
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Siluman Mata Setan, Siluman Tangan Setan dan Siluman Kuping Buntu sudah berkuda pagi-pagi buta menuju Kademangan Uruk Sowong, sehingga ketika matahari terbit tersenyum, mereka sudah tiba. Meski mereka bertiga, tetapi mereka membawa dua kuda kosong.
Di Kademangan Uruk Sowong, mereka harus menyimpan kuda, sebab itu akan mempersulit mereka jika ingin melakukan gerakan rahasia.
Dan ternyata benar, tidak lama setelah mereka menitipkan kuda, tiba-tiba puluhan pasukan berseragam hitam-hitam memasuki Kademangan Uruk Sowong.
Para prajurit yang adalah Pasukan Murka Kegelapan itu, menyebar melakukan penggeledahan di semua tempat. Dengan kasar dan galaknya mereka mendobrak setiap pintu yang tertutup dan memasuki setiap pintu yang terbuka.
Ketiga siluman terkejut dengan adanya penyerbuan itu. Mereka cepat bersembunyi agar tidak terlihat oleh para prajurit pasukan khusus itu.
“Kita ke daerah kebun!” ajak Siluman Mata Setan.
Mereka pun segera bergerak pergi ke area perkebunan yang jauh dari permukiman penduduk.
Setibanya di daerah perkebunan, Siluman Mata Setan memberi tanda berhenti dan cepat menyuruh merunduk. Setelah semua merunduk, mereka melihat keberadaan beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik bebatuan besar yang ada di area perkebunan.
Kelima orang yang sedang tengkurap di balik bebatuan itu tidak lain adalah Pangeran Keriting dan kawan-kawan. Tampak Joko Tingkir tengkurap di sisi Siluman Lidah Kelu, sementara satu tangannya merangkul di atas bahu wanita itu.
“Tanganmu jangan ambil kesempatan, Tingkil!” desis Siluman Lidah Kelu sambil melotot kepada Joko Tingkir.
“Aku hanya menjaga agar pundakmu tidak terlihat oleh prajurit itu,” kilah Joko Tingkir lalu menarik tangannya.
Tak!
Mereka berlima dikejutkan oleh satu lemparan kerikil ke batu di atas kepala mereka. Mereka berlima cepat menengok ke belakang dalam kondisi tetap tengkurap.
Siluman Kuping Buntu langsung melambaikan tangan kanan seraya tersenyum kuda kepada mereka berlima.
“Siluman Mata Setan,” ucap Pangeran Keriting terkejut.
“Cepat cari ke sana!” perintah suara prajurit dari sisi lain, sambil menunjuk ke area kebun.
Suara perintah itu mengejutkan mereka. Mereka cepat lebih merunduk dan bersembunyi.
“Tangan Setan, bawa mereka melewati Hutan Maruk lewat jalan bukit barat. Ajak mereka ikut rencana di Kadipaten Banyukuat. Aku akan mengalihkan para prajurit itu!” perintah Siluman Mata Setan.
Siluman Tangan Setan hanya mengangguk.
Clap!
Tiba-tiba Siluman Mata Setan menghilang dari pandangan. Ia masuk ke alam gaib.
__ADS_1
Brak!
Ketika lima orang prajurit berjalan kian mendekati bebatuan besar, Siluman Mata Setan tiba-tiba muncul di sisi lain. Ia dengan sengaja menjatuhkan beberapa batang bambu yang dalam posisi berdiri bersandar pada sebuah batang pohon jambu.
Sontak suara ribut itu mengejutkan para prajurit yang langsung menengok. Siluman Mata Setan yang sudah terlihat wujudnya, buru-buru lari kabur.
“Kejar!” teriak seorang prajurit sambil berbalik dan berlari mengejar.
Prajurit lainnya segera berbalik mengejar pula, mereka meninggalkan area perkebunan tersebut. Kejar-kejaran pun terjadi. Namun, ketika sampai di tikungan antara rumah warga dan Siluman Mata Setan luput sejenak dari pandangan para prajurit, ia cepat menghilang masuk ke alam gaib. Maka hilanglah Siluman Mata Setan dari kejaran.
“Ayo buruan, ikut!” teriak Siluman Tangan Setan kepada Pangeran Keriting dan rekan-rekannya.
“Ayo!” ajak Pangeran Keriting sambil bergerak bangkit.
Mereka berlima mengikuti Siluman Tangan Setan dan Siluman Kuping Buntu.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Siluman Kuping Buntu.
“Kami memancing Pasukan Murka Kegelapan agar semakin jauh dari Istana,” jawab Pangeran Keriting.
“Bukankah kalian ikut rombongan Gusti Ratu, kenapa justru memancing ikan di sini?” tanya Siluman Kuping Buntu.
“Hahaha!” tawa Joko Tingkir.
“Jangan teltawa kelas-kelas, Tingkil!” hardik Siluman Lidah Kelu. Lalu tanyanya kepada Siluman Tangan Setan, “Apa yang kalian rencanakan?”
Siluman Lidah Kelu memang panglima dari Pasukan Siluman Generasi Pertama.
“Bagaimana, Pangeran Keriting?” tanya Siluman Lidah Kelu.
“Kita sudah menarik Pasukan Murka Kegelapan cukup jauh. Aku rasa kita sudah selesaikan tugas. Lebih baik kita bantu buat kekacauan di Banyukuat, semakin banyak orang, maka semakin hebat kekacauan yang akan kita buat,” kata Pangeran Keriting.
“Belalti kita lewat bukit balat di Hutan Maluk untuk menghindali peltemuan dengan pasukan Siluman Potong Dua!” kata Siluman Lidah Kelu.
