
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Hari ini, Istana Sanggana Kecil dalam kondisi ramai oleh para tokoh tua persilatan aliran putih, yang dikenal dengan nama persatuan Barisan Putih.
Mereka dipimpin oleh Ketua Timur Barisan Putih Raja Pisau Langit, Ketua Barat Pendekar Seribu Tapak, Ketua Selatan Nyi Mentara Senyata, dan Ketua Tengah Siluman Kera Langit.
Adapun para pendekar tua lainnya yang hadir di antaranya:
1. Malaikat Istana Maut.
2. Serigala Perak.
3. Tabib Teguk Getir.
4. Iblis Takluk Arwah.
5. Ki Renggut Jantung.
6. Dewi Tangan Tunggal.
7. Siluman Harimau Hitam.
8. Resi Kumbalabatu.
9. Raja Akar Setan.
10. Ratu Naga Lembah Seribu.
11. Pangeran Tapak Tua.
12. Malaikat Serba Tahu.
13. Resi Kasa Sinatra.
14. Resi Buyut Putih.
15. Iblis Lontar Sumpah.
16. Nyi Karang Jeblos.
17. Ratu Solek Pemikat.
18. Pendekar Mustika Pelingkar Dewa.
19. Nenek Lembah Perawan Tua.
20. Ki Ageng Kunda Poyo.
Sejumlah tokoh besar tidak bisa hadir, seperti Tiga Malaikat Kipas, Dewa Kematian dan Ki Ageng Kunsa Pari. Mereka adalah orang-orang yang sulit ditemui. Undangan dadakan jelas tidak bisa menjangkau mereka.
Sementara yang lainnya telah tewas, seperti Resi Tambak Boyo, Ki Sombajolo dan Nenek Tongkat Lentur. Adapun Pangeran Lidah Putih, Bidadari Wajah Kuning dan Bidadari Payung Kematian sedang pergi menyerang ke Kerajaan Siluman.
Selain itu, dari tuan rumah hadir Permaisuri Mata Hati atau yang lebih ternama dengan julukan Dewi Mata Hati. Adapun Dewi Geger Jagad tidak ikut hadir demi manjaga atmosfir panas pertemuan itu tetap kondusif. Hadir pula kedua janda Ki Rawa Banggir, yaitu Bunga Senja dan Rani Pinang.
Pertemuan penting itu dijaga ketat oleh para prajurit.
Jelas, Ketua Besar Barisan Putih Ki Rawa Banggir tidak hadir karena sudah tewas dibunuh oleh Pasukan Siluman Generasi Puncak. Ketua Utara Barisan Putih, yaitu Nenek Peti Terbang juga tidak terlihat hadir.
__ADS_1
Satu tokoh yang bukan peserta Pertemuan Jurang Lolongan tapi hadir pada pertemuan itu adalah Manyo Pute yang berjuluk Si Monyet Putih.
Pertemuan yang sedang berlangsung di salah satu ruangan dalam Istana itu, dipimpin oleh Ketua Tengah Raja Kera Langit. Ia ditunjuk secara aklamasi oleh peserta pertemuan.
Kisah pembantaian di Perguruan Bukit Dalam sudah diuraikan dengan gamblang oleh Bunga Senja. Para pendekar sepakat untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Siluman. Namun, sebelum mereka berangkat, mereka harus memilih Ketua Besar Barisan Putih lebih dulu sebagai pengganti Ki Rawa Banggir.
“Aku mengusung Prabu Dira atau Joko Tenang sebagai calon Ketua Besar Barisan Putih!” kata Pendekar Seribu Tapak mengusulkan kandidat pilihannya.
“Aku juga. Sebagai nenek dari salah seorang istri Prabu Dira, aku setuju jika Prabu Dira yang memimpin Barisan Putih!” kata Serigala Perak lantang.
“Aku setuju!”
“Aku tidak keberatan!”
“Aku sepakat!”
Sejumlah tokoh tua yang mengenal akrab Joko Tenang, bersuara sepakat atas pengusungan Joko Tenang sebagai Ketua Besar Barisan Putih.
“Tidak!” sahut Nara, Dewi Mata Hati. “Prabu Dira akan memimpin kerajaannya sendiri. Biarkan salah satu dari kalian memimpin Barisan Putih. Kerajaan dan Barisan Putih akan saling menguatkan dan menghormati!”
“Yaaah!” desah kecewa beberapa pendekar tua yang setuju jika Joko Tenang sebagai pemimpin aliran putih.
“Sebenarnya aku cenderung kepada Pendekar Seribu Tapak. Namun, karena dia adalah kakek guru dari salah satu permaisuri Joko, menurutkan itu kurang baik. Jadi aku mengusung Raja Pisau Langit!” kata Siluman Kera Langit, pendekar tua yang wajahnya subur oleh rambut, sehingga cenderung seperti tampang kera dengan model hidung yang pendek. Ia mengenakan pakaian serba hitam.
Siluman Kera Langit duduk berdampingan dengan Si Monyet Putih, sama-sama pendekar beraliran sejenis.
“Aku justru mau mengusungmu, Kera Langit!” kata kakek berambut putih pendek. Ia Raja Pisau Langit.
“Hahaha! Aku sengaja lebih dulu menunjukmu, supaya aku tidak ditunjuk,” kilah Raja Kera Langit.
“Aku mengusung Raja Kera Langit!” kata Pendekar Seribu Tapak.
“Aku pasti setuju!” sahut Ki Ageng Kunda Poyo.
“Kami setuju!” sahut Ratu Naga Lembah Seribu yang mewakili kalangan nenek-nenek.
“Tidak mungkin aku mencalonkan diri sendiri. Jadi, aku setuju,” kata Malaikat Istana Maut.
