8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 17: Pertarungan Malam Berujung Gairah


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


“Kau begitu cantik, Limarsih. Mungkin karena lama tidak bertemu. Hahaha!” kata Joko Tenang lalu tertawa senang memandangi kecantikan gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu.


“Kau pun begitu tampan, Joko. Bukan karena lama tidak bertemu, tapi kau memang sangat tampan dari dulu. Hihihi!” puji Limarsih pula dengan gestur wajah dan tubuh terlihat malu-malu macan.


“Kenapa tanganmu?” tanya Joko dengan tetap jaga jarak sejauh lima langkah. Bukan virus yang ia takutkan, tetapi khawatir ia tertarik oleh kuatnya magnet kecantikan Limarsih. Maklum, sekarang Joko cenderung gampang tergoda imannya jika lihat “barang bagus”.


“Aku dilukai oleh Dewi Bayang Kematian beberapa hari lalu,” jawab Limarsih jadi berubah serius.


“Kalian bermusuhan?” tanya Joko berubah serius pula sambil menengok sekilas kepada pertarungan, maksudnya kepada Dewi Bayang Kematian yang pernah membuatnya “pusing” jika berhadapan dengannya.


“Kami memperebutkan Joko Tingkir,” jawab Limarsih.


“Joko Tingkir?!” pekik Joko Tenang cukup keras. Ia yang pembawaannya tenang, kali ini benar-benar terkejut, seolah ketularan Ki Ageng Kunda Poyo.


Suara Joko Tenang bahkan membuat Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati beralih memandang ke arah kedua orang muda itu.


Mendengar nama Joko Tingkir disebut nyaring, Dewi Bayang Kematian jadi beralih pandang sejenak memandang ke posisi Joko Tenang dan Limarsih.


“Joko Tenang?” sebut Dewi Bayang Kematian lirih. Ada rasa bahagia yang muncul seketika di dalam hatinya saat mengetahui keberadaan Joko Tenang.


Meskipun Dewi Bayang Kematian hanya singkat sekali melirik kepada Joko Tenang, tetap itu menjadi blunder baginya. Sebab, tahu-tahu sarung pesing Setan Ngompol dan telapak kaki palsu Hantu Kaki Tiga telah begitu cepat menyerangnya secara bersamaan.


Bluar!


Dewi Bayang Kematian terkejut dan tidak mungkin menghindar, selain memasang kedua telapak tangannya menangkis dua senjata sakti itu. Kedua telapak tangan Dewi Bayang Kematian meledakkan cahaya putih dari ilmu Kerlingan Kematian. Ledakan peraduan tiga tenaga sakti pun terdengar keras.


Tenaga sakti dari ilmu Kerlingan Kematian memaksa Setan Ngompol dan Hantu Kaki Tiga terdorong lalu jatuh terjengkang.


Di sisi lain, dua kekuatan tenaga sakti yang menyerang Dewi Bayang Kematian membuatnya terlempar cukup jauh.


“Jadi Joko Tingkir ada di daerah ini juga?” tanya Joko Tenang kepada Limarsih.


“Awas, Joko!” pekik Limarsih mengingatkan sambil memandang kepada sesuatu yang melesat kepada Joko.


Blugk!


Joko Tenang yang fokus kepada Limarsih, jadi terkejut saat sudut matanya menangkap benda besar yang melesat kepadanya. Benda itu ternyata sesosok tubuh, tubuh Dewi Bayang Kematian yang terpental keras.


Refleks Joko Tenang mencoba menangkap dengan kedua tangan kekarnya, tapi tubuh Dewi Bayang Kematian menabraknya. Keduanya pun jadi jatuh bersama, tapi tidak saling tindih seperti adegan-adegan layar kaca.

__ADS_1


Joko Tenang jatuh menyamping dengan kedua tangannya memegangi tubuh samping si wanita. Ia menghadap ke kiri. Sementara Dewi Bayang Kematian jatuh menyamping menghadap ke kanan. Sambutan Joko tadi mengurangi daya hantam tubuh Dewi Bayang Kematian di tanah.


