
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Menjelang malam, Prabu Dira Pratakarsa Diwana pergi ke kamar Dewi Ara. Ia didampingi oleh Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Sandaria. Khusus Sandaria, dia harus selalu berada di sisi Joko Tenang, ia tak mau berpisah dari suaminya khusus di hari itu.
Di dalam kamar itu, ada dua orang perawat wanita yang merupakan anak buah Tabib Rakitanjamu. Sementara Dewi Ara terbaring di ranjangnya dalam kondisi mata yang dibalut kain putih. Terlihat di balik balutan itu ada benjolan dari obat yang diletakkan di sana.
Di sisi kanan tubuh Dewi Ara terbaring tidur bayi Arda Handara. Ia harus terus mendapat air susu dari ibunya agar kesehatan dan daya imunnya tetap terjaga, terlebih saat itu belum ada susu bubuk cap sapi atau kambing, maupun cap nona.
“Bagaimana harapannya, Perawat?” tanya Joko Tenang kepada kedua perawat.
“Kondisi luka dalamnya kemungkinan akan sembuh dalam tiga hari, Gusti Prabu. Adapun kedua matanya memerlukan tujuh hari baru bisa dipastikan hasilnya,” jawab salah satu dari perawat itu.
Joko Tenang lalu melangkah ke pembaringan, diikuti oleh kedua istrinya.
Mengetahui kedatangan ayah dari bayinya, Dewi Ara tersenyum tipis.
Joko Tenang duduk di sisi tubuh calon istrinya. Ia meraih dan menggenggam lembut jemari tangan Dewi Ara.
“Bagaimana perasaanmu, Sayang?” tanya Joko Tenang lembut.
“Aku marah, aku sedih karena kalah. Namun, aku harus berlapang dada untuk menerima itu. Meski jika aku mati pada saat itu, aku tidak akan menyesal karena aku telah meninggalkan seorang penerus keluarga Arda Handara. Ternyata aku tidak mati. Terima kasih, Kakang Prabu,” jawab Dewi Ara lemah yang kemudian merubah penyebutannya kepada Joko Tenang.
“Aku membutuhkanmu untuk membantuku membesarkan keluarga Delapan Dewi Bunga dan menjayakan Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Joko Tenang.
“Terima kasih sudah membuatku menjadi wanita yang kembali berharga, Kakang Prabu,” ucap Dewi Ara sambil satu tangannya membalas memegang tangan calon suaminya. “Siapa yang bersama, Kakang Prabu?”
“Aku Ratu Getara bersama Permaisuri Sandaria,” jawab Ratu Getara Cinta.
“Hormatku, Gusti Ratu, Gusti Permaisuri!” ucap Dewi Ara tanpa bergerak dari berbaringnya.
“Jadi, Kakak Dewi Ara bersedia menjadi Dewi Bunga kedelapan?” tanya Sandaria.
“Aku bersedia,” jawab Dewi Ara seraya tersenyum.
__ADS_1
“Hihihi! Aku sudah tidak sabar memiliki ilmu Delapan Dewi Bunga,” kata Sandaria seraya tertawa girang.
“Tapi tunggu Dewi Ara pulih dulu,” kata Joko Tenang.
“Dan menunggu restu dari Nara,” tambah Dewi Ara.
“Setahuku Permaisuri Guru itu orang yang baik, orang yang mau mengalah oleh keaadaan,” kata Ratu Getara Cinta. “Kakang ingat ketika dia pergi setelah pernikahan? Akhirnya datang menolong kita saat melawan Ginari.”
Setelah meninggalkan kamar Dewi Ara, Joko Tenang dan kedua istrinya berlanjut pergi ke kamar Nara.
Saat dikunjungi, Nara sedang duduk bersila bertafakur. Namun kali ini, ia turun dari pembaringan dan menjura hormat kepada Joko Tenang.
“Sembah hormatku, Kakang Prabu. Maafkan atas kelancanganku tadi siang!” ucap Nara.
“Bangunlah, Sayang. Aku memahami suasana jiwamu,” kata Joko Tenang.
“Bagaimana keadaan Ara?” tanya Nara setelah tubuhnya tegak sempurna kembali.
“Harus menjalani masa perawatan, paling cepat satu pekan,” jawab Joko Tenang.
“Apakah Permaisuri Guru sudah memaafkan Dewi Ara?” tanya Sandaria.
“Aku dan Ara bersahabat di masa lalu. Keakraban keluarga kami membuat kami sangat dekat. Usiaku jauh lebih tua dari Ara, sama dengan usia ayahku jauh lebih tua dari ayahnya. Sebelum kematian ayahnya dan ayahku, aku sudah berpisah dengan Ara untuk mempelajari ilmu Mata Dewa Gelap. Namun, aku baru kembali pulang beberapa tahun setelah ayah ibuku mati. Setelah itu Ara sudah menghilang, kemudian tersebar tentang kematiannya, tanpa jelas siapa yang membunuh dan di mana kuburannya. Aku baru tahu ketika Dewa Kematian mengungkapkan dosanya di depan para tokoh aliran putih di Perguruan Bukit Dalam,” kisah Nara. “Nanti aku akan berdamai dengan Ara. Namun, jika dia masih mendendam, aku tidak akan menahan lagi. Nanti aku akan mengunjunginya.”