“Hahaha! Penerawanganku mengatakan, jika Raja Pisau Langit memimpin, maka dia akan menikah lagi. Aku suka jika ada orang yang bahagia!” kata Malaikat Serba Tahu.
“Hahaha!” tawa rendah sejumlah tokoh tua.
“Jangan mengada-ada kau, Tahu!” hardik Raja Pisau Langit.
Di saat mereka sedang menunjuk seorang calon ketua besar, terlihat seorang perwira militer Kerajaan Sanggana Kecil datang masuk. Ia berjalan di pinggir ruangan menuju kepada Permaisuri Nara. Perwira itu tidak lain adalah Senopati Batik Mida. Sepertinya masa bulan madunya sudah tergarap habis.
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Batik Mida seraya menghormat kepada Nara.
“Katakan!” perintah Nara.
“Ada Siluman Mata Setan, utusan dari Gusti Prabu dan Permaisuri Asap Racun,” lapor Batik Mida.
“Perintahkan langsung menghadap di tengah-tengah para pendekar!” perintah Nara.
“Baik, Gusti!” ucap Batik Mida.
“Kita kedatangan utusan dari Prabu Dira di Kerajaan Siluman!” kata Nara kepada para pendekar yang hadir.
__ADS_1
Perkataan Nara membuat pengusungan calon Ketua Besar Barisan Putih terhenti. Namun, nama yang banyak disebut dan setujui adalah Raja Pisau Langit.
Maka pergilah Batik Mida kembali ke luar. Tidak berapa lama, ganti sesosok lelaki cebol berpakaian abu-abu dan berambut kepang sepanjang bokongnya yang berjalan masuk. Ia adalah Siluman Mata Setan.
Siluman Mata Setan datang dan masuk berjalan di tengah-tengah pertemuan para pendekar. Mungkin hanya Nara yang mengenal siapa adanya lelaki cebol yang datang itu. Semua mata tertuju kepadanya, tetapi itu tidak membuatnya demam panggung.
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Siluman Mata Setan seraya berlutut menghormat.
“Bangkitlah! Katakan apa yang kau bawa!” perintah Nara.
Siluman Mata Setan segera bangkit.
“Ratu Aninda Serunai sudah dilumpuhkan oleh Gusti Prabu. Kerajaan Siluman sudah di bawah kuasa Gusti Ratu Sri dan Gusti Permaisuri Sri. Perang di Kerajaan Siluman sudah berakhir dan dimenangkan oleh kita!” lapor Siluman Mata Setan.
Terkejutlah para pendekar tua mendengar laporan tersebut. Jika demikian, mereka akan batal berangkat menyerbu ke Kerajaan Siluman.
“Berita bagus. Apa lagi?” tanya Nara.
“Pengkhianat yang bekerja sama dengan Kerajaan Siluman adalah Nenek Peti Terbang….”
“Apa?!” kejut para pendekar senior mendengar laporan itu, memotong perkataan Siluman Mata Setan.
Seketika gaduhlah para pendekar tua itu.
“Keparit! Eh, kerapat! Rupanya si Peti Terbang pengkhianat yang menyebabkan Perguruan Bukit Dalam muntah. Eh kok muntah, musnah maksudku!” geram Abna Hadaya.
“Nenek Peti Terbang harus mati, tidak ada pengampunan!” teriak Nyi Karang Jeblos.
“Utusan! Di mana Nenek Peti Terbang?!” tanya Iblis Lontar Sumpah kepada Siluman Tangan Setan dengan membentak.
“Tidak tahu, Tetua. Gusti Prabu dan pasukan kami tidak menemukan keberadaan Nenek Peti Terbang di Kerajaan Siluman,” jawab Siluman Mata Setan.
“Pantas dia tidak datang sebagai Ketua Barisan Putih!” ucap Serigala Perak emosi.
“Apakah laporanmu bisa dipercaya, Utusan?” tanya Resi Buyut Putih dengan nada yang datar, seolah tidak terpancing emosinya.
“Sangat bisa, Tetua,” jawab Siluman Mata Setan.
“Utusan ini bernama Siluman Mata Setan, salah satu utusan kepercayaan Permaisuri Asap Racun,” kata Nara menguatkan status Siluman Mata Setan.
Resi Buyut Tua jadi manggut-manggut.
“Lanjutkan laporanmu, Mata Setan!” perintah Nara.
“Gusti Prabu Dira menetapkan Nenek Peti Terbang sebagai buronan empat kerajaan dan harus diadili di Ruang Keadilan Sanggana Kecil,” jawab Siluman Mata Setan.
“Empat kerajaan?” sebut ulang Raja Pisau Langit.
“Kerajaan Sanggana Kecil, Kerajaan Siluman, Kerajaan Baturaharja, dan Kerajaan Balilitan. Itu empat kerajaan yang berada di bawah pengaruh Prabu Dira,” jelas Nara.
Terkejutlah para pendekar tua itu. Mereka tidak menyangka bahwa Joko Tenang sudah menguasai empat kerajaan dalam waktu yang begitu singkat.
“Jadi, perintah Gusti Prabu, bunuh Nenek Peti Terbang atau tangkap hidup-hidup untuk dieksekusi di Sanggana Kecil, di depan keluarga Ki Rawa Banggir,” lanjut Siluman Mata Setan. “Gusti Prabu Dira akan kembali nanti malam. Laporan hamba selesai, Gusti Permaisuri.”
“Pergilah beristirahat!” perintah Nara.
“Hamba undur diri, Gusti Permaisuri,” ucap Siluman Mata Setan.
__ADS_1
Setelah itu, riuhlah suasana pertemuan tersebut. Kabar kemenangan Joko Tenang dan pengkhianatan Nenek Peti Terbang jadi berita yang sangat mengejutkan. (RH)