Keduanya saling pandang dalam jarak dua jengkal. Joko Tenang tampak mendelik terkejut. Ini kondisi yang sangat ia takuti. Meski ia sudah beristri delapan, tetap saja sikap Prabu Kecil tidak berubah jika berhadapan langsung dengan “sang dewi”.


Sementara Dewi Bayang Kematian, ia tersenyum dalam ekspresi mengerenyitnya karena menaha rasa sakit dalam tubuhnya. Tanpa suara, tiba-tiba celah bibir Dewi Bayang Kematian merembeskan darah yang cukup banyak. Kondisi itu mengejutkan Joko Tenang.


Sess!


Namun, pada saat itu juga, lima sinar biru berwujud lembaran daun, melesat cepat tepat hanya ke arah tubuh Dewi Bayang Kematian, bukan kepada keduanya.


Slep!


Situasi kritis bagi Dewi Bayang Kematian itu membuat Joko Tenang cepat bertindak. Joko Tenang menggulingkan tubuhnya ke kanan, naik ke atas tubuh depan Dewi Bayang Kematian yang hanya bisa mendelik dengan perasaan indah tidak karuan.


Dewi Bayang Kematian mendelik karena Joko Tenang menjadi tameng hidup demi melindunginya dari maut. Ia juga mendelik karena merasakan benda keras milik Joko Tenang ada yang menusuk tumpul di tubuh bawahnya. Sebagai wanita yang sudah pernah bermain hangat dengan mendiang kekasihnya, ia hapal jenis benda apa yang menekan tubuh bawahnya.


Kecuali Nara, semua yang melihat serangan lima sinar daun Nenek Rambut Merah mengenai pungung Joko jadi terkejut. Pasalnya, kelima daun sinar itu lenyap begitu saja masuk ke dalam rompi merah Joko.


“Hajar keduanya!” teriak Setan Ngompol sambil melompat ke udara dan mengebutkan kain sarungnya.


Jress!


Ilmu yang bernama Kebutan Dua Mata Jurig itu, melesatkan dua bola sinar putih halus sebesar kepalan tangan. Melesat cepat yang juga menargetkan punggung Joko Tenang yang masih di atas tubuh Dewi Bayang Kematian.


Namun, Nara cepat pula bertindak. Sebelum dua sinar ilmu Kebutan Dua Mata Jurig mengenai punggung Joko Tenang, tiba-tiba dari sisi samping berkelebat cepat sinar tipis warna emas berbentuk vertikal, menebas kedua bola sinar putih di tengah jalan.


Ledakan dahsyat terjadi. Setan Ngompol yang masih berada di udara terlempar dahsyat, cukup jauh jatuh ke semak belukar.


Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga yang tidak terhubung langsung, terjengkang keras dari berdirinya. Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati yang berdiri cukup jauh, terjajar dua tindak karena terimbas oleh peraduan dua kesaktian itu.


Limarsih yang posisinya lebih dekat, terpental sejauh dua tombak. Sementara Joko Tenang dan Dewi Bayang Kematian terlempar bergulingan dalam posisi yang sudah terpisahkan.


Di alam sekitar, sejumlah dahan pohon berpatahan akibat gelombang ledakan tersebut.


“Hoekh!” Setan Ngompol muntah darah kental yang banyak. Ilmu dan tenaga saktinya terlalu lemah bagi ilmu Tebasan Mata Batin milik Dewi Mata Hati. Ia kemudian menangis, “Aku ngompol! Hiks…!”


Joko Tenang yang lebih dulu bangkit.


“Nenek Buyut! Tolong penuhi permintaan cicitmu. Tolong selamatkan gadis ini!” teriak Joko Tenang kepada nenek buyutnya, yaitu Emping Panaswati.


