8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 8: Pendekar Sanggana Terdesak


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


Di antara para pendekar yang berlompatan dari balik pasukan bertameng adalah pasangan yang masih hangat, yaitu Surya Kasyara alias Pendekar Gila Mabuk dan Sugigi Asmara.


"Semangat pengantin baruuu! Hahaha!" teriak Sumi alias Gendang Tepuk Jongkok. Wanita pendek itu berkelebat dan berlari maju di dekat pasangan Surya Kasyara dan Sugigi Asmara yang juga berlari menyongsong pasukan musuh.


Mereka tidak langsung menyerang saat melompati pasukan tameng, tetapi memilih menabrak ke barisan musuh.


"Aku beri kalian irama tarian malam pertama! Hahahak!" kata Sumi lalu tertawa terbahak-bahak.


Dadang dang dut! Dadang dang dut! Dut dut dut...!


Sumi berhenti, tidak masuk ke barisan musuh untuk bertarung, tetapi dia memilih duduk di tanah dan menabuhi gendang kayunya.


Hal yang terjadi adalah Surya Kasyara dan Sugigi Asmara tiba-tiba berlari terbirit-birit masuk ke barisan musuh tanpa mereka kehendaki.


"Apa yang kau lakukan, Sumi?!" teriak Sugigi Asmara. Ia tidak bisa mengendalikan kedua kakinya, tetapi ia masih bisa mengontrol tangan dan badan atasnya.


"Sumi! Kau mau membunuh kami?!" teriak Surya Kasyara pula.


"Hahahak! Itu hadiah perkawinan kalian dariku!" sahut Sumi sambil terus memukuli gendangnya.


Surya Kasyara dan Sugigi Asmara memang tidak bisa mengendalikan kakinya, kaki mereka dikendalikan oleh irama gendang Sumi. Namun, gerakan kaki mereka begitu cepat dalam melangkah, menendang atau hal lainnya, lebih cepat dari gerakan kaki biasa.


Rupanya kehilangan kendali kaki membuat jurus mabuk Surya Kasyara menjadi lebih dahsyat. Sementara Sugigi Asmara terpaksa mengikuti irama kakinya dalam menyerang.


Kondisi itu membuat para pendekar musuh kesulitan menebak arah gerak dan serangan keduanya.


Sejumlah serangan yang dilakukan serentak dan mengejutkan oleh pendekar Sanggana Kecil memang menuai hasil. Namun, banyak pula pendekar Sanggana yang serangannya gagal karena yang mereka serang bukanlah prajurit biasa, tetapi para pendekar yang kesaktiannya justru selevel atau lebih sakti.


Melihat sejumlah pendekar pasukannya tumbang, Siluman Angin Api cepat mengambil tindakan.


"Munduuur!" teriak Siluman Angin Api.


Maka para pendekar Pasukan Siluman Tingkat Dua itu segera berkelebatan mundur. Mereka mundur sehingga tercipta jarak.

__ADS_1


"Jangan kasih napas!" teriak Swara Sesat, Kurna Sagepa, dan Tangpa Sanding bersamaan.


Para pendekar Kerajaan Sanggana semakin bersemangat ketika melihat Pasukan Siluman Tingkat Dua bergerak mundur, meninggalkan sejumlah rekan mereka yang gugur.


"Kejaaar!" teriak Reksa Dipa berkomando.


"Jangan kasih napaaas!" teriak para pendekar Sanggana Kecil lalu terus mengejar mundurnya pasukan musuh.


"Seraaang!" teriak Siluman Angin Api tiba-tiba. "Tunjukkan kehebatan Pasukan Siluman!"


"Seraaang!" teriak para pendekar Pasukan Siluman Tingkat Dua lalu berbalik maju menyongsong kedatangan para pendekar Sangana Kecil.


Pasukan Sanggana Kecil jadi terkejut. Mereka menyadari bahwa mundurnya Pasukan Siluman Tingkat Dua bertujuan memulihkan kesiapan dalam bertarung.


Maka kedua pasukan pendekar itu pun bertemu. Kali ini pertarungan berlangsung sengit. Dalam waktu singkat peta pertempuran pendekar itu terlihat ketimpangannya.


Pada bentrokan kali ini, banyak pendekar dari Sanggana Kecil yang harus jatuh bangun, karena level para pendekar siluman sebenarnya rata-rata lebih tinggi dari mereka. Namun, ada juga sejumlah pendekar Sanggana Kecil yang tangguh, seperti Reksa Dipa, Babat Seta, Manik Cahaya, Sekarembun, dan sejumlah Pengawal Bunga lainnya.