Kelegaan dirasakah oleh Joko Tenang, Ratu Getara Cinta dan Sandaria.
Setelah kunjungan itu, Joko Tenang memutuskan untuk tinggal di Istana selama sepekan lamanya.
Di kala pagi hingga senja, ia menghabiskan waktu untuk mengurusi kerajaan dan rakyatnya. Joko Tenang melakukan pertemuan-pertemuan khusus, membahas berbagai program yang akan mereka jalankan dan aturan-aturan yang akan mereka terapkan. Joko Tenang juga melakukan kunjungan dan melihat langsung perkembangan dua kadipaten, termasuk meninjau dimulainya penambangan di gua dan melihat prospek hasil hutan yang bisa diperdagangkan.
Di kala malam, Joko Tenang berkumpul sebentar bersama para istrinya, yang dilanjutkan giliran pembagian jatah ranjang.
Dalam tujuh malam itu, satu malam Joko Tenang ambil untuk terbang ke Balilitan, memberi jatah ranjang kepada Ratu Lembayung Mekar sekaligus melanjutkan kelas praktik hubungan intim. Menurutnya, belajar interaksi fisik dalam bercinta sangat penting untuk menciptakan kebahagiaan dengan pasangan.
Untuk ke Balilitan, Joko Tenang berangkat menjelang malam dan pulang menjelang pagi menggunakan jasa penerbangan Gimba.
__ADS_1
Namun, ada satu hal yang masih menciptakan kegelisahan dan tanda tanya, yaitu Nara. Hingga enam hari berlalu, Nara belum juga menjenguk Dewi Ara di saat semua permaisuri sudah melakukannya berulang-ulang.
Pada hari keempat setelah pertarungan dengan Nara, barulah Dewi Ara sembuh dari luka dalamnya. Menyisakan luka pada mata yang harus dirawat dengan telaten dan hati-hati.
Setelah tujuh hari, pada waktu senja, Joko Tenang bersama Ratu Getara Cinta dan para permaisuri hadir di kamar Dewi Ara. Sudah waktunya Tabib Rakitanjamu untuk memeriksa kondisi mata Dewi Ara dan memastikan hasil yang akan dicapai.
Dewi Ara duduk di sebuah kursi. Ketika Tabib Rakitanjamu yang berdiri di belakangnya akan mulai membuka kain pembalut mata, Nara muncul di pintu dan melangkah masuk.
“Nara,” sebut Joko Tenang seraya tersenyum menyambut wanita buta itu.
“Permaisuri Guru!” sebut Kerling Sukma dan sebagian permaisuri lainnya.
“Lanjutkan, Tabib!” perintah Joko Tenang.
Setelah itu, suasana berubah hening. Tabib Rakitanjamu melanjutkan pekerjaannya. Pelan-pelan kain balutan dibuka. Setelah balutan lepas, terlihat ada ramuan kering yang menutupi penuh kedua kelopak mata Dewi Ara.
“Jangan langsung dibuka!” pesan Tabib Rakitanjamu kepada Dewi Ara.
Dengan gerakan yang lembut, Tabib Rakitanjamu membuang tumbukan halus obat yang sudah kering di kelopak mata Dewi Ara.
“Bersihkan!” perintah Tabib Rakitanjamu kepada perawatnya agar membersihkan kelompak mata Dewi Ara yang kotor. Lalu perintahnya kepada perawat yang lain, “Kemarikan ramuan dan kain pembalut yang baru!”
Perawat segera melaksanakan perintah.
“Gusti Prabu, Gusti Ratu dan permaisuri,” kata Tabib Rakitanjamu. “Kedua mata Dewi Ara akan pulih seperti sedia kala, tetapi harus disempurnakan pengobatannya selama tiga hari lagi. Meski raganya sudah baik, jangan diajak dulu untuk menghidupkan ilmu Delapan Dewi Bunga. Tunggu sampai tiga hari lagi, sampai kedua mata Dewi Ara bisa terbuka dengan sempurna.”
“Baik, Tabib,” ucap Joko Tenang.
Setelah selesai penyempurnaan dari pengobatan Dewi Ara, Nara melangkah maju mendekati bekas sahabat dan musuhnya itu.
“Ara,” sebut Nara datar. “Kita lupakan apa yang terjadi kepada kedua orangtua dan keluarga kita. Apakah kau sepakat kita berdua kini hanya mengabdi dan melayani suami kita?”
Dewi Ara tidak langsung menjawab, tetapi senyum yang ia berikan terlebih dahulu.
“Tapi aku tidak ingin melupakan persahabatan kita dulu,” kata Dewi Ara.
__ADS_1
Tanpa senyum seperti Dewi Ara, Nara lalu maju dan memeluk Dewi Ara.
Damai pun tercipta. (RH)