Joko Tenang lalu beralih kepada Dewi Bayang Kematian yang bergerak bangun duduk di tanah.


“Dewi, maafkan aku. Aku harus pergi meninggalkanmu dalam keadaan terluka!” kata Joko Tenang lalu langsung berkelebat pergi.

__ADS_1


Dengan perginya Joko Tenang, Nara pun langsung menghilang dari tempat berdirinya. Dewi Mata Hati menyusul suaminya.


Alangkah kecewanya Limarsih mendapati situasi itu. Ia kecewa karena Joko Tenang menolong musuhnya. Ia kecewa karena Joko Tenang hanya pamit kepada Dewi Bayang Kematian, tetapi tidak kepadanya.


Nenek Rambut Merah dan Setan Kaki Tiga sudah bangun dan bersiap kembali.


“Jangan ikut campur, Nenek Tongkat Lentur!” teriak Nenek Rambut Merah memperingatkan wanita tua di sisi Ki Ageng Kunda Poyo.


“Jangan buang waktu, selagi dia terluka! Kematian adik kita harus dibayar!” teriak Hantu Kaki Tiga.


Secara bersamaan, Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga berkelebat ke arah posisi Dewi Bayang Kematian yang sudah berdiri terhuyung.


Seet! Dak!


Namun, saat tubuh Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga melesat di udara, tongkat bambu yang melingkar di pinggang Emping Panaswati melesat cepat menjadi lurus. Tongkat bambu yang bisa lentur itu menghadang lintasan tubuh Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga di udara.


Kedua orang tua itu hanya bisa menangkis serangan tongkat bambu tersebut, memaksa mereka terdorong balik ke belakang. Keduanya mendarat dengan terhuyung, tapi tidak sampai jatuh.


Sementara itu, Emping Panaswati tahu-tahu sudah melesat pergi menggondol tubuh besar Dewi Bayang Kematian. Adapun tongkat bambunya, melesat menyusul tuannya.


Ki Agen Kunda Poyo terpaksa melesat pergi pula menyusul Emping Panaswati yang memenuhi permintaan cicitnya.


Sulit bagi Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga untuk mengejar, karena mereka sudah kalah start. Terlebih Setan Ngompol mengalami luka dalam yang cukup parah.


Sementara itu, Joko Tenang sudah berada di dalam gendongan istrinya.


“Kakang Prabu sedang bergairah,” kata Nara menilai kondisi suaminya.


“Iya, makanya aku buru-buru pergi. Setiap kali aku berdekatan dengan Dewi Bayang Kematian, punyaku selalu tidak terkendali,” kata Joko Tenang.


Nara yang mengerti maksud suaminya, seketika berhenti melesat menembus kegelapan malam. Ia menurunkan suaminya. Meski ia tahu bahwa Prabu Kecil sedang perkasa, tetapi wanita jelita itu tetap saja tanpa sungkan menggenggam milik suaminya.


“Aaah!” desah Joko Tenang agak panjang saat Prabu Kecil mendapat cekikan.


Reaksi Joko Tenang itu membuat Nara tertawa kecil.


“Kakang Prabu mau merasakan permainan di atas udara?” tawar Nara datar.


“Maksudmu di atas punggung Gimba?” tanya balik Joko Tenang.


“Bukan, tapi di udara tanpa pijakan apa pun. Seperti capung jika sedang kawin, sambil terbang,” jelas Nara.


“Oh ya? Ayo cepat!” kata Joko Tenang antusias.

__ADS_1


Nara lalu kembali mengangkat tubuh suaminya. Kemudian dibawanya Joko Tenang terbang lurus naik ke udara. Tinggi, melewati setinggi-tingginya pepohonan. Setelah itu keduanya tidak turun lagi. Jangan tanya bagaimana cara keduanya melakukan hubungan suami istri di udara. Mungkin hanya nyamuk dan capung yang bisa menjawabnya. (RH)


__ADS_2