
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
“Aku sadar dan sangat tahu bahwa aku mempertaruhkan nyawa untuk mengambil Putri Sri Rahayu sebagai istri kedelapanku. Namun, kekuatan cinta dan kekuatan janjiku sebagai seorang lelaki dan pendekar, membuatku harus datang, meski aku tahu ini tidak mudah, Gusti Prabu. Aku datang menemui kalian untuk meminta Putri Sri kujadikan sebagai istriku,” ujar Joko Tenang.
“Hahaha! Tidak semudah itu, Prabu Dira. Sri Rahayu adalah putri kesayanganku dan kesaktiannya bisa aku banggakan. Aku tahu putriku bukan barang dagangan, tetapi putriku ini adalah wanita yang sangat mahal, karena kau tidak akan menemukan yang serupa dengannya. Aku setuju kau menjadikan Sri Rahayu sebagai istri kedelapanmu jika kau sanggup memenuhi lima syaratku, Prabu Dira,” kata Prabu Raga Sata.
“Katakanlah, Gusti Prabu!” kata Joko Tenang
“Pertama, aku tidak mau kau menjadikan putriku sebagai selir,” kata Prabu Raga Sata.
“Baik,” jawab Joko Tenang.
“Kedua, taklukkan Raksasa Biru,” kata Prabu Raga.
“Ayahanda!” sebut Putri Sri Rahayu bernada keberatan.
“Kenapa, putriku? Ayahandamu ini sudah menyetujui kau menikah dengan Prabu Dira. Itu artinya sudah ada jalan. Hanya saja, seperti yang aku katakan tadi, kau adalah gadis yang sangat mahal,” kata Prabu Raga Sata.
“Bukankah Prabu Dira sudah berhasil membebaskanku dari Penjara Menara Langit? Apakah itu belum cukup sebagai pembuktian?” kata Putri Sri Rahayu.
“Belum,” jawab Prabu Raga Sata.
“Tidak mengapa, Putri. Percayalah kepadaku. Aku akan menunjukkan bahwa aku memang layak untukmu,” kata Joko Tenang.
“Baiklah,” ucap Putri Sri Rahayu menurut.
“Syarat ketiga, kalahkan Tiga Siluman Bayangan. Keempat, Prabu Dira harus keluar dengan selamat dari Ladang Anjing. Dan syarat kelima adalah mengambil Mutiara Ratu Panah.”
“Ayahanda!” teriak Putri Sri Rahayu cukup keras yang mengejutkan ayahnya serta Joko dan Tirana.
“Kang Mas Prabu!” sebut Ratu Sri Mayang Sih pula, tapi lebih lembut. “Selama ini, Mutiara Ratu Panah tidak pernah ada yang berhasil mengambilnya. Bahkan Kang Mas Prabu tidak pernah bisa. Aku khawatir, syarat kelima itu justru bisa membunuh Prabu Dira.”
“Ayahanda, aku mohon jangan mengambil Mutiara Ratu Panah,” kata Putri Sri Rahayu.
“Kalian berdua meremehkan kesaktian Prabu Dira, itu tidak patut. Kemampuan Prabu Dira menghancurkan Batas Dunia Lain sangat membuatku yakin bahwa dia akan berhasil mengambil Mutiara Ratu Panah,” kilah Prabu Raga tetap pada ketentuannya. Padahal di dalam hati ia terkekeh dan berkata, “Sungguh aku bersedih jika kau harus mati di Gua Mutiara, Prabu Dira, terlebih jika kau memang adalah Joko Tenang. Kalaupun Dewa melindungimu, kau tetap akan bermanfaat untukku. Hehehe....”
“Bagaimana, Prabu Dira? Apakah kau akan menerima semua syarat itu? Ingat, jika Prabu tidak bisa melewati Ladang Anjing dan mengambil Mutiara Ratu Panah, kami pun tidak bisa menolong nyawa Prabu,” kata Ratu Sri Mayang Sih dengan wajah yang meminta Joko untuk mempertimbangkannya lagi.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Gusti Ratu. Jika memang harus mati, dunia tidak akan bersedih dengan kehilangan seorang lelaki sepertiku, kehidupan manusia yang lain akan tetap berjalan,” jawab Joko Tenang.
Putri Sri Rahayu menatap lekat kepada Joko yang hanya memberinya senyum keyakinan.
“Baiklah, Prabu Dira. Beristirahatlah sejenak. Nanti akan ada prajurit yang menjemputmu untuk melawan Raksasa Biru,” kata Prabu Raga Sata.
“Sebelum kami pergi beristirahat, aku ingin memenuhi syarat pertama,” kata Joko. Ia lalu mengucapkan janji yang agak lantang, “Aku bersumpah, tidak akan menjadikan Putri Sri Rahayu sebagai selir jika menikah denganku. Aku pun bersumpah akan menjadikannya seorang ratu!”
“Baik!” teriak Prabu Raga Sata agak pelan seraya tersenyum lebar. “Aku pegang sumpahmu, Prabu Dira!”
“Izinkan kami menarik diri, Gusti Prabu, Gusti Ratu!” ucap Joko sambil bangkit berdiri.
Tirana pun bangkit berdiri, demikian pula dengan Putri Sri Rahayu.
Ketiganya lalu menjura hormat kepada Prabu Raga Sata dan Ratu Sri Mayang Sih.