Mereka pun bergerak pergi untuk meninggalkan Kademangan Uruk Sowong. Saat mereka berhasil keluar dari Kademangan, Siluman Mata Setan muncul dan bergabung dalam rombongan.
Dengan menempuh jalur tikus hutan, rombongan itu bisa lolos dari pencarian Pasukan Murka Kegelapan yang disebar. Sebagai pasukan yang bersifat pengintai dan pengumpul informasi, Pasukan Siluman Generasi Pertama banyak mengetahui rute-rute yang tidak biasa dan rahasia.
Setelah melewati Hutan Maruk melalui bukit di sisi barat hutan, Pangeran Keriting dan rombongan akhirnya tinggal menyeberangi lembah untuk sampai ke Kadipaten Banyukuat. Lembah tempat mereka tadi pagi diserang, kini telah kosong.
Sebelum masuk ke Kadipaten Banyukuat, delapan orang itu mengatur siasat dulu, kekacauan seperti apa yang akan mereka ciptakan. Orang yang paling mengenal seluk beluk Kadipaten adalah Siluman Tangan Setan.
“Pada garis ini, ada deretan rumah-rumah warga yang mengapit jalan utama,” kata Siluman Tangan Setan sambil jari kakinya yang menjepit sepotong ranting membuat garis menyilang pada garis lainnya. Maka terbentuklah dua garis yang saling memotong. “Para prajurit Kadipaten biasanya berkumpul di pos utama di gerbang menuju arah Istana.”
“Bagus. Ketika warga sudah panik oleh api, kita harus lepaskan semua ternak. Harus ada satu orang yang menyamar untuk menghasut para prajurit!” kata Pangeran Keriting.
__ADS_1
Seperti itulah sepenggal gambaran rencana yang akan mereka buat di Kadipaten Banyukuat.
Mereka pun kemudian memasuki Kadipaten tanpa ada hambatan berarti. Di kadepaten yang paling dekat dengan benteng Istana itu, banyak prajurit Kerajaan Siluman yang bertugas. Namun, status di daerah itu masih aman dan normal.
Siluman Kuping Buntu yang sudah mengerti tugasnya, bertindak melumpuhkan seorang prajurit berseragam hijau gelap. Prajurit yang dilumpuhkan segera ditarik ke tempat tersembunyi. Siluman Kuping Buntu mengganti pakaiannya dengan pakaian prajurit.
Pada satu bagian jalan utama Kadipaten, ada deretan perumahan cukup rapat yang mengapit jalan. Deretan rumah itu memanjang ke kanan dan ke kiri seperti rentangan dua tangan. Kedelapan orang itu secara diam-diam menyalakan api pada belasan rumah. Jika ada yang memergoki mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan, langsung dilumpuhkan.
Setelah membakar bagian belakang belasan rumah, mereka tinggal menunggu api membesar secara bersamaan pula.
“Kebak…!” teriak seorang warga ketika melihat api mulai membesar. Namun, teriakannya harus terhenti ketika Joko Tingkir melumpuhkannya dengan lesatan batu kerikil yang mengenai leher warga tersebut.
Hingga akhirnya, api yang menyala sudah membesar dan membumbung hingga ke atap rumah.
“Api! Apiiii…!” teriak seorang warga yang melihat api dari kejauhan.
“Kebakaraaan! Kebakaraaan!” teriak warga mulai ramai dan terkejut, karena ada belasan rumah yang terbakar sekaligus, meski rumah-rumah itu tidak bergandengan seperti perkampungan padat penduduk di ibu kota negara masa depan.
Para prajurit yang bertugas di kadipaten itu juga terkejut. Mereka cepat bergerak ke sumber api, meski mereka belum menemukan solusi untuk mengatasi api.
Mulailah kekacauan tercipta. Sebagian warga bekerja mengambil air untuk memadamkan api, tetapi warga pemilik rumah justru berlari menyelamatkan diri dan harta bendanya yang masih bisa dibawa.
Mbeek! Mooo! Keok-keok! Mbeeek! Wek wek wek!
Tiba-tiba kepanikan semakin diramaikan oleh munculnya berbagai hewan ternak yang berlarian secara acak.
“Musuh menyeraaang! Munduuur! Musuh menyeraaang!” teriak Siluman Kuping Buntu sambil berlari kencang dari pusat kebakaran ke arah rombongan prajurit keamanan.
Teriak Siluman Kuping Buntu yang dalam kondisi sebagai prajurit, membuat rombongan prajurit jadi berhenti berlari, mereka berubah tegang.
Wus!
Tiba-tiba mereka melihat sosok Joko Tingkir sudah melejit naik ke udara, menerobos kobaran api yang formasinya seperti benteng memanjang. Warga pun terkejut.
Ses ses ses…!
Blar blar blar…!
Saat di udara, Joko Tingkir berlari cepat sambil kedua tangannya menghentak bergantian. Dari kedua tangan itu berlesatan sinar-sinar hijau berekor seperti komet-komet kecil. Belasan sinar hijau yang dilepaskan menghujani rombongan prajurit.
Sejumlah prajurit harus bertewasan terkena serangan Joko Tingkir yang menghancurkan tanah jalan utama Kadipaten.
“Munduuur! Jumlah pasukan musuh ribuaaan!” teriak Siluman Kuping Buntu lagi menghasut.
Blar blar blar…!
__ADS_1
Tiba-tiba banyak suara ledakan terdengar yang bersumber dari balik benteng api yang tercipta di tengah-tengah pusat Kadipaten. Menimbulkan suasana yang semakin menakutkan. Warga berlarian semakin tidak terarah, bahkan berseliweran seperti larinya segerombolan serangga.
“Munduuur!” teriak komandan prajurit yang memimpin pasukan kerajaan di kadipaten itu. (RH)