saat di udara, dari dalam tubuh Kerling Sukma keluar sinar kuning berwujud ular raksasa tapi bersayap kalelawar. Ular itu langsung meliuk memutar menyambar tubuh tuannya. Makhluk sinar hijau dan kuning itu langsung melesat terbang dengan cepat meninggalkan dua kuda tunggangan majikannya.
Bukan hanya Ratu Lembayung Mekar dan Mahapati Tarik Sewu yang terkejut melihat kejadian itu, tetapi juga pasukan Kerajaan Balilitan serta punggawa dan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil yang belum pernah melihat kesaktian Cincin Mata Langit.
Ratu Getara Cinta dan Kerling Sukma terus terbang, bahkan meninggalkan pasukannya tanpa pesan. Keduanya langsung menuju ke Istana untuk menemui Prabu Dira.
“Ini baru dua orang istri, bagaimana jika delapan orang istri turun berperang melawan kita?” kata Ratu Lembayung Mekar.
Ia lalu bergerak naik ke atas kereta perangnya.
“Apakah kau bersedia jika diperintah oleh Prabu Dira, Mahapati?” tanya Ratu Lembayung Mekar.
“Gusti Ratu sendiri mengetahui, aku adalah abdi yang setia kepada mendiang Prabu Galang Madra. Namun, sejak Gusti Prabu hidup kembali dari kematiannya, sifat dan keputusan-keputusannya berubah buruk. Dan keputusannya yang paling tidak masuk akal adalah membawa pasukan yang besar tanpa jelas tujuannya, yang akhirnya justru membunuhnya dan pasukan kita pulang dengan kerugian yang sangat besar. Sejak awal aku menentang perjalanan Gusti Prabu itu. Jadi, aku tidak masalah jika harus mengabdi kepada Gusti Ratu atau dengan raja yang baru,” ujar Mahapati Tarik Sewu sambil menjalankan kereta perangnya.
“Menurutmu, apakah Prabu Dira akan menolakku, Mahapati?” tanya Ratu Lembayung Mekar lagi.
“Seharusnya tidak, Gusti Ratu, kecuali dia lelaki yang sombong. Sebagai lelaki penikmat wanita, rasanya mustahil Prabu Dira menolak Gusti Ratu yang masih begitu cantik. Akan terlalu sombong jika sebuah kerajaan kecil menolak limpahan sebuah kerajaan besar dan kaya seperti Balilitan,” kata Mahapati Tarik Sewu.
“Kau benar, Mahapati.”
“Namun, yang aku sayangkan, Gusti Ratu mungkin tidak akan menjadi seorang ratu lagi,” kata Mahapati Tarik Sewu.
“Meskipun aku seorang wanita yang berkesaktian, tapi aku juga butuh cinta dan kasih sayang, Mahapati.”
“Kenapa Gusti Ratu mengorbankan diri untuk dimadu? Bukankah Gusti Ratu bisa mengambil suami dari salah satu pejabat yang Gusti Ratu sukai tanpa mengorbankan mahkota keratuan?”
“Maksudmu pejabat seperti dirimu?” terka Ratu Lembayung Mekar.
“Hahaha!” tawa Mahapati Tarik Sewu mendengar tembakan junjungannya itu.
__ADS_1
“Hihihi!” Ratu Lembayung Mekar hanya tertawa mendengar tawa mahapatinya. (RH)