Pasangan penguasa Kerajaan Siluman itu mengangguk seraya tersenyum ramah, hingga kemudian Joko Tenang, Tirana dan Putri Sri Rahayu berbalik melangkah pergi.
“Mayang!” sebut Prabu Raga Sata sambil tetap memandang ketiga sosok orang muda yang sudah jauh itu.
“Ya, Kang Mas Prabu?” sahut Ratu Sri Mayang Sih sambil memandang suaminya.
“Kau menginginkan Prabu Dira mati,” terka Ratu Sri Mayang Sih dengan tatapan curiga.
“Apakah kau tahu alasan aku menginginkan anak itu mati?” tanya Prabu Raga dengan tatapan dan ekspresi yang seperti memendam amarah.
Melihat ekspresi suaminya, pikiran Ratu Sri Mayang Sih segera berpikir untuk mencari keanehan pada diri Joko Tenang.
“Bibir merah!” sebut Ratu Sri Mayang, telat tersadar.
“Hahahak!” Prabu Raga Sata justru tertawa menertawakan istrinya. “Kau memang hanya sekali bertemu dengan Ningsih Dirama selama puluhan tahun. Namun, kau tahu bahwa selirku itu dan Putri Aninda Serunai memiliki bibir yang sama-sama merah. Wajahnya pun ada kemiripan dengan Ningsih Dirama.”
“Kang Mas Prabu terlalu cepat menyimpulkan,” tukas Ratu Sri Mayang Sih sambil berdiri. Lalu katanya, “Aku tahu bahwa selir Kang Mas Prabu itu keturunan dari Ratu Bibir Merah….”
“Dari mana kau tahu, Ratu?” tanya Prabu Raga Sata dengan ekspresi agak terkejut karena ratunya ternyata tahu siapa leluhur Ningsih Dirama.
“Aninda Serunai yang memberi tahu aku. Jadi bisa saja Prabu Dira itu keturunan dari Ratu Bibir Merah dari jalur lain. Kau dengar sendiri tadi, ayahnya seorang raja dari kerajaan yang jauh. Sedangkan musuhmu bukanlah seorang raja!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.
__ADS_1
Perkataan Ratu Sri Mayang Sih tentang keturunan Ratu Bibir Merah jalur lain, membuat dugaan kuat Prabu Raga Sata jadi goyah.
“Kang Mas Prabu tidak memikirkan, jika Prabu Dira sampai mati di istana ini, apakah orang-orang Kerajaan Sanggana Kecil akan diam saja?” kritik Ratu Sri Mayang Sih.
“Sudah aku katakan, raja muda itu tidak akan mati!” tandas Prabu Raga.
“Jadi kau mengakui bahwa Prabu Dira lebih sakti darimu? Berulang kali kau mencoba mengambil Mutiara Ratu Panah, tetapi selalu gagal dan kau selalu terluka parah,” kata Ratu Sri Mayang Sih. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan suaminya.
Sejumlah dayang berpakaian merah-merah segera bergerak membuntuti Ratu Sri Mayang Sih.
Sementara itu, di dalam perjalanannya menuju kamar peristirahatan, Joko Tenang bertanya kepada Putri Sri Rahayu.
“Siapa itu Raksasa Biru?” tanya Joko.
“Seorang tahanan berbahaya. Dia bertubuh tinggi besar seperti seorang raksasa kecil. Aku yakin, Kakang pasti bisa mengalahkannya. Demikian pula dengan Tiga Siluman Bayangan. Yang sangat berbahaya adalah Ladang Anjing dan Gua Mutiara,” jelas Putri Sri Rahayu.
“Seperti apa Ladang Anjing itu?” tanya Tirana.
“Kami memiliki sebuah ladang berpohon yang dikelilingi oleh tebing batu. Nanti Kakang harus masuk dari satu pintu dan keluar lewat pintu yang berseberangan. Akan ada ratusan anjing lapar yang dilepas untun memburu Kakang. Dan kami semua akan menonton dari atas tebing. Ladang Anjing biasanya digunakan untuk menyiksa para tahanan,” jelas Putri Sri Rahayu.
“Lalu Gua Mutiara bagaimana?” tanya Joko.
“Aku khawatir Ayahanda memang berniat buruk kepadamu, Kakang,” kata Putri Sri Rahayu.
“Permaisuri Dewi Mata Hati mengenal ayahmu, jadi kami sudah memiliki persiapan diri untuk menghadapi ayahmu, Putri,” kata Tirana.
“Kau menyebut Permaisuri Mata Hati?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Dewi Mata Hati adalah salah satu istri Kakang,” jelas Tirana.
“Bagaimana bisa?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Nanti aku ceritakan di kamar. Jadi Kerling Sukma dan gurunya berbagi suami,” kata Tirana seraya tersenyum kepada Joko Tenang.
“Menarik,” komentar Putri Sri Rahayu.
“Joko Joko Joko! Hihihik…!”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara panggilan yang disusul tawa nyaring dari suara yang pernah mereka dengar sebelumnya.
Mereka serentak menengok ke sisi samping kanan. Mereka melihat penampakan wajah Gurudi yang menjulur dari baling tiang batu besar. Gurudi tertawa-tawa melihat kepada mereka yang heran, kenapa Gurudi kenal nama Joko. (RH)