8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 22: Kudeta yang Buntu


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


Delapan dari Siluman Sepuluh berjalan gagah menuju Kaputren. Mereka layaknya pasukan elit yang baru turun dari helikopter dan siap menjadi pemecah kebuntuan dalam konflik.


Sudah tidak ada pertempuran. Di area luar Kaputren berserakan bangkai-bangkai guguk dan ada genangan darah di mana-mana, baik darah binatang maupun darah prajurit. Puluhan prajurit harus menjalani perawatan luka gigitan dan cakaran anjing.


Sementara ada ratusan prajurit dari Pasukan Walang Kekek yang berdiri berbaris menghadap ke arah Kaputren. Mereka berhadapan dengan puluhan prajurit dari Pasukan Tangkal Bencana. Namun, meski jaraknya berdekatan, kedua pasukan itu tidak bisa saling menjangkau karena tersekat oleh pagar gaib Cangkang Dewa milik Prabu Menak Ujung.


“Hei!” teriak Siluman Pepet Cinta.


Teriakan menggelegar itu membuat semua pasukan terkejut dan jadi menengok ke arah kedatangan Siluman Sepuluh.


Siluman Pepet Cinta adalah seorang pemuda tampan dengan gaya rambut gondrong yang ikal. Ia mengenakan pakaian berwarna serba merah muda.


“Kenapa saling pandang? Kalian pikir ini acara pencarian jodoh?!” teriak Siluman Pepet Cinta lagi.


Seorang pemimpin prajurit segera berlari menghadang kedatangan Siluman Sepuluh. Bukan maksud untuk adu jotos, tetapi untuk laporan.


“Lapor, Pendekar. Di sana ada pagar gaib milik Prabu Menak Ujung!” kata prajurit itu.


“Oooh!” desah Siluman Pepet Cinta.


Tak! Set! Tung!


Siluman Pita menendang satu gagang pedang yang tergeletak di tanah. Pedang itu melesat kencang. Namun kemudian, pedang itu terpental saat menabrak pagar gaib. Melihat hal itu, barulah kedelapan siluman paham.


Sets! Jleger!


Siluman Caping Merah melempar sebola sinar merah seperti melambungkan buah apel. Ketika bola sinar itu menghantam pagar gaib, ledakan nyaring terjadi. Namun, hanya bola sinar itu yang meledak, tidak bagi pagar gaibnya yang terbukti kokoh.


Siluman Caping Merah adalah lelaki bercaping merah yang berbekal pedang berwarnah merah juga.


“Hebat juga pagarnya!” puji Siluman Caping Merah.


“Coba kalian minggir!” teriak Siluman Gelang-Gelang kepada para prajurit di depan sana.


Para prajurit Pasukan Walang Kekek segera bergeser memberi jalur kosong.


Siluman Gelang-Gelang adalah seorang pemuda kurus berkepala botak. Ia maju beberapa tindak di depan teman-temannya. Siluman yang lain tahu apa yang akan dikeluarkan oleh Siluman Gelang-Gelang.


Siluman Gelang-Gelang memasang kuda-kuda dengan tinggi bokong setinggi lutut. Kedua tangan yang mengepal diletakkan di sisi pinggang kanan dan kiri. Ia menarik napas dalam-dalam. Ketika tangan kanan Siluman Gelang-Gelang bergerak lurus ke atas, tinju itu lalu diselimuti sinar biru berpijar seperti kembang api.


Siluman Gelang-Gelang jelas mau mengerahkan ilmu Panah Matahari-nya.

__ADS_1


Preeet!


Alangkah terkejutnya semua orang, terutama ketujuh teman Siluman Gelang-Gelang yang berdiri di belakang. Bukannya ilmu yang ia lepaskan, tetapi justru suara kentut yang mirip balon panjang dilepas ke langit tanpa ikatan pernikahan.


“Gelang-Gelang jorok keterlaluan!” maki Siluman Pita sambil maju memukuli kepala botak Siluman Gelang-Gelang dari belakang.


“Mudah-mudahan ketika di dalam kubur mayatmu kentut terus!” maki Siluman Badan Batu sambil mendaratkan ujung kakinya tepat di bawah bokong Siluman Gelang-Gelang.


Tendangan itu membuat Siluman Gelang-Gelang terlompat ke depan sambil memegangi bokongnya karena begitu sakitnya. Rencananya untuk melepaskan ilmu Panah Matahari jadi batal.


“Hahaha…!” tawa para prajurit kedua pasukan.


“Cuih! Baunya seperti telor busuk digoreng!” maki Siluman Gigi Biru, wanita cantik berusia tiga puluh tahun, tetapi memiliki keanehan pada giginya yang berwarna biru terang.


“Maaf, maaf!” ucap Siluman Gelang-Gelang sambil mengerenyit merasa bersalah. “Aku mau ke belakang dulu!”


Siluman Gelang-Gelang lalu berkelebat pergi.


“Bikin malu saja!” rutuk Siluman Ular Hitam.