Sementara itu, tiga pendekar mantan anggota Bajak Laut Elang Biru, menjadi tiga pendekar yang begitu tangguh dalam bertarung, meski harus berulang kali jatuh dan berdarah.


Dalam waktu singkat, sejumlah pendekar Sanggana Kecil harus gugur di tangan para pendekar siluman.


“Beri tanda panji kepada pasukan Kadipaten Gunung Prabu agar membantu pasukan pendekar!” perintah Ratu Getara Cinta kepada seorang prajurit dari atas dahan pohon.


“Baik, Gusti Prabut!” ucap prajurit yang berada di bawah pohon.


Prajurit itu segera mengambil sebuah panji berwarna hijau terang. Ia lalu berlari keluar dari hutan dan masuk ke Lereng Tiga Mata. Ia melewati tiga ratus pasukan yang mundur.


Fot fot fiuuu…!


Tiba-tiba terdengar suara tiupan terompet tanduk.


Mendengar suara terompet itu, wajah Adipati Yono Sumoto jadi terangkat, seperti anjing yang bangun karena mengendus kedatangan maling.


“Pendekar Gunung Prabu, bangkitlah!” teriak Adipati Yono Sumoto sambil bangkit berdiri tegak.

__ADS_1


Maka keenam puluh pendekar rakyat itu segera bangun dan berdiri, setelah sejak tadi hanya tengkurap pasrah. Ketika mereka berdiri, maka pasukan yang ada di bawah bisa melihat keberadaan mereka.


Adipati Yono Sumoto berdiri diam sejenak. Setelah dia melihat ada seorang prajurit yang mengibar-ngibarkan panji warna hijau tidak jauh dari pertarungan para pendekar, ia pun tahu harus menyerang ke arah mana.


“Bantu pasukan pendekar!” teriak Adipati Yono Sumoto sambil menunjuk jauh ke arah pusat pertarungan para pendekar.


“Seraaang!” teriak puluhan pendekar dari Kadipaten Gunung Prabu sambil berlompatan dan berkelebat menuruni lereng.


Suara ramai itu mengejutkan Siluman Angin Api dan pasukannya.


“Gila! Mereka masih punya banyak pasukan pendekar!” maki Siluman Angin Api. “Kenapa mereka tidak menyerang pasukan di belakang?”


Jika pasukan pendekar dari Kadipaten Gunung Prabu bergabung dalam pertempuran pendekar itu, maka Pasukan Siluman Tingkat Dua akan kalah jumlah.


“Tabib Rakitanjamu, Iblis Takluk Arwah, Dewa Seribu Tameng, giliran kalian turun membantu para pendekar muda itu!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap ketiga tokoh sakti tua itu.


Clap!


Serentak ketiga tokoh tua itu menghilang dari tempat berdirinya.


Dak dak dak…!


Sebelum pasukan Kadipaten Gunung Prabu tiba ke lokasi pertempuran, tiba-tiba di tengah-tengan arena pertempuran para pendekar muncul sepuluh caping anyaman bambu yang bergerak terbang, ke sana dan ke mari menghantami para pendekar siluman.


“Siapa yang datang!” ucap Siluman Angin Api terkejut, karena dia tidak melihat ada pendekar yang memiliki banyak caping anyaman bambu tadi.


Setelah mencari sejenak, akhirnya Siluman Angin Api mendapati keberadaan Anyam Beringin di tengah-tengah arena. Kakek yang gagal mendapatkan cinta Ratu Sri Mayang Sih itu sedang mengendalikan kesepuluh capingnya.


Siluman Angin Api cepat berkelebat dan menyerang Anyam Beringin dengan angin panas berapi. Namun, Anyam Beringin cepat melindungi dirinya dengan ilmu perisai.


Blar blar blar…!


Tiba-tiba muncul sosok kurus Iblis Takluk Arwah di tengah-tengah pertempuran. Ia muncul dengan tubuh sudah dikelilingi lima bola sinar biru gelap yang melayang. Detik selanjutnya, kelima sinar itu dilesatkan menyebar. Targetnya jelas para pendekar pasukan musuh.

__ADS_1


Tabib Rakitanjamu juga muncul tiba-tiba di tengah pertempuran. Ia hanya memainkan tongkat kayunya untuk memukuli para pendekar musuh.


Kemunculan ketiga tokoh tua sakti itu membuat kondisi pertempuran para pendekar jadi berubah drastis. Para pendekar Sanggana Kecil yang terdesak dan keteteran, jadi terselamatkan. Situasi semakin buruk bagi Pasukan Siluman Tingkat Dua ketika rombongan pendekar dari Kadipaten Gunung Prabu tiba. (RH)


__ADS_2