
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
“Jika kau tidak ingin melihat mayat itu, tunggu aku sebentar di sini, nanti aku akan kembali ke sini lagi,” ujar Murai Manikam sambil bangkit berdiri dari duduknya.
“Eh tunggu! Kita pergi bersama!” kata Petra Kelana berubah pikiran.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan makanan yang masih tersisa separuh, tidak lupa membayar makanannya sebagai pendekar yang baik.
Keduanya pergi mengikuti arah kepergian para warga. Setibanya di sebuah penginapan sederhana di desa itu, mereka melihat keramaian warga desa di sisi belakang bangunan. Terlihat pula ada satu dua orang yang berperawakan pendekar, tapi baik Petra Kelana ataupun Murai Manikam tidak mengenalnya.
Terdengar suara kasak-kusuk warga desa mengomentari mayat yang mereka lihat, laksana juri pencarian bakat.
Petra Kelana dan Murai Manikam menyelinap di antara para warga yang berkerumun membentuk pagar manusia. Ketika keduanya berhasil menerobos ke depan, akhirnya mereka melihat ada tiga mayat di area sumur belakang penginapan tersebut.
Di tembok sepinggang bibir sumur, tertelungkup sesosok tubuh kurus berpakaian biru gelap dan bersabuk merah gelap. Kepala dan tubuh atasnya terjuntai ke dalam lubang sumur, sementara perut dan kakinya tersangkut di atas.
Dua mayat lainnya adalah lelaki berperawakan warga desa. Mereka mati tanpa terlihat memiliki luka. Tidak jauh dari mayat-mayat itu ada sebuah replika kaki palsu berbahan kayu.
Ketika Petra Kelana dan Murai Manikam lebih mendekat, mereka bisa mencium bau racun yang sama dengan racun pada mayat Emping Panaswati.
“Ah, Pendekar!” seru seorang lelaki berpakaian merah bagus dan berblangkon cokelat. Lelaki separuh abad berperut gendut itu adalah pemilik penginapan. Ia bernama Jendeng Wulo.
Jendeng Wulo segera menghampiri kedatangan Petra Kelana dan Murai Manikam.
“Pendekar, tolong singkirkan mayat-mayat ini!” pinta Jendeng Wulo.
“Kenapa harus kami, Ki?” tanya Petra Kelana yang juga sudah bisa menyimpulkan sebab kematian dua mayat lainnya.
“Kalian adalah pendekar, pasti sakti. Mayat itu beracun. Buktinya, dua anak buahku mati setelah menyentuh mayat di sumur itu,” kata Jendeng Wulo.
“Siapa sebenarnya pendekar yang mati ini?” ucap Petra Kelana kepada dirinya sendiri sambil berjalan mendekati mayat di bibir sumur.
Tanpa rasa takut terkena racun atau terinfeksi virus corona, Petra Kelana mencengkeram punggung baju mayat pendekar itu.
“Hah! Pemuda itu menyentuh mayatnya!” pekik seorang warga yang tahu bahwa mayat itu beracun. Ia jadi ngeri sendiri.
“Wah, berani sekali pendekar itu!” pukau warga yang lain.
__ADS_1
Petra Kelana menarik mayat keluar dari lubang sumur sehingga jatuh ke tanah berbatu kali di sekitar sumur. Mayat itu kini tergeletak terlentang dengan pakaian, leher dan wajah kotor oleh darah yang masih segar. Darah itu bersumber dari lubang sebelah depan leher.
Pendekar itu adalah seorang kakek kurus berwajah tirus, berambut putih pendek tapi keriting dan jenggot putihnya juga keriting.
“Pendekar ini bernama Hantu Kaki Tiga. Kau kenal, Murai?” kata Petra Kelana kepada teman wanitanya.
“Tidak,” jawab Murai.
“Ternyata kata-kata di mayat Emping Panaswati menunjukkan calon korban berikutnya. Lima belas jari menapak bumi artinya adalah Hantu Kaki Tiga, sebab Hantu Kaki Tiga memiliki tiga kaki, yang artinya dia memiliki lima belas jari yang berjalan di bumi,” papar Petra Kelana, memecahkan teka-teki dari tulisan di pakaian mayat Emping Panaswati.
“Kenapa mereka membunuh para pendekar tua?” tanya Murai Manikam penasaran. Ia yang memang kurang pengetahuan tentang orang-orang dunia persilatan tidak mengerti.
“Entahlah. Selama kita tidak menemukan dan membekuk pembunuhnya, kita tidak bisa tahu alasan mereka membunuh dua tokoh tua ini,” jawab Petra Kelana.
“Tapi tidak ada tulisan petunjuk calon korban berikutnya. Apakah cukup Nenek Emping dan orang ini yang dibunuh?” tanya Murai Kelana.