“Biar aku yang mencoba,” kata Siluman Badan Batu.


Bak!


Wezz! Wezz!


Ketika Siluman Badan Batu melompat bersalto tinggi, saat kepalanya berada di sisi bawah, kedua kakinya menendang ke belakang, melesatkan dua sinar hijau berekor. Kedua sinar itu melesat deras ke Kaputren.


Blar! Blar!


Dua ledakan dahsyat yang rapat terjadi saat dua sinar itu membentur pagar gaib. Namun, yang terjadi justru sejumlah prajurit Pasukan Walang Kekek terjengkang terkena daya ledak ilmu Tendangan Bawah Awan.


“Sial!” maki Siluman Badan Batu.


“Lebih baik biarkan saja. Biarkan para prajurit mengepung Kaputren itu, sampai berapa lama pun yang Menak Ujung mau. Lebih baik kita nikmati tahta yang ada!” kata Siluman Ular Hitam.


“Prajurit!” panggil Siluman Pepet Cinta kepada pemimpin prajurit yang melapor tadi.


“Hamba, Pendekar!” sahut pemimpin prajurit itu.


“Bereskan kekacauan ini. Tetap kepung Kaputren sampai berapa lama pun. Pasang senjata panah besar. Agar ketika pagar gaib itu dibuka, kalian bisa langsung memanah!” perintah Siluman Gigi Biru.


“Baik, Pendekar.”


Sementara itu, Salik Jejaka berlari kencang bersama kudanya memasuki gerbang basis militer yang ada di luar ibu kota Jayamata. Ia melambai-lambaikan tangan kanannya yang memegang pita hitam.

__ADS_1


Tanda pita hitam langsung dimengerti oleh Pasukan Walang Kekek. Maka, terjadilah serangan mendadak terhadap para prajurit yang tidak berpita biru pada senjatanya. Mereka yang tidak mengerti, jadi terkejut mendapat serangan tiba-tiba.


Sejumlah prajurit tanpa pita sempat melakukan perlawanan, tetapi ketidaksiapan membuat mereka kalah dan harus mati. Benar-benar terjadi pembantaian di markas militer itu.


Komandan Bletak Jogo segera mengumpulkan Pasukan Walang Kekek yang jumlahnya ternyata mencapai ribuan. Jumlah itu bisa banyak karena penanaman prajurit memang dilakukan sudah sejak lama.


“Lapor, Pendekar! Semua sudah dibersihkan!” lapor Komandan Bletak Jogo.


“Berapa banyak pasukan kita?” tanya Salik Jejaka.


“Lima ribu prajurit, Pendekar!” jawab Komandan Bletak Jogo.


“Sebut aku Siluman Mata Elang!” perintah Salik Jejaka.


“Baik, Siluman!”


“Kita berangkat ke Istana!” teriak Siluman Mata Elang lantang yang didengar oleh seluruh pasukan yang telah berbaris, setelah mereka membunuhi para prajurit asli Kerajaan Baturaharja.


Salik Jejaka memimpin pasukan besar itu menuju Ibu Kota. Ketika pasukan itu melintasi sebuah pinggir sungai, dari seberang sungai Raja Akar Setan memandangi pergerakan itu.


“Terlalu cepat mereka melakukan pemberontakan. Sementara orang-orang Permaisuri Sandaria masih butuh beberapa hari lagi untuk sampai,” ucap Raja Akar Setan di dalam hati. “Lebih baik aku pergi memantau sudah sampai mana pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.”


Raja Akar Setan lalu berkelebat pergi.


Setibanya di pintu masuk Ibu Kota, Salik Jejaka segera memberi perintah.


“Terapkan larangan keluar rumah bagi warga Ibu Kota! Jika ada yang melawan, bunuh!”


“Baik, Siluman!” jawab Komandan Bletak Jogo.


Sebanyak seribu prajurit segera memaksa para warga pulang ke rumahnya masing-masing dan masuk ke rumahnya masing-masing.


Orang-orang yang melakukan protes dari kalangan bangsawan harus mendapat perlakuan keras. Tidak segan-segan mereka di pukul dengan senjata.


Sementara Salik Jejaka terus memimpin pasukan menuju Istana.


Ketika ia tiba di Istana, delapan siluman dari Siluman Sepuluh sedang berpesta ria di Balairung Kejayaan. Mereka makan buah-buahan enak dan minuman yang memabukkan. Siluman Gelang-Gelang dan Siluman Badan Batu bahkan duduk di kursi tahta bersamaan.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Salik Jejaka.


“Menak Ujung sedang mengurung diri dengan pagar gaibnya di Kaputren. Kami tidak bisa menjebolnya!” jawab Siluman Pita.


“Aku bisa masuk ke dalam pagar gaib Cangkang Dewa itu,” kata Salik Jejaka.


“Hah!” kejut mereka. Pengakuan Salik Jejaka jelas menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu yang lebih mumpuni dari mereka berdelapan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2