8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 24: Bakti Sri Rahayu


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Seset seset…!


“Ciaat!” pekik Anjas seraya menghetakkan lengan kanannya, ketika sinar-sinar merah berwujud runcing panjang itu berlesatan seperti hujan panah.


Wuss!


“Badai Malam Dari Selatan!” sebut Joko Tenang terkejut di atas atap Istana. “Aku rindu ilmu-ilmuku. Rasanya sudah tidak sabar untuk pergi ke Jurang Lolongan.”


Jauh di pelataran sana. Angin dahsyat sehebat badai dari lautan luas tercipta dari hentakan lengan Anjas. Jangan tanya bagaimana cara terciptanya angin dahsyat itu.


Serangan tombak sinar merah yang jumlahnya puluhan itu, seketika raib di dalam lesatannya ketika diterpa oleh kekuatan angin Badai Malam Dari Selatan. Rupanya, tujuh dinding sinar yang melindungi keberadaan Anyam Beringin tidak mampu menahan kekuatan ilmu dahsyat itu.


Ketujuh dinding sinar itu sirna tertelan angin. Namun, berkat lapisan tujuh dinding itu, Anyam Beringin hanya terlempar beberapa tombak, berbeda ketika Panglima Siluman Pedang yang diterbangkan sejauh layangan putus.


Ujung lidah angin Badai Malam Dari Selatan juga membuat barisan prajurit di batas luar arena tarung, berjengkangan terkena imbas pertarungan.


Ketika Anyam Beringin bergerak bangun dengan sempoyongan, Anjas yang tadi berada jauh posisinya, tahu-tahu sudah berada di hadapan Anyam Beringin.


“Ilmu Bayang-Bayang Malaikat,” sebut Joko Tenang lirih di atas atap.


Ilmu gerak yang begitu cepat itu memang adalah ilmu Bayang-Bayang Malaikat, ilmu yang sangat sulit dicari orang yang sanggup mengimbanginya.


Bung bung bung…!


Anjas dengan gerakan yang tidak terbaca oleh mata pendekar biasa, menghujani tubuh Anyam Beringin dengan puluhan Tinju Pecah Karang. Namun, Anjas cukup terkejut, sebab tubuh yang dia tinju telah berubah menjadi sekeras baja. Anyam Beringin menggunakan kesaktian ilmu Patung Baja, salah satu jenis ilmu perisainya yang lain.


Kondisi Anyam Beringin memang sudah terluka parah. Saat ini ia hanya bisa mengandalkan ilmu perisainya untuk bisa bertahan, sambil menunggu adanya peluang keberuntungan bisa menyerang Anjas.


Ilmu perisai Patung Baja ternyata membuat semua tinju bertubi-tubi Anjas mentah. Namun, Anjas tidak menghentikan serangannya yang sudah seperti setan kesurupan. Dalam serangan itu, tiba-tiba Anjas mengubah tinjunya menjadi cakaran. Jari-jari tangan Anjas semuanya berubah membara biru dan sangat panas.


Crak crak crak…!


“Aak! Akk! Akk…!” jerit Anyam Beringin susul-menyusul setiap cakaran Anjas menggaruknya dengan dalam.

__ADS_1


Ternyata ilmu Jari Alam Kematian yang bisa melumerkan besi itu mampu merobek ilmu perisai Patung Baja. Cakaran Anjas seperti cakaran harimau yang merobek-robek kulit batang pisang.


Akhirnya, Raja Anjas berhenti menyerang. Anyam Beringin tumbang seperti gedebog pisang yang sudah ditembang. Tubuhnya penuh luka cakaran yang panas dan berasap. Darah lumer ke mana-mana. Ia belum mati, masih megap-megap seolah berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“Terlalu bodoh jika kau harus mati hanya demi sebuah kecantikan, Kisanak. Semoga kau bisa mencari wanita lain selain Ratu Sri Mayang Sih,” kata Anjas kepada Anyam Beringin.


Anjas merobek-robek kulit dan daging Anyam Beringin, tetapi ia tidak menyerang bagian vital, sehingga Anyam Beringin masih bisa hidup meski kondisinya sangat buruk.


“Tabib Rakitanjamuuu!” teriak Anyam Beringin yang tergeletak dan sudah tidak bisa bangkit lagi.


Dalam waktu singkat, seorang kakek kurus ringkih tahu-tahu sudah berdiri di sisi tubuh Anyam Beringin. Kakek itu mengenakan jubah putih terang dan membawa sebatang tongkat kayu bercabang, seperti tongkat untuk mengatasi ular. Ia adalah Tabib Istana Tabib Rakitanjamu.


“Selamat karena kau tidak dibunuh!” rutuk Tabib Rakitanjamu seolah memarahi tindakan Anyam Beringin.


Anjas hanya memandang sebentar kedatangan Tabib Rakitanjamu. Tampak dari pinggir pelataran berlari beberapa orang lelaki berpakaian putih-putih. Dua orang membawa sebuah tandu dan satu orang mengiringi.


