8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 16: Keracunan


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


“Tebaklupa! Serak Buto!” seru Linglung Pitura memanggil kedua kakek putih yang sedang makan.


Terkejutlah kedua kakek putih karena mereka telah dikenali oleh Linglung Pitura.


Furr! Wuss!


Tiba-tiba saja Tebaklupa yang duduk membelakangi kedatangan Pangeran Mabuk dan ketiga pemuda yang membawa dendam, mengibaskan tangan kanannya langsung ke belakang.


Segenggam serbuk putih halus seperti tepung ditebarkan oleh tangan Tebaklupa. Namun, Linglung Pitura yang sudah mendapat kabar bahwa ia menjadi target pembunuhan, rupanya telah siap dengan segala kemungkinan. Dengan hanya menghentakkan otot dadanya, segelombang angin langsung muncul dan meniup balik bubuk racun yang dihamburkan oleh Tebaklupa.


“Kubalas kematian guruku!” teriak Joko Tingkir sambil melompat maju melewati keberadaan Linglung Pitura. Telapak tangan kanan Joko Tingkir sudah bersinar biru menyilaukan. Ia sudah yakin bahwa kedua orang itulah pembunuh gurunya dan Resi Tambak Boyo.


Rupanya yang melompat dua orang. Lanang Jagad juga melompat bersama Joko Tingkir. Jika Joko Tingkir dengan tangan kanan siap lepas ajian, Lanang Jagad dengan tangan kiri bersinar putih membara.


“Cari mati!” teriak Serak Buto sambil melompat dari duduknya, menyambut dua serangan pemuda di udara.


Paks!


“Hekh!” keluh Joko Tingkir.


“Hukr!” keluh Lanang Jagad.


“Akhr!” pekik Serak Buto pula.


Serak Buto menghantamkan kedua telapak tangannya yang bersinar putih keruh kepada kedua telapak tangan lawan.


Akibatnya, Joko Tingkir dan Lanang Jagad sama-sama terpental balik dengan mulut memuncratkan darah kental.


Brakr!


Punggung keduanya jatuh menghantam meja makan yang berisi makanan pengunjung yang sudah lari menghindar. Hancur sudah meja itu.


“Oh mejaku!” jerit si pemilik kedai.


Bdrak!


Sementara Serak Buto, dia juga terpental mundur dan menabrak dinding gedeg anyaman bambu hingga jebol. Ia juga muntah darah, bukan karena kalah adu ilmu, tetapi karena luka dalam mengalami ledakan di dalam tubuh.


“Oh dindingku!” jerit si pemilik kedai lagi.


“Joko!” sebut Tembangi Mendayu sambil menghampiri Joko Tingkir yang jatuh.


“Lanang!” sebut Rara Sutri pula sambil menghampiri tubuh Lanang Jagad.


“Serak Buto! Kita harus pergi!” teriak Tebaklupa yang sedang menyerang Pangeran Mabuk dengan tongkat putih bersinar putih seperti lampu neon.


“Sekali muncul kalian justru membuat bencana, Tebaklupa!” kata Pangeran Mabuk sambil meliuk lincah dengan gaya mabuknya, menghindari serangan mematikan Tebaklupa.


Clap!

__ADS_1


Tiba-tiba Serak Buto menghilang dari pandangan, seperti siluman babi ngepet yang ditiup lilinnya. Tinggallah Tebaklupa sendiri.


Buk buk! Brak!


Dengan gaya liukan setengah kayang, Pangeran Mabuk menghindari sabetan tongkat panas Tebaklupa, tetapi kedua tinjunya mendarat keras ke perut Tebaklupa. Kakek putih itu terdorong mundur lalu jatuh tersandung meja.


Tebaklupa jatuh terjengkang di atas meja yang penuh makanan. Berkotorrialah pakaian putihnya.


Furr!


Ketika Pangeran Mabuk merangsek maju hendak menyerang lawannya lagi, tiba-tiba Tebaklupa menaburkan serbuk racun kepadanya.


“Licik Tua!” maki Pangeran Mabuk sambil buru-buru berbalik gerak dengan melompat mundur.


Pangeran Mabuk mendarat dengan wajah yang mengerenyit, tampaknya dia masih sempat terkena bubuk putih yang bernama Racun Bening Mati.


Wezz! Zreg! Bluar!


Tebaklupa melesatkan sebola sinar putih dari tangan kanannya ke arah Pangeran Mabuk. Sambil mengerenyit menahan reaksi racun, Pangeran Mabuk menciptakan lapisan sinar merah selebar piring di tangannya, yang digunakan untuk menangkis bola sinar putih.


Satu ledakan terjadi di depan Pangeran Mabuk, memaksanya terdorong beberapa tindak.


“Hoekh!”


Pengerahan ilmu Mata Setan Putih membuat Tebaklupa muntah darah, karena luka dalamnya jadi terdampak.


Seet! Clap! Teb! Blep!


“Kebakaran! Cepat padamkan apinya!” teriak pemilik kedai kepada pelayannya.


“Aku takut, Ki. Mereka sedang bertarung!” tolak pelayan.


“Dua kakek itu tidak bayar. Rugi rugi rugi!” ratap pemilik kedai.


Eheeek!


Tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik keras. Gadis Cadar Maut dan yang lainnya terkejut dan melihat ke luar. Ternyata Tebaklupa muncul di depan rumah makan dan kabur bersama kuda miliknya. Sementara kuda milik Serak Buto ditinggal dalam tambatan.


Gadis Cadar Maut dan Arya Permana cepat berkelebat berusaha mengejar, tetapi telat. Tebaklupa sudah melesat cepat bersama kudanya.


“Joko, kau keracunan!” kata Tembangi Mendayu lalu cepat menotok beberapa titik pada tubuh pemuda tampan itu.


“Kakang, kau juga keracunan!” kata Rara Sutri lalu turut menotok beberapa titik pada tubuh Lanang Jagad.


Sementara itu, dari bibir tua Pangeran Mabuk merembes darah setelah terbatuk kecil. Pengerahan ilmu perisai tadi membuat pertahanannya terhadap Racun Bening Mati jebol.


Duk!


Linglung Pitura jatuh terlutut satu kaki karena persendiannya mulai lemah.


Gluk gluk gluk!


Buru-buru Linglung Pitura meneguk tuaknya banyak-banyak. Sama seperti tuak milik muridnya, tuak milik sang guru juga bisa menyembuhkan luka dalam dan menawar racun.

__ADS_1


Gadis Cadar Maut dan Arya Permana kembali masuk ke dalam kedai. Arya Permana melihat kondisi Lanang Jagad. Sementara Gadis Cadar Maut pergi memeriksa kondisi Linglung Pitura.


“Cadar Maut, amankan jantungku dari racun!” pinta Linglung Pitura sambil mengerenyit menahan sakit.


Tuk tuk tuk!


Gadis Cadar Maut cepat menotok beberapa titik pada tubuh Linglung Pitura, totokan menggunakan tenaga dalam tanpa menyentuh. Gadis Cadar Maut tahu bahwa menotok secara langsung bisa berbahaya terkena radiasi racun. 


Itu membuat si kakek tumbang terbaring dalam kondisi tubuh kaku.


“Tuakku tidak bisa menawar racun mereka,” kata Linglung Pitura. “Berikan tuakku kepada kedua anak muda itu, sepertinya racun mereka berbeda.”


Gadis Cadar Maut lalu membawakan Joko Tingkir dan Lanang Jagad guci tuak Linglung Pitura. Bukan Gadis Cadar Maut yang menuangkan tuak ke mulut kedua pemuda tampan itu, tetapi diberikan kepada Tembangi Mendayu dan Rara Sutri bergantian.


Memang, serangan racun yang diderita oleh Linglung Pitura dan kedua pemuda itu berbeda. Hasilnya, ternyata tuak itu bisa menawar racun pada tubuh Joko Tingkir dan Lanang Jagad.


“Guru!” Rara Sutri mendatangi gurunya setelah Lanang Jagad terlihat lebih baik kondisinya.


“Kau lebih mementingkan pemuda itu daripada aku,” keluh Linglung Pitura yang masih terbaring di lantai.


“Bukan seperti itu maksudku, Guru,” ucap Rara Sutri agak merengut karena disalahkan.


“Aku hanya bergurau, hehehe!” kata Linglung Pitura lalu terkekeh pelan.


“Lalu bagaimana dengan Guru?” tanya Rara Sutri.


“Racun yang mengenaiku sangat ganas. Jika dia bisa menjebol pertahanan yang melindungi jantungku, maka matilah aku. Sulit mencari orang yang bisa membuang racun di dalam tubuhku,” jelas Linglung Pitura.


“Lalu siapa yang bisa menyelamatkan Guru dari racun ini?” tanya Rara Sutri cemas.


“Tabib Rakitanjamu,” jawab Linglung Pitura.


“Tapi Tabib Rakitanjamu mengabdi kepada Joko Tenang di Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Rara Sutri.


“Karena sementara kita tidak mengetahui cara lain daripada Tabib Rakitanjamu, maka terpaksa kita harus ke Sanggana Kecil,” kata Gadis Cadar Maut.


“Ya, seperti itulah,” dukung Linglung Pitura.


“Tapi, siapa sebenarnya kedua kakek putih itu, Linglung?” tanya Gadis Cadar Maut.


“Mereka adalah Tebaklupa dan Serak Buto. Seharusnya bersama mereka ada tiga nenek lagi. Mereka adalah Lima Siluman Putih, pendekar aliran hitam yang sudah terabaikan karena sudah dianggap musnah,” kata Linglung Pitura.


“Apakah kalian sudah lebih baik?” tanya Gadis Cadar Maut kepada Joko Tingkir dan Lanang Jagad.


“Iya, lebih baik, tapi masih ada sisa lukanya,” jawab Joko Tingkir.


“Biar aku yang mencari sewaan pedati,” kata Arya Permana.


“Pendekar-Pendekar!” panggil pemilik rumah makan sambil buru-buru datang dengan wajah memelas. “Bagaimana dengan kerugianku?”


“Apakah harga satu kuda putih itu cukup?” tanya Arya Permana sambil menunjuk kuda milik Serak Buto.


"Cukup, Pendekar," jawab pemilik rumah makan dengan gembira. (RH)

__ADS_1


__ADS_2