“Maksud Pendekar tulisan seperti itu?” tanya pemilik penginapan sambil menunjuk ke satu arah.
Mereka semua beralih memandang ke arah yang ditunjuk oleh Jendeng Wulo. Mereka melihat ke dinding papan penginapan. Pada dinding itu ada sekalimat tulisan dari darah yang masih segar.
“Cantik sewarna kunyit”, itulah tiga kata yang tertulis merah di dinding penginapan.
“Maksudmu wanita cantik berwajah kuning dan berambut putih itu?” terka Murai Manikam. Ia ingat ciri-ciri Bidadari Wajah Kuning yang sangat mencolok dengan warna wajahnya yang kuning seperti warna kulit pisang.
“Pendekar, apakah kalian bisa membantu kami menyingkirkan mayat-mayat ini?” tanya Jendeng Wulo.
“Perintahkan saja orang untuk menggali tiga liang untuk mereka!” perintah Petra Kelana.
“Pangeran Lidah Putih!” teriak kencang seorang wanita tiba-tiba.
Petra Kelana dan yang lainnya dibuat cukup terkejut oleh teriakan keras itu.
Jleg!
Saat itu pula, sesosok tubuh wanita tua berjubah merah dan berambut merah terang telah berkelebat di udara. Ia mendarat di dekat mayat Hantu Kaki Tiga. Melihat mayat saudara seperguruannya, orang yang adalah Nenek Rambut Merah itu seketika diliputi kemarahan.
Sesaat berikutnya, giliran sosok kakek gemuk berkulit hitam yang datang. Bau pesing kencing seketika menyebar kepada penciuman semua orang. Lelaki berbaju warna cokelat itu membawa sarung yang diselempangkan pada badannya. Ia tidak lain adalah Setan Ngompol. Ia mendarat di sisi Nenek Rambut Merah.
“Kaki Tiga!” teriak Setan Ngompol terkejut melihat kondisi saudara seperguruannya. Ia bergerak hendak menyentuh mayat Hantu Kaki Tiga.
__ADS_1
“Jangan sentuh, Setan Ngompol!” seru Petra Kelana cepat, mengejutkan Setan Ngompol.
Setan Ngompol menahan diri.
“Kau telah membunuh Hantu Kaki Tiga, Lidah Putih!” tuding Nenek Rambut Merah.
“Jangan langsung tuduh seperti itu, Rambut Merah, tidak baik,” kata Petra Kelana kalem, sambil tersenyum murah.
Suasana yang memanas itu membuat Jendeng Wulo dan para warga bergerak mundur menjauh, mereka tidak mau disalahkan juga. Terlebih bau pesing dari Setan Ngompol sangat mengganggu, seperti bau kakus yang mereka miliki di rumah.
Kini di sekitar sumur ada lima pendekar. Terlihat agak jauh di belakang nenek dan kakek berdiri Limarsih alias Pendekar Pedang Bangau, murid Nenek Rambut Merah. Ia memilih untuk menyaksikan urusan gurunya.
“Jika bukan kau yang melakukannya, lalu siapa, hah?!” bentak Nenek Rambut Merah.
“Kami tidak tahu, warga yang menemukannya. Mungkin ada warga yang menyaksikan pertarungannya,” kata Petra Kelana.
“Kakang Hantu!” ratap Setan Ngompol yang menangis tanpa air mata.
Nenek Rambut Merah lalu beralih memandang kepada warga desa yang masih menonton situasi itu dari jauh.
“Siapa di antara kalian yang melihat pembunuh itu?!” teriak Nenek Rambut Merah.
Mendapat pertanyaan garang seperti itu, para warga justru menjadi ketakutan.
“Lebih baik kita pergi, nanti kita dibunuh!” kata seorang warga yang ketakutan, mengajak warga lainnya.
Maka mereka beramai-ramai berbalik dan berlari pergi.
Namun, Nenek Rambut Merah tidak membiarkan mereka pergi. Ia segera berkelebat cepat di udara.
Blarr!
Satu pukulan jarak jauh dilesatkan oleh Nenek Rambut Merah, meledakkan tanah di depan para warga yang berlari.
“Ampun! Ampuuun, Pendekar!” teriak warga itu sambil menjatuhkan diri mereka tengkurap di tanah, seperti sedang perang zaman kemerdekaan.
“Siapa yang membunuh saudara seperguruanku?!” tanya Nenek Rambut Merah membentak. Ia sudah berdiri tidak jauh dari para warga yang ketakutan itu.
“Tiga orang nenek baju putih, Pendekar. Bukan kami yang membunuhnya, huuu…!” jawab seorang warga berteriak karena ketakutan, lalu menangis seperti orang gede. (RH)
__ADS_1