Mereka adalah orang-orang medis di bawah perintah Tabib Rakitanjamu. Semenjak mengobati Lima Pangeran, Tabib Rakitanjamu mengajukan permohonan untuk merekrut tenaga-tenaga bantu yang memiliki pengatahuan medis, setidaknya mengerti cara menggotong orang yang terluka atau patah tulang.


Kini Anjas berdiri seorang diri di tengah pelataran. Ia menunggu lawan berikutnya.


“Hati-hatilah, putriku!” pesan Ratu Sri Mayang Sih. Ia begitu yakin dengan kesaktian putrinya.


Sri Rahayu hanya mengangguk. Selanjutnya dia melesat melayang di udara laksana terbangnya burung perkutut. Ia mendarat beberapa tombak di hadapan Anjas.


“Menantuku!” sapa Anjas seraya tersenyum lembut.


“Maafkan aku, Gusti Prabu, jika aku sebagai menantumu harus lancang. Ini adalah wujud baktiku kepada ayahandaku!” ucap Sri Rahayu.


“Tidak mengapa, kondisi ini memang tidak bisa dielaki. Aku bisa mengerti jika kau dan ibumu menuntut nyawa. Namun, aku bersemangat karena masih ada jalan untuk mengakhiri dendam ini. Jangan ragu untuk membunuhku, aku adalah orang yang siap untuk mati dalam kondisi dan permasalahan apa pun,” ujar Anjas. “Semoga kau tidak keberatan jika aku menjadi ayahmu kelak.”


“Bagaimanapun, aku tetap keberatan. Tapi aku tidak akan berusaha mencegahnya, aku telah berjanji kepada Kakang Prabu Dira untuk setia kepadanya,” kata Sri Rahayu.


“Baiklah, mari kita mulai!” kata Anjas.


“Silakan, Gusti Prabu lebih dulu!” kata Sri Rahayu sambil melesat pelan ke belakang seperti burung terbang mundur.


Wess! Beng!

__ADS_1


Anjas Perjana segera mengejar Sri Rahayu dengan kecepatan laju Marc Marquez saat balapan MotoGP.


Namun, alangkah sakitnya Anjas, termasuk orang-orang yang menyaksikannya. Tubuh Anjas yang melesat cepat tiba-tiba menabrak sebuah dinding tidak terlihat, membuatnya terpental ke belakang dan jatuh terjengkang.


Sri Rahayu yang telah memasang Dinding Tanpa Wujud, telah melesat naik ke udara lalu melesatkan sinar merah berpijar dari ilmu Amarah Siluman.


Sess! Bluar!


Anjas yang dalam posisi terjengkang di lantai, harus mengerahkan ilmu perisai Lapisan Pemelihara Nyawa. Hal itu membuat sinar merah berpijar meledak keras setengah depa di atas tubuh Anjas. Sedemikian kuatnya tenaga sakti yang terkandung, hingga-hingga tubuh Anjas tersurut ke belakang beberapa langkah.


Sess! Sess!


Namun, ternyata ada dua sinar merah berpijar yang menyusul cepat dari serangan yang pertama. Anjas yang sulit mengandalkan ilmu perisai Lapisan Pemelihara Nyawa lagi, memilih menolakkan kedua tangannya di lantai, membuat tubuhnya melesat cepat dan jauh ke belakang.


Bluar! Bluar!


Dua ledakan besar menghancurkan satu titik lantai pelataran, menimbulkan kerusakan lantai yang cukup parah.


“Sulit mengandalkan ilmu Bayang-Bayang Malaikat jika Sri Rahayu memiliki dinding tidak terlihat dan tidak terasa,” pikir Anjas. Sebab, jika dia maju menyerang dengan kecepatan secepat apa pun, bisa-bisa ia kembali menabrak Dinding Tanpa Wujud. “Tapi dinding itu tetap harus dihancurkan.”


Anjas lalu mengambil sesuatu dari balik sabuknya, yaitu sebuah pil. Benda kecil itu lalu ia suapkan ke mulutnya dan menelannya.


“Mertuaku sepertinya sudah tahu bahwa aku beracun,” kata Sri Rahayu dalam hati, setelah melihat tindakan Anjas.


Prak!


Anjas menghantamkan tumit kaki kanannya memecahkan lantai pelataran. Ada sejumlah kerikil yang terlompat naik. Tangan kiri Anjas menyambar beberapa kerikil dalam genggamannya. Sepertinya ia sedang memikirkan cara menaklukkan Dinding Tanpa Wujud Sri Rahayu. Dengan hancurnya ilmu perisai itu, Anjas bisa mendekati sosok Sri Rahayu, terlebih ia akan aman dari racun karena sudah memakan pil antiracun.


Sepertinya Sri Rahayu menunggu diserang, terbukti setelah tiga ilmu Amarah Siluman, ia berhenti mendesak.


“Baik, aku ingin lihat sehebat apa menantuku yang satu ini,” kata Anjas dalam hati.


Wess!


Anjas melesat cepat ke arah Sri Rahayu seperti serangan awal tadi. Pastinya Anjas tidak mau mengalami insiden yang sama dua kali. Sri Rahayu diam menunggu.


Tek! Press! Bluarr! (RH)

__ADS_1


__